Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
72


__ADS_3

"Gua pulang dulu ya, besok pagi gua kesini lagi"


Pamit Aera setelah seharian menemani Sia dirumah sakit.


"Kesini habis balik sekolah aja, jangan bolos lagi"


Sia dengan berbaring lemas menatap Aera yang tengah membereskan tasnya.


"Ngga ah gua mau nemenin lo Sia, gua bisa ijin ko"


"Aera!"


Tegas Sia tidak suka apa yang menjadi permintaan nya di tentang.


"Iya iya yaudah besok siang pulang sekolah gua langsung kesini"


"Mmm"


Sia mengangguki dengan tersenyum tipis.


Dengan Aera yang pergi Azka datang.


Entah apa yang sedang Tuhan rencanakan. Sampai pertemuan belum juga diperuntuk untuk ketiganya.


"Gimana keadaan lo, udah baikan?"


Tanya Azka dengan menghampiri Sia.


"Udah mendingan ko, temen gua baru aja keluar"


"Sahabat lo itu"


"Mmmm"


Sia mengangguki nya.


Aera pulang dengan menggunakan taksi,Aera membuka handphone yang sejak kemarin belom di charger hampir kehabisan baterai. Beberapa panggilan tidak terjawab dengan pesan masuk dari Azka yang belum Aera baca.


"Uhhhhhh..."


Aera menghelai nafas ingat dengan pertemuan nya dengan Azka yang tidak jadi. Dengan Azka yang hilang begitu saja tidak datang. Ada perasaan jengkel juga kecewa, tetapi Aera memutuskan untuk tetap membalas pesan sekedar tau dengan apa yang Azka lakukan.


"Kenapa?"


Singkat Aera membalas pesan Azka.


Azka yang tengah mengupas buah apel untuk Sia terhenti dengan notif pesan masuk pada handphone yang di letakan di meja.  Azka bangun meletakkan piring yang berisikan apel yang tengah di kupasnya untuk menelfon Aera setelah pesan masuk di bacanya.


"Gua telfon temen gua bentar ya Sia"


Dengan Azka sebelum keluar.


"Hallo Ra?"


Setelah panggilan di angkat oleh Aera.


"Mmmm..?"


Singkat Aera.


"Gua minta maaf, ngga ada sedikit pun niat atau maksud gua buat bikin lo nunggu dan ngecewain lo kaya semalam. Gua beneran dateng ko, cuman pas gua dateng lo pergi, gua juga nyariin lo sampe ke bawah tapi lo ngga ada. Gua punya alasan kenapa gua ngga bisa dateng kemaren"


Crocos panjang Azka dengan rasa khawatir juga rasa bersalah.


Tut...


Panggilan terputus dengan handphone Aera yang mati kehabisan baterai.


"Hhhh.."


Aera menghelai nafas. Bahkan sekedar penjelasan pun tidak diperbolehkan nya untuk mendengarkan lebih lama lagi.


"Dek..."

__ADS_1


Seperti sebuah pisau yang dirasa menancap kencang di hatinya.


Khawatir akan ketakutan untuk Aera marah pikir nya benar benar terjadi dengan Aera yang mematikan handphone nya begitu saja.


"Kenapa?"


Tanya Sia yang dilihat Azka di depan pintu dilihat nya terdiam menatap Handphone nya.


"Mmm.. ngga papa Sia"


Azka yang berbalik tersenyum dengan Sia yang tengah memperhatikan nya.


"Bener ngga papa"


Azka yang kembali duduk di samping ranjang Sia.


"Ah, ada masalah sedikit sih tapi nanti bisa di urus ko"


Jelas Azka masih dengan senyum yang meski kali ini senyum nya dirasa sedikit berat, tidak seperti pada biasanya.


"Lo urus aja dulu ngga usah mikirin gua, gua ngga papa ko udah baikan juga. Lo bisa pergi sekarang urus masalah lo kalo udah baik lagi baru lo bisa kesini temenin gua"


Dengan semua kebaikan, perhatian yang Azka berikan untuk nya ingin juga rasanya memberikan sekedar pengertian atau apapun itu yang dapat membalas kebaikan nya.


"Lo beneran ngga papa kalo gua tinggal"


Tanya Azka memastikan.


"Mmmm.. ngga papa ko"


Sia tersenyum memperlihatkan dirinya yang baik baik saja dan tidak keberatan untuk ditinggalkan Azka.


"Kalo gitu gua pergi dulu, gua janji kalo semua nya udah baik lagi gua akan langsung kesini"


Azka sudah dengan berdiri dan siap bergegas cepat.


"Mmmm"


Azka tersenyum sebelum keluar dari ruangan. Sudah terlepas dari pandangan Sia Azka berlari dengan cepat nya, mengendarai motor nya dengan cepat untuk pergi kerumah Aera.


Dalam laju nya yang begitu kencang wajah dan segala hal tentang Aera memenuhi seisi ruang kepala dengan hatinya. Jangan biarkan Azka kehilangan Aera hanya sekedar kesalahan yang tidak sengaja dilakukan nya. Akan benar-benar kehilangan, Azka tanpa Aera.


Aera sampai dirumah dengan taksi yang mengantarkan nya. Turun dari taksi dan kembali menoleh kesisi kanan dan kiri berharap akan keberadaan seseorang, sekedar memberi penjelasan.


Sudah hampir dekat di pintu seseorang menarik tangan nya membuat nya berbalik begitu saja dan sangat dibuat terkejud dengan dirinya yang dibawa berada dalam dekapan seseorang yang belum Aera tau siapa orang nya.


Aneh nya tanpa tau siapa yang memeluk nya dengan erat jantung nya sudah berdegup dengan kencangnya.


Aera merenggangkan dekapan  seseorang dari nya sekedar untuk mendengakan sedikit kepalanya memastikan siapa yang yang sudah memeluk nya begitu saja.


"Azka"


Seru Aera dengan Azka yang kembali menarik Aera untuk lebih erat berada dalam pelukan nya.


Aera terdiam ikut menikmati dekapan hangat dengan degup jantung yang begitu kencang seolah sudah mengenali dengan siapa detak jantung nya berdegup.


"Maafin gua Aera"


Azka masih dengan  memeluk Aera.


"Lo kenapa Ka?"


Dengan Aera yang melepaskan pelukan Azka dengan pelan.


Azka melepaskan pelukannya dan menatap Aera dengan segala rasa bersalah.


"Gua udah buat lo kecewa Ra"


"Buat apa?"


"Buat kemaren Ra"


"Kemaren? Janji yang seharusnya lo dateng tapi lo malah ngga dateng?"

__ADS_1


Tanya Aera membuat nya dibuat berbelit belit sekedar ingin tau bagaimana respon Azka.


"Gua dateng Ra, tapi lo udah pergi"


"Apa bedanya"


Aera yang masih dengan tatapan serius menatap Azka.


"Karna itu gua minta maaf"


"Apa maaf lo bisa meredakan rasa kecewa yang ada di hati gua dan gantiin waktu yang habis buat nunggu lo"


Aera memperlihatkan kekecewaan yang tampak jelas.


"Apa yang perlu gua lakuin buat menebus kesalahan dan rasa kecewa lo"


"Menurut lo apa?"


Aera yang malah bertanya balik memperkeruh suasana.


"Aera?"


Keluh Azka untuk Aera dan memberikan nya sesuatu yang dapat menebus kesalahan nya.


"Azka?"


Aera yang balik memanggil Azka.


Azka terdiam pasrah menatap Aera.


Aera pun ikut terdiam dengan tatapan tajam nya, sebelum akhirnya tersenyum dan menghelai tawa.


"Becanda Ka becanda, ya ampun muka nya sampe serius gitu"


Aera yang melihat Azka tampak bingung memperhatikan nya yang tiba tiba tertawa.


"Aera"


Azka dengan rasa kesal juga lega.


Sudah sangat tegang dengan ini malah hanya candaan yang Aera sengaja lakukan.


Lega karna Aera tidak marah dengan nya.


"Kenapa? Takut gua marah, gua kecewa atau apa"


Aera dengan senyum nya yang mereda dan kembali menatap Azka.


"Gua takut lo akan marah kecewa dan akhirnya ninggalin gua Ra"


Jelas Azka dengan semua ketakutan yang dirasakan nya.


"Gua emang marah, gua kecewa tapi lo kan udah jelasin semuanya lewat telfon tadi"


"Tapi lo matiin gitu aja, gimana gua ngga berpikir jauh Ra"


"Ya karna handphone gua mati"


Dengan Aera yang mengeluarkan dan memperlihatkan handphone nya kepada Aera.


"SMS lo aja baru gua baca tadi"


"Ya ampun Ra, maaf ya udah berfikir yang ngga ngga"


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Ngga papa, gua suka liat lo jadi seseorang yang tampak sedikit agresif dari pada biasanya"


Azka yang akhirnya kembali tersenyum dengan helain tawanya.


Azka kembali mendekap Aera memeluk nya dengan erat. Begitu pun dengan Aera yang ikut membalas pelukan Azka dengan erat nya.


Ada rasa tidak nyaman benar-benar tidak nyaman setelah membuat perempuan dalam pelukan nya menjadi kecewa,dan memberikan celah karenanya. Ingin selalu tampak sempurna dihadapan nya, disetiap kali dia menatap nya.

__ADS_1


__ADS_2