
Apa yang lebih menyenangkan, memilih tau dengan apa yang menjadi kenyataan namun akan menjadi sangat terluka, atau memilih untuk diam dan baik baik saja tanpa tau kenyataan yang sebenarnya.
Dan saat ini Aera berada pada pilihan nya untuk tau dan menjadi terluka dengan kenyataan yang sebenarnya.
Satu demi satu, lagi dan lagi batin dan rasa seolah kembali ditikam dengan benda tajam dititik luka yang sama.
Dengan seperti apa Aera harus menanggapi dan menghadapi ini.
Setelah rasa sakit, kecewa, amarah semua nya menjadi satu saat ini.
Aera terdiam dalam tangisannya, masih bersikeras untuk dapat mengendalikan dirinya. Ini masih sebagian, masih banyak hal yang harus Aera tau karna ini Aera harus dapat menahan dirinya.
"Hhhhhhhhhhh..."
Aera menarik nafas panjang yang kemudian menghembuskan nya, mengusap air mata dipipinya.
"Apa setelah itu nek?"
Tanya Aera untuk nenek kembali melanjutkan ceritanya.
"Satu tahun terakhir Anan jatuh sakit, sampai akhirnya koma dan meninggal. Anan pernah sekali sadar ditengah koma sekedar mengatakan sesuatu"
Lanjut nek Parsiah.
"Anan bermimpi, dengan gadis perempuan yang berada dalam mimpi Anan"
Tiru nenek dengan apa yang pernah Anan katakan kepadanya, disaat tersadar ditengah masa komanya.
"Tidak lama setelah itu, dia kembali kritis dan koma. Didalam koma nya pun Anan terus menjatuhkan air matanya. Nenek rasa itu semua adalah hukuman atas apa yang Anan lakukan"
Dengan sering kali Aera menghelai nafas dengan pejaman matanya, merasakan sesak yang sudah teramat sakit dirasakan.
"Selama satu tahun terakhir juga Aera selalu memiliki mimpi dengan sesosok pria yang tidak Aera kenal, dia tampak sedih dan kesepian, dia terus saja meminta Aera untuk melepaskan nya. Aera baru menyadari jika keberadaan sesosok pria itu adalah Ayah. Dia meminta Aera untuk tidak lagi merindukan dan mengharapkan kedatangan nya, dengan begitu dia dapat pergi"
Aera menutup wajah dengan dua telapak tangan nya. Tidak lagi dengan kendali yang dapat menahan dirinya.
Dalam wajah nya yang ditutup Aera terhisak hisak menderu tangis.
Nenek memeluk Aera, dengan menepuk nepuk pelan punggung Aera.
"Maafin nenek Aera,maafin Anan, semua yang kamu alami semua karna kami"
Dalam deru tangis nya, Aera berdebat hebat dengan batin nya.
Aera ingin membenci dengan semua yang berada di ketahui Aera saat ini.
Tapi batin nya menolak untuk itu, semua sudah menjadi masa lalu dan Aera sudah berjanji kepada mba Ana untuk melepaskan dan merelakan apa yang berada hilang.
Aera membuka wajahnya, mengusap wajah yang menjadi basah dengan tetesan air mata. Aera mengangguki menatap nenek, mengartikan Aera memaafkan nya.
"Hanya akan menjadi lebih sakit, dan memakan lebih banyak waktu jika saat ini Aera tidak menutup kekecewaan untuk mama, ayah dan nenek. Aera melepaskan semuanya termasuk rasa kecewa dalam hati Aera, Aera memaafkan semua yang terjadi yang melukai Aera sampai seperti sekarang ini"
"Terimakasih ya Aera"
Nenek tersenyum kembali mengusap pipi Aera dengan sesaat memejamkan matanya untuk merasakan pipi Aera yang lembut, dengan nenek yang menjatuhkan air mata dalam pejaman nya.
"Boleh, album foto Ayah untuk Aera?"
Tanya Aera dengan memperlihatkan album foto yang semula berada di pangku nya.
Nenek tersenyum mengangguki nya.
"Boleh nak"
Nenek menarik kedua tangan Nara untuk berada di genggam nya.
"Apa nenek juga boleh menjadikan Aera cucuk nenek?"
"Bukan nya Aera memang cucuk nenek kan?"
Suasana tampak menjadi haru, dengan senyum diantara keduanya, meski masih dengan sisa sisa kacaan air mata.
Nenek melebarkan senyuman nya, menarik Aera untuk kembali berada dalam pelukannya.
"Terimakasih banyak Aera"
Setelah nya Aera yang membawa tangan nenek untuk berada dalam genggaman nya.
"Aera harus pergi sekarang, Aera meninggalkan seseorang di luar. Kita mulai hubungan baik dari awal ya nek, Aera tidak akan melupakan semuanya tetapi Aera juga tidak akan membenci nya. Semua akan Aera simpan dalam ingatan Aera, sebagai masa lalu dan sebagai hal yang akan membuat Aera dapat belajar banyak hal"
__ADS_1
Jika setiap hal menyakitkan dibuat terlupakan, lantas dari mana seseorang akan belajar. Jika setiap hal hal yang menyakitkan seperti, patah, terluka, gagal, dan sebagainya berada di tinggal bahkan dibuang begitu saja.
Aera ingin menjadi berbeda, menjadi kuat, dengan belajar menjadi lebih baik.
Jika kemarin dirinya diluka seseorang, Aera belajar untuk lebih menata, berhati-hati agar tidak sampai melukai orang lain. Setelah tau dengan seperti apa rasa sakit nya, Aera tidak ingin menjadikan orang lain ikut merasakan dengan apa yang Aera rasakan.
"Rumah ini, rumah kamu juga, kamu bisa datang kapan pun kamu mau. Sering sering datang temui nenek ya"
"Aera akan sering datang, dan mencari tau lebih banyak soal ayah, dan soal nenek"
Aera tersenyum dengan tatapan hangat nya di antara mata dengan kelopaknya menjadi seperti mata panda.
Saat berada diluar, hujan begitu deras nya, dengan gemuruh petir yang sering kali terdengar menggeludug.
Dengan dipayungi satu bodyguard suruhan nenek, Aera sampai masuk kedalam mobil Titan tanpa harus berbasah kuyup.
"Udah?"
Tanya Titan memastikan keberadaan Aera yang sudah berada duduk di sampingnya.
Aera tersenyum mengangguki nya.
"Kenyataan nya jauh dari apa yang gua kira. Tapi saat di jelasin lagi, rasanya bener bener sakit. Tapi meski begitu aneh nya gua ngrasa lebih baik. Ada yang ngga gua pahami dari diri gua yang sekarang"
"Karna semenyakitkan apapun kenyataan, itu jauh lebih baik dari sebuah kebohongan atau apapun yang menutupi nya. Lo merasa sakit karna kenyataan yang sebenarnya, sedangkan sebagian dari diri lo ngrasa lo lebih baik, itu karna apa yang berada dalam batin lo menjadi lega Aera"
Jelas Titan sembari menatapi wajah Aera yang pucat, dan mata yang begitu sayup dan sebam karna terlalu banyak menangis.
Aera kembali diam terpaku, terluluh dengan apa yang dikatatakan Titan kembali menyentuh hatinya.
"Dan kenapa? Gua selalu lebih baik setiap cerita dan ngedengerin lo menasehati gua?"
Tanya Aera akan apa yang berada dalam pikirannya saat ini dengan tatapan nya yang tertuju manatap Titan.
Titan tersenyum tipis menatap Aera, dengan tiba tiba Titan mengusap kepala Aera.
Aera ikut tersenyum menatap Titan.
"Jadi sekarang giliran lo yang ikut gua ya"
Jelas Titan dengan menyalakan mobil nya.
"Kemana?"
"Ke satu tempat"
Singkat Titan tidak menjelaskan, dengan tempat yang akan dikunjungi nya bersama Aera.
Titan memarkirkan sebuah mobil di depan bioskop.
"Bioskop?"
Singkat Aera memastikan.
"Udah ikut aja"
Titan meraih tangan Aera untuk berada menuntun nya.
Aera membiarkan dengan tangan yang berada di genggam Titan.
Lagi pula ada kenyamanan yang dirasakan saat ini, saat berada dekat dengan Titan, saat berada tangan nya dalam genggaman nya.
Aera dan Titan masuk kedalam bioskop dengan Titan yang menarik nya begitu saja tanpa lebih dulu mengantri untuk membeli tiket masuk.
Saat berada dalam bioskop hanya ada keberadaan Aera dan Titan, benar benar sepi bahkan begitu kosong.
Aera menatap Titan, tidak memahami dengan semua yang ada saat ini di lihat nya.
"Duduk"
Seru Titan mengarahkan satu tempat duduk kepada Aera.
Aera duduk dengan Titan yang kemudian ikut duduk di samping Aera.
Dalam hitungan detik setelah keduanya berada duduk, det, ruang bioskop menjadi seperti hamparan semesta yang menjadikan langit begitu dekat, dengan jutaan bintang yang berada memenuhi nya.
"Titan"
Seru Aera menoleh menatap Titan, masih dengan terkejud nya. Tempat yang biasanya dijadikan tempat untuk sebuah filem, ini di jadikan Titan ruangan dengan 3Dimensi didalam nya.
__ADS_1
"Gimana? Lo suka?"
Tanya Titan menatap Aera dengan serius nya.
Berada dengan beberapa waktu setelah tau dan memahami keterlukaan, keterpurukan yang dirasakan dilalui Aera menjadikan Titan sangat tidak baik baik saja karna terus memikirkan Aera.
"Lo nyiapin ini semua"
Tanya Aera memastikan.
Titan mengangguki, masih dengan ekspresi serius nya.
"Buat apa?"
Dengan Aera yang kembali menjadi berkaca kaca, terharu dan tidak habis pikir dengan apa yang saat ini Titan berikan untuk nya.
"Buat lo Ra"
Perjelas Titan dengan singkat nya, menjadikan Titan seperti pribadi Titan yang sebenarnya.
"Hhhhh..."
Aera menghelai nafas, dengan kacaan air mata yang kembali jatuh dipipinya.
Dengan Titan yang langsung mengusap tetesan air mata yang dilihat nya jatuh dipipi Aera.
"Jangan nangis lagi, gua ngga suka liat ini Ra. Gua persiapin ini karna mau menghibur lo bukan buat lo jadi sedih kaya gini"
Aera tersenyum mengangguki nya, dengan segera mengusap jejak jejak air mata di pipinya.
Kedua nya menjadi terpaku menyandarkan kepalanya, menikmati jutaan bintang yang berkedip kedip diantara hamparan langit malam yang terang.
"Gua boleh tau? Apa yang saat ini berada dalam pikiran lo?"
Tanya Titan tanpa menoleh menatap Aera.
"Ketakutan"
Singkat Aera, yang tidak juga menoleh menatap Titan.
Akan sebuah kata yang di katakan Aera menjadikan Titan menoleh dan memperhatikan nya.
"Apa yang lo takutin?"
"Waktu"
Singkat Aera, menoleh menatap Titan.
"Gua masih ngga percaya waktu akan menyembuhkan semuanya? Dan.. gua takut dengan apa yang akan terjadi setelah ini"
Perjalas Aera dengan kembali menjatuhkan air matanya.
"Aera"
Seru Titan, menjadi khawatir dan ikut terluka dengan apa yang saat ini Aera takuti.
"Memang bukan waktu yang sebenernya menyembuhkan lo, tapi diri lo sendiri"
"Kalo gitu, selamanya gua ngga akan bisa sembuh menjadi baik baik aja seperti sebelumnya"
"Bukan nya lo udah bertekad dengan apa yang menjadi pilihan dan keputusan lo"
"Karna itu sekarang gua menjadi takut.
Hhhhhh..."
Aera memejam kan matanya sekedar menjatuhkan kacaan yang sudah menggenang.
"Aera!"
Seru Titan menjadikan kedua tangannya berada di kedua pipi Aera.
"Jangan menjadikan apa yang belom terjadi ikut mematahkan lo, lo pasti bisa keluar dari ini semua"
Aera membuka matanya, memperhatikan Titan.
"Jangan nangis lagi ya"
Minta Titan dengan mengusap kedua pipi Aera.
__ADS_1
Aera tersenyum tipis mengangguki, di antara matanya yang masih menyisakan jejak air mata.
Berada bertekad dengan apa yang menjadi pilihan sekali pun tidak menutupi seseorang dengan rasa ketakutan nya.