Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
86


__ADS_3

Jika seseorang yang berada begitu dekat dan erat meminta untuk terlepas dan pergi mau tidak mau kita memang harus melepaskan nya bukan karna tidak ingin mempertahankan nya tapi untuk menghargai keputusan dan pilihan nya.


Jauh dan matang semua sudah di pertimbangkan dengan baik.


Meski yang melepaskan dan yang terlepas sama sama tersakiti dan terlukai.


Aera mulai membuka pejaman nya tersadar setelah sebelumnya terjatuh pingsan. Dilihat Aera mama yang berada di sampingnya.


Aera tersenyum menatap mama.


"Aera lihat mba Ana dalam mimpi Area cantik banget ma, mba Ana pake gaun putih"


Jelas Aera ingat dengan jelas apa yang terjadi dalam ruang bawah sadar nya.


Mama tersenyum mengangguki dengan tetesan air mata yang berjatuhan.


"Kenapa ma?"


Aera bangun dan duduk untuk memperhatikan mama lebih dekat.


"Kondisi mba Ana semakin kritis, dokter sedang menangani nya sekarang"


Tanpa berbasa basi Aera bangun dan berlari menghampiri mba Ana. 


Aera memperhatikan dari balik kaca pintu dengan mba Ana yang tengah di tangani dokder.


Cukup lama Aera menunggu dengan ditemani mama sampai dokter keluar dengan ekspresi pasrah diwajahnya.


Menatap Aera dan Mama dengan menggelengkan kepalanya.


"Saya minta maaf"


"Ngga dok, ngga ngga, ngga mungkin"


Aera memahami maksud dari dokter, Aera menggeleng gelengkan kepalanya tidak terima benar-benar tidak terima.


Aera berlari masuk menghampiri mba Ana.


"Dok?"


Tanya Mama ingin penjelasan lebih lanjut.


"Ana sudah tidak ada, saya sudah melakukan semaksimal mungkin tapi kondisi Ana memang sudah sangat buruk  kerusakan pada hatinya sudah sangat parah terlebih dengan tumor yang sudah menyebar di seluruh tubuhnya"


Untuk kali pertama langkah Aera terhenti saat akan menghampiri mba Ana. Untuk kali pertama Aera ingin menoleh dan pergi jauh tidak melihat mba Ana. Untuk kali pertama bumi dirasakan nya berhenti dengan rasa sakit semua luka yang berada menjadi nyata dirasakan Aera.


"Hhhhhh..."


Aera menghelai nafas sesak diantara degup jantungnya yang melemah bahkan dirasakan seperti akan berhenti berdetak.


Menyaksikan suster yang menarik selimut putih untuk menutupi sampai wajah mba Ana.


"BERENTI!"


Teriak Aera menahan suster yang akan menarik slimut untuk sampai menutupi wajah mba Ana.


Deruan dan tangisan terkuak ramai tertumpah dan tercurah tidak terkendali.


Aera terpaku kaku dengan tetesan air mata yang terus menetes dengan derasnya.


Tidak mengerti apa yang harus dilakukan nya, apa yang harus di katakan nya semua masih tidak Aera percaya.

__ADS_1


Sampai pada akhirnya bumi dirasakan kembali berputar, waktu kembali dirasakan berjalan. Percaya atau tidak semua nyata adanya. Aera membungkam mulutnya dengan kedua telapak tangannya untuk menahan deru tangis yang terus mengencang dan tidak tertahan.


Sesak, sakit dan terlalu sulit semua hal konyol yang menyakitkan berada bersamaan mencabik-cabik seisi tubuh dan hatinya.


"BANGUN MBA! BANGUN! AERA MOHON BANGUN MBA"


Teriak Aera meluapkan, berada di samping mba Ana dengan menggoyang goyangkan lengan Mba Ana.


"Mba Ana?"


Seru Aera dalam suara serak dengan bibir yang gemetar.


"MBAAA....."


Seru Aera memeluk mba Ana dengan erat nya.


Mama masuk dan dengan segera menarik Aera untuk berada dalam dekapan nya.


"Aera harus gimana tanpa mba Ana ma?"


Tanya Aera dalam pelukan mama.


"Biarkan dan relain mba Ana sayang, di sana jauh dari tempat ini akan ada tempat indah yang menyambut nya"


Lanjut Mama mengusap usap punggung dan kepala Aera.


Aera terpaku diam dalam deru tangis nya.


"Dandelion"


Seru Aera melepaskan dirinya dari pelukan mama, kembali terpaku menatap dan memperhatikan mba Ana.


Tanya Aera tersadar dan ingat semua pesan dan nasihat yang mba Ana sampaikan dalam mimpi nya.


"Semua sudah sangat menyakitkan mba, kepergian mba Ana yang sangat tiba tiba. Lantas bagaimana bisa Aera melepaskan nya?"


Aera menjadi tenang dengan semua pertanyaan yang berada saat ini memenuhi kepalanya, tetesan air mata yang terus saja berjatuhan.


"Jika Dandelion dapat tumbuh dimana pun setelah berhamburan berbeda untuk Aera mba, satu tempat yang sudah begitu nyaman pun belum tentu dapat membuat Aera tumbuh dan merasa baik baik saja"


Mama memilih untuk keluar meninggalkan Aera memberi ruang untuk Aera dapat berdua dengan mba Ana, menyampaikan dan mengutarakan semua dalam benak nya.


"Jika pada akhirnya mba Ana pergi lantas kenapa membuat Aera harus terlalu bergantung kepada mba, jika pada akhirnya mba pergi lantas Aera harus seperti apa? Mba...? Kenapa harus sekarang? Kenapa mba tega buat Aera sendiri"


Aera kembali menderu dengan tangisannya mengencang dan semakin kencang di dengarkan.


Kehilangan... di ucapkan saja sudah sangat menyakitkan lantas bagaimana mungkin rasa nya dapat tertahan jika kehilangan menjadi nyata.


Dirasakan Aera tubuhnya menjadi sangat lelah, kepala nya dirasa sangat pusing dan berat. Tepat saat mama kembali masuk untuk menarik Aera, Aera sudah kembali terjatuh tergeletak pingsan di lantai.


"Aera"


Seru Mama berlari menghampiri Aera.


Aera dibawa kedalam mobil agar dapat beristirahat dirumah dengan jenazah Mba Ana yang di antarkan dengan ambulans.


Pada akhirnya mba Ana tidak lagi bersikeras memaksakan dirinya yang sudah lama terluka dengan rasa sakit nya untuk tetap bertahan dan berada di samping Aera. Mba Ana melepaskan dirinya untuk pergi karna mba Ana percaya Aera dapat lebih banyak belajar dan menjadi lebih tegar, ada atau tanpa adanya dirinya. Biarlah hari hari yang lalu bersama dengan Aera ikut terkubur dalam bahagia nya, pernah berada menjadikan Aera berarti adalah hal hal terindah yang pernah dirasakan nya.


Dunia yang tidak lagi sama akan sangat memberikan batasan akan rindu rindu yang nantinya akan sering kali tercipta di antara keduanya.


Dalam lelapan nya Aera kembali terbangun di tempat yang indah, tempat dimana Aera sebelumnya bertemu dengan mba Ana.

__ADS_1


Dilihat Aera sosok mba Ana yang pergi menjauh mengikuti seorang pria di depan nya.


"Mba Ana"


Seru Aera kencang.


Mba Ana mengehentikan langkahnya dan berbalik menatap akan keberadaan Aera.


"Mba udah mau pergi?"


Tanya Aera sudah berada di hadapan mba Ana.


"Mmm mba harus pergi sekarang?"


"Latas kapan kita ketemu lagi?"


"Kita akan sering bertemu Aera"


Tersenyum mba Ana menatap Aera.


"Dia siapa mba?"


Tunjuk Aera akan keberadaan pria yang masih berdiri membelakangi Aera.


Mba Ana hanya diam dan melebarkan senyuman nya.


Seseorang itu berbalik dan menatap Aera. Tersenyum menyapa Aera.


"Saya seseorang yang selalu merindukan kamu Aera"


"Tapi saya tidak mengenal anda"


Jelas Aera merasa tidak asing dengan punggung yang sebelumnya di perhatikan Aera, seperti pernah melihatnya beberapa kali tapi entah dimana.


"Kita memang tidak saling mengenal tapi kita saling merindukan"


Seseorang dengan ekspresi sedih yang diperjelas dalam wajahnya.


"Saya merindukan anda?"


"Iya, dan kamu juga membenci saya"


"Saya tidak mengingat apapun"


Sekarang Aera berusaha mengingat apa yang dirasa terlupakan dan terlewatkan hasilnya tetap saja percuma.


"Boleh saya meminta sesuatu?"


Aera mengangguki tanpa ekspresi.


Rasanya menjadi tenang dan ada sesuatu yang sangat nyaman dirasakan Aera saat menatap dan memperhatikan pria di disamping mba Ana.


"Jika terbangun nanti, jangan lupakan wajah saya dan biarkan semua nya. Saya melepaskan kamu, kamu juga harus melepaskan saya. Maafkan saya dan jangan lagi membenci saya"


Aera terdiam tidak memahami dengan apa yang pria ini katakan.


"Karna saya sangat merindukan kamu Aera"


Dilanjuti dengan setetes air mata yang tiba-tiba ikut terjatuh.


Ketulusan, ada yang dirasakan dan dipahami dengan rasa yang saat ini Aera rasakan dengan keberadaan pria di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2