Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
107


__ADS_3

Untuk beberapa waktu hal hal tidak terduga berada terjadi didalam hidup, yang menyenangkan atau malah sebaliknya.


Tidak terduga, artinya tidak terpikirkan, tidak di kira kira tapi tau tau sudah ada menjadi nyata. Tidak terduga akan kepercayaan yang seolah seperti kaca. Benar kuat tapi sekali terhantam akan pecah berhamburan. Lantas dengan seperti apa setelah ini, dengan kaca yang sudah menjadi pecah berhamburan ini? Bila ditata dan di kembalikan untuk menjadi utuh dan sama seperti sedia kala itu tidak lah mungkin. Lantas jika dibiarkan pecahan itu dapat saja terinjak, mengenai dan menjadikan seseorang terluka.


Kenapa hal hal tidak menyenangkan bertubi-tubi datang? Menjadikan kesulitan nyata dirasakan. Kesulitan akan diri sendiri, akan hati yang terluka, akan pikiran yang berada penuh dengan prasangka, dan akan semua yang berserakan tidak tertata.


Aera berada terbaring memejamkan mata dengan handset yang dikenakan nya. Berada menenangkan diri yang menjadi begitu lelah, bahkan seperti kehilangan semua tenaga dan kekuatan yang ada. Aera memutuskan untuk menjadikan semuanya pasrah, biar seperti air yang mengalir. Berada berjalan seperti semestinya dan seharusnya.


Sepanjang malam dengan mata terpejam tetapi Aera tidak dapat tertidur, pikiran nya masih tersadar, terjaga semalaman.


Aera membuka mata, melepaskan kedua handset yang berada ditelinga nya setelah dengan musik yang didengarkan semalaman. Berada terbujur lemas tidak bertenaga dengan tatapan kosong.


"Tok..tok.. Aera sayang? Kamu belum bangun nak? Udah siang loh ini"


Seru Mama setelah selesai menyiapkan sarapan tapi Aera belum juga kunjung turun untuk bersiap kesekolah.


Tatapan yang semula berada memperhatikan hordeng hordeng putih yang sesekali menjadi bergelembung karna angin yang masuk dari jendela yang Aera tidak tutup dengan sempurna. Hordeng yang seolah-olah tengah menari nari.


Tatapan nya dialihkan ke arah pintu setelah dengan suara mama yang didengar nya.


"Nanti sebentar lagi Aera turun ma"


"Yaudah kalo gitu mama tunggu dibawah ya"


Lanjut Mama tersenyum, meski senyuman nya tidak dapat dilihat Aera karna pintu yang tertutup yang menghalangi nya tapi mama menjadikan senyuman nya untuk menggambarkan apa yang dirasakan nya saat ini.


Menjadi lebih lega dan ceria setelah dikira nya Aera sudah lebih baik dan mulai kembali seperti semula.


Aera beranjak turun tanpa lebih dulu mandi atau sekedar mencuci muka, benar banar langsung turun dengan apa adanya. Aera duduk di meja makan di hadapan mama dengan tersenyum begitu manis nya.


"Pagi Ma"


Sapa Aera, menjadi sedikit lebih baik setelah melihat keberadaan mama dihadapan nya.


Apa yang lebih berharga saat ini selain keberadaan mama untuk nya, alasan satu satu nya saat ini Aera masih mampu tersenyum seperti sekarang ini.


"Pagi"


Seru Mama dengan tatapan berbeda menatap Aera, yang masih berantakan dengan baju tidur yang masih dikenakan nya.


"Kamu baru bangun?"


Tanya Mama dengan penampilan Aera saat ini. Ada yang dirasakan berbeda dari Aera saat ini, dari sorotan mata yang berada menatap nya saat ini.


Aera tersenyum mengangguki nya.


"Iya Aera kesiangan ma"

__ADS_1


"Jadi kamu ngga sekolah hari ini?"


Masih berada tersenyum dengan lebarnya, menggelengkan kepala.


"Engga ma, Aera mau istirahat aja dirumah"


Dan jelas sudah Aera kembali menjadi tidak baik seperti beberapa saat sebelum nya.


Mama tersenyum mengangguki nya.


"Yaudah mama temenin kamu buat dirumah ya"


Mana mungkin dapat meninggalkan Aera sendirian dirumah dengan keadaan batin nya yang kembali tidak baik baik saja.


"Ngga usah ma, mama berangkat kerja aja ngga papa"


Akan sangat tidak menyenangkan jika keberadaan nya bolos sekolah malah membuat mama repot.


"Ngga papa ko sayang, mama bisa temenin kami dirumah"


Lanjut Mama bersikeras untuk tetap dirumah menemani Aera. Ada ketakutan dengan pemikiran gila yang dipikirkan nya. Takut jika Aera melakukan sesuatu yang dapat membahayakan dirinya sendiri.


"Mama ngga perlu khawatir Aera ngga akan aneh aneh ko"


Ucap Aera setelah tau dengan apa yang berada di khawatirkan mama.


Perjelas Aera untuk meredakan kekhawatiran yang mama rasakan.


Berada diam sesaat memperhatikan Aera, jika sudah menjadi permintaan nya mau bagaimana lagi selain menuruti nya.


Mama tersenyum tipis mengangguki nya.


"Yaudah tapi sekarang kamu sarapan dulu sama Mama"


Lanjut Mama, dengan beberapa hidangan yang sudah tersedia di atas meja. Jika tidak di minta untuk sarapan sekarang, Aera bisa saja melupakan nya, entah sarapan, makan siang atau sekedar ingat untuk mengisi perut nya.


Aera tersenyum mengangguki nya.


Setelah habis dengan sarapan nya, Aera beranjak bangun dari tempat duduknya.


"Nanti kalo mama mau berangkat, berangkat aja ya ma Aera ngga bisa anter, soal nya Aera mau lanjut tidur, ngga papa kan ma?"


Menerka nerka dengan apa lagi yang menjadikan Aera tampak berbeda, tidak terlihat secara nyata tapi mama dapat merasakan itu. Merasakan sorot mata yang dipenuhi kecewa, senyum yang terurai dengan menutup luka, tubuh yang menjadi lemas seperti kehilangan banyak tenaga.


"Kalo kamu butuh apa apa kamu telfon mama ya"


Aera kembali tersenyum mengangguki sebelum beranjak pergi, naik ke atas kembali kedalam kamar nya.

__ADS_1


Didalam kamar Aera beranjak membuka hordeng yang semula masih berada tertutup, menjadikan kamar nya yang semula redup menjadi terang juga dengan kaca jendela yang dibuka dengan sepenuhnya menjadikan udara udara di dalam ruangan terganti dengan udara yang lebih segar. Aera menarik nafas panjang dengan udara segar yang ingin di hirup dan di nikmati nya.


"Hhhhhh..."


Dihembuskan kembali dengan sangat lega.


"Jadi apa ini? Benar pasrah atau tengah berlari dan bersembunyi. Karna takut tidak dapat menghadapi"


Gumam Aera kepada dirinya sendiri.


Hembusan angin dengan cahaya yang memeluk dan mengenainya dengan rasa hangat menjadikan Aera bertanya-tanya dengan apa yang saat ini tengah dilakukan nya. Benar untuk menjadi pasrah atau tengah berlari dan bersembunyi, berada di dalam kamar terkunci seorang diri dengan mengabaikan sekolah nya.


Memang benar dengan pasrah yang ingin Aera lakukan, tapi disisi lain Aera ingin berlari, bersembunyi dengan marah dan kecewa yang ada dirasakan nya saat ini.


Kali pertama menjadi kecewa dengan seseorang yang selama ini berada menguatkan nya. Lantas harus bagaimana Aera menghadapi nya.


Benar hanya sekedar kesalah pahaman, dengan Sia yang salah memahami semua nya dan salah memahami diri nya. Dan karna salah memahami dirinya itu yang menjadikan Aera kecewa.


Langit pagi yang begitu biru terhampar luas seperti tengah menjadikan seseorang berada menyaksikan nya dari atas sana.


"Aera kangen mba"


Seru Aera dengan berada menatap langit di atas sana, berharap seseorang yang dirindukan nya juga tengah memperhatikan dan merindukan nya.


Aera beranjak duduk di depan meja dan didepan sebuah cermin besar yang memperlihatkan wajah cantik nya yang natural.


Sudah di siapkan nya sebuah buku dan bolpoin di atas meja. Ada yang tengah Aera pikiran sembari memperhatikan dirinya di depan cermin.


Aera menundukkan tatapan nya, meraih sebuah bolpoin dan mulai mengisi lembaran pada buku dengan tinta hitam nya.


"Ada kalanya aku Aera Anindira, ingin berhenti dan menghilang untuk waktu yang panjang. Dan kala nya itu adalah saat ini, hari ini dan detik ini.


Setelah kehilangan satu persatu permata yang ada, cahaya yang tersisa malah ikut menjadikan aku terluka. Tapi masih ada satu yang tersisa, tidak kalah berharganya yaitu mama. Apa aku juga harus mengajak nya untuk ikut pergi bersama? Pergi ke atas langit yang biru dan begitu indah nya. Di atas sana semua akan indah dan baik baik saja. Tidak perlu ada yang menjadi kecewa entah karna masa lalu atau masa sekarang. Kebersamaan pun akan dimiliki dengan kekal di atas sana, di surga."


Lembaran kertas yang hampir terisi penuh dengan catatan Aera terbasahi dengan tetesan air mata, yang menjadikan beberapa kata luntur tapi masih dapat dibaca dengan jelas.


Terpaku diam meletakkan bolpoin, yang kemudian Aera mencengkram kepala nya dengan dua tangan nya sembari memejamkan matanya.


Ada yang berada disadari dengan apa yang salah akan pemikiran yang tiba tiba berada di inginkan nya.


Menjadi histeris menangis dengan cepat merobek selembar kertas yang berisi tulisan nya barusan. Diremas selembaran kertas itu dan di lemparkan Aera dengan begitu kencang nya. Terlempar, menggelinding dan berhenti di dekat pintu kamar nya.


Aera menundukkan kepalanya dengan di sangga kedua lengan tangannya, menumpahkan tangisan nya.


Saat seseorang berada terpuruk, ada banyak hal yang mencoba mengambil alih pikiran dan hatinya, atas luka, kecewa dan marah. Hal hal gila, tidak masuk akal yang diciptakan pikiran yang tengah tidak sehat. Dan saat ini Aera berada dengan pikiran yang tengah tidak sehat itu.


Tapi benar untuk Aera, beristirahat dan menjadi tidak sadar adalah cara terbaik untuk lepas dan lupa dengan ini semua. Tapi berada ditahan atas niat dan keinginan nya itu, karna mama.

__ADS_1


__ADS_2