Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
30


__ADS_3

Aera pulang kerumah dengan membawa suasana bahagia yang tercipta karna Azka.


Saat di kamar pun Aera masih saja senyum senyum sendiri ada yang menggelitik di hati nya. Senang dengan sebuah perasaan berbeda sesuatu yang unik dirasakan Aera.


Beberapa saat waktu nya habis sekedar menikmati senyuman dan membayangkan wajah tampan Azka.


Aera turun sekedar membuat minuman dan mencari mba Ana, sejak Aera pulang mba Ana belum juga terlihat.


Diruang tamu, diruang tengah, di dapur dan di halaman belakang mba Ana tidak juga terlihat.


Aera menuju kamar mba Ana.


Dilihat Aera kamar mba Ana yang tidak tertutup rapat. Aera mengetuk pintu.


"Tok.. tok.. tok"


Tidak ada jawaban dari dalam kamar mba Ana.


Aera mengintip dari celah pintu yang terbuka dilihat mba Ana tengah sibuk menulis sesuatu di dalam buku yang terlihat tebal.


Aera menerobos masuk dan menghampiri mba Ana. Mba Ana menoleh tampak begitu terkejut dengan Aera yang sudah berada di sampingnya. Dengan cepat mba Ana menutup buku dan menindihi buku nya dengan kedua lengan tangan nya.


"Ah tadi Aera udah ngetok pintu dulu ko mba tapi mba Ana diem aja jadi Aera masuk gitu aja, maaf ya mba"


Jelas Aera memperhatikan mba Ana yang tampak begitu terkejut dan tidak nyaman dengan Aera yang menerobos masuk begitu saja.


Mba Ana tersenyum dengan canggung nya.


"Mmm ngga papa Aera, mba cuman kaget aja kamu tiba tiba udah di samping mba"


"Mba lagi apa emang sampe kaget gitu"


"Cuman lagi nyatet tulisan biasa aja. Kamu kenapa cari mba ada butuh apa apa"


Dengan Mba Ana yang mengalihkan pembicaraan.


Aera menggelengkan kepalanya menatap aneh mba Ana seperti seseorang yang sedang menutupi sesuatu.


"Aera kira mba kemana cuman mastiin aja. Kalo gitu Aera keluar ya mba"


Mba Ana tersenyum masih tampak canggung dengan mengangguki begitu saja.


Aera meninggalkan Mba Ana dengan sesuatu yang mengganjal di hatinya, glagat nya yang aneh dan canggung membuat Aera berfikir mba Ana tengah menyembunyikan sesuatu.


"Uhhhh.."

__ADS_1


Mengehelai nafas lega setelah Aera keluar dan menutup pintu.


Aera pergi kedapur membuat secangkir kopi instan. Kembali ke kamar dengan secangkir kopi yang dibawanya. Aera membuka hordeng dan menarik kursi untuk Aera duduk di dekat jendela. Menikmati secangkir kopi dengan memperhatikan hamparan langit gelap yang tampak mendung.


Aera memainkan Instagram nya dengan banyak nya notifikasi yang sudah masuk dari DM, juga like dan komen di foto yang di posting nya bersama mba Ana.


Sudah 568 like dan 109 komentar.


Beberapa komentar teratas.


"Cantik banget ya ampun"


"Serasi banget ya berduan gitu"


"Aera oh ya ampun"


"Kaya mirip gitu ngga sih? Kembar ya?"


"Bla bla bla... dan masih banyak lain nya.


Aera dengan senyum senyum sendiri membaca banyak nya komentar yang masuk yang mengatakan Aera dan mba Ana sama cantik nya dan tampak terlihat mirip. Aera membuka DM dari sebuah nama yang tertera Titan_sptr.


"Tugas dan hukuman dari Bu Ega. Buku besar matematika hal 175 - 183. Dikumpulkan lusa"


"Tugas? Hukuman? Apaan nih? Gila aja gua ngerjain sebanyak itu"


Balas Aera yang malah menjadi kesal terhadap Titan.


Setelah beberapa saat menunggu balasan, Titan tidak juga membalas nya.


"Chat gua di WhatsApp 08**********"


Lanjut Aera kembali mengirim Titan pesan"


"Tok.. tok.."


Aera menoleh dengan suara pintu nya yang di ketuk.


"Masuk mba"


Dilihat mba Ana yang tengah berdiri di dekat pintu yang tidak ditutup rapat.


Mba Ana memberikan setoples biskuit kering kesuksesan Aera.


Aera melebarkan tatapan, tersenyum senang.

__ADS_1


"Makasih mba"


Aera membuka tutup toples dan memakan biskuit kering dengan rasa coklat yang manis dan renyah.


Mba Ana tersenyum duduk di tempat tidur Aera memperhatikan Aera yang tengah sibuk mengunyah biskuit dari nya.


"Langit nya mendukung"


Mba Ana ikut memperhatikan gelap nya langit kali ini.


"*Mm mendung mba"


"Jangan malem malem ya tidur nya*"


Aera mengangguki nya dengan mba Ana yang melangkah meninggalkan.


Terpaku diam dengan banyak kata yang tertata siap di utarakan namun kembali di urungkan kembali bungkam. Lagi dan lagi dibiarkan di simpan seorang diri. Rasanya benar benar sudah tidak nyaman, tapi tidak siap jika harus orang lain yang menjadi terbebani karna kejujuran nya.


Mba Ana menutup pintu kamar Aera dengan rapat. Wajah nya pucat gemetar menahan sakit dibagian perutnya.


Air matanya menetes diantara rasa sakit dengan kesedihan nya.


"Biarkan saya bertahan lebih lama lagi"


Gumam mba Ana pelan dalam tangisan nya yang tidak bersuara.


Mba Ana melangkah membawa rasa sakitnya.


Waktu menjadi sangat berharga setelah seseorang tau arti dari rasa sakit yang sebenarnya saat seseorang tau bahwa setiap waktu tidak lah sama. Hari ini besok lusa dan seterusnya adalah hari yang berbeda.


Ingin kembali pada awal, saat menyakitkan, saat tidak menyenangkan saat sedih dan keterpurukan tau seperti apa rasanya ingin kembali dan menatanya lebih baik lagi. Mempersiapkan segala sesuatunya dengan baik lagi.


Kenapa selalu penyesalan yang tertinggal jauh di belakang.


Seperti itu lah kebanyakan garis yang banyak orang jumpai dan lalui.


Tetapi lain halnya untuk mba Ana tidak ada yang disesali segala yang terjadi disyukuri nya. Hanya saja hati nya teriris patah saat menatap Aera saat ingat sesepi apa keberadaan nya.


Terlalu bersyukur membuat nya merasa belum cukup memberikan banyak hal untuk Aera. Tidak meminta untuk kembali di masa lalu dan menata ulang segala nya Mba Ana hanya meminta Tuhan membiarkan nya tinggal untuk sedikit lebih lama, setidaknya sampai Aera tau bagaimana caranya bertahan seorang diri.


Dunia untuk Aera masih menjadi tempat asing yang sering kali membuat nya kesepian dan tersesat akan begitu sedih meninggalkan Aera begitu saja.


Jika tempat untuk Aera adalah dirinya seorang yang pada akhirnya harus meninggalkan nya pergi tidak terbayang bagaimana hancur dan sakit yang Aera rasakan. Batin nya terlalu rapuh jika harus dihadapi dengan hal hal yang seperti ini terus menerus. Bahkan seseorang yang mengaku kuat pun akan hancur dengan kerapuhan nya jika terus saja dilukai.


Jalan yang indah sekalipun tidak selamanya baik baik saja, akan ada saja jarum jarum kecil yang dapat melukai. Untuk Aera bukan lagi jarum jarum kecil yang di injak nya. Sudah seperti berjalan diantara pecahan kaca yang tertancap tajam akan setiap langkah yang dipijak nya. Bahkan untuk rasa yang sering kali dirasakan nya menjadikan Aera seperti mati rasa lupa dengan rasa sakit yang sebenarnya meski sudah terluka dengan sangat parah nya.

__ADS_1


__ADS_2