
"Makasih ya, makasih karna lo udah anter gua pulang dan makasih karna lo masih seseorang yang dapat gua percaya"
Ucap Aera sebelum turun dari mobil, setelah Titan mengantarkan nya pulang.
Titan mengangguki dan, ikut turun menghampiri Aera.
"Aera"
"Jadi sekarang yang ada di hati lo bukan lagi Azka, tapi gua?"
Lanjut Titan mempertanyakan dengan jelas dan pasti nya.
Aera tersenyum dengan sorot mata yang penuh arti menatap Titan, menggelengkan kepalanya.
"Tapi tadi lo bilang"
Aera meraih satu tangan Titan untuk digenggam nya diantara kedua tangan yang sudah menjadi keriput karna kedinginan. Dengan banyak nya air hujan yang yang sudah mengering di badan.
"Bukan lo yang ada di hati gua, tapi gua yang ada di hati lo. Jika ditanya perasaan gua buat siapa? Itu buat lo. Tapi ngga buat hati gua. Gua menutup dengan hati ini, ngga akan ada lagi orang yang dibiarkan masuk kedalam hati ini dan malah menjadi terluka nanti nya"
Perjelas Aera dengan kembali menjatuhkan air matanya.
Entah Titan atau siapapun tidak lagi akan ada keberadaan dihati nya.
Jika tetap membiarkan seseorang berada tinggal di hatinya, itu akan melukai keduanya jika pada akhirnya Aera benar akan pergi.
"Terluka atas apa Aera, kenapa bisa terluka? Kalo nanti nya setelah gua berada masuk kedalam hati lo, lo mau membuka hati buat yang lain lagi itu hak lo, tugas gua bikin keberadaan gua menjadi satu satunya buat lo dan di hati lo"
Tidak memperdulikan dengan dirinya yang mungkin saja benar menjadi terluka dengan apa yang Aera katakan. Tapi Titan tidak memperdulikan itu semua. Baginya jika sudah berada memiliki sesuatu maka selebihnya adalah tugas nya untuk menjadikan sesuatu itu tetap milik nya yang utuh.
"Karna nanti nya gua akan pergi"
Aera yang menahan diri nya dengan kata kata ketulusan yang Titan katakan menjadikan nya menumpahkan banyak air mata.
"Maka gua akan mengejar lo"
Titan yang seolah ikut merasa sesak akan Aera dengan tangisan nya kali ini, terlebih dengan Aera yang mengatakan akan pergi.
"Dan gua akan marah"
Bersikeras mengikuti, Aera tidak ingin Titan menjadi terluka apalagi sampai menderita akan dirinya.
"Aera.."
Seru Titan dengan suara yang seolah kehilangan tenaga nya.
Aera melepaskan tangan Titan, dan melangkah pelan untuk berada lebih dekat dan bahkan menyatu dengan Aera yang kembali memeluk Titan dengan sangat erat nya. Dalam pelukan nya Aera berada menangis, tersenyum sembari menikmati harum tubuh dan parfum yang begitu wangi dari baju Titan yang sudah menjadi basah, tapi tidak melunturkan sedikit pun wangi nya.
"Janji sama gua, lo ngga akan mengikuti kemana pun gua pergi"
__ADS_1
Minta Aera, dengan harapan nya.
"Ngga ada lo, harus gimana gua Aera"
Kali ini berada dalam pelukan Aera, Titan merasakan air mata nya yang menetes jatuh dan berada tertinggal di pipinya, mendekap Aera dengan lebih erat.
"Semua akan baik-baik aja, ada atau ngga ada nya gua"
Seru Aera melepaskan pelukannya, dengan wajah keduanya yang begitu dekat dengan dua tangan Aera yang berada memegangi wajah Titan.
Titan menggelengkan kepalanya.
Hati yang berteriak menolak dengan apa yang diminta Aera kepadanya. Rasanya seperti ingin membawa Aera pergi bersama nya ke satu tempat dimana keduanya tidak akan terlepas atau bahkan terpisahkan.
"Besok malem jam 7 kita pergi ke satu tempat yang indah. Jangan lupa berpenampilan menarik seperti biasa, karna kita akan ciptakan banyak moment dan kebersamaan besok malam"
Tersenyum Aera, melepaskan tangannya dan memundurkan langkahnya.
"Gua kedinginan, gua harus masuk sekarang. Lo hati hati dijalan ya"
Aera yang kemudian berbalik melangkah meninggalkan Titan yang masih berada tertunduk ditempat nya.
Setelah berada masuk Aera menjatuhkan dirinya di sandaran pintu yang sudah di tutup nya.
Menangis dengan begitu deras, meluapkan semua dengan leluasa apa yang semula ditahan nya berada dibebaskan. Suara nya sampai habis, dan Aera sampai seseguk sesak tidak dapat bernafas dengan baik.
Memegangi dadanya yang begitu sakit dengan kepala yang berada tertunduk.
Dalam tundukan yang menjadikan Titan memejamkan mata merasakan hancur dan sesak dengan melihat Aera seperti sekarang ini, dan tau dengan Aera yang akan pergi meninggalkan nya. Satu satunya alasan tersisa memilih untuk meninggalkan nya. Lantas harus seperti apa dan dengan apa Titan menghadapi dan berada bertahan setelah ini.
"Aera"
Seru Titan pelan dalam tundukan nya.
"Maafin gua Titan"
Seru Aera, seolah tau dan merasakan dengan Titan yang menyeru memanggil namanya.
"Tempat ini terlalu menyakitkan untuk ditinggali. Semula gua ingin bertahan tapi setiap pijakan yang ada dirasakan begitu melelahkan. Gua cape Tan, biarin gua pergi dan beristirahat, bertemu mba Ana dan Ayah di atas sana"
Gumam Aera dengan bibirnya yang gemetar. Keluh dengan semua hal nya.
"Tuhan jangan marah dengan keputusan Aera. Aera tau ini salah tapi ini pilihan Aera"
Aera beranjak bangun, dan Titan beranjak pergi. Mandi dan berganti pakaian dan menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur. Berada dengan mata yang setengah terbuka dengan tatapan kosong nya.
Setelah cukup lama berada seperti itu, Aera beranjak bangun duduk di atas meja meraih sebuah buku dan bolpoin.
Terdiam dengan bolpoin yang sudah berada di pegang nya, tengah memikirkan sesuatu dengan apa yang akan dituliskan.
__ADS_1
"Ada terlalu banyak hal dan kata yang ingin gua sampaikan, tapi selembar kertas tidak akan cukup memuat semuanya. Jika boleh mengutarakan, gua kecewa sama lo Sia, saat dimana dunia ngga perpihak kepada gua lo juga menjadi hilang menjauh dan salah memahami gua.
Setau gua, yang gua percaya satu satu nya orang yang mengenal dan tau gua dengan sangat baik adalah lo.
Tapi entah apa yang keliru sampe lo menjadi berbeda.
Lo ngga perlu minta maaf, menyesali atau bahkan menyalahkan diri lo sendiri. Karna kalo pun ada yang perlu di salahkan itu adalah diri gua sendiri. Kesalahpahaman ini ngga sebanding, ngga berarti apa apa sama kebaikan dan waktu yang udah lo berikan. Dan buat itu semua, Makasih banyak Sia. Karna lo, karna bersama lo gua punya banyak hal sebagai kenangan terindah.
Jangan menyalahkan atas apapun yang nantinya menjadi kejutan, karna itu semua adalah pilihan gua.
Terimakasih banyak udah menjadi sosok teman, sahabat dan keluarga buat gua"
Selembar kertas yang selesai ditulis dirobek Aera dilipat dan dimasukkan kedalam amplop putih.
Aera terlalu takut, tidak punya banyak keberanian untuk mengatakan semua nya secara langsung kepada Sia.
Tertunduk diatas sanggaan kedua lengan tangan nya.
Dekapan yang perlahan mulai dikepakan terbuka untuk melepaskan dan membiarkan banyak hal kembali ketempat nya, atau untuk menjadi hilang yang jelas menjadikan Aera sendiri. Setelah benar menjadi sendiri Aera akan memulai perpisahan itu, mengakhiri rasa sakit dan keterpurukan nya.
Berada cukup lama dalam tundukan dan dengan beberapa tetes air mata yang berjatuhan. Aera bangun dan mengusap pipinya pergi turun dan masuk kedalam kamar Mama.
Saat dibuka pintu kamar Mama, Aera dibuat terkejud membulat kan tatapan dengan begitu berantakan nya kamar Mama dan dengan banyak nya baju yang berserakan.
Aera terpaku diam memejamkan matanya setelah masuk dengan beberapa langkah nya.
Mama terlalu sibuk mengurusi dirinya, memikirkan dan menghawatirkan dirinya sampai lupa dan mengabaikan dirinya sendiri.
Dengan ini Aera menjadi sangat bersalah, bukan sekedar membebani tapi juga merepotkan mama.
Aera beranjak bergegas memunguti baju baju yang berserakan, dan menata makeup dan tata rias di meja, merapihkan dan membersihkan tempat tidur nya.
Membawa semua baju kotor itu ketempat cucian baju. Memasukan semuanya kedalam mesin cuci.
Aera terdiam tidak memahami dengan seperti apa menjalankan mesin cuci dan dengan apa yang perlu digunakan nya. Aera kembali kekamar sekedar mengambil handphone dan mencari di internet tutorial mencuci pakaian dengan mesin cuci. Setelah cukup lama memahami, dan mengikuti nya sesuai dengan yang berada di ajarkan di internet, akhirnya mesin cuci menggiling dengan baik.
Aera beranjak pergi ke dapur, membuka kulkas dan mencari bahan bahan yang dapat di masak nya.
Ditemui wortel, tomat dan sebagainya Aera mengeluarkan dari dalam kulkas, kembali membuka handphone nya. Kali ini Aera mencari tutorial memasak sayur sop.
Bermula dari menyiapkan bahan bahan nya, membersihkan dan mulai memotong motong. Saat bagian memotong kentang yang sedikit sulit dengan tangan yang tidak mahir menggunakan pisau menjadikan jari telunjuk Aera terbelet sampai mengeluarkan banyak darah.
"a.. aw.."
Gretu Aera kesakitan, dengan meletakkan pisau nya begitu saja.
Melepaskan pisau dengan sembarangan menjadikan pisau terjatuh dan hampir mengenai kaki nya.
Aera menjatuhkan dirinya setelah dengan keterkejutan yang dirasakan. Terpaku diam dalam sandaran nya membiarkan jari tangan nya meneteskan banyak darah.
__ADS_1
"Ngga ada hal yang berjalan dengan baik baik aja"
Gumam Aera dengan lanturan dan tatapan kosong nya.