
Sebuah pepatah "Batu yang keras sekalipun akan hancur jika terus di tetesi air" begitu pun untuk hati Aera. Setebal apapun dinding yang menutupi perasaan nya untuk Titan, akan meleleh dengan perlahan akan hal hal manis yang begitu menyentuh hati nya. Seperti sebuah novel pemberian nya, dengan kata-kata yang begitu menyentuh dan mengena pada hatinya.
Aera menutup kembali novel yang baru sekedar halaman pertama yang dibacanya. Ada yang menggugah dalam hatinya dengan kata kata yang begitu menyentuh.
Keberadaan, pijakan, singgah, kehadiran semua kata kata itu entah apa yang salah sampai membuat Aera merasa tenggelam didalam nya.
"Hhhhhh..."
Aera menghelai nafas sebelum beranjak untuk berganti baju dan kemudian merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Langit langit kamar terlihat jauh lebih tinggi dari pada biasanya. Mungkin dengan bayangan Titan yang berada diantara langit langit kamar Aera.
"His kenapa coba?"
Gretu Aera kesal bangun seketika dari posisi rebahan nya.
Aera duduk di ruang tengah memainkan Handphone nya dengan tv yang dinyalakan sekedar menciptakan suara suara agar tidak begitu hening dengan Aera yang berada di rumah sendirian.
Aera melihat jam pada handphone nya, sekedar memastikan, pukul 08:30. Sudah cukup malam tapi mba Ana belum juga pulang.
Aera memilih untuk menelfon mba Ana sekedar memastikan mba Ana baik baik saja.
"Hallo? Mba dimana? Udah jam segini ko belum pulang sih? Aera takut nih dirumah sendiri"
Crocos Aera setelah telfon nya tersambung dengan mba Ana. Dengan beralasan Aera yang takut dirumah sendiri sekedar untuk membuat mba Ana segera pulang.
"Mba udah pulang ko?"
"Udah pulang? Masa sih? Ko Aera ngga tau? Emang sekarang mba Ana dimana?"
Aera yang sudah bangun dari duduknya akan memastikan di kamar mba Ana.
"Coba deh buka pintu"
Lanjut Mba Ana, menghentikan langkahnya,yang ternyata sudah berada di depan rumah.
Aera membuka pintu masih dengan handphone yang berada ditempel di telinganya.
"Mba Ana"
Pintu yang Aera buka, memperlihatkan mba Ana dengan beberapa bungkusan yang dibawanya.
"Lama ya nungguin mba?"
Mba Ana yang menghampiri Aera.
"Mmm lama banget bosen Aera dirumah sendirian, lagi mba dari mana sih pergi nya lama banget"
Aera dengan menggandeng mba Ana, mengajaknya untuk duduk di meja makan.
"Mba ada urusan yang harus mba kerjain diluar"
"Urusan apa?"
"Kepo deh"
Mba Ana yang tersenyum dengan ceria"
"Mmm nih buat Aera, parfum kesukaan kamu"
Dengan Mba Ana yang mengeluarkan sebotol parfum dari bungkusan yang dibawanya.
"Ah mba Ana tau aja parfum Aera mau abis"
Aera yang meraih parfum nya dari tangan mba Ana, tampak begitu senang dan menyukai nya.
Mba Ana tersenyum memperhatikan Aera yang menyukai nya.
Azka keluar dari rumah dan akan kembali ke kafe untuk merapihkan dan menutup nya. Baru menutup pintu Sia pun ikut keluar dari rumahnya. Menatap keberadaan Azka yang kemudian di abaikan nya.
__ADS_1
"Sia"
Panggil Azka dengan menghampiri Sia.
Sia tidak menoleh dengan Azka yang memanggilnya, segera menyalakan motor nya dan melaju kencang meninggalkan Azka yang baru saja akan menghampiri nya.
Azka tercengang dengan sikap Sia yang tampak berbeda tidak seperti biasanya.
Azka menyalakan motor nya dan ikuti melaju membuntuti Sia.
Sia berhenti di tukang nasi goreng, begitu pun dengan Azka yang ikut turun dan menghampiri nya.
"Nasi goreng satu ya bang, sedeng jangan pedes pedes"
Lanjut Sia dengan pesanan nya.
"Saya juga satu ya bang, sedeng juga"
Lanjut Azka yang ikut memesan nasi goreng yang sama dengan Aera.
Azka duduk berdampingan dengan Sia, tetapi Sia sibuk dengan handphone yang tengah dimainkan nya mengabaikan keberadaan Azka.
"Sia?"
"Lo kenapa sih Sia?"
"Ah lo marah soal yang tadi siang?"
Azka dengan pertanyaan pertanyaan nya.
Sia tetep diam mengabaikan Azka.
"Sia"
Kali ini Azka memanggil dengan menggoyangkan lengan tangan Sia.
Sia yang kemudian menoleh dengan jawaban singkat dan dengan tatapan judes nya.
"Lo marah?"
Tanya Azka memastikan dengan perubahan sikap Sia kepadanya.
"Marah kenapa?"
Sia yang malah balik bertanya. Sekedar memastikan apa Azka sadar akan apa yang telah dilakukannya, atau bertanya sekedar untuk basa basi.
"Soal tadi siang, rencana kita gagal tanpa lo tau alasannya apa"
Jelas Azka dengan apa yang dipahami nya.
"Asal lo tau ya demi buat nemenin lo nih gua sampe ngebiarin sahabat gua pulang sendiri"
Tegas Sia dengan kesalnya.
"Gua minta maaf Sia? Gua udah minta tolong tapi malah bikin lo kecewa kaya gini"
"Enak banget ya jadi lo, salah tinggal minta maaf gitu aja"
Tegas Sia kesal.
"Sia.."
Seru Azka, berharap Sia memaafkan nya.
"Kali ini gua maafin, cuman kali ini"
Jawab Sia setelah diam beberapa saat.
"Mmm, thanks ya"
__ADS_1
Azka tersenyum mengangguki nya.
Sia terpaku diam masih dengan judesnya.
"Ko makan diluar, orang tua ngga ada dirumah?"
Dengan nasi goreng yang sudah berada dihadapan nya.
"Mmm"
Sia mengangguki dengan sibuk mengunyah nasi goreng yang berada dalam mulut nya.
"Lo juga ngga suka pedes?"
Lanjut Sia dengan rasa nasi goreng yang Azka pesan serupa dengan yang Sia pesan.
"Gua kurang suka pedes, sama kaya lo, kita punya banyak selera yang sama"
Dengan Azka yang mulai melahap nasi goreng nya.
Selesai menghabiskan nasi goreng, keduanya Azka dan Sia kembali dengan motor nya masing masing.
"Mau ikut gua ngga Sia?"
Tanya Azka setelah berada di atas motor yang terparkir bersebelahan dengan motor Sia.
"Kemana?"
Tanya Sia memastikan yang juga sudah berada di atas motor nya.
"Mau tutup kafe"
Jelas Azak dengan tujuan utamanya, menutup dan merapihkan kafe, kasian jika membiarkan karyawan nya mengerjakan sendiri.
"Kafe, lo punya kafe?"
Sia yang bahkan tidak tau jika Azka memiliki kafe sendiri.
"Mmmm"
Azka tersenyum mengangguki.
"Gimana mau ikut ngga? Habis dari kafe, nanti kita beli apa yang lo mau sebagai ucapan maaf gua"
Bujuk Azka dengan ajakan nya setelah dari kafe, benar dengan rasa bersalah dan tidak enak hati kepada Sia. Sudah merepotkan nya tapi malah dibuat kecewa.
"Yaudah, tapi bener ya habis dari kafe beliin gua sesuatu"
Jawab Sia mengiyakan mengendalikan diri akan rasa senang yang tengah memuncak ramai.
"Ooh ini kafe lo?"
Tanya Sia setelah sampai di depan kafe Azka.
"Mmmm.."
Azka kembali mengangguki pelan.
"Temen gua pernah cerita sih kata nya kopi disini enak"
Gumam Sia ingat dengan Aera yang pernah mengatakan akan rasa kopi dari kafe ini, kafe yang pernah keduanya lewati bersama.
"Mau coba?"
Azka yang merekah senyum.
"Boleh"
Begitu pun untuk Sia yang merekah lebar untuk senyuman nya.
__ADS_1