
"Hhhhhh..."
Helai Sia dengan sangat jelas saat berada menghampiri keduanya.
"Aera? Ini bener lo?"
Seru Sia dengan tatapan tajam nya kepada Aera.
"Sia"
Seru Aera dengan tatapan sendu nya.
"Jangan lagi panggil gua kaya gitu, karna lo bukan lagi Aera yang gua kenal. Mungkin Aera memang tempramen tapi dia ngga mungkin tega nglakuin ini dengan sahabat nya sendiri"
Tutur Sia dengan gumam kekecewaan nya, menjadikan tatapan nya berkaca menatap Aera.
"Apa ini Sia? Kenapa lo bilang kaya gini? Apa yang gua lakuin itu sebagai bentuk bela diri, jadi kenapa lo malah salahin gua"
Balas Aera menjadi lemas dengan kata kata yang Sia katakan.
"Karna semua bermula dari lo Aera"
Sia memejamkan matanya menjatuhkan kacaan air mata untuk berada jatuh melewati pipi nya, atau tertinggal di pipinya.
"Ngga pernah kan lo liat gua nangis kaya gini"
Lanjut Sia setelah kembali membuka pejaman nya.
"Seharusnya lo bisa memposisikan diri lo dengan setiap orang yang dateng dan mengaku suka sama lo, jangan lo mempersilahkan semua nya untuk masuk ke hati lo. Dan seharusnya lo lebih ngerti kenapa Fina bertingkah kaya gini"
Lanjut Sia masih berada mengendalikan dirinya.
"Sia"
Seru Aera lirih, dengan tetesan air mata yang mulai berjatuhan.
"Apa semurah itu gua di mata lo? Kenapa bisa bisanya lo bilang gitu"
"Gua bilang itu bukan tanpa sebab dan alasan nya kan?"
Jawab Sia dengan alasan nya menjadikan Aera berada menjadi seorang yang berbeda dari pandangan nya.
"Lo tau, banyak hal yang menjadikan gua kecewa banget sama lo. Gua rasa gua perlu jelasin ini biar lo paham kalo nanti nya gua bener bener pergi dari lo.
Lo yang bilang ngga suka sama Titan tapi menjadikan Fina seolah perusak hubungan lo. Lo yang menjadi lupa hanya karna orang baru yang tiba tiba dateng gitu aja jadi temen lo, lo mengabaikan gua. Dan dengan seseorang yang sama sama kita suka, lo menjadi menghindar dan menjadi bener bener jauh setelah tau dengan perasaan gua. Kenapa Aera, kenapa lo jadi kaya gini?"
Sia dengan ungkapan nya yang panjang, alasan alasan yang membuat nya menjadi benar benar kecewa.
__ADS_1
Aera terpaku diam menatap Sia dengan rasa sakit dan kekecewaan yang semakin dalam dirasakan nya.
"Berapa lama kita temenan? berapa banyak waktu yang udah sama sama kita lewatin? Kenapa kaya gini cara lo menilai gua sekarang? Seharusnya gua yang mempertanyakan, dimana Sia yang gua kenal, Sia yang tetap berfikir positif dengan hal apapun, Sia yang ngga pernah menjadikan prasangka buruk ada tentang gua"
Aera yang menjadikan tatapan nya kepada Sia menjadi tampak kosong dan tidak bernyawa.
"Biar lo paham gua jelasin semua nya, lo denger baik baik. Hari itu saat gua ngga dateng jengukin lo itu karna muka gua memar karna ditampar dia"
Aera melirik Fina, kata dia tertuju untuk Fina.
"Gua ngga mau dengan kondisi gua saat itu malah akan bikin lo khawatir dan akan ganggu masa pemulihan lo. Dannnnn.. disaat lo keluar dari rumah sakit di hari itu mba Ana meninggal dan lo tau Ayah, seseorang yang gua rindukan, akhirnya gua bisa ketemu dia tapi di depan pemakaman nya. Karna di hari itu juga ayah meninggal bersamaan dengan Mba Ana"
Aera yang kembali menjatuhkan air matanya, kali ini dengan deras nya sampai terhisak Aera tidak kuasa dengan tangisan nya.
Sia menjadi sangat terkejud, terluka dan menjadi sangat bersalah dengan apa yang Aera jelaskan.
"Aera"
Seru Sia lirih dengan air matanya yang juga berjatuhan.
"Dan.. Azka seseorang yang gua suka disaat gua butuh dia, dia malah sibuk sama lo, setelah nya saat semua mulai reda lo dateng dengan pangkuan perasaan lo, kekecewaan lo dan semuanya. Lo tau gimana hancur nya gua? Dan sekarang lo bisa salahin gua atas semua nya"
Aera yang menderu dengan tangisan nya yang semakin ramai.
Begitu pun Sia terhisak tangis dan sesalnya. Mencoba meraih kedua tangan Aera untuk berada di genggam nya tetapi di tepis oleh Aera.
Aera yang berlari meninggalkan Sia membawa tangisan nya setelah menyelesaikan kalimatnya.
"AERA!!"
Teriak Sia, terjatuh lemas dengan semua yang sudah dilakukan nya.
Benar banar menjadikan nya sangat menyesal.
Titan berlari mengejar Aera.
Aera yang berlari pergi keluar dari sekolah menerobos melewati gerbang sekolah dan melewati pak satpam begitu saja.
Pak satpam hanya terdiam tidak dapat menahan Aera setelah dilihatnya Aera yang dibanjiri dengan air mata.
Saat Titan berlari mengejar Aera langkah nya terhenti dengan keberadaan pak satpam yang menahan nya.
"Minggir pak"
Seru Titan mencoba melepaskan tangan pak satpam yang menahan nya.
"Maaf mas Titan, mas Titan ngga boleh keluar masih jam sekolah mas"
__ADS_1
Seru pak satpam dengan tenaga penuh nya untuk memegangi Titan, menahan nya untuk tidak pergi dari sekolah. Bertutur sopan karna tau dengan siapa Titan.
" Saya harus kejar Aera pak, bapak mau tanggung jawab kalo ada apa apa sama Aera?"
Jelas Titan dengan tatapan tajam nya.
Pak satpam pun mulai ragu, diantara ingin membiarkan Titan pergi mengingat dengan Aera yang berlari dengan tangisannya, tapi bagaimana dengan tugas dan tanggung jawab nya, jika nanti akhirnya membuat dirinya terpecat.
"Saya yang akan tanggung jawab sama semuanya, termasuk dengan kerjaan bapak"
Lanjut Titan memahami dengan Pak satpam yang terpaku terdiam menjadi ragu.
Pak satpam menatap Titan sebelum akhirnya melepaskan tangan nya, membiarkan Titan pergi mengejar Aera.
"Hhhh.. ada apa sih sama anak sekolah jaman sekarang?"
Gretu pak satpam mengegeleng gelengkan kepalanya, memperhatikan Titan yang berlari kencang mengejar Aera.
Titan kehilangan Aera, tidak didapati sosok Aera dilihat nya. Dengan lelah dan nafas yang menjadi tidak beraturan,Titan memutar pandangan nya mencari disetiap sudut akan keberadaan Aera.
Titan benar benar kehilangan jejak nya. Berfikir cepat dimana sekiranya Aera berada saat ini. Tempat yang mungkin saja akan Aera datangi.
"Pemakaman"
Seru Titan, terpaku setelah dengan satu tempat yang terfikirkan. Tempat yang sangat mungkin didatangi Aera saat ini.
Titan kembali ke sekolah, sekedar untuk mengambil mobil dan pergi menyusul Aera kepemakan, seperti dengan dugaan nya.
Sia yang tertunduk dalam posisi nya yang berada duduk di lantai dengan tangisan nya yang ramai, seketika bangun menampar dan mendorong Fina dengan kencang nya.
"Semua gara gara lo, lo yang udah adu domba gua sama Aera, lo yang udah nyuci otak gua buat percaya sama lo. Lo yang ngejadiin gua bahan buat lo bisa bales dendam sama Aera. Semua karna lo, semua bermula lo"
Tegas Sia dengan kesal nya, membiarkan emosinya terlepas dari kendalinya.
"Hhhhh.."
Helai Fina dengan memegangi pipinya yang sudah tertampar dua kali dengan dua tangan yang berbeda yang menamparnya.
"Iya gua yang ngerencanain ini semua, gua yang mau bales dendam sama Aera dengan memanfaatkan lo. Semuanya udah gua atur dan udah gua rencanain. Tapi apa yang gua lakuin juga karna lo! Tau kenapa? Karna saat kita bertiga bersahabat keberadaan gua seperti ada dan ngga ada, lo berdua terlalu sibuk satu sama lain. Setelah gua merasa beruntung dengan adanya lo, seseorang yang paling tau dan mengenal gua lebih dari siapapun, lo terlalu banyak waktu buat Aera ngga buat gua. Lo cuman ada buat gua sekedar dapat memahami gua dengan baik, bukan untuk mengerti gua"
"Apapun itu Fin, gua udah ngga mau denger, liat lo ada di depan gua sekarang pun rasanya gua udah muak"
Lirih Sia dengan tajam nya, sebelum berlalu pergi meninggalkan Fina.
Fina tertunduk dalam tangisannya, sebelum ikut berlalu pergi membawa tangisan nya. Berada lebih lama di kantin hanya akan semakin lama membuat dirinya di pertontonkan.
Sia berlari ke kamar mandi, duduk tersadar di depan bilik, menyandarkan kepalanya dengan sering kali menjambak rambutnya sendiri dengan perasaan sesal dengan semua yang menjadikan nya tampak benar benar bodoh dengan ini.
__ADS_1
Sedangkan Fina berlari ke atap sekolah, menangis dan ikut melampiaskan semua nya dengan jeritan dan dengan melemparkan, menendang dengan apa yang berada dekat dengan nya.