Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
87


__ADS_3

Aera terbangun dari tidur nya, dirasa matanya menjadi sangat berat dan sedikit tidak nyaman.


Aera menoleh disisi jendela dengan hordeng yang masih tertutup rapat.


Kemudian Aera menoleh pada jam dinding, pukul 08:15.


"Mba Ana ngga bangunin buat sekolah apa?"


Gretu Aera membuka selimut yang sebelumnya menutup setengah tubuhnya.


Aera tidak mengingat dengan apa yang terjadi tadi malam, ingatan nya semua sekedar mimpi buruk yang terjadi dalam tidurnya.


Saat tengah bercermin Aera tersadar dengan lipatan baju hitam yang diletakkan di meja rias nya.


"Baju apaan ini?"


Aera keluar untuk mencari keberadaan mba Ana.


"Mba, mba Ana"


Seru Aera keluar dari kamar sembari memanggil manggil mba Ana.


Tidak di dapati suara mba Ana yang menyaut Aera malah disajikan kerumunan orang orang berpakaian hitam yang dilihat Aera dari atas tangga.


Aera menghampiri mama yang berada duduk diantara jajaran orang orang berpakaian hitam dengan sesuatu yang terbujur di depan nya tertutup rapat dengan kain, jenajah mba Ana.


"Ini ada apaan ma ko rame rame banget"


Tanya Aera kepada mama.


"Hhhh..."


Mama menghelai nafas dengan tangisan yang kembali tertuang deras.


"Mama kenapa?"


Tanya Aera dengan mama yang menjadi menangis karna pertanyaan nya.


"Aera jangan kaya gini sayang, bukan nya kamu tau semalem mba Ana udah ngga ada"


Perjelas mama.


"Ngga ada gimana ma? Iya Aera emang sempet mimpi buruk tapi ini?"


"Semua nyata sayang"


Mama yang langsung memeluk Aera untuk menguatkan nya.


Dek.. Sesak seketika kembali dirasakan,dalam dekapan mama Nara menatap jenazah mba Ana yang terbaring tertutup rapat dengan kain.


Setelah beberapa saat Aera melepaskan dekapan mama dan menjatuhkan dirinya untuk berada membuka kain yang menutupi jenazah Mba Ana. Aera menatap mba Ana yang terpejam begitu pucat dan dingin. Aera memeluk nya dengan tangisan yang begitu derasnya.


Aera kembali kekamar dengan lemasnya untuk mengganti baju dengan pakaian yang sudah di siapkan mama di atas meja.


Aera kembali turun setelah dengan pakaian serba hitam menghampiri jenazah Mba Ana yang sudah rapih di mandikan dan di kafankan.


Semua orang yang datang membacakan Yasin dan membacakan doa doa lain nya.


Tapi Aera hanya duduk diam terpaku kaku memperhatikan wajah pucat dengan hidung yang sudah di tutupi dengan kapas.


Langkah nya mengantarkan mba Ana ke peristirahatan terakhir sangat lah berat, Aera masih belum ikhlas menerima ini semua. Mimpi buruk yang seketika berubah menjadi nyata.


Menyaksikan mba Ana dikuburkan pun Aera tampak tenang dengan air mata yang tidak ada habisnya untuk menetes.


Mama dengan sering kali mengusap punggung Aera, sesekali merangkul nya takut jika Aera akan kembali pingsan.


"Yang kuat ya sayang"


Bisik mama memberi kekuatan untuk Aera.


Aera hanya mengangguki dengan mengusap air mata dan jejak jejak nya di pipi.


"Selamat jalan mba"


Ucap Aera dengan jenazah Mba Ana yang mulai ditutupi tanah.


"Terimakasih, terimakasih banyak mba"


Lanjut Aera kembali tertumpah air matanya.


"Ada banyak ungkapan, ada banyak hal yang masih Aera ingi ceritakan, ada banyak hal yang belum Aera sampaikan, ada banyak hal yang belum Aera lakukan buat bales semua kebaikan mba"


Lanjut Aera terduduk sembari memegangi papan nama yang sudah tertancap.

__ADS_1


Tersisa Aera dan mama, Aera terus menangis dengan memeluki papan nama mba Ana.


Seseorang yang juga menggunakan pakaian serba hitam tiba tiba datang menghampiri.


"Nayara"


Seru seorang nenek.


"Ibu"


Seru Mama setelah menengok akan suara yang memanggil nya.


Aera ikut menoleh dengan dua suara yang saling menyeru memanggil satu sama lain.


Aera mengenali sosok nenek itu, nek Parsiah seseorang yang mba Ana juga kenali. 


"Kemana saja kamu? Saya mencari cari kamu dan akhirnya kita di pertemukan di tempat ini, tempat seperti ini"


Jelas nek Parsiah, seolah sedang mengutarakan dengan tetesan air mata yang ikut terjatuh.


"Untuk apa ibu cari saya lagi?"


Tanya mama memastikan.


Setelah pernah keberadaan nya menjadi kesalahan dan di buang begitu saja sekarang kembali di cari cari setelah sekian lama.


"Maafkan ibu Naya, tapi saat itu ibu membutuhkan kamu karna Anan sudah koma lebih dari satu tahun, dia terus memanggil nama kamu tapi tidak pernah dapat untuk sadar sampai akhirnya hari ini Anan dinyatakan meninggal"


Jelas nek Parsiah menjadi lebih deras dengan tangisan nya.


Mama hampir terjatuh kehilangan keseimbangan setelah hal yang mengejutkan didengar nya.


Aera dengan cepat langsung bangun dan menyangga mama dengan merangkul nya.


"Ma, kenapa?"


Tanya Aera memastikan dengan Aera sendiri yang tengah merasa lemas.


"Ma?"


Seru nek Parsiah mengulangi seruan Aera.


"Ini Aera Bu anak saya"


"Jangan bilang kalo dia.."


Nek Parsiah menjadi berbeda ekspresi nya setelah ada prasangka yang tiba tiba di sadari nya.


"Iya Bu, dia anak dari Anan, lantas sekarang saya harus bagaimana"


"Apa ini maksudnya ma"


Aera yang tidak memahami pembicaraan keduanya.


Siapa Anan seseorang yang mama bilang Aera adalah anak nya.


"Nak ini nenek nak"


Seru nek Parsiah mengulurkan kedua tangannya untuk membawa Aera berada dalam pelukan nya.


Aera menoleh menatap mama, bermaksud untuk mama dapat menjelaskan semuanya kepada Aera.


Mama hanya mengangguki yang mengartikan bahwa nek Parsiah benar nenek nya.


"Jadi maksudnya, anak nenek adalah ayah saya?"


Tanya Aera memperjelas dengan kacaan air mata yang sudah menggenang penuh.


Nek Parsiah mengangguki nya.


Tes... Kacaan air mata Aera kembali terjatuh, setelah dipahami apa yang tengah terjadi, apa yang saat ini di perbincangkan antara mama dan nek Parsiah.


"Jadi maksudnya seseorang yang disebut sebagai ayah saya juga meninggal hari ini"


Mama dan nek Parsiah mengangguki dengan tangis nya.


Dan dek... Ada sebuah pisau baru yang tiba tiba menusuk di sisi luka yang sama.


Dada yang sudah terasa sakit dan sesak menjadi kan rasanya berkali kali lipat.


Pada akhirnya rindu adalah rindu.


Pada akhirnya rindu tidak pernah dapat untuk tersampaikan.

__ADS_1


Pada akhirnya rindu tidak pernah dapat terbalaskan.


Pada akhirnya dia yang benar benar hilang menciptakan sebuah moment kehilangan.


Pada akhirnya tidak akan ada kisah sekedar untuk dikenang sebagai masa lalu.


Dan pada akhirnya semua memang harus di lepaskan sama dengan yang mba Ana ajarkan tentang bunga Dandelion yang berhamburan.


"Kita ke pemakaman ayah kamu ya nak"


Ajak nek Parsiah kepada Aera dengan kembali mengulurkan tangannya.


Tapi Aera malah menjauh memundurkan langkahnya.


"Kenapa sayang?"


Tanya Mama melihat Aera yang menghindar.


"Aera mau pulang ma, Aera cape"


Jelas Aera kepada mama.


"Kita liat ke pemakaman ayah kamu ya, sebentar aja kasian dia"


Ajak nama.


"MA!"


Sentak Aera dengan ucapan yang dirasa menjadi lebih menyakiti nya.


"Buat Aera ayah dan ibu buat Aera cuman mama, orang tua Aera cuman mama dan mba Ana. Jadi Anan atau siapapun itu Aera ngga peduli"


Apa jadinya jika rindu dan benci berada bersisian di ruang yang sama.


Untuk kali ini benci berada menguasai Aera, karna marah dan kekecewaan yang akhirnya menjadi uraian jelas dan sangat nyata. Waktu, penantian, harapan semua menjadi sia sia.


Di antara rambutnya yang terurai di depan dada helaian bunga Dandelion yang berterbangan mendarat di rambut Aera. Aera mengambil melihat lebih jelas dan menoleh dengan capat pada makam Mba Ana.


Aera memejamkan matanya memahami pertanda yang seolah mba Ana yang memberikan. Memahami akan kemungkinan mba Ana yang juga ingin Aera mengunjungi makam Anan, ayah kandungnya.


"Tapi Aera terlanjur terluka dan kecewa mba?"


Seru Aera akan mba Ana yang mungkin saja masih dapat mendengarkan nya.


"Setidaknya untuk kali ini saja nak, kesampingkan rasa itu demi anak nenek"


Mohon nek Parsiah dengan sangat berharap.


Aera terdiam kembali menjatuhkan air matanya sebelum akhirnya Aera mengangguki mengiyakan untuk ikut kemakam Anan ayah nya, seseorang yang sudah menjadi ilusi dalam rindu dan kekecewaan diwaktu yang tidak sebentar.


"Nak, Ibu bawa Aera putri kamu"


Seru nek Parsiah berjongkok di dekat papan nama yang tertuliskan Anan Saputra.


Nek Parsiah bangun memberikan tempat nya kepada Aera, Aera berjongkok dengan di perhatikan mama, dan nek Parsiah.


Aera berjongkok memperhatikan papan nama yang tertuliskan nama dari seseorang yang seharusnya Aera panggil dengan sebutan Ayah.


Terpaku tidak mengerti harus dengan kata apa memulai nya, semua dirasa begitu canggung.


Aera terdiam dengan apa yang tiba tiba di ingat dan disadari nya, matanya menjadi berkaca menggenang kembali air mata dengan penuh nya.


"Jadi selama satu tahun ini mimpi yang sama terus berdatangan itu karna anda menerobos masuk dalam mimpi saya"


Air mata Aera akhirnya benar-benar menetes, Aera mencoba tetap tenang menahan deru tangis yang ingin meluap kencang.


"Seharusnya anda tidak pergi sebelum memberi banyak penjelasan kepada saya. Apakah anda menyayangi saya? Apakah anda mengakui saya sebagai putri anda dan semua nya. Dengan begitu saya dapat memutuskan untuk tetap merindukan anda atau membenci dan melupakan. Waktu saya terkuras habis dengan perasaan dan prasangka yang tidak pernah saya dapatkan kejelasan nya, kenapa saya harus diperlakukan seperti ini, kenapa ini semua yang malah saya dapatkan?"


Aera tertunduk dengan tangisan yang semakin deras dengan banyak nya butiran air mata yang jatuh di atas makan Anan.


Mama ikut berjongkok untuk mendekap Aera dalam pelukan nya.


"Maafin mama sayang, semua juga karna mama, mama yang udah menutupi ini semua"


"Kenapa ma?"


Tanya Aera melepaskan dirinya dari pelukan mama untuk menatap dan memperhatikan mama.


"Nanti, nanti akan mama jelaskan"


"Kenapa ngga sekarang ma?"


"Nanti ya nak"

__ADS_1


Satu persatu kikisan rapuh menjadi patah dan patah.


__ADS_2