
Azka sosok yang tengah dirindukan dalam pikirannya. Keberadaan nya beberapa waktu yang lalu telah berhasil membuat nya jatuh cinta untuk pertemuan dan kebersamaan nya.
Beberapa kali keberadaan nya menjadi sangat berarti kala Aera terpuruk dan Azka ada untuk menguatkan dan mendekap nya. Dihadapkan dengan keterpurukan Azka mampu menguatkan Aera dengan sangat baik. Sejak saat pertemuan sampai saat ini rasanya menjadi hangat dan berbeda. Bahkan Aera sudah membulatkan akan pengakuan hatinya, menyukai Azka.
Tidak perduli dengan Azka yang memiliki perasaan yang sama atau tidak, Aera tidak mengharapkan pembalasan. Jika berada dekat, bersama dengan nya sudah begitu berarti untuk Aera.
Hari hari bahagia mulai di isi dengan keberadaan Azka. Aera terdiam dengan sesuatu yang tengah dipikirkan nya, ingin memberikan sesuatu untuk Azka tetapi tidak tau dengan apa yang Azka sukai.
Sekedar membalas dengan apa yang sudah banyak dilakukan nya.
Aera meraih tas ransel dan bergegas keluar menyusuri jalanan dari banyak nya toko yang dilewatinya Aera terhenti di toko buku. Teringat dengan mba Ana yang beberapa kali dilihatnya tengah menuliskan sesuatu pada buku catatan yang cukup tebal. Selalu dipenuhi kesibukan dengan hari yang tampak selalu baik baik saja, dipenuhi senyum dan ceria. Membuat beberapa orang tidak memperhatikan perasaan nya yang sering kali terluka dengan tidak disadari. Aera meraih buku diary berukuran sedang yang polos dan bolpoin dengan tinta hitam yang pekat.
"Dibungkus yang rapih ya mba"
Setelah pilihannya di letakan di kasir untuk dibungkus didalam kotak di lengkapi surat di dalam nya, surat yang telah ditulis Aera sebelum diberikan kepada pihak kasir untuk membungkusnya.
Sudah selesai dengan bungkusan dan pembayaran sejenak Aera mengarhkan tatapannya memperhatikan keramaian diluar dari dalam toko. tampak seseorang yang tidak asing bersinggah dalam tatapan di tengah kerumunan, Sia dan Azka. Terlihat samar tidak begitu jelas dengan jarak yang jauh dan banyak nya orang yang menjadi menutupi nya.
Aera bergegas keluar untuk memastikan.
Dengan terburu-buru keluar dari toko Aera dengan tidak sengaja menabrak seseorang yang akan masuk ke dalam toko.
Brug..
"Oo maaf maaf saya ngga sengaja"
Dengan tatapan nya yang masih sibuk mencari cari sekedar memastikan dengan apa yang sempat dilihat nya.
"Minta maaf tapi ngga liat ke orang nya"
Seseorang dengan suara yang terdengar judes dan tidak asing di dengar Aera.
Aera menoleh dengan suara yang didengar nya.
"Titan"
Pria yang baru saja tertabrak Aera dengan tidak sengaja adalah pria yang cukup dikenali nya, Titan.
Titan tersenyum tipis dengan Aera yang memanggil namanya dan saat ini tengah menatap nya. Sorotan matanya mengenai hatinya tersentuh dengan begitu lembut.
"Ah sorry sorry gua ngga sengaja tadi"
Ingat dengan lengan Titan yang ditabrak nya dengan cukup kuat.
"Mmm, lo ngapain disini"
"Habis beli buku, lo sendiri?"
Dengan menunjukan buku yang baru saja dibelinya.
__ADS_1
"Mau cari buku"
"Oh gitu, yaudah ya gua duluan"
Aera tersenyum sebelum berbalik meninggalkan Titan.
Belum dengan langkah nya, Titan lebih dulu menarik tangan Aera.
Aera menoleh dengan Titan yang menarik tangan nya.
Tidak di sadari dan terjadi begitu spontan, hanya saja Titan tidak ingin Aera pergi begitu saja. Memberanikan diri dan mengesampingkan pribadi pendiam nya untuk mengajak Aera lebih lama bersama nya.
"Mau temenin gua cari buku"
Aera terdiam dengan tangan nya yang masih berada dalam genggaman Titan dan dengan sorot mata yang tampak berbeda di rasakan nya.
Setelah beberapa saat berdiam, akhirnya Aera mengangguki nya.
Titan tersenyum tipis, tidak langsung dilepas tangan Aera dalam pegangan nya malah di tarik untuk ikut dalam tuntunan nya.
Aera melebarkan tatapan nya dengan Titan yang menarik nya begitu saja.
Titan menghentikan langkahnya terdiam terpaku kaku dengan hatinya yang berdegup kencang saat menyadari tangan Aera yang berada dalam pegangan nya.
Semua terjadi tanpa kendali dirinya, degupan bahkan untuk perasaan yang jauh lebih jelas akan detik ini. Titan terpaku terhanyut dengan rasa yang aneh dengan dirinya. Apa benar dirinya menyukai Aera, semua pertanyaan menerobos masuk di kepalanya kali ini.
Titan menoleh dengan Area yang tengah memperhatikan dengan tatapan penuhnya.
Dengan Titan yang menoleh menatap tajam dengan ekspresi dingin seperti biasa, tetapi sorotan matanya kali ini tampak berbeda terlebih dengan tangan nya yang berada di genggam nya.
Rasanya menjadi panas dingin dengan sebuah keinginan yang tiba tiba berada jelas dalam batin nya, pernyataan.
"Gua suka Ra sama lo"
Dengan tekad nya Titan mengungkapkan pernyataan yang berada dengan jelas di hatinya.
Aera melepaskan tangan nya dari Titan, tersenyum tipis dengan tatapan penuh, terkejud juga tidak percaya dengan apa yang barusan didengar nya, menahan diri agar tidak terluap sesuatu yang akan menyakiti Titan.
"Lo bilang mau cari buku"
Aera mengalihkan, seolah tidak mendengar apa pun.
Titan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya tersadar dengan dirinya yang kembali tidak terkendali.
"Kenapa bisa ngomong ngelantur kaya gitu sih"
Gretu Titan dalam hatinya.
"Mmmm"
__ADS_1
Dengan Titan yang berbalik mendului Aera, menggerutu kesal dengan apa yang baru saja di katakan nya, benar benar tampak bodoh dan memalukan dalam pikirnya.
Aera memejamkan matanya dengan menggelengkan kepalanya beberapa kali.
Dengan respon nya barusan menampakan dirinya yang tidak memikirkan perasaan Titan, mengabaikan seolah tidak mendengar nya, tampak jahat pikirnya.
Lantas jika tidak di abaikan dengan kata apa Aera menjawab nya, tidak atau marah dengan Titan yang ternyata benar memiliki perasaan untuk nya.
"Maaf Tan gua ngga ada rasa sama lo"
Gumam Aera memperhatikan punggung Titan sudah berada di belakang Titan membuntuti nya.
Perasaan yang terjadi sebagai keadaan sadar meski kadang tak tampak begitu jelas, tapi rasanya benar nyata.
Pada akhirnya ini benar menjadi cinta segitiga yang terjadi dengan nya, Titan dan Fina. Cinta segitiga anak SMK ditengah persahabatan yang akhirnya mematahkan semua.
Apa yang dirasakan terjadi begitu saja, melewati batas adalah kesalahan dengan konsekuensi nantinya. Mencintai Aera adalah kesalahan dengan batasan yang sudah Aera garis dengan begitu jelas nya. Tetapi Titan bersikeras untuk tetap dengan perasaan nya, menjaga dan memperjelas seperti apa sebenarnya yang di inginkan nya.
Aera sejenak kembali berada dalam batin nya yang terkuak akan ragu. Mempertahankan Titan sekedar rasa kasihan nya yang pada akhirnya membuat Titan seolah melihat titik harap darinya sampai akhirnya harus kehilangan Fina sahabatnya.
Apa sudah tepat dengan apa yang menjadi pilihan nya, atau Aera harus kembali membenahi dengan seperti apa yang menjadi lebih baik untuk semuanya.
Kembali dibuat ragu akan keputusan, takut jika yang menjadi pilihan adalah suatu kesalahan.
"Lo suka baca buka Ra"
Titan menoleh setelah kembali dengan fokusnya memperhatikan tumpukan buku yang tengah di lihat lihat nya.
Aera terdiam dengan tatapan kosongnya.
"Ra?"
Panggil Titan dengan Aera yang diam tidak menghiraukan nya.
"Mmm kenapa Tan?"
Aera menoleh saat sadar tengah di ajak berbicara.
"Lo suka buku?"
Titan kembali mengulangi pertanyaannya.
"Kurang, gua kurang suka baca soal nya"
"Terus itu buku yang lo beli?"
Terarahkan dengan bungkusan yang berisikan buku yang dibeli Aera sebelumnya.
"Oh ini buku diary"
__ADS_1
Aera memperlihatkan bungkusan nya lebih dekat dengan Titan