
"Eh iya nyokap nya Aera kata mau dateng ko belom sampe?"
Azka dengan mengingat akan mama yang ingin ikut bergabung merayakan dan memeriahkan acara ulang tahun Aera.
"Mama?"
Singkat Aera memastikan.
"Iya nyokap lo sebenernya udah tau dan tanya sama kita kejutan apa yang bagus dan bisa buat lo seneng. Terus kita saranin dengan acara ini deh. Dan nyokap lo setuju"
Perjelas Sia. Seolah Sia yang tau banyak hal nya, yang selalu memberikan penjelasan dengan lebih detail nya.
"Kalian bener bener ya"
Seru Aera tersenyum bahagia, tidak sangka ada hal sebaik ini di hari ini. Dan begitu menyenangkan.
Sia membalas senyuman Aera dengan begitu hangat nya. Jika tengah tersenyum setulus dan semanis ini menjadikan Sia tampak lebih cantik dan tidak memperlihatkan sedikit pun dari pribadi nya yang suka nyelatak nyeletuk se enak nya.
"Bentar gua telfon nyokap lo dulu ya"
Lanjut Sia yang akan merogo handphone dari dalam saku celana nya.
"Biar gua aja ya Sia"
Aera menahan Sia dengan keinginan nya yang akan menelfon mama sendiri.
"Yaudah.
Aera tersenyum dan segera menelfon mama.
"Hallo ma?"
Seru Aera setelah dengan telfon nya yang terangkat.
"Iya sayang?"
Jawab Mama.
"Mama dimana, jadi datang kan?"
Mama melebarkan tatapan dengan Aera yang sudah tau dirinya akan datang ikut bergabung untuk merayakan acara ulang tahun nya.
"Seharusnya surprise nya dimulai pas udah ada mama, tapi sebelum itu Aera udah tau lebih dulu ma"
Seru Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya. Di perhatikan oleh ketiganya yang ikut tersenyum bahkan menghelai tawa.
"Dasar kamu ya, temen kamu udah susah susah nyiapin semua nya, malah udah ketauan sama kamu duluan"
Ketus mama di sela senyum nya.
"Hhhhe..
Mama dimana sekarang?"
"Mama lagi ngga bawa mobil jadi mama naik bus, kurang dari 10 menit lagi mama sampe di halte ko"
"Yaudah kalo gitu Aera jemput di seberang halte ya"
"Iya sayang"
"Yaudah mama hati hati ya"
Aera tersenyum dan kemudian bangun dari duduknya.
__ADS_1
"Gua jemput mama dulu ya"
Pamit Aera sebelum bergegas pergi.
"Mau gua temenin?
Tawar Sia untuk ikut menemani Aera menjemput mama.
Aera tersenyum menggelengkan kepala.
"Ngga usah Sia, biar gua sendiri aja".
"Yaudah"
Aera bergegas keluar dari cafe dalam setiap langkah ada keceriaan yang tertuang jelas dalam senyum dan tatapan nya yang tampak ada pelangi di dalam nya. Karna di setiap langkah ada hal yang berada di bayangkan, dengan seperti apa saat nanti Aera menggandeng mama menuju cafe dengan banyak hal yang ingin diceritakan Aera kepada mama.
Entah apa yang menjadikan Aera merasa begitu bahagia hari ini? Atau karna hari ini adalah hari ulang tahun untuk nya, hari dimana banyak orang menjadikan spesial akan keberadaan dirinya. Terlebih dengan harapan bahagia yang beberapa orang panjatkan untuk dirinya. Aera juga ingin mendengar doa yang mama ucapkan dan panjat kan untuk nya. Juga dengan pelukan hangat, senyum manis dan tatapan indah, semua hal yang selalu menjadikan Aera rindu setiap kali berada jauh dengan mama.
Dengan handset yang dikenakan dengan lagu bahagia yang didengarkan menjadikan suasana hati Aera semakin berwarna.
Aera sampai di seberang halte dari halte di depan tempat mama nanti akan turun dari bus. Hanya dalam hitungan detik setelah dirinya sampai bus datang dengan mama yang turun dari dalam bus dengan repot nya barang bawaan nya. Satu tas di pundak nya, dua bungkusan yang di tenteng, dan satu buket bunga di bawa nya. Mama melambaikan tangan yang tengah memegangi buket bunga, setelah dilihat keberadaan Aera di depan.
Jalanan tengan tidak ramai, tidak juga macat, hanya saja Mama harus mematuhi peraturan yang ada, menyeberang jalanan setelah dengan lampu penyeberangan menjadi berwarna hijau.
Melihat mama dari kejauhan pun rasa nya sudah menjadi hal yang begitu menyenangkan dan di syukuri Aera. Setelah dengan banyak hal yang terjadi dan di lalui Aera dan mama akhirnya jarak tidak lah berpengaruh apa apa untuk keduanya. Entah keduanya yang menjadi jauh atau dekat, karna pada akhirnya mama tetap akan menghampiri Aera, memeluk dan mengusap kepala dan rambut Aera dengan senyum manis dan tatapan hangat.
Setelah lampu penyeberangan menjadi hijau mama menyeberang seorang diri, karna hanya mama yang akan berada pergi ke sebrang jalan.
Di dapati beberapa mobil yang harus tertahan dan berhenti setelah dengan lampu penyeberangan yang berwarna hijau. Di dapati satu mobil dengan Fina yang mengendarai. Fina mengenali perempuan yang berada jauh di depan. Perempuan yang dikenalinya. perempuan yang merupakan mama dari Aera. Seseorang yang sangat di benci setelah dengan Aera yang dipikir nya telah menghancurkan hidupnya dengan mengambil orang orang yang seharusnya menjadi milik nya. Entah apa yang tengah mengendalikan menjadikan Fina memiliki keinginan konyol dengan situasi saat ini.
Aera menoleh dengan mama yang sudah hampir dekat dengan nya, menoleh nya Aera malah berada melihat sebuah mobil yang tiba tiba melaju kencang menghampiri mama.
Tanpa berfikir panjang Aera berlari dan mendorong mama dengan sangat kencang, dan.... "Brkkkk..."
Aera terkapar dengan kepala nya yang menumpahkan banyak darah sampai perlahan mulai meluber kemana mana.
Mobil Fina sempet berhenti sebentar, dengan rasa terkejud akan apa yang baru saja di lakukan nya. Menjadi takut dan gemetar setelah dengan Aera yang akhirnya ditabrak.
"Ngga ngga gua ngga sengaja! Bukan Aera yang mau gua tabrak"
Seru Fina membenarkan pada dirinya sendiri, jika dirinya tidak bersalah. Melaju kencang meninggalkan tempat kejadian dengan Aera yang terkapar jauh di belakang nya.
Sedangkan mama yang di dorong begitu kuat oleh Aera menjadi tersungkur, terlepas barang yang di bawa nya begitu pun dengan buket bunga terhempas dan tertiup angin kencang menjadikan bunga berhamburan terlepas dari kelopak nya. Kening dan sikut mama terluka dengan aspal kasar yang menggesruk mengenai nya.
Bunga bunga yang berhamburan berada berterbangan tepat di atas Aera, bahkan ada yang berjatuhan dan singgah di telapak tangan nya yang terbuka.
Dalam tatapan yang masih terbuka menjadikan Aera melihat hamparan langit biru dangan awan awan putih jauh di atas sana.
Perlahan mata yang terbuka seolah mulai menutup dengan sendirinya.
Tubuh nya tidak lagi dapat dirasakan, tidak baik baik saja tidak juga merasakan sakit atas luka nya. Hanya saja bibirnya yang akan mengucapkan kata sekedar memanggil mama. Agar Aera dapat memastikan keadaan mama. Aera tidak dapat mengeluarkan suara hanya bibir nya yang terucap lemas tanpa suara yang terdengar.
"Apa ini akhirnya?"
Gumam Aera sekedar dalam hatinya.
Orang-orang mulai berdatangan mengerumuni Aera dan segera memanggilkan ambulan. Berseru ramai dengan kejadian dan keberadaan Aera yang terkapar dilihat nya.
Mama segera bangun dari posisi jatuh nya yang tengkurap, menyaksikan dengan apa yang sebenarnya baru saja terjadi.
Mama terkejud setelah ingat dengan Aera yang mendorong nya, mencari keberadaan Aera yang tidak dilihat nya dimana mana. Hanya kerumunan orang-orang yang begitu ramai di depan.
Seketika wajah mama menjadi pucat gemetar, menggelengkan kepala.
__ADS_1
"Ngga, ngga mungkin Aera..."
Detak jantung nya dirasa hampir berhenti berdetak saat ini, di sadari dengan apa yang terjadi.
Aera sadar ada yang tidak di ketahui nya akan masa depan, dengan apapun yang akan terjadi sekedar beberapa detik di depan merupakan satu kejutan untuk nya. Seperti di hari ulang tahun nya ini, ada begitu banyak kejutan yang di dapatkan nya.
Begitu pun untuk Aera pribadi baru yang hidup setelah keterpurukan pada satu tahun terakhir. Aera sadar satu tahun terakhir yang dimiliki nya adalah kejutan terbaik bersama orang orang yang Aera sayang. Meski kejutan itu harus di dapat dengan melepaskan dan membiarkan seseorang untuk pergi. Setelah semua yang didapat dan dimiliki menjadi kan deru tawa diciptakan atas rasa yang sebenarnya.
Meski dalam sekejap tawa dan bahagia itu berubah menjadi ketakutan. Bumi yang di tinggali nya seolah berhenti berputar, begitu pun untuk waktu seperti berhenti berdetik.
Apa kali ini Aera juga diminta untuk kembali melepaskan. Melepaskan dengan apa yang sudah berada di genggam nya.
Jika benar seperti itu lantas seperti apa orang orang yang berada dilepaskan nya, dan banyak hal yang di tinggalkan nya.
Mama berlari menghampiri Aera tertegun dengan tubuh nya yang begitu kaku dengan begitu lemas sampai akhirnya mama menjatuhkan dirinya, menatap Aera dengan dekat.
Air mata mulai berjatuhan sangat deras, tangan yang seperti semula yang selalu ingin mengusap pipi Aera kali menjadi begitu gemetar.
"Aera sayang? Apa yang kamu lakuin nak? Kenapa kamu slametin mama dan buat diri kamu sendiri seperti ini"
Dalam bibir nya yang terucap Aera hanya mampu mengatakan sepatah kata dengan begitu lirih.
"Mama"
Aera tersenyum tipis, karna pada akhirnya mama selalu menghampiri dirinya.
"Iya sayang ini mama nak?"
Mama tersenyum dalam tangis dan rasa hancur dengan ini semua.
Aera memejamkan mata menjatuhkan air mata. Rasanya ingin marah dengan mulut nya yang tidak lagi dapat berbicara, hanya sekedar bibir yang terucap.
"Kamu mau ngomong apa nak?"
Aera bersikeras memaksakan dirinya agar bibirnya dapat berbicara mengeluarkan suara.
"Takut"
Sekedar satu kata yang mampu untuk kembali Aera katakan.
Mama menahan diri dengan sangat kuat agar tidak tumpah semua tangis dan deru di hadapan Aera.
"Ngga perlu takut sayang, ada mama. Semua akan baik baik aja percaya sama Mama ya"
"Entah apa yang Aera takuti ma, rasanya seperti di paksa untuk berada menjauh dari Mama, Nenek, Sia, Titan dan Azka. Senyum dan tawa kalian perlahan memudar dari ingatan Aera"
Gumam Aera dalam hatinya.
Seperti nya kali ini Aera bukan lagi akan menepi tapi akan kembali di tempat yang pernah menjadi keinginan nya yang abadi.
Mungkin seharusnya memang sudah kembali pada satu yang lalu, dengan keinginan dan bersikeras nya Aera.
Tapi Tuhan menjadikan Aera dengan kemantapan hati nya untuk tetap tinggal. Dengan begitu satu tahun yang Aera miliki adalah hadiah atas semua lelah dan keluh yang di rasakan nya.
Jiwa yang semula bernyawa menjadi tampak kosong karna hilang nya seseorang. Tapi setelah kuat untuk tetap bertahan di tempat menjadikan nyawanya kembali ada. Tapi masih dengan nyawa yang sama. Mungkin karna itu Aera tidak sadar dan tidak mengira jika dari dalam diri nya sudah ada yang menjadi sangat kelelahan. Dan karna itu Tuhan ingin mengabulkan permintaan Aera di satu tahun yang lalu.
Beristirahat lah, berdamai lah, dan tuntaskan rindu yang setiap malam di rasakan nya.
Disaat seperti ini, di saat sisa sisa kesadaran nya wajah mba Ana tersenyum menatap nya, begitu cantik.
"Aera, tetep sadar Aera, tetep sama Mama jangan kemana mana, liat mama sayang"
Seru Mama begitu panik dengan Aera yang perlahan mulai memejamkan mata nya.
__ADS_1
Hangat dan dan dingin nya rasa mungkin tidak lagi dapat dirasakan Aera bersama mereka semua.