
Kamis 15:00.
Dengan handset yang dikenakan menjadi perantara akan nada nada yang indah yang didengarkan nya.
Cahahaya matahari yang mengenai nya dengan hangat. Angin yang menggugurkan dedaunan kering, memisahkan nya dari tangkai keberadaan.
Segala sederhana menjadi tampak menyenangkan dengan keceriaan yang tengah dirasakan.
Aera mulai mengakui keberadaan rasa dalam dirinya akan seseorang.
Di pelupuk mata dia hanya seseorang yang sesekali tampak unik dan sering kali menjadi sangat menarik dengan kebiasaan senyum dan tawa yang di perlihatkan nya. Sederhana, akan itu semua orang dapat menikmati nya jika melihat, hanya saja rasanya seperti berbeda saat dia berada di hadapan nya yang tertera menjadi sebuah ketulusan, itu yang Aera rasakan. Semua terkuak dalam ingatan saat saat kebersamaan nya, mengenang.
Langkah nya dengan begitu ringan, menikmati kegembiraan dengan seseorang yang akan di temuinya, dengan seseorang yang telah mengguncang seisi hati, Azka.
Dengan pintu yang dibuka dan dengan sebuah langkah yang membawa nya.
Tepat berada dihadapannya dia tersenyum dengan tatapan yang selalu hangat terlihat.
Aera ikut tersenyum membalasnya dengan merasakan degupan jantungnya yang kencang.
Entah apa yang membuat nya berpaling sekedar menoleh akan suara yang didengar tidak asing di telinga nya.
"Mama, Om Adnan"
Aera menoleh di dapati dua orang yang sangat dikenali nya.
Dilihatnya mama yang tertunduk di hadapan Om Adnan dan Om Adnan yang berbicara sesekali dengan nada kerasnya.
"Jadi kamu akan membiarkan Aera dengan keinginan nya?"
Om Adnan dengan pertanyaan yang tertuju untuk mama.
Aera melupakan segala tentang Azka dengan apa yang baru saja di dengarkan nya. Mendekatkan dirinya sekedar mendengarkan dengan jelas apa yang perlu di dengarkan nya.
"Aku ngga tega terus terusan neken Aera"
Mama dalam tundukan dengan suara serak karna tangisan.
"Mana yang akan lebih menyulitkan, buat Aera kuliah diluar negeri atau Aera tau semuanya"
"Adanan plis aku butuh waktu, aku yang punya hak sepenuhnya atas hidup aku sendiri, biar aku yang nentuin semuanya"
Aera terdiam dengan kedua tangan yang sudah mengepal kencang menyalurkan semua rasa kesalnya.
"Aera"
Azka menghampiri Aera.
Mama dan Om Adnan menoleh dengan sebuah nama yang didengar nya.
Begitu terkejut dengan seseorang yang dilihat nya, Aera yang tengah memperhatikan dan mendengarkan semua.
Aera mengabaikan Azka, menghampiri mama dan Om Adnan dengan bendung air mata yang begitu penuh.
"Aera"
Mama bangun dari duduknya, lemas dan gemetar.
Begitu pun Om Adnan tidak kalah terkejutnya dengan mama, memucat seketika.
__ADS_1
"Apa ma? Kenapa? Jadi karna orang ini?"
Aera menunjuk Om Adnan tetapi tatapannya berada untuk menatap mama. Bibirnya begitu berat dengan apa yang baru saja di dengarkan nya.
Azka menghampiri Aera menyaksikan apa yang tengah terjadi dengan Aera yang dilihat nya begitu kecewa,marah dan membendung kesedihan nya.
"Kenapa setega ini? Apa alasannya? Apa yang ngga boleh Aera tau?"
Aera dengan begitu lemas nya seperti kehilangan banyak tenaga nya, bendungan nya pun hancur menjadikan air mata menetes dengan derasnya.
"Aera dengerin mama, mama bisa jelasin ini semua"
"Mmm emang harusnya seperti itu"
Aera dengan amarah nya yang dipegang erat dalam kepalan tangan untuk menahan nya agar tidak meledak ledak seperti biasanya.
"Mmmmm, ee... "
Mama yang tampak bingung kehilangan kata-kata.
Aera mengangguki nya yang kemudian mengusap air mata di pipinya.
"Aera lupa mama udah susah payah nutupin semuanya jadi pasti sulit buat ngejelasin semuanya. Jadi biar Aera yang memperjelas dengan apa yang saat ini jadi prasangka di kepala Aera. Pertama semua yang mama lakuin bukan sepenuhnya keinginan mama. Kedua semua terjadi karena orang ini. Ketiga orang ini seseorang yang udah mama kenal jauh sebelum mama kenalin ke Aera. Dan terakhir mama punya sesuatu yang ditutup rapat dari Aera"
Aera membuang tatapan nya dari Mama, mengalihkan nya kepada Azka.
"Sorry ya Za"
Yang kemudian berlari pergi.
"AERA!!"
Pelanggan yang berada di Cafe pun serentak menoleh dengan suara kencang yang didengar nya.
Mama keluar untuk mengajar Aera, di ikuti oleh Om Adnan.
"Kamu jaga cafe saya mau pergi"
Pamit Azka kepada karyawan nya sebelum ikut mengejar Aera.
Mama terjatuh dengan larinya yang kencang berusaha untuk mengejar Aera.
Azka menghentikan langkahnya membangun Nayara mama nya Aera yang tengah tergeletak kesakitan.
"Tante ngga usah khawatir biar saya yang kejar Aera"
"Mmm tolong ya"
Mama mengangguki dengan tangisnya.
Mama sudah bersama dengan Om Adnan, Azka kembali berlari mengejar Aera.
"Aera brenti Ra!"
Dengan jarak yang sudah hampir deket.
"Aera"
Azka menarik tangan Aera membuat Aera memperlihatkan kehancuran nya saat ini.
__ADS_1
Azka menarik Aera untuk berada dalam pelukannya.
"Ngga perlu lari jauh jauh Ra, ada gua buat lo"
Dengan Aera yang sudah berada di dalam pelukannya.
Aera tenggelam dalam kesedihan, begitu ramai dengan tangisan dalam dekapan hangat yang memeluknya, memberikan ketenangan dengan kekuatan yang seolah mengaliri tubuhnya.
Cukup lama berada dalam pelukan Azka, Aera melepaskan nya setelah dirasa jauh lebih tenang. Menatap Azka dengan kelopak mata yang terlihat menjadi begitu sebam.
Azka mengusap jejak-jejak air mata dipipi Aera.
"Semula gua ngerasa nyaman deket sama lo, karna lo ngga tau seberapa menyedihkan nya gua. Tapi kali ini dengan terang terangan gua sendiri yang memperlihatkan gimana menyedihkan nya gua"
Gumam Aera tertunduk di hadapan Azka
"Dengan apa yang hari ini gua liat gua dibuat kagum sama lo"
Aera mengangkat kepalanya menatap Azka dengan tatapan penuhnya.
"Lo bilang lo itu menyedihkan, tapi dengan hebatnya lo tampak seperti seseorang yang kuat dan baik-baik aja bahkan lo terlalu ceria dengan sebuah kata menyedihkan. Kenapa? Karna lo perempuan yang kuat"
Lanjut Azka.
"Setiap orang itu menyedihkan, hanya orang-orang hebat yang bertahan dan menikmati tertawa dengan banyak halnya, kalo orang lain mungkin udah terpuruk dan menjadi pendiam tapi lo beda Ra"
Azka kembali dengan kata-kata nya.
Aera seperti ditumpahi banyak kekuatan dengan kata kata yang Azka katakan.
Aera kehabisan kata kata sekedar kembali memeluk Azka mungkin cukup untuk menggambarkan bagaimana dirinya sangat berterimakasih dan begitu beruntung akan keberadaan nya.
Aera kembali melepaskan pelukannya.
"Gua ngga tau harus mulai dari mana buat jelasin dengan apa yang baru lo liat"
Azka memegang kedua lengan Aera dengan kuat.
"Ngga perlu jelasin apapun, gua cuman mau lo cerita ketika lo udah nggak bisa nahan sendiri"
Aera mengangguki dengan kacaan air matanya.
"Lo mau anterin gua pulang?"
"Mmm gua anter lo pulang biar lo bisa istirahat"
Aera menggelengkan kepalanya.
"Gua cuman mau ambil barang barang gua Za"
"Ra"
"Ngga akan lama, gua ngga akan lari dari ini, gua cuman butuh nenangin diri"
"Mmm, gua anterin. Apa yang jadi keputusan lo gua percaya itu buat kebaikan lo"
"Makasih banyak ya Ka"
"Sama sama Ra"
__ADS_1