
Diantarakan pulang oleh Sia sudah hampir tengah malam dengan Aera yang masih menggunakan seragam.
Mobil Om Adnan baru berhenti di halaman rumah tidak lama
setelah motor Sia berhenti.
"Malam Tante"
Sapa Sia, dengan ragu.
"Dari mana jam segini Aera baru pulang"
Mama yang memperhatikan Sia, tanpa lebih dulu membalas sapaan nya.
"Aera yang minta maen dirumah Sia dan minta di anterin pulang jam segini"
Jelas Aera menyela, dengan menjelaskan.
"Maaf ya tan"
Ucap Sia.
"Udah sana lo langsung balik, thank ya Sia"
Aera yang kemudian menyuruh Sia untuk segera pergi, tidak nyaman melihat nya begitu canggung.
Sia mengangguk.
"Sia pulang dulu ya Tan"
Pamit Sia dengan tersenyum tipis.
"Mmm"
Mama mengangguki dengan ikut tersenyum tipis.
"Ngga bagus Ra anak sekolah keseringan pulang tengah malem kaya gini"
Om Andnan dengan nasihat nya.
"Terus bagus kalo orang dewasa yang pulang tengah malem?"
Balas Aera dengan menatap tajam Om Adnan.
"Orang dewasa kan cari uang, kerja buat orang rumah dan orang rumah seharusnya bisa ngehargain itu"
Lanjut Om Adnan dengan gaya bicaranya yang tengil.
Aera tercengang melebarkan tatapan nya, dengan mengehelai sedikit tawa.
"Om terlalu pandai menasehati orang, kenapa ngga coba buat nasehatin diri sendiri"
"Memang ada yang salah dengan Om?"
__ADS_1
Om Adnan yang kali ini dengan tersenyum.
"Aera udah cukup. Masuk mama mau bicara"
Sela mama menghentikan keduanya Aera dan Om Adnan.
Tatapan tajam nya di buang begitu saja sebelum Aera berbalik masuk meninggal kan keduanya.
"Ngga seharusnya kamu ngomong kurang ngajar kaya tadi sama Om Adnan"
Tegas Mama memperhatikan Aera yang tengah duduk di sofa.
"Om Adnan kan yang duluan"
"Mau siapa yang duluan, harus nya kamu ngerti gimana jaga etika. Pantes kamu anak pelajar pulang tengah malem kaya gini, masih pake seragam lagi"
Mama yang sudah dengan emosi nya.
Aera menundukkan tatapan nya.
"Aera salah,Aera minta maaf"
"Hhhh"
Mama yang menghelai nafas dan berbalik membelakangi Aera.
"Mama ngga ada niat buat minta maaf juga sama Aera"
"Minta maaf?"
Tanya Mama dengan kembali berbalik menghadap Aera.
"Seharusnya mama bilang dari awal kalo emang mama ngga mau datang di rapat pertemuan"
"Dari awal emang mama mengiyakan buat dateng? Ngga kan?"
Aera mengehelai nafas dengan sedikit tertawa menatap mama.
"Mmm Aera yang salah menyimpulkan. Dari awal sampe detik hari ini pun tetap Aera yang salah"
Aera menghampiri mama, mendekatkan posisi keduanya.
"Semoga ada waktu sedikit aja buat Mama bisa ngerti dan ngerasain gimana sakit nya di perlakuan kaya gini"
Aera yang kemudian meninggalkan mama begitu saja.
Mama masih diam di tempat memperhatikan Aera yang meninggal kan nya. Meninggalkan sebuah kalimat tanpa sadar membuat mama meneteskan air mata.
Aera mengunci pintu kamarnya.
Aera yang langsung membaringkan tubuhnya di tempat tidur tanpa lebih dulu mengganti ataupun mencuci wajahnya.
Aera memejamkan matanya di antara rasa lelah dan sedih dengan perasaan nya. Dalam pejaman nya beberapa tetesan air mata menetes.
__ADS_1
Malam gelap yang begitu menakutkan.
Hari hari panjang yang selalu melelahkan dan seringkali mematahkan.
Semua tertata nyata hari ini.
Pejaman yang gelap dan pengelihatan yang menakutkan.
Tubuh kedinginan tanpa dekapan.
Malam yang selalu sama sepi dan pahitnya.
Aera terlelap dalam tidurnya, dan terbangun di pukul 03:00. Aera pergi ke kamar mandi dengan lesu nya mengganti baju dan mencuci wajahnya. Sudah dengan baju tidur nya Aera turun sekedar untuk mengambil segelas air putih.
Saat akan kembali dengan segelas air yang sudah di ambil nya dari dapur Aera melihat pintu kamar mba Ana yang masih sedikit terbuka dengan lampu yang masih menyala. Aera menghampiri mengintip dari celah pintu yang terbuka. Terlihat Mba Ana yang tengah duduk sibuk menulis sesuatu di dalam sebuah buku tebal. Terlintas niat untuk mengetuk pintu menghampiri mba Ana tapi Aera takut mengganggu nya.
Aera kembali ke kamar dengan meletakkan segelas air putih di meja dekat tempat tidur nya.
Aera meraih handphon yang tergeletak di meja. Terdapat satu panggilan tidak terjawab dengan satu pesan masuk dari nomor yang tidak di kenal.
✉+62***********
"Ini gua Azka Ra, lusa ada waktu?"
Aera tersenyum senang setelah tau panggilan tidak terjawab dan pesan masuk itu dari Azka.
"Sorry ya Azka gua baru buka handphone, baru tau ada pesen masuk dari lo"
Balas Aera masih dengan senyam senyum senang.
"Lusa gua ngga sibuk ko"
Lanjut Aera.
Setelah ditunggu beberapa saat Azka tidak juga membalas pesan Aera.
"Udah tidur kali ya?"
Gumam Aera pelan, yang kemudian kembali meletakkan handphone nya kembali di atas meja.
Aera kembali merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur dengan handset yang di pakai nya untuk mendengarkan lagu.
Memejamkan matanya tetapi tidak untuk tertidur.
Tidak lagi mengantuk meski baru tidur sebentar.
Matanya di pejamkan agar tidak begitu terlihat kurang tidur pagi nanti.
Kembali teringat dengan kejadian semalam beberapa jam yang lalu.
Terlihat dengan begitu jelas untuk kesekian kali bagaimana Aera diabaikan dengan sengaja oleh mama.
Aera mulai bosan dengan dirinya yang terlalu menanggapi banyak hal dengan perasaan, jika saja dirinya bisa lebih cuek untuk setiap hal yang terjadi dirasa tidak perlu sering kali merasakan setiap hal yang ada.
__ADS_1