
Satu tempat yang tidak pernah terfikirkan untuk di datangi Aera pada akhirnya malah menjadi tempat yang paling sering di datangi. Ilusi yang tidak pernah dibayangkan akhirnya benar menjadi nyata, kehilangan.
Berada beberapa langkah sebelum Aera tepat berada di depan makam mba Ana. Aera menahan langkah nya, menahan diri nya lebih dulu sekedar Aera dapat memperhatikan makam mba Ana dari jarak yang tidak begitu dekat. Dengan begitu mba Ana mungkin tidak akan melihat Aera menangisi nya sekarang ini.
Adakah yang lebih menyakitkan dari pada ini, kehilangan seseorang yang sangat berharga untuk kita.
Buka lagi sehari, dua hari mba Ana tidak lagi berada dalam wujud nyata disisi nya. Aera percaya sampai detik ini pun mba Ana masih berada di samping nya, di dekat nya dan mengawasi nya, tapi bukan dalam wujud nyata. Tapi dengan ini Aera masih belum dapat menerima, atau sekedar menyesuaikan dirinya.
Setiap kali ada hal sekecil apapun yang melukai pada akhirnya akan membawanya kembali ingat dengan luka dan kesedihan akan kehilangan sosok mba Ana. Jika menjadi lupa, dengan sendirinya hati akan mengorek ngorek kembali luka agar dapat kembali dirasakan Aera.
Aera menyudahi tangisan nya, mengusap kedua pipi yang terbanjiri oleh air mata nya. Tersenyum dengan menghampiri mba Ana.
"Mba Ana, Aera dateng mba"
Seru Aera dengan bibirnya yang menjadi gemetar, karna tangisan yang berada ditahan nya dengan sangat kuat, begitu juga dengan sesak dalam dadanya.
Aera menarik nafas dan menghembuskan nya, sekedar dapat memberikan rasa lega kepada dirinya sendiri.
"Mungkin mba Ana tau dengan sesering apa Aera menangis sekarang, bahkan mba pun pasti tau dengan beberapa detik yang lalu Aera yang menangis. Bukan kah Aera bukan lagi Aera yang mba Ana kenal. Sekarang Aera hanya perempuan cengeng Mba. Tapi mba Ana tenang aja, Aera ngga akan bawa tangisan Aera didepan makam mba Ana"
Aera yang memejamkan matanya untuk beberapa saat, sekedar menahan mata nya yang menjadi berkaca.
"Jika nanti pada akhirnya Aera memilih untuk menemui mba, tolong jangan marah dan kecewa mba. Seperti yang pernah mba bilang saat itu, mba yang punya hak atas hidup mba dan mba juga yang menentukan. Dan semua itu berlaku untuk Aera. Ini hidup Aera, ini hak Aera, jadi dengan apapun yang Aera putusan itu adalah pilihan Aera"
Aera kembali terdiam menahan diri, dan mengendalikan nya.
Berada di depan makam mba Ana seperti berada duduk di tempat dengan hembusan angin yang begitu sejuk sembari ditusuki benda tajam di dada yang menjadikan nya begitu sakit dan sesak dirasakan. Menjadikan Aera kesulitan untuk bernafas ditempat ini. Seperti ingin berlari kencang dan setelah habis dengan jalanan yang di lalui nya, Aera akan melompat yang nantinya akan berada jatuh diantara lautan, tenggelam, hilang kesadaran dan semua menjadi baik pada akhirnya.
Aera yang tersenyum setelah dengan diam nya beberapa saat. Meletakkan satu buket bunga dari bua buket yang dibawanya. Seperti biasa satu untuk mba Ana satu nya lagi untuk Anan.
"Bunga nya cantik ya mba, orang yang membungkus namnya Amel, dia gadis cantik berusia 15 tahu. Dia pernah berada di posisi Aera seperti sekarang ini. Menjadi terluka atas kehilangan orang-orang yang dicintainya"
Tersenyum sembari bercerita, sama seperti kebiasaan Aera sebelum nya kepada Mba Ana. Saat saat itu adalah hal yang menyenangkan yang Aera selalu nikmati kebahagiaan dan kebersamaan nya dengan Mba Ana. Karna untuk Aera tidak ada tempat senyaman mba Ana untuk berbagi cerita. Mba Ana adalah sebuah cangkang dan Aera yang akan menjadi isi nya.
"Setiap kesulitan yang ada katanya Itu karna Tuhan menyayangi kita. Aera harap benar dengan itu, dengan Tuhan yang menyayangi Aera dengan ini semua, bukan karna Tuhan marah dan tengah memberi karma atas kesalahan yang pernah mama dan ayah Anan lakukan"
Menjadikan ini ketakutan akan sebuah karma, tidak menjadi hal yang salah bukan? Karna setiap manusia berada dengan ketakutan dan prasangka. Dan itu lah yang saat ini tengah berada di rasakan Aera.
Berada cukup lama di depan makam mba Ana dengan banyak ungkapan, keluh dan cerita semua di tuturkan oleh Aera. Merasakan kedua kakinya mulai merasa pegal karna terlalu lama berjongkok.
"Kalo gitu Aera pergi ya mba, Aera juga harus dateng temuin Ayah lebih dulu. Mba Ana jangan terlalu khawatir dengan Aera, karna Aera baik baik aja dan akan mengatasi semua ini dengan baik"
Aera bangun dari posisi berjongkok nya, beranjak ke pemakaman Anan.
Langkah Aera terhenti saat hampir sampai didepan makam Anan, karna seseorang yang berada berdiri dengan pakaian rapih berjas dan payung hitam juga kaca mata hitam yang dikenakan nya, menjadikan Aera tidak dapat tau siapa orang itu.
Dengan rasa penasaran nya Aera menghampiri nya tanpa suara, saat sudah berada tepat di sampingnya Aera menoleh memperhatikan dengan baik dengan siapa orang di sampingnya.
__ADS_1
Seseorang itu ikut menoleh setelah disadari dengan keberadaan seseorang di sampingnya. Menatap Aera dan melepaskan kacamata nya.
"Om Adnan, Aera kira siapa"
Seru Aera setelah tau dengan siapa yang saat ini berada di sampingnya dengan kaca mata hitam yang sebelumnya dikenakan.
Adnan tersenyum kepada Aera, menyangkutkan kacamata pada kemeja nya.
"Seharusnya Om yang bilang. Om kira siapa? Tau tau udah ada di samping"
Aera tersenyum dengan lebarnya. Kebencian, keasingan, atau sekedar canggung yang sebelumnya berada dirasakan Aera tidak lagi ada untuk saat ini. Saat setelah tau dengan apa yang sebenarnya. Saat tau siapa Adnan dan alasan alasan yang sebelumnya sudah didengar sendiri oleh Aera.
"Aera ngga kira Om Adnan dateng lagi, lengkap dengan kacamata dan payung hitam juga, jadi Aera ngga tau kalo itu Om Adnan"
Perjelas Aera dengan alasan kenapa dirinya tidak mengenali jika itu Adnan.
Adnan kembali tersenyum dengan menatap makam Anan.
"Om datang kesini lagi cuman mau pamit aja"
Seru Adnan dengan keberadaan nya kali ini mengunjungi Anan.
"Pamit kemana?"
Tanya Aera memastikan, tatapan nya berada terus memperhatikan Adnan.
Perjelas Adnan dengan senyum tipis dan dengan tatapan yang berbeda, masih berada tertunduk dalam tatapan nya untuk menatap makam Anan.
"Itu artinya om akan ninggalin mama?"
Aera yang memandangi serius dengan tatapan dan ekspresi nya.
"Memang seharusnya seperti itu kan. Nayara harus memulai lembaran baru bersama kamu, yang itu artinya apa yang berada dari masalalu harus ikut di hapuskan"
"Tapi Aera juga dari masa lalu mama, dari kesalahan yang berada di masa lalu mama, Om dan semuanya. Bukan kah itu artinya Aera yang harus pergi"
Aera yang tidak sadar sudah menjadikan nada suaranya meninggi dengan perasaan kesal yang tiba tiba dirasakan nya.
"Apa ngga bisa Om yang tetep disamping mama dan Aera yang pergi. Lagi pula Aera ingin bertemu mba Ana dan Ayah diatas sana"
"Ngomong apa kamu? Kenapa jadi ngelantur kemana-mana"
Seru Adnan yang juga menjadi kesal dengan lanturan Aera.
"Om harus segera pergi, kamu baik baik jaga mama kamu"
Lanjut Adnan sebelum berbalik dan melangkah menjauhi Aera.
__ADS_1
Terdiam didalam tundukan nya, dengan tangan yang masih memegangi buket bunga untuk Anan.
Aera kembali memejamkan matanya dan menghelai nafas panjang.
Saat berada membuka matanya Aera melihat papan nama bertuliskan nama Anan.
Aera berjongkok dan meletakan buket bunga didekat papan nama.
"Apa Aera sudah sama seperti orang yang kehilangan akal?"
Gumam Aera kembali dengan lanturan nya.
Adnan yang masih berada beberapa jarak di belakang Aera, terdiam memperhatikan Aera dan mendengarkan ucapan nya.
"Apa Aera salah jika Aera menginginkan untuk menemui Ayah dan mba Ana. Aera juga ingin mememliki kebersamaan dan hal hal indah yang dimiliki seorang anak dengan ayah nya"
Kali ini tidak ada pertahanan, tidak ada upaya untuk tegar menahan tangisan, semuanya terlepas dan dibiarkan.
"Jadi itu artinya kamu ingin bunuh diri"
Seru Adanan kembali menghampiri Aera setelah dengan lanturan konyol yang didengar nya.
"Apa itu salah?"
Tanya Aera masih berada di posisi nya, tidak menoleh menatap Adnan atau pun bangun dari posisi nya.
"Jadi itu alasan kenapa kamu melarang Om pergi"
Aera terdiam beberapa saat sebelum akhirnya bangun dan menoleh menatap Adnan yang kembali berada dalam pandangan nya.
"Kamu udah makan?"
Tanya Adnan dengan hal yang lain nya, sekedar mengalihkan atau dengan alasan lain nya.
"Aera udah sarapan dirumah"
Seru Aera dengan mengusap kedua pipinya.
"Kalo gitu mau minum kopi sama Om?"
Tawar Adnan kepada Aera. Niat nya ingin beranjak mencari tempat untuk dirinya dapat berbicara banyak hal, setelah dengan apa yang didengar nya barusan.
Aera mengangguki nya, yang kemudian keduanya pergi bersama dengan mobil Anan. Didalam mobil keduanya sama sama terdiam. Dengan Aera yang berada dengan kepala nya yang dipenuhi banyak hal saat ini. Sesekali Adnan menoleh sekedar untuk menatap Aera.
Tidak menyalahkan dengan apa yang berada menjadi terfikirkan dan di inginkan oleh Aera, malah Adnan merasa kasihan juga bersalah akan banyak hal nya.
Gadis seusianya yang seharusnya tengah bersenang-senang ini malah harus tertekan menderita dengan semua sajian dalam hidupnya, bukan kah semua terkesan tidak adil.
__ADS_1
Seperti itu lah rasa, jika tidak dapat menghadapi seharusnya memutuskan banyak hal sejak awal. Jika sudah berada sampai sejauh ini, menghadapi nya saja tidak lah cukup, tapi juga harus melewati nya jika tidak ingin berada tinggal dengan perasaan atau keterlukaan seperti ini.