
Sesampai nya Aera dirumah, Aera bergegas ke kamar. Tanpa lebih dulu melapas sepatu atau mengganti seragam. Aera menjatuhkan tubuhnya di atas tempat tidur yang begitu empuk dengan menelentangkan kedua tangan nya. Setelah beberapa saat tetap dengan posisi seperti itu sampai seseorang mengetuk pintu.
"Tok..tok..tok..Aera?"
Panggil seseorang setelah dengan ketukan pintu, suara yang begitu akrab dengan Aera.
Aera bangun bergegas untuk membukakan pintu, meski sebenarnya pintu nya sedang tidak terkunci.
"Masuk mba?"
Tampak mba Ana, seseorang yang baru saja mengetuk pintu.
Mba Ana menggelengkan kepala menolak untuk masuk memilih untuk tetap di depan pintu. Pandangan yang semula menatap wajah Aera yang lesu di alihkan untuk memperhatikan Aera dari kaki sampai kepala.
"Ko belom ganti baju, sepatu nya juga belom di lepas"
Aera tersenyum tipis di sela raut wajah nya yang lesu.
"Tadi rebahan dulu sebentar"
Mba Ana ikut tersenyum dengan sedikit melebarkan tatapan matanya, memperjelas dengan apa yang sedang di perhatikan nya, terlihat Aera tampak lesu dan tidak bersemangat seperti biasanya.
"Kenapa?"
Singkat mba Ana, dirasa cukup untuk mewakili pemahaman nya.
Aera melebarkan senyuman nya, seolah memberi jawaban, memperjelas dirinya baik baik saja.
"Cuman kecapean, Sia pulang duluan soal nya"
Mba Ana mengehelai nafas, entah karna perasaan lega dengan Aera yang mengatakan baik baik saja, atau merasa sesak seolah memahami Aera yang tengah berbohong dengan senyuman nya.
"Yaudah, ganti baju gih, mba udah siapin makanan"
Aera hanya mengangguki. Kembali menutup pintu setelah mba Ana pergi Turun. Melepas sepatu, berganti baju dan mencuci wajah membersihkan dari sisa sisa makeup.
Aera sudah dengan kaos oblong dengan celana pendek dan wajah putih natural dengan pelembab bibir. Tidak segera turun Aera duduk di atas tempat tidur menghadap jendela dengan hordeng terbuka, memaparkan hamparan langit berawan.
Rindu kah? Perasaan yang tengah mengacak kacau perasaan Aera saat ini. Kata "Ayah" yang sempat di sebutkan nya dengan tangis seolah meluapkan rasa yang tertutup rapat dalam dada.
Ada Rasa yang selalu bungkam.
Takut juga kecewa untuk memperjelas nya.
Waktu dan sendiri menjadi saksi, betapa rasa ini menyakiti.
__ADS_1
Ingin sesekali ada yang dapat memahami .
Agar tidak perlu sedih sendiri.
Ada yang ikut memahami, bahkan menjadi tempat untuk bersandar.
Semua berlalu begitu sepi dalam diam, diantara rindu juga benci. Dua rasa yang di persatuan Tuhan untuk alasan sebuah kehilangan yang belum pernah ada dalam genggaman. Rasa yang di satukan menjadi begitu menyulitkan juga menyakitkan.
"Aera?"
Panggil Mba Ana suara yang terdengar dari lantai bawah.
Aera menoleh, diantara jejak suara yang didengar nya. Tersenyum di antara kedua mata yang tengah berkaca.
Aera segera bergegas bangun dan berlari turun menemui mba Ana, terlihat Mba Ana yang sedang memperhatikan tangga menunggu Aera untuk turun.
"Mba Ana"
Ucap Aera pelan dengan jarak yang sudah cukup dekat. Menatap dengan tatapan sedih.
Aera yang terpaku diam membuat mba Ana yang menghampiri, memegangi kedua tangan Aera.
"Aera? Kenapa?"
Hana Rum sebuah nama milik seseorang yang begitu menyayangi Aera. Dunia Aera yang sepi di pijakinya, diantara semua mata yang enggan untuk menatap dan memperhatikan nya, Mba Ana lah yang memilih untuk menatap dengan begitu dekat, memperhatikan dengan begitu hangat, menggenggam erat kedua tangan Aera untuk tidak lagi merasakan sendiri.
Setelah beberapa saat ikut memeluk Aera, mba Ana melepaskan pelukan nya menatap dan memperhatikan Aera.
Rasa nya ikut terluka melihat Aera yang menghampiri nya dengan luka dan tangis air mata.
"Aera? Kenapa? Mmm?
Mba Ana dengan menggenggam satu tangan Aera.
Aera yang menolehkan sedikit wajah nya untuk menghapus air mata nya, tidak ingin memperlihatkan begitu lama air matanya.
Kembali menatap mba Ana tersenyum dengan menggelengkan kepalanya.
Jika bukan karna nya, Aera akan benar-benar hampa, sepi dan sendiri. Diantara semua rasa dan takdir yang tidak begitu baik Mba Ana ada. Aera menyadari terkadang apa yang hilang digantikan dengan yang lebih berarti. Meski sekedar orang asing, Mba Ana tetap ada dan tinggal, menjaga dan menyayangi, memberikan kasih sayang yang Aera butuhkan, menggantikan sosok sosok yang hilang.
"Aera?"
Tegas mba Ana khawatir.
__ADS_1
"Perasaan Aera lagi ngga baik aja mba"
Jelas Aera, memahami mba Ana yang menatap dengan penuh kekhawatiran.
"Kalo ada apa apa cerita Ra, jangan jadi kebiasaan buat nutupin apa apa nya sendiri, ngga akan ada yang bisa buat ngertiin kamu kalo kaya gini"
Mba Ana yang menahan diri, diam nya Aera dan rasa khawatir membuat nya marah.
"Uhhhhhh"
Helai nafas mba Ana dengan begitu sesak.
"Aera cuman ngga tau dan ngga ngerti gimana harus cerita atau sekedar ngasih tau ke orang lain, Aera mau cerita, bahkan Aera membutuhkan nya. Tapi lagi lagi Aera cuman bisa diem mba, berharap ada yang ngerti Aera tanpa perlu Aera cerita. Aera juga cape nutupin perasaan Aera sendirian mba, sakit_"
Aera yang dengan cepat meluapkan semua nya dengan di ikuti tangisan yang lebih deras.
Mba Ana menghentikan dengan kembali memeluk nya dengan cepat.
Dalam pelukan nya Aera menangis meluapkan semua kesedihan nya.
Mba Ana pun ikut menangis merasakan betapa sakitnya keadaan dan takdir yang harus di jalani Aera.
"Aera kangen Ayah mba, bertahun-tahun Aera hidup dengan bayang bayang pertanyaan yang semua hanya bisa jadi pertanyan tanpa jawaban"
Mba Ana kembali melepas pelukannya, menghapus air mata di pipinya.
"Ngga sekarang bukan berarti tidak ada kemungkinan buat kedepan nya, kalo hari ini pertanyaan itu belum ada juga jawaban nya mungkin karna belum saatnya"
"Lalu kapan saat nya Mba"
"Percaya sama mba"
Aera terdiam, kehabisan kata-kata atau memang menahan diri untuk tidak memperdalam perasaan yang tengah kacau.
"Aera mau istirahat mba"
"Mmm" Mba Ana yang tersenyum tipis dengan mengangguki.
"Tapi makan dulu ya, habis itu istirahat"
Aera menggelengkan kepala, menoleh dan berbalik membelakangi mba Ana.
Tertunduk sesaat, tidak seharusnya perasaan dan ucapan itu terluap jelas di hadapan mba Ana, bahkan dalam pelukan nya.
Aera yang berlalu meninggalkan Mba Ana.
__ADS_1