Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
26


__ADS_3

Aera menggabrukan tubuhnya di atas tempat tidur dengan begitu senang nya. Senyum, tawa, cara bicara nya dan semua tentang Azka seolah terngiang-ngiang memenuhi isi kepala. Di ikuti degupan jantung yang kencang setiap kali Aera membayangkan dengan jelas wajah tampan Azka.


Sebuah pertemuan yang menyenangkan, disambut banyak hal di dalam nya. Sesederhana ini sebenarnya senyum yang terurai tanpa paksa. Aera yang selalu terpaku kaku memikirkan kemarin dan hari ini tetapi tidak mempercayai hari hari berikutnya alasannya takut akan kecewa seperti kebanyakan hari hari sebelumnya.


Aera Turun sekedar membuat minuman. Dilihat Aera mba Ana yang masih duduk di sofa ruang tamu.


"Mba ngapain jam segini belom tidur?"


Tanya Aera menghampiri, dengan mba Ana yang terlihat terkejut dengan adanya Aera.


"Mmm, anuu.. mba ngga bisa tidur"


Jelas mba Ana dengan sedikit tersenyum juga dengan gelagat yang terlihat aneh.


Aera mengerutkan dahinya setelah mendengar alasan mba Ana dengan tingkah nya.


"Ooo gitu"


"Mmm, Aera sendiri kenapa belom tidur?"


"Aera ngga ngantuk mba, ini turun mau bikin minuman"


"Udah malem gini loh, besok kan sekolah"


Aera melebarkan tatapan nya menatap mba Ana.


"Mba kenapa sih, aneh gitu? Ada yang ditutup tutupin"


Aera dengan to the poin.


"A.. ngga, ngga ada yang ditutup tutupin ko"


"Kalo Aera tau mba boong, Aera marah loh"


Aera dengan tatapan serius nya.


Mba Ana menghelai nafas seperti pasrah.


"Ibu_ Ibu belom pulang?"


Aera yang terkejut dengan penjelasan mba Ana, menoleh kearah jam dinding dengan berat nya, pukul 02:15.


Aera segera menghubungi mama dengan telfon rumah, beberapa kali menghubungi tapi tidak juga di angkat. Aera pasrah duduk di sofa di temani mba Ana menunggu mama pulang. 03:40 suara mobil berhenti di teras rumah. Aera segera berlari keluar dengan di ikuti mba Ana.


Mama yang berjalan dengan di bantu Om Adnan. Aera mendekat diri tercium bau yang begitu menyengat tidak enak seperti bau alkohol dari mama. Mba Ana menggantikan Om Adnan untuk membantu mama dengan merangkul nya.


"Om ini gila atau apa sih? Om tau kan mama itu punya anak Om, Aera nungguin mama semaleman dan Om anterin mama dengan kondisi kaya gini, Om punya pikiran kan"


Maki Aera kepada Om Adnan dengan emosi nya yang sudah memuncak.


Om Adnan tersenyum sinis menatap Aera.


"Seharusnya kamu berterimakasih karna Om anterin mama kamu dengan selamat. Asal kamu tau bukan karna Om mama kamu kaya gini, tapi karna kamu"

__ADS_1


"Dari awal aku emang ngga salah kalo aku ngga suka sama Om. Om emang orang ngga beres, mending sekarang Om pergi dari sini dan ngga usah nginjekin kaki Om dirumah ini lagi"


Kali ini senyum sinis di wajah Om Adnan memudar tersisa tatapan serius setelah mendengar ucapan Aera.


"Kamu kira kamu orang yang beres, anak yang bener? Tau diri dikit jadi anak. Mama kamu nih tertekan ngadepin kamu. Memang nya kamu tau itu? Ngga kan. Kerna apa? Karna kamu ngga pernah ngaca ngga pernah mikir"


"Om ini cuman orang asing. Tau apa soal hidup saya sama Mama? Hah? saya bilang pergi ya pergi!"


Aera dengan mengarahkan telunjuknya, mengartikan untuk Om Adnan segera pergi.


Mba Ana memperhatikan dan mendengarkan dari beberapa jarak dengan memegangi mama.


Mama tiba tiba melepaskan tangan mba Ana yang semula tengah memegangi nya. Dan seketika


"Prak.."


Tamparan keras melayang kencang di pipi Aera. Meninggalkan bekas yang cukup merah di pipi Aera yang putih.


Aera tertunduk dengan menahan rasa sakitnya.


Mba Ana begitu terkejut, dengan cepat kembali memegangi mama, tapi lepas begitu saja.


"Cukup!! Hah... jangan buat hidup saya lebih kacau lagi saya lelah. Keberadaan kamu benar-benar_"


Gumam mama dengan lanturan nya. Mama tidak melanjutkan bicaranya setelah hampir terjatuh kehilangan kesadaran. kembali dengan dipegangi mba Ana mama menatap Aera dengan tatapan sayup dan tubuh yang tidak dapat berdiri tegak.


"Ibu tenang ya bu itu Aera Bu anak ibu"


"Anak? Mmm...?"


Mama yang tiba tiba menjadi tersenyum.


Aera mengangkat wajah dari tundukan dengan banyak air mata yang sudah menetes. Menatap tajam Mama dengan rasa sakit di pipi juga dengan rasa sakit di hatinya. Sebelum berlalu pergi Aera memalingkan wajahnya sekedar menatap tajam Om Adnan yang tengah memperhatikan nya. Aera pergi berlari dengan tangisan nya. Mengunci diri di dalam kamar.


Setelah melihat orang lain tertampar kali ini Aera merasakan bagaimana rasanya. Sakit dan menyedihkan dua kata yang dapat menjelaskan dengan baik bagaimana rasanya.


Aera segera menyiapkan tas dengan memasukan seragam nya di dalam tas. Aera pergi keluar masih dengan baju tidur yang dikenakan jaket dengan membawa tas berisikan keperluan sekolah nya. Aera berlari kencang dengan kabut pagi yang masih sangat dingin dan masih begitu gelap. Dalam langkah nya yang cepat Aera terus saja meneteskan air mata.


Aera berhenti dan duduk di depan cafe tempat Azka bekerja. Aera menundukan kepala dengan di sangga lengan tangan nya.


"Aera, bangun Ra?"


Azka yang tengah menepuk pelan pundak Aera untuk membangun kan Aera yang tertidur di atas sanggaan lengan tangan nya.


Aera mengangkat kepalanya dan menatap Azka dengan tatapan sayup kurang tidur.


"Ko bisa tidur disini?"


Tanya Azka memastikan.


"Mmm, sorry ya"


Jawab Aera tidak bersemangat.

__ADS_1


"Jam berapa sekarang?"


Lanjut Aera.


"Setengah tujuh Ra"


"Ha, gua boleh pake kamar mandi cafe sebentar buat cuci muka dan ganti baju"


Aera dengan panik nya.


"silahkan"


Dengan Azka yang membukakan pintu Cafe.


Aera keluar sudah dengan seragam dan tampilan seperti biasa untuk kesekolah hanya saja kali ini tampak pucat dengan mata sembab nya.


"Mm diminum dulu Ra"


Azka yang menyodorkan secangkir kopi.


Aera tersenyum tipis dan meminum nya pelan dengan meniupi.


"Makasih. Pasti sekarang gua keliatan aneh dan berantakan banget ya?"


"Mm sedikit"


Azka dengan tersenyum.


"Udah siang buruan abisin kopinya, biar gua yang anter"


"Nganterin gua?"


"Tada"


Azka dengan menunjukan kunci motor.


Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


Aera di antar Azka berangkat sekolah dengan mengendarai sepeda motor. Di dalam perjalanan Aera bersandar di pundak Azka terlelap tidur begitu saja. Azka menarik tangan Aera untuk mengaitkan nya di perut agar Aera tidak terjatuh.


"Ra bangun udah sampe?"


Azka yang membangunkan Aera setelah sampai di depan gerbang sekolah.


"Azka maaf ngga sengaja ketiduran"


Aera dengan mengusap kedua matanya dengan jari telunjuk sekedar memastikan matanya tidak meninggalkan kotoran.


"Mmm ngga papa asal jangan di ilerin"


Titan dengan tawa nya


Aera tersenyum lebar sebelum pergi.

__ADS_1


__ADS_2