Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
56


__ADS_3

Malam ini malam dimana Titan dan Aera berdebat akan perasaan, menjadi malam untuk Sia yang tampak hangat dengan cuaca yang dingin.


Dengan seseorang yang dilihat Aera tampak Sia dan Azka yang tengah berjalan diantara keramaian. Tidak dapat memastikan dengan jarak nya yang terlalu jauh dengan Aera yang tiba-tiba teralihkan dengan keberadaan Titan yang tidak sengaja menabrak nya.


Kenyataan nya benar dengan Sia yang tengah bersama dengan Azka. Sejak sore tadi keduanya berjalan dari satu tempat ketempat yang lain, dengan keduanya yang tampak akrab dan dekat.


Dimulai sejak beberapa hari yang lalu.


Setelah meninggalkan kontrakan nya yang lama Azka pindah dengan membeli rumah tepat di samping rumah Sia.


Hari pertama pindah dengan beberapa barang yang dibawanya Azka dibantu oleh ayahnya Sia untuk memindahkan barang-barang nya sedangkan mama nya Sia Tante Yan menyuguhkan sesuatu untuk Azka. Bertemu dengan orang-orang yang begitu ramah dan baik, benar-benar lingkungan yang menyenangkan. Azka ingin tetap menjalin hubungan yang baik dengan keluarga tante Yan terlebih dengan karakter nya yang pandai bergaul.


Sudah selesai dengan barang barang yang tertata dirumah baru yang berukuran sedang. Azka beralih di halaman rumah sekedar menata tanaman-tanaman yang masih berantakan dengan tanaman-tanaman yang tumbuh dengan baik.


Sia dengan seragam sekolah dan helem yang dikenakan nya setelah pulang sekolah memarkir motornya di depan rumahnya seperti biasa.


Sia membuka halem dengan seseorang tengah memperhatikan nya tersenyum di halaman rumah yang berada di sampingnya. Rumah yang semula kosong dan tak terurus menjadi tampak rapih dan bersih dengan pria tampan yang berada di halamannya.


Azka tersenyum begitu ramah mengingat dengan orang orang dari rumah sebelah yang telah membantu nya.


Sia melebarkan tatapan nya tidak paham dengan orang asing yang tiba tiba tersenyum kepadanya. Hanya saja aneh nya Sia membalas tersenyum meski begitu canggung.


Azka membersihkan tangannya sebelum menghampiri Sia yang tengah menatap asing kepadanya.


"Hai, saya Azka, tetangga baru"


Azka yang sudah berada di hadapan Sia dengan mengulurkan tangannya.


"Ooo, gua Sia"


Sia meraih tangannya dengan sebentar yang kemudian dilepaskan nya kembali.


Sia memang kurang menyukai pertemuan dengan orang-orang baru karna akan tampak asing dan canggung, situasi yang benar-benar tidak di sukai nya.


Azka tersenyum dengan lebar nya akan Sia yang terlihat tidak begitu nyaman berkenalan dengannya, bahkan berjabat tangan pun benar banar hanya dalam hitungan detik.


"Gua masuk dulu"


Sia masuk begitu saja ditemui mama dan ayahnya yang tengah duduk menonton tv.


Azka tersenyum menggelengkan kepalanya dengan Sia yang tampak berbeda dari perempuan pada umumnya. Dari penampilan, cara berbicara, bahkan dari cari menatap orang lain.


"Itu tetangga baru ?"

__ADS_1


Tanya Sia yang sudah berada dihadapan mama dan Ayahnya.


"Iya Ra baru tadi siang pindah. Udah ganteng, ramah baik deh orang nya"


Jelas mama tersenyum, seperti dibuat terpukau dengan Azka dan ketampanan nya terlebih dengan karakter nya yang begitu ramah.


"Mama tau dari mana?"


" Tadi kan Ayah bantuin dia buat nurunin barang nya, mama juga bikinin minum buat dia"


"Ah gitu"


Gumam Sia. Merasa berhutang budi dengan ayah dan mamanya makan nya mau so soan kenalan, batin Sia.


Pria yang cukup rapih dan terlihat tampan mana mungkin akan melirik nya. Sia yang selalu dengan wajah natural dan penampilan yang apa adanya, akan sangat tidak mungkin pria setampan dia meliriknya.


Hari hari berikutnya keduanya menjadi saling bertemu sekedar Azka yang tersenyum atau menyapanya.


Hari itu saat ban motor Sia bocor Azka lah yang membantu mendorong untuk sampai di bengkel dan bahkan membantu Sia untuk mencari tukang ojek.


Beberapa hari berikutnya saat mama dan Ayah nya sedang berada diluar kota Sia kelaparan sedangkan yang dapat di masak nya hanya mie instan, itu pun gas nya habis.


"Tok.. tok"


Sia menghampiri rumah Azka dengan mangkuk dan sebungkus mie yang sudah dibawanya.


To the poin setelah Azka membukakan pintu.


Azka kembali tersenyum dengan tingkah Sia yang unik dan terkesan menyebalkan.


"Silahkan"


Singkat Azka memberi jalan untuk Sia masuk.


"Yakin mau masak mie?"


Dengan keduanya yang sudah berada di dapur.


"Kenapa? Ngga boleh gua keluar"


Sia dengan judesnya dengan pikiran negatif yang saat ini ada di kepalanya.


Azka menghelai tawa.

__ADS_1


Bagaimana perempuan yang tengah berada di hadapan nya memiliki pemikiran yang cukup sentimen akan hal hal negatif yang tidak berdasar. Menerka asal asalan tetapi sudah dengan perasaan jengkel nya.


"Lo emang kasar dan suka mikir negatif orang gini ya?"


Sia terdiam dengan ucapan Azka barusan. Ada kalanya perilaku seseorang mendasar dengan apa yang pernah dilalui nya. Untuk Sia akan tampak berlebihan dengan orang asing terlebih seorang pria. Ada kenangan buruk yang sempat terjadi dan mempengaruhi nya saat ini. Beberapa tahun yang lalu Sia menyukai seseorang tetapi orang itu malah menyukai Aera. Bukan karna dia menyukai Aera Sia menjadi kecewa hanya saja pria itu bergumam dengan lontaran kata yang benar-benar menyakitkan sampai pada akhirnya Sia menutup hati dengan cukup lama, dengan keterpurukan dan rasa sakit.


"Hhhh.."


Sia menghelai nafas, menatap kesal Azka.


"Lo ngebolehin gua masak disini atau ngga?"


"Silahkan kan gua bilang"


Azka senantiasa dengan wajahnya yang dipenuhi senyuman.


"Terus kenapa masih nanya?"


"Kalo lo ngga mau mie gua bisa masakin lo yang lain"


Sia melebarkan tatapan nya dan malah tertawa dengan tawaran Azka.


"Lo bisa masak?"


Meremehkan dengan penampilan Azka tampak tidak meyakinkan jika pria seperti  dihadapan nya dapat memasak.


Azka tersenyum makin lebar nya setelah mendengar Sia yang meremehkan.


Perempuan yang memang menyebalkan. Apa alasan nya menjadi latah dengan bicaranya. Memang karakter nya atau ada alasan lain dibaliknya, Azka dalam pikirnya.


"Sebut aja mau gua masakin apa?"


"Sesuatu yang berbahan dasar udang"


Lanjut Sia kembali dengan jawaban yang cepat tanpa lebih dulu berfikir,  dengan makanan yang menjadi kesukaan nya, udang.


Masih dengan keraguan dengan Azka yang akan memaskannya.


"Kita punya menu kesukaan yang sama. Oke kalo gitu selagi gua masak lo bisa sambil liat rumah baru gua"


Menu yang sama dengan menu kesukaan Azka, sebuah kebetulan.


Sia tersenyum mengangguki nya.

__ADS_1


Tampak sedikit aneh, tapi sebenarnya memang baik. Entah benar pribadi nya yang seperti apa yang diperlihatkan nya atau sekedar mencari simpati. Seperti ada benih kekaguman dengan apa yang dilihat nya dari Azka.


Sia meninggalkan Azka, melihat rumah yang tapak sederhana, unik dan tertata rapih.


__ADS_2