Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
91


__ADS_3

Apa yang menjadi biasa menjadi asing seketika. Apa yang semula ada menjadi hilang dan tidak ada.


Sudah tersadar, terbangun dari tidur tetapi Aera menolak untuk membuka mata. Masih menjadi nyaman dengan pejaman dan rasa hangat akan perasaan yang seolah menciptakan mba Ana yang ada dan tengah memeluk nya saat ini.


Dalam pejaman nya pun air mata Aera masih saja menetes. Sesak dalam batin nya terdalam memperjelas akan kenyataan yang sebenarnya.


Pejaman dirasa mulai tidak nyaman dengan keadaan yang disadari nyata adanya. Dengan kehangatan yang mulai tidak lagi dirasakan Aera. Pikirnya keberadaan mba Ana sudah kembali pergi kepada tempat yang sebenarnya, sosok nya kembali dalam benak Aera.


Dengan posisi tidur memiring kesamping Aera meringkuk memeluk kedua lututnya masih berada memejamkan matanya dengan hordeng yang masih tertutup rapat.


"Tok..tok.."


Ketuk mama pelan sebelum menerobos masuk begitu saja membawa senampan sarapan yang sudah dibuatkan mama untuk Aera, semangkuk bubur dengan segelas air putih dan segelas susu.


Mama meletakkan senampan sarapan di atas meja, membuka hordeng dan kaca kaca jendela. Mama duduk di samping Aera dan mengusap pelan kepalanya.


Aera membuka pejaman nya, menatap mama dengan kesedihan dan tanpa ekspresi di wajahnya.


"Mama bikin kamu kebangun ya"


Tanya Mama memastikan dengan melepaskan tangan nya dari kepala Aera.


Aera menggelengkan kepalanya masih dengan tatapan dan ekspresi yang sama.


"Gimana, ada yang dirasa ngga enak, kepalanya pusing, atau apa bilang sama Mama biar kita langsung periksa ke rumah sakit"


Menjadi khawatir dengan Aera yang dilihat nya begitu lemas tidak bersemangat dengan tatapan kosong dan ekspresi yang begitu dingin.


"Hati Aera, dirasa ngga enak ma" 


Jelas Aera mengutarakan dibagian mana yang dirasa menjadi tidak enak, atau kurang baik.


Hatinya, masih menjadi tempat dimana semua hal dirasakan nya, lantas bagaimana mungkin Aera dapat baik baik saja.


"Aera"


Seru Mama lirih, dengan tatapan yang berbeda yang saat ini menatap Aera setelah dengan apa yang dijelaskan.


"Maaa... Mba Ana pergi, seseorang yang sudah ada menjaga dan menyayangi Aera. Ayah juga pergi, seseorang yang sebelumnya hilang menjadi benar banar hilang tanpa menebus dan mengatakan apapun. Lantas dengan alasan apa Aera bertahan ma"


Lirih Aera mengutarakan.


"Apa ngga cukup dengan menjadikan mama satu satunya alasan kamu untuk tetap kuat"


Pertegas mama dengan nada tinggi nya, tatapan nya yang menjadi berkaca-kaca.


Aera memejamkan matanya, menjadikan butiran air matanya kembali terjatuh.

__ADS_1


"Hhhhh..."


Aera menghelai nafas. Ada yang tidak dipahaminya saat ini.  Tanpa sadar curahan nya menjadikan mama berfikir tidak menjadi apa apa dalam pandangan Aera.


"Mmm, mama tau kamu butuh waktu"


Memahami dengan semua yang memang tidak akan mudah untuk Aera.


Keberadaan nya tidak dapat di samakan dengan keberadaan mba Ana dan sosok ayah yang di dambakan di rindukan nya dalam belasan tahun.


"Maafin Aera ma"


Setelah ini memang hanya mama alasan Aera untuk tetap menjadi kuat. Tapi untuk saat ini biarkan Aera terpaku dengan rasa  dan kesedihan ini. Sampai Aera tau dengan seperti apa mengawali menata semuanya kembali.


Mama tersenyum tipis mengangguki nya.


"Sekarang kamu sarapan ya, mama udah buatin kamu bubur"


Mama meraih mangkuk berisikan bubur untuk mama menyuapi nya kepada Aera.


"Nanti ya ma, nanti Aera makan sendiri"


"Seharian kemarin kamu belum makan ra"


"Aera janji nanti akan Aera makan"


Mama terdiam memperhatikan Aera sebelum meletakkan kembali mangkuk diatas meja.


Aera mengangguki nya.


"Kalo gitu mama tinggal ya"


Kembali memberikan ruang dan waktu untuk Aera, meluapkan dan menyiapkan hatinya untuk kembali menata.


Aera kembali mengangguki nya. Memperhatikan mama yang pergi meninggalkan nya.


Aera menoleh disisi jendela yang menjadi pintu diantara cahaya yang masuk memenuhi ruang kamar mba Ana.


Jika dirinya seperti pagi, yang selalu kembali meski dengan hujan yang membasahi nya semalaman. Tetap ada cerah bersinar dan memberikan kehangatan entah dengan seperti apa untuk beberapa waktu berikutnya. Semua akan jauh lebih baik. Akan sangat baik baik saja jika menjadi sesuatu yang tidak perlu memperdulikan atau bahkan tenggelam dalam rasa yang terjadi sebelumnya.


Aera bangun dari posisi tidurnya, menatap sajian sarapan yang sudah mama buatkan untuk nya.


Aera mengalihkan tatapannya, menatap laci paling bawah setelah ingat dengan apa yang tertinggal semalam, pemberian mba Ana yang mba Ana tinggalkan di laci untuk Aera.


Aera beranjak dan membukanya.


Terdapat sebuah kotak kayu berukuran sedang. Aera membukanya didapati satu album foto dan satu buku catatan yang cukup tebal. Aera membuka album yang bersikan foto foto kebersamaan mba Ana dengan nya, didapati satu foto yang memperlihatkan kebersamaan nya terakhir kali bersama mama, mba Ana dan dirinya. Air mata Aera mulai kembali berjatuhan menatap satu persatu moment kebersamaan yang seolah kembali terulang dalam ingatan Aera.

__ADS_1


Tehisak hisak sembari memeluk album foto yang selesai dilihat nya.


Aera membuka satu buku yang sempat Aera lihat beberapa kali berada di atas meja mba Ana sebelumnya. Yang Aera tau mba Ana beberapa kali dilihatnya tengah menulis, mencatat sesuatu dalam buku itu.


Dibuka Aera di halaman pertama, semua tulisan yang tertera adalah catatan tangan dengan tinta hitam.


"URAIAN AKAN SESEORANG"


Yang berada pada halaman pertama tertulis layaknya judul pada sebuah buku.


----------------------------------------


Aera membalik halaman pada halaman kedua.


"Tentang seseorang yang berada tinggal seorang diri di bumi di tempat yang di pijakinya terlalu sepi. Tiba tiba aku dipertemukan dengan nya. Mencoba menyesuaikan dengan seiring waktu. Tergerak untuk menjadi ada,berarti dan melengkapi nya. Dia begitu cantik, sayangnya seorang diri dan kesepian.


Sama seperti aku yang sendiri aku ingin berada satu sama lain untuk saling melengkapi"


"Hari itu adalah hari pertama aku berada di tempat ini, setelah seseorang yang baik hati membawa aku pergi dari tempat yang tidak menginginkan keberadaan ku.


Setibanya aku dirumah ini gadis kecil, begitu polos, tampak murung terus menatap dan memperhatikan aku dengan tatapan asing. Setiap kali aku berada untuk mendekati nya dia terus saja menghindar, menjauh ketakutan.


Seiring waktu yang tidak sebentar aku mulai menjadi dekat dan mulai memahami dengan bagaimana kesepian nya gadis kecil itu. Sejak saat itu aku ingin berada menjadi berarti dan melengkapi sepi dan kekosongan yang berada di rasakan nya."


----------------------------------------


Menyelesaikan bacaan nya di halaman kedua membuat Aera terisak isak tidak dapat menahan tangisannya lagi. Aera ingat saat pertama kali mba Ana datang dirumah ini. Ingat dengan tatapan seperti apa saat kali pertama Aera menatap mba Ana.


Hari itu Aera tidak akan menyangka keberadaan mba Ana bisa menjadi berarti dan berharga seperti sekarang ini. Aera tidak menyangka akan satu hal pun yang sudah berada dimiliki Aera karna mba Ana.


Dan Aera tidak menyangka setelah semua yang ada dimiliki nya, Aera harus melepaskan mba Ana dalam genggaman nya.


Aera menutup buku itu membiarkan air mata dan kesedihan nya tertumpah.


Setelah cukup lama menghabiskan air matanya, Aera merapihkan semuanya untuk masuk kedalam kotak seperti semula.


Meletakan kotak nya diatas tempat tidur, Aera meraih mangkuk berisikan bubur yang sudah menjadi dingin karna terlalu lama di biarkan.


Melahap dengan cepatnya, untuk segera menghabisi nya.


Sesuap belum tertelan dengan baik Aera sudah menyuapi suapan kedua, ketiga, seperti seseorang yang tergesa-gesa.


Aera memaksakan nya, saat dirasa benar benar tidak nafsu untuk makan tetapi Aera juga sudah berjanji kepada mama untuk menghabiskan nya, Aera tidak ingin membuat mama khawatir memikirkan nya.


Semua tergerak bukan lagi karna keinginan nya, bukan lagi memikirkan hal yang dapat membuat nya senang atau sesuatu yang dikehendaki atas keinginan nya. Semua berada saat ini menjadi hal yang tergerak karna keharusan dan tuntutan.


Diibaratkan saat ini Aera layak nya sebuah tempat yang benar benar kosong, sekedar jejak jejak luka yang berada memenuhi dengan rasa sakit nya.

__ADS_1


Dalam mulut nya yang mengembung penuh dengan makanan nya, air mata nya terus saja berjatuhan.


Seperti lepas kendali, matanya yang menjadi begitu mudah melepaskan butiran bening dari matanya.


__ADS_2