Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
44


__ADS_3

Dalam perjalanan pulang di antar dengan Sia seperti biasa, keduanya sama sama diam hening tanpa obrolan ataupun candaan. Aera diam memikirkan akan bagaimana dan seperti apa setelah ini, sedangkan Sia dia diam sekedar memahami permasalahan dan mencari solusi untuk menyelesaikan nya.


"Thank ya Sia"


Aera dengan mengembalikan helem kepada Sia.


"Lo baik baik aja kan?"


Sia memastikan dengan Aera yang tampak tidak bersemangat.


Aera tersenyum sekedar menunjukkan kepada Sia dirinya yang baik baik saja.


"Mmm baik baik aja ko"


"Gua balik ya, lo istirahat"


"Hati hati Sia"


Aera masuk dengan langkah yang begitu berat dirasakan terlebih dengan pemikiran yang dirasa lelah dan penat.


Aera meletakan tas di tempat makan dan pergi kedapur sekedar mengambil segelas minuman dingin.


Aera membawa segelas air dingin yang sudah di ambil nya. Aera menghentikan langkahnya dengan pintu kamar mba Ana yang terbuka.


Aera mengintip sedikit sekedar memastikan keberadaan mba Ana. Terlebih kosong dengan mba Ana yang tidak ada di dalam kamarnya. Aera mengetuk dan membagi mba Ana sekedar untuk memastikan nya.


"Tok..tok.. mba Ana? Mba?"


Tidak ada jawaban memang bener kosong kamar mba Ana.


Aera melangkahkan kakinya hendak masuk ke dalam kamar mba Ana, ada sesuatu yang tampak mencurigakan dan Aera ingin mencari tau nya. Baru dengan satu langkah Aera terhenti, ingat dengan kejadian saat mba Ana menjadi tidak nyaman dengan Aera yang masuk kamarnya tanpa sepengetahuan nya. apalagi masuk dan menggeledah kamar nya sekarang mba Ana pasti akan menjadi sangat kecewa dengan Aera. Aera mengurungkan niatnya dan menutup pintu kamar mba Ana.


Aera duduk di meja makan meminum habis segelas air dingin yang telah di ambil nya. Bangun dari duduk nya dengan membawa tas nya untuk memuju kamar.


"Udah pulang Ra?"


Mba Ana melihat Aera yang menaiki tangga dengan menenteng tasnya.


Beberapa langkah menaiki tangga langkah nya terhenti sekedar menoleh dengan suara mba Ana.


"Iya mba"


Singkat Aera tersenyum.


"Udah makan? Mau mba siapin makan?"


"Nanti aja mba Aera belom laper"


"Yaudah istirahat ya"


"Mmm"


Aera tersenyum sebelum kembali melanjutkan langkahnya.


Aera berganti baju dan merebahkan menelentangkan kedua tangan dengan lagu yang didengar dengan handset yang dikenakan nya.


Lagi yang di dengarkan nya terhenti dengan notif telfon masuk.


Aera melepaskan handset dan bangun mengangkat telfon dari nomor yang tidak di kenal.


"Hallo?"


"Keluar sebentar Ra gua ada di depan rumah lo"


Tut..


Dimatikan begitu saja.


Aera bangun menoleh dari kaca jendela dilihat nya Titan yang berdiri di samping mobil nya.


"Titan"

__ADS_1


Aera bergegas turun menghampiri Titan.


"Lo ngapain?"


Tanya Aera dengan menghampiri Titan.


"Ada waktu buat keluar sebentar?"


Tanya Titan setelah Aera berada tepat di hadapannya.


"Ada yang perlu gua bicarain"


Lanjut Titan.


Aera terdiam sesaat sebelum mengangguki nya tanpa ekspresi.


"Gua ambil tas gua sebentar"


"Kalo gua tunggu didalam mobil"


Aera kembali mengangguki nya.


Kembali ke kamarnya sekedar untuk mengambil tas dan Handphone nya. Aera menjeda langkahnya, bertanya tanya dengan Titan yang tiba tiba menemui nya.


"Mau kemana Ra?"


Tanya mba Ana sebelum Aera membuka pintu.


"Aera mau keluar sama temen Aera mba"


"Pulang nya jangan malem malem ya "


"Iya mba"


Aera masuk kedalam mobil dengan Titan yang sudah menunggu nya.


"Kita mau kemana?"


"Ngga akan jauh jauh ko"


Jelas Titan, sebelum melaju kencang membawa mobil nya.


Mobil Titan di parkirkan di sebuah taman. Aera dan Titan turun dengan Titan yang berjalan lebih dulu di ikuti oleh Aera, kedua nya duduk di pinggir danau.


Aera memperhatikan Titan bingung dengan apa Titan lakukan.


Titan menoleh menatap Aera.


"Sorry ya karna gua semua jadi makin rumit buat lo"


Jelas Titan


"Mmm emang semua makin rumit. Bukan sepenuhnya salah lo emang apa yang jadi keputusan gua sendiri pun ngga mudah"


Jawab Aera mengalihkan tatapannya dari Titan


"Kenapa lo ngga mau jauhin gua"


" Karena gua terlanjur bilang kalo gua akan menjadi ruang buat lo"


"Apa pentingnya itu buat lo?"


Dengan Titan yang terus memperhatikan Aera.


Aera menoleh kembali menatap Tita.


"Ngga penting buat gua, tapi penting buat lo"


Titan terpaku mempertemukan tatapannya dengan Aera dengan penuh arti.


"Jadi lo ngajakin gua keluar cuman karna mau ngomongin itu"

__ADS_1


Titan menggelengkan kepalanya dengan ekspresi datar dan dingin seperti pada biasanya.


"Gua pikir kalo lo dirumah lo akan sibuk mikirin semuanya, gua ngga mau lo tertekan karena ini"


Aera tersenyum mendengar ucapan Titan.


"Jadi lo khawatir?"


Titan tersenyum, seperti ketahuan dengan alasan nya mengajak Aera keluar.


"Bisa di bilang gitu"


"Anggap aja ucapan makasih karna lo bertahan buat jadi temen gua"


Lanjut Titan.


"Jadi lo emang tipe orang yang suka bales Budi ya, semuanya langsung di bales sama lo"


Aera dengan tawa nya.


Begitu pun dengan Titan yang menjadi tertawa dengan ucapan Aera.


"Mau makan?"


Tanya Titan dengan tawa nya yang mereda.


"Mmm, laper"


Aera yang menganggukinya.


Keduanya bangun dari duduk menuju tempat makan yang juga berada tidak jauh dari posisinya saat ini.


Aera dan Titan sampai di restoran dimana semua sajian nya berbahan dasar ikan, ikan yang harus di pancing nya sendiri.


"Gua ngga bisa mana bisa mancing?"


Dengan Aera yang diberikan satu alat pancingan.


"Udah nanti gua bantuin"


Aera duduk bersebelahan dengan Titan dan dengan kail pancing yang sudah di ceburkan dengan umpan.


"Gua ngga sangka seorang Titan bisa mancing gini"


"Banyak hal yang bisa gua lakuin"


Dengan Titan yang tersenyum menyombongkan dirinya.


Seperti menjadi orang yang berbeda setiap bersama Aera. Pribadi kaku yang begitu dingin berubah menjadi seseorang yang lebih mudah tersenyum dan menikmati keadaan terlebih menikmati kebersamaan dengan Aera, begitu menyenangkan nya.


"Wah, ngga salah sih banyak yang tergila-gila"


"Pasti nya itu mah"


"Ngomong ngomong lo belajar mancing dari siapa?"


Mendengar pertanyaan Aera membuat ekspresi Titan menjadi berbeda.


"Dari kaka gua"


"Mmm emang gimana sih kaka lo itu"


"Dia punya jiwa yang bebas dan ngga mau terpaku dengan apa yang ngga dia suka, dia bertanggung jawab dan punya banyak hal yang bisa dia lakuin"


Jelas Titan ingat dengan seseorang yang sebenarnya dia rindukan.


"Beruntung dong punya dia"


Aera dengan terus memperhatikan Titan.


"Mmm"

__ADS_1


Singkat Titan, tidak ingin membahas nya lebih panjang lagi. Mengingat nya menjadikan beberapa hal merusak kesenangan nya, karna bukan hanya kenangan baik saja yang tercipta dengan seseorang yang di sebut nya sebagai Kaka.


__ADS_2