Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
100


__ADS_3

Baru akan pergi bersama Caca dengan motor nya, tiba tiba kedua nya terhenti dengan handphone Caca yang berbunyi.


Dilihat Caca satu panggilan masuk dari Mama nya.


"Bentar ya Ra gua angkat telfon dari nyokap bentar, ngga papa kan"


Jelas Caca dengan handphone nya yang berbunyi.


"Ngga papa Ca angkat aja"


Caca tersenyum, dan mengangkat telfon nya.


"Iya hallo ma, kenapa?"


Seru Caca memastikan saat telfon nya sudah tersambung.


"Caca dimana? Bisa tolong mama sebentar"


"Caca lagi diluar ma, tolong apa?"


"Anter mama sebentar kedepan, mendung soal nya Mama males pake kendaraan umum"


"Yah ma, ngga bisa nanti aja apa? Caca lagi ada urusan ma"


"Caca?"


"Iya udah iya, iya"


Tut...


Panggilan telfon dimatikan Caca.


"Ngga papa Ca lo balik aja, gua bisa sendiri ko"


Seru Aera yang mendengarkan obrolan Caca dengan mamanya. Tidak ingin hanya karna dirinya Caca mengabaikan mama nya.


"Sorry banget ya Aera"


Caca dengan rasa bersalah dan tidak enak nya.


"Mmm, ngga papa Ca"


Aera tersenyum menatap Caca.


"Kalo gitu gua duluan ya"


Dengan Aera yang berbalik pergi meninggalkan Caca. Akan semakin dirasa Caca tidak enak jika harus dirinya yang meninggalkan Aera


Dengan taksi yang mengantarkan Aera untuk pergi ke pemakaman. Didalam taksi Aera menyandarkan kepalanya dalam hening yang berada. Memejamkan matanya, merasakan kepalanya yang dipenuhi semua perkara dengan hati yang terus berteriak lelah dan ingin melepaskan untuk menjadi pasrah. Semua terkuak ramai tengah menyiksa batin Aera. Tanpa ada orang lain yang ikut merasakan, tau dan mendengar kan. Hanya berada bungkam ditahan sendirian. Sampai beberapa kali dalam pejaman nya Aera meneteskan air matanya.


Aera turun untuk kembali berada di toko bunga yang sempat sekali di datangi nya.


"Mba nya lagi?"


Sapa pemilik toko dengan kedatangan Aera.


"Saya mau dua buket bunga yang berbeda dengan bunga yang sebelumnya"


Jelas Aera dengan keinginan dan permintaan nya.


"Dandelion?"


Seru Aera pelan terarahkan dengan sekelompok bunga kuning yang tidak jauh dari posisi nya.


"Iya benar ka ini bunga Dandelion yang sudah mekar, jadi warna nya kuning terang seperti ini"


Seru pemilik toko mengikuti Aera untuk berada melihat bunga Dandelion.


"Bunga nya belum lama sampai. Bunga ini unik dan mengartikan kekuatan. Banyak yang menyukai bunga ini, jadi sering kali habis dengan cepat"

__ADS_1


Lanjut pemilik toko menjelaskan.


"Kekuatan"


Seru Aera pelan bergumam pada dirimu sendiri.


"Saya mau yang ini"


Tunjuk Aera kepada bunga Dandelion.


"Sebentar ya ka biar saya bungkus lebih dulu"


Minta si pemilik toko yang langsung membungkus dan menyiapkan dua buket bunga yang sama, Dandelion.


Aera menarik sebatang bunga Dandelion untuk dapat dilihat nya lebih dekat.


Sebatang mawar tiba tiba berada di sodorkan dihadapan Aera. Aera menoleh memastikan dengan sebuah tangan yang menyodorkan mawar merah kepadanya.


Aera tersenyum tipis dengan keberadaan Titan yang saat ini berada di hadapan nya, seseorang yang menyodorkan mawar merah saat ini kepada Aera.


Aera meraih bunga mawar yang berada di sodorkan kepada nya.


"Ini ka bunga nya"


Pemilik toko dengan memberikan dua buket bunga yang sudah terbungkus rapih dan cantik.


"Berapa?"


Tanya Aera dengan harga yang harus dibayarkan nya.


"Sudah di bayar ka sama mas nya"


Aera menoleh manatap Titan, kembali menguraikan senyum tipis kepada nya.


"Makasih"


Titan ikut tersenyum mengangguki, meraih satu buket bunga yang berada di bawa Aera untuk Titan ikut membawakan nya.


Tanya Titan dalam langkah nya, menatap dan memperhatikan Aera yang sesekali menoleh dengan tersenyum tipis dan menjadi lebih tenang dari sebelumnya.


"Apanya?"


Tanya Aera memastikan.


"Semuanya"


Jelas Titan, tidak menjelaskan dengan rinci akan maksud nya.


"Belum menjadi baik, bahkan malah menjadi semakin rumit. Ngga tau mesti gimana lagi ngadepin nya"


Perjelas Aera yang memahami maksud dari pertanyaan Titan.


Aera berjongkok setelah sampai berada di makam Mba Ana, dengan Titan yang ikut berjongkok di samping Aera.


"Aera dateng mba"


Seru Aera tersenyum dengan lebarnya.


"Ini Titan, mba tau kan seseorang yang kelihatan dingin dan kaku yang pernah dateng dan ketemu mba"


Lanjut Aera mengenalkan keberadaan Titan.


Aera menoleh kepada Titan mengartikan Titan untuk memberi sapaan kepada makam Mba Ana.


"Mmmm, iya saya Titan mba"


Titan melebarkan tatapan nya, menjadi canggung dengan apa yang saat ini dilakukan nya.


"Mmm.. mba ngga perlu khawatir saya akan menjaga Aera, dan akan berusaha untuk selalu ada buat Aera"

__ADS_1


Lanjut Titan menjadi lebih serius dengan tatapan nya yang berada menatap Aera.


Aera tersenyum tipis dengan tatapan nya yang kembali berkaca kaca, terharu dengan apa yang Titan katakan kepada Aera di hadapan makam Mba Ana.


"Aera bawain bunga kesukaan mba, Dandelion. Aera kira akan sulit buat dapetin bunga ini, ternya emang cukup langka. Tapi untung nya sekarang Aera bisa dapetin buat Mba Ana"


Seru Aera meletan buket bunga, untuk menggantikan bunga mawar yang sudah begitu layu. Aera tersenyum lebar menahan genangan penuh yang berada di matanya.


"Setelah ini Aera akan jarang buat dateng nemuin mba, ngga akan sesering kemarin dan hari ini. Buat keputusan yang saat itu pernah Aera sampein ke mba. Untuk Aera merelakan dan melepaskan semuanya, itu semua masih sekedar keputusan. Karna sampai sekarang pun Aera belum bisa berada pada keputusan itu. Maafin Aera mba"


Aera tertunduk dalam dirinya yang menumpahkan air matanya.


"Aera"


Seru Titan pelan.


Berada dengan keadaan seperti ini menjadi kan banyak orang memanggil nama nya dengan cara yang berbeda.


Suara yang pelan, tatapan penuh rasa kasihan, rasanya Aera tidak menyukai dengan ini. Dengan orang orang yang menatap nya karna kasihan.


"Jangan panggil gua kaya gitu Tan"


Minta Aera sudah berada menatap Titan.


"Aera"


Seru Titan sekali lagi dengan nada, cara dan tatapan seperti biasa Titan memanggil Aera. Memahamai dengan Aera yang tidak ingin di perlakukan menjadi berbeda seperti seseorang yang menjadi mengasihani nya.


"Apa?"


Seru Aera


Titan mengulur kan tangan nya dengan telapak tangan nya yang dibuka.


Aera menatap uluran tangan Titan untuk nya. Tidak mengerti dengan apa yang tengah Titan lakukan. Aneh nya Aera meraih nya untuk berada di genggam Titan.


"Mba Ana pun akan melakukan hal yang serupa kan setiap kali lo terpuruk seperti sekarang ini?"


Lanjut Titan setelah dengan keberadaan tangan Aera digenggam nya.


Aera tersenyum tipis mengangguki, dengan anggukan yang menjatuhkan tetesan air mata.


"Jangan mengikuti keputusan yang lo buat disaat lo belom siap buat berada dengan keputusan itu. Tata hati dan keyakinan lo dulu, jangan malah nantinya semua berantakan dan bikin lo makin terpuruk. Mba Ana pun akan mengatakan hal sama seperti ini, dia mau yang terbaik buat lo. Buat sekarang yang penting tetap kuat"


Lanjut Titan dengan kalimat nya yang panjang, tersenyum menatap hangat Aera.


Aera kembali tersenyum tipis mengangguki nya.


"Makasih banyak ya Tan"


Setelah dengan makam Mba Ana Aera dan Titan beranjak ke makam Anan.


"Hallo yah? Aera dateng"


Seru Aera setelah berada di depan makam Anan.


"Aera bawain Ayah bunga yang cantik, seseorang pernah bilang kalo Aera sama seperti bunga ini. Adakalanya menjadi rapuh dan dapat tumbuh di tempat nya terjatuh, saat sudah bermekaran akan menjadi kekuatan"


Lanjut Aera meletakan bunga Dandelion yang semula di bantu Titan membawakan nya.


"Setelah setahun Ayah terbaring sakit, akhirnya sekarang Ayah bisa beristirahat dengan baik. Tidak terlalu banyak perasaan ataupun kesedihan yang muluk-muluk yang Aera rasain yah. Hanya kecewa, Aera kecewa untuk semua hal nya Yah. Bahkan jika dijelaskan satu persatu kecewa yang Aera rasain, semua terlalu rumit"


Tertunduk kembali menjatuhkan kacaan air mata nya.


"Ada banyak hal yang belum sempat Aera ceritakan, ada banyak rasa yang belum dapat Aera curahkan, ada banyak rindu yang tidak pernah terbalaskan"


Banyak hal akan perjuangkan panjang untuk Aera tetap kuat dan menjadi tegar.


Ada perasaan sayang,cinta yang belum Aera curahkan, belum Aera berikan, balum Aera gambarkan dalam nyata.

__ADS_1


Rindu rindu yang berada tercipta, terpanjat setiap malam dalam doa dan setiap sepi yang ada. Pada akhirnya rindu ini benar-benar tidak pernah dapat tersampaikan, dan tidak pernah dapat terbalaskan dengan dijelaskan kepada Aera.


__ADS_2