Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
43


__ADS_3

"Bruzz.."


Sebotol air yang tiba tiba ditumpahkan di kepala Fina.


Aera dan Sia tercengang menyaksikan Ezy dengan tangan gemetar nya menumpahkan air di kepala Fina.


"Anji**!"


Fina berbalik menoleh memastikan siapa yang sudah begitu berani menyiram nya. sudah sangat emosi dibuat makin emosi dengan keadaan nya saat ini.


"Maksud lo apa?"


Tegas Fina dengan Ezy yang telah menumpahkan air di kepalanya


"Gu_ gua cuman di suruh"


Dengan Ezy yang menuduk ketakutan.


"Ah bacot lo"


Dengan Fina yang mengarahkan tangannya dengan tenaga penuh untuk menampar Ezy.


"Bkkkk."


Dengan Titan yang menangkis memegangi tangan Fina.


"Titan!"


Terkejud Fina dengan Titan yang saat ini berada di hadapan nya.


Begitu pun untuk Aera dan Sia yang sama terkejudnya dengan adanya Titan.


"Gua yang suruh Ezy buat numpahin air di kepala lo"


Jelas Titan melepaskan tangan Fina dengan kasar nya.


Ezy menjauh meninggalkan keributan yang tengah terjadi.


"Hhhh..Lo belain dia"


Fina dengan tawa dan tatapan tajamnya menunjuk Aera.


"Apa yang gua lakuin buat diri sendiri, tapi aneh nya gua ngga mau kalo sampe tangan gua ini sampe kotor karna ngebales kelakuan lo"


Jelas Titan.


Fina tersenyum sinis melebarkan tatapan nya.


"Lo siapa? Punya hak apa atas hidup gua? Sampe berani berani nya nyuruh orang lain buat jauhin gua?"


Titan dengan datar nya, menatap tajam Fina.


"Gua suka sama lo Tan"


Jelas Fina dengan serius nya.


"Dengan cara kampungan lo gini, lo berharap gua akan suka sama lo? Ngga akan. Bedain mana suka mana obsesi"


Rasanya seperti tertusuk dan langsung mengenai jantung nya, begitu sakit dan menyesakan, dirasakan Fina.


"Gua peringatin! Jangan coba-coba ikut campur atas hidup gua"


Titan berbalik berlalu menjauh begitu saja.


"Lo tau apa yang biasa nya terjadi dengan ora orang yang ikut campur atas hidup gua?..


Dia cuman akan tetep jadi orang asing yang ngga akan pernah gua liat sedikit pun.


Lanjut Titan Pertagas, dengan sesuatu yang mengguncang dirinya sendiri. Mengingatkan kejadian ini dengan kejadian nya akan seseorang.


"TITAN!!"


Teriak Fina kencang, dengan Titan yang berlalu.


"Udah puas lo sekarang"


Fina yang kembali menatap Aera dengan tajam nya.


"Gua ngga ada bermaksud buat ngacauin semuanya"


Jelas Aera.


"Benci gua sama lo!"

__ADS_1


Fina berbalik meninggalkan Aera dan Sia begitu saja, membawa semua marah dan kekesalan yang sudah berada di puncaknya.


Bel yang sudah berbunyi sedari tadi pun benar benar tidak dihiraukan Aera dan Sia.


"Sia?"


Keluh Aera dengan lemasnya.


"Lo juga sih Ra. Apa susahnya sih jauhin Titan, emang sedeket apa sampe lo ngga bisa buat jauhin dia?"


Dengan keduanya yang kembali duduk berhadapan dengan Aera yang mulai berkaca-kaca.


"Gua ada punya alasan sendiri Sia"


"Apapun alasan nya, lo liat sekarang persahabatan kita di abang kehancuran. Lo tau Fina kan, lo tau gimana dia kalo udah benci sama orang"


Aera memegangi kening nya dengan memejamkan matanya.


"Lo tau kenapa gua kekeh buat ngga ngejauhin Titan? Dengan mata kepala gua sendiri gua menyaksikan gimana Titan terluka dan sepi sendirian, dia terluka dengan orang-orang di sekeliling nya. Apa yang di alami sama dengan apa yang terjadi sama gua Sia. Gua cuman berniat memberi ruang buat dia cerita ngga lebih dari itu. Karna gua tau dengan baik gimana rasanya sendiri dengan rasa sakit"


Aera dengan air matanya yang menetes tidak dapat terbendung lagi.


Sia mengusap pipi Aera menghapus air mata yang tertinggal di pipi Aera yang putih.


"Jadi gua harus gimana?"


"Sekarang gua ngerti dengan alasan lo. Gua juga ngga akan nyalahin dengan apa yang udah jadi keputusan lo. Ini hidup lo Ra apa yang menurut lo baik ya bebas melakukan nya. Soal Fina gua harap dia kaya gini ngga akan lama, nanti gua akan ngomong sama dia. Keputusan lo udah tepat ko"


Sia memeluk Aera dengan erat nya, memberikan kekuatan dengan perempuan rapuh yang berada di hadapan nya.


"Makasih ya Sia. Ngga ngerti lagi kalo ngga ada lo gimana?"


Ucap Aera dalam pelukan Sia.


Aera dan Sia berpisah untuk kembali ke kelasnya masing-masing.


Langkah Aera terhenti dengan Titan yang mengehentikan nya.


"Lo baik baik aja?"


Tanya Titan dengan Aera yang tampak murung dengan mata dan hidungnya yang merah terlihat seperti seseorang yang baru saja menangis.


"Apa lo liat nya gua baik baik aja"


"Ngga perlu lo sampe nyiram dan permaluin dia kaya tadi"


Lanjut Aera.


"Apa yang gua lakuin buat diri gua sendiri"


"Apapun itu!"


Tegas Aera dengan penjelasan Titan.


"Gua minta maaf Ra"


"Gua ngehargain lo, gua coba buat ngertiin dan memahami lo tapi lo ngga bisa buat ngertiin orang orang di sekeliling gua terlebih sahabat gua"


Titan terdiam dengan tatapan bersalah nya.


"Semua bermula karna lo yang ngga ngerti gimana caranya ngehargain perasaan orang lain"


Tegas Aera sebelum berlalu meninggalkan Titan.


Titan duduk di tempatnya dengan terus memperhatikan Aera.


Kepala Aera dipenuhi dengan banyak pertanyaan dengan seperti apa dan bagaimana Aera akan melanjutkan nya.


Tetap utuh bertahan atau mengalah untuk tunduk dengan keadaan pasrah dan membiarkan.


Semua seperti berjalan di tempat terus berputar dan terulang, kuat kembali rapuh, dan rapuh kembali kuat. Celah celah yang indah pun ikut dilunturakan oleh keadaan.


"Hhhhh.. "


Dalam pejaman Aera menghelai begitu sesak dan penat.


Guru seni masuk dengan tumpukan lembaran putih yang dibawanya.


"Selamat pagi anak anak?"


Sapa Bu Widi.


"Pagi Bu"

__ADS_1


Jawab serentak siswa dikelas terkecuali Aera yang masih diam meski dengan kepalanya yang sudah di tegakkan.


"Maaf karna ibu baru masuk kelas karna ada sedikit masalah tadi"


Jelas Bu Widi


"Tolong bagikan kertas nya"


Bu Widi menyodorkan kertas kertas putih yang semula di bawanya kepada satu siswa yang duduk di barisan depan untuk membagikan nya.


Sekedar lembaran kertas kosong yang begitu putih dan bersih.


"Kertas buat apaan Bu?"


Tanya Ezy yang tidak memahami nya.


"Sisa waktu mengajar ibu tinggal 30 menit ibu mau dalam 15 menit kalian menggambar sesuatu yang ada di imajinasi kalian sesuatu yang paling sederhana dan kalian berikan arti dan penjelasan untuk gambar yang kalian ciptakan"


Jelas Bu Widi menerangkan.


"Ngga ngerti Bu"


Cetus Ezy yang tidak memahami dengan apa yang diterangkan Bu Widi, beberapa siswa pun ikut mengangguki tidak paham.


"Contohnya saat ini yang ada di imajinasi ibu adalah sebuah duri pada sebuah tangkai bunga,  setelah ibu selesai menggambar ibu akan memberikan arti dan penjelasan seperti misal nya duri adalah sesuatu yang tajam dan sering kali melukai seperti halnya dengan perjuangan yang gagal. Seperti itu, ini sekedar contoh nya saja. Paham?"


"Paham Bu"


Jawab dari beberapa siswa.


"Kalo gitu jangan terlalu banyak diskusi karna waktu nya hanya 15 menit, setelah waktu nya habis ibu akan tunjuk 3 orang untuk memaparkan nya didepan"


Hampir keseluruhan siswa sibuk berfikir dengan apa yang akan di gambarkan nya, tetapi lain hal nya untuk Aera yang kembali meletakkan kepalanya di atas meja dengan di sangga lengan tangan nya.


Tersisa 7 menit sebelum waktunya habis Aera menghelai nafas dan memaksakan untuk menyelesaikan tugasnya.


Hanya dibutuhkan 5 menit untuk Aera menyelesaikan tugasnya, setelah selesai Aera kembali meletakkan kepalanya.


"Waktu nya habis"


Tegas Bu Widi.


"Aera bisa perlihatkan dan jelaskan arti dari gambar kamu?"


Minta Bu Widi, sudah memperhatikan Aera sedari tadi yang lesu tidak bersemangat.


Aera tersenyum tipis mengangguki nya.


Menarik nafas panjang sekedar menenangkan dirinya sebelum memulai.


Aera memperlihatkan gambar nya, seperti seketsa satu mata yang meneteskan air mata.


"Mmm.. ini satu mata yang tengah menetes kan air mata arti nya sederhana, ini adalah hal yang sesekali atau sering kali terjadi pada setiap orang, kesedihan"


Jelas Aera dengan tatapan nya yang begitu kosong dan hampa.


Bu Widi dan siswa lain nya memberikan tepuk tangan kepada Aera.


"Tampak sederhana, realistis dan menyedihkan ya. Bagus Aera silahkan duduk"


"Terimakasih Bu"


"Selanjutnya... Titan"


Tunjuk Bu Widi kepada Titan.


Titan memperlihatkan hasil gambarnya, seperti seketsa kotak.


"Ini sebuah ruang sebuah tempat akan keberadaan seseorang untuk menumpahkan perasaan nya, dimana seseorang itu terlalu sering untuk diam dalam banyak hal, saya menciptakan ini untuk nya"


Jelas Titan dengan terus menatap Aera.


Tepuk tangan menjadi begitu ramai dan meriah setelah selesai Titan menjelaskan.


"Wah terkesan seperti untuk seseorang yang dicintai ya"


Cetus Bu Widi.


"Bagus, kalo gitu kamu boleh duduk"


"Karna waktu nya yang sudah habis, kita akhiri sampai disini, tolong sekertaris nya kumpulin semua tugas dan bawakan keruangan saya, terimakasih semua"


Dengan Bu Widi yang keluar kelas.

__ADS_1


__ADS_2