Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
39


__ADS_3

Seperti pagi pada biasanya dengan Sia yang selalu menjemput Aera.


Aera menghampiri Sia dengan tidak begitu bersemangat seperti biasanya, cemberut dengan begitu serius.


"Lo kenapa?"


Dengan ekspresi yang tidak begitu menyenangkan dilihat Sia.


"Mmmm"


Singkat Aera yang menjadi tertunduk di hadapan Sia.


"Aera seriusan kenapa?"


Sia dengan khawatir dan penasaran nya.


Aera mengangkat kepalanya dari tundukan diikuti senyuman dengan deretan giginya.


"Prank"


Teriak Aera yang langsung naik ke atas motor.


Sia mengerutkan dahinya menatap dengan tatapan seperti tidak suka.


"Ngga lucu"


Singkat Sia yang terdengar begitu menjengkelkan.


Aera melebarkan senyumannya.


"Bodo amat"


Dengan memutar kepala Sia untuk kembali tertuju kedepan.


"Udah jalan buru"


Lanjut Aera memerintah.


Keduanya melaju dengan Sia yang kali ini memulai obrolan dalam laju nya.


"Ra semalam ada tetangga baru yang baru pindah di samping rumah gua"


Aera mengarahkan kaca spion motor untuk memperlihatkan wajah Sia, untuk Aera dapat memperhatikan nya.


"Mmm terus kenapa? Apa pentingnya?"


"Yang pindah itu cowok Ra, ya umurnya sekitar 2 atau 3 tahun di atas kita gitu. Orang nya ganteng ramah dan baik banget"


Sia dengan menjabarkan nya dengan tersenyum tampak begitu senang.


Aera tersenyum memperhatikan Sia yang tengah bercerita.


"Wah dalam sejarah pertemanan akhirnya gua tau kalo lo beneran normal"


Sudah berteman lama tapi baru kali ini Aera mendengar Sia menceritakan pria dengan ceria nya, seperti ada rasa dalam senyum dan tatapan nya.


Senyum Sia meluntur seketika dengan kata kata yang tertusuk tajam di hatinya


"Normal? Lo kira selama ini gua ngga normal, *****"


"Ya ngga gitu, ya lo pikir deh baru kali ini lo cerita soal cowo sebelumnya emang pernah? Ngga kan? Pipi lo sampe merah gitu Ra, wah suka nih beneran"


"Ngga suka sekedar mengagumi"


Jelas Sia kembali merekah senyum membayangkan nya.


"Apa bedanya?"


"Beda lah oncom, udah males ngejelasin nya, ribet cerita sama lo"


"Dih lo yang mau cerita, aneh"


Dengan Sia yang masih saja tersenyum menjadikan pipinya merah alami, Aera ikut seneng memperhatikan Sia yang tampak begitu senang.


Sudah berpisah dengan Sia untuk ke kelas masing masing, Aera melihat Fina tengah berhadapan dengan Titan.

__ADS_1


Aera menghampiri keduanya.


"Fina, Titan"


Sapa Aera tersenyum menatap satu persatu keduanya.


"Ra"


Saut Titan dengan senyum tipis nya.


Fina diam dengan kedua tangan nya yang dikebelakangkan, masih tertuju menatap Titan seperti tidak memperdulikan keberadaan Aera.


"Gua ganggu lo berdua ya?"


Aera setelah memperhatikan Fina yang tampak berbeda.


"Engga, gua juga udah selesai mau balik ke kelas. Gua duluan"


Titan berlalu begitu saja meninggalkan Aera dengan Fina.


"Kenapa Fin?"


Aera yang memperhatikan Fina yang tampak murung tidak bersemangat.


Fina diam mengabaikan Aera dan berbalik meninggalkan Aera begitu saja.


Aera memperhatikan Fina yang berlalu dengan bingungnya. Terlihat seperti kotak berada di pegang Fina.


"Mmm kenapa coba? Ais harus nya tadi gua ngga perlu nyamperin"


Gretu kesal Aera dengan dirinya sendiri.


Sebelum Aera menghampiri, Fina tengah mengatakan sesuatu dengan jawaban yang begitu mengecewakan didengar nya. Bahkan sesuatu didalam kotak sudah Fina persiapan dengan penuh upaya tapi semua runtuh sia sia.


Fina bergegas dengan langkah yang cepat untuk pergi ke kamar mandi.


Di kamar mandi Fina menggerutu kesal, melampiaskan kekesalan dan emosinya bahkan kotak kecil yang dibawanya di lempar begitu saja.


"Seharusnya gua. Karna dari awal itu gua. Kenapa semua harus rusak gitu aja cuman karna..."


"Prak..."


Tanpa berniat memungutnya Fina keluar begitu saja, berpapasan dengan Sia.


"Fin"


Sapa Sia namun terabaikan dengan langkah Fina yang cepat dan mengabaikan nya begitu saja.


"Masalah lagi tuh orang"


Sia kembali melanjutkan untuk ke toilet.


Dilihat Sia sebuah kotak tergeletak dibawah Sia memungut dan membuka nya.


"Jam tangan?"


Sia seperti mengenali jam tangan yang saat ini berada di tangan nya.


"Fina?"


Sia menoleh menatap jejak bayangan Fina setelah ada yang di ingat nya.


Jam tangan yang sempat Fina tanyakan kepadanya sebelum membelinya melalui online.


"Bilangnya buat kado temen nya, tapi ini malah disini? Ngga sengaja jatoh atau sengaja di buang?"


Bingung Sia dengan tingkah Fina yang begitu menjengkelkan jika sudah dengan emosi dan kekesalan nya, terlebih dengan jam tangan yang dirasa milik Fina yang ditemuinya.


Sia dengan keluar dengan membawa jam tangannya untuk menanyakan nya kepada Fina sekedar memastikan miliknya atau bukan.


Batu akan menuju kelasnya, Fina sudah kembali keluar dengan tas yang dibawa nya.


"Lo mau kemana"


Sia dengan menghentikan langkah Fina.

__ADS_1


Fina terhenti sekedar menatap Sia dan kemudian kembali bergegas dengan langkah yang cepat.


"Hhhh"


Sia menghelai nafas menyaksikan satu sahabat nya yang begitu menguji kesabaran nya.


"Punya temen dikit aja susah apalagi banyak bukan nya seneng malah stres gua yang ada"


Gumam Sia seperti orang gila.


Seseorang dengan lancangnya menarik telinga Sia tanpa perasaan, begitu sakit.


"a.. aw.. apaan sih "


Sia berbalik menepis tangan yang sedang menjewer nya.


"Bu Ega"


Cengir Aera terkejud dengan orang yang saat ini berada di hadapannya.


"Ini kuping ngga denger bel masuk dari tadi?"


"Denger Bu dikira saya budek"


Jawab Sia dengan enteng nya.


"Terus ngapain masih diluar?"


Tegas Bu Ega kesal dengan jawaban Sia.


"Iya mau masuk"


Sia dengan melangkahkan kakinya cepat menjauhi Bu Ega.


"Ngga mulut ngga kelakuan sama ngeselin nya"


Gretu Bu Ega kesal dengan Sia.


Aera menghampiri Sia setelah bel istirahat berbunyi.


Terlihat Sia yang tengah duduk dengan memperhatikan sesuatu di tangannya.


" itu kan yang pagi di pegang sama Fina"


Aera setelah melihat jelas sesuatu yang di perhatikan dalam pegangan Sia.


"Seriusan ini punya Fina"


Sia mengalihkan tatapannya dari kotak untuk menatap Aera mendengarkan penjelasannya.


"Mmm"


Aera mengangguki nya.


"Jadi pagi tadi gua mau kekelas gua liat Fina lagi sama Titan, dan Fina sengaja nyembunyiin tangannya dan pas dia balik pergi gua tau ada kotak itu"


Jelas Aera.


Sia terdiam dengan prasangka tidak terduga yang menerobos masuk di kepalanya.


Begitu pun untuk Aera tiba tiba memikirkan dengan Fina yang tampak begitu aneh dan mencurigakan.


"Jangan jangan.."


Ucap Sia...


"Fina suka sama Titan"


Lanjut Aera menyambung kalimat Sia yang belum di selesaikan.


Aera dan Sia melebarkan tatapan nya dengan prasangka yang sama satu sama lain. 


"Kalo di pikir tingkah dia tuh berubah setiap liat lo lagi sama Titan atau ngga saat dia tau lo akan berduan sama Titan"


Jelas Sia.

__ADS_1


Aera terpaku diam dengan apa yang dijelaskan Sia.


__ADS_2