Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
55


__ADS_3

Beranjak dari toko buku dengan beberapa buku yang sudah Titan beli.


Menyusuri keramaian dengan sesekali obrolan yang dibicarakan.


Seperti tidak ada hentinya untuk Titan mencuri pandang sekedar memperhatikan Aera. Tampak selalu cantik dengan rambutnya yang seringkali tergerai, senyuman manis yang sering kali diperlihatkan kadang kala dengan bicaranya yang menyebalkan menguatkan perasaan suka dan cinta terhadap Aera. Semua yang dimiliki Aera tampak menjadi sempurna dalam pandangan nya. Semakin jauh langkah yang dilewati bersama membuat Titan semakin besar keinginan untuk mengungkapkan perasaan nya.


Pribadi pendiam yang sebenarnya bukan pribadi yang nyata, Titan memliki jiwa ambisius yang besar akan sesuatu yang di inginkan nya, kegagalan untuk nya adalah kekalahan yang tidak ingin didapatkannya. Terdidik dengan kasar dan keras nya menjadikan nya keras kepala dan bertekad.


Berbeda untuk Aera malam ini dengan Titan menjadi tidak biasa, meski masih menikmati obrolan diantara keduanya tetap saja ada yang dirasa berbeda untuk Aera, ada sesuatu yang benar mengganjal dihatinya, perasaan Titan untuk nya. Masih bertahan dengan langkah yang sama sekedar Aera kembali mengoreksi dengan apa yang benar untuknya dilakukan. Jika niatnya berada untuk Titan malah menjadikan nya terluka, apa yang dapat dibenarkan jika semua menjadi nyata.


Terbelit dalam keadaan dan keputusan yang rumit, apa dengan ini Aera akan kembali tersesat.


Kenapa niat baik terkadang menjadi bumerang yang melukai.


"Ra?"


Panggil Titan memperhatikan Aera.


"Mmmm?"


Aera menoleh dengan Titan yang memanggil nya.


"Mau makan?"


"Mm gua udah makan Tan, bisa anterin gua pulang aja"


Terpapar jelas Aera yang mulai kehilangan kendali akan perasaan tidak nyaman nya. Tidak seperti Aera yang biasanya menikmati banyak kesenangan.


"Karna kata kata yang ngga sengaja gua ucapin, lo jadi ngga nyaman"


Titan berpindah untuk berada di hadapan Aera, bukan sekedar tatapan nya yang saling menoleh tapi benar benar berhadapan di tengah kerumunan, dengan banyak orang yang melewati nya.


Aera mengangguki tanpa ekspresi dengan sorotan matanya yang serius.


"Mmm.. gua ngga nyaman dengan ini"

__ADS_1


"Ada yang salah?"


Aera kembali mengangguki nya, mengiyakan akan perasaan Titan kepadanya adalah suatu kesalahan.


Titan bukan seseorang yang mudah lupa akan sesuatu nya. Jelas dia ingat dengan keberadaan Aera yang sekedar memberikan ruang untuk nya bercerita akan kesulitan atau hal hal menyakitkan yang terjadi dan dialaminya. Bukan ruang untuk perasaan nya tinggal, tidak ada tempat seperti itu untuk Titan. Bahkan sejak awal sampai detik ini Aera sama sekali tidak memliki feeling sekedar menatap nya dengan kasihan dan ketidak tegaan.


"Kenapa?"


Singkat Titan dengan jarum kecil yang Aera berikan dan seketika menusuk hatinya.


"Harus nya gua yang tanya, kenapa harus gua?"


Dari keberadaan banyak perempuan yang menyukai kenapa harus Aera yang dia berikan hatinya. Tempat yang diberi nya adalah tempat yang tidak mengharapkan nya. Memberikan nya hanya akan membuatnya terluka dengan sendirinya.


Menjadi terluka dengan banyak orang, Aera tidak ingin menjadi alasan atau bahkan penyebab untuk orang lain terluka, terlebih untuk Titan yang sama rapuh dengan nya.


"Keberadaan lo tiba tiba menjadi sangat jelas dan berada memenuhi isi kepala dan hati gua"


Tampak buram bahkan tidak terlihat seperti itu keberadaan Aera sebelumnya, sebelum akhirnya dia menumpahkan air pada sepatunya dan menjadi sangat terlihat setelah hari dan waktu waktu berikutnya. Waktu waktu berikutnya Aera yang mulia menghampiri tanpa tau dengan apa niat dan tujuannya, tetapi kata ruang yang Aera berikan seolah menarik Aera untuk menjadi dekat dengan hatinya.


Perjelas Aera dengan Titan yang benar dengan perasaan untuk nya.


Bukan lagi sekedar prasangka atau dugaan, kali ini Titan menjadikan nya tampak jelas benar benar jelas sampai Aera harus mengendalikan dirinya dengan baik.


"Lo mengasihani gua kan?"


Sejak Aera mempertahankan keberadaan Titan yang jelas bukan siapa siapa sampai membiarkan persahabatan nya menjadi tidak baik Titan menyadari semua terjadi setelah Aera melihatnya tertampar dan mendengar curhatannya.


"Mmm,gua kasihan sama lo, gua mengasihani lo, ngga lebih dari itu"


Jelas Aera dengan kenyataan yang sebenarnya. Bising dan ramai tempat keberadaan keduanya benar benar tidak dihiraukan, terlebih untuk Aera yang mulai tenggelam dalam rasa marah, rasa bersalah dan semua rasa yang tengah tertuang saat ini.


Titan tersenyum dalam degupan yang menjadi sesak dengan Aera yang memaparkan semuanya dengan jelas.


Kenapa tidak berbohong? Sekedar menghargai perasaannya.

__ADS_1


"Jadi jangan suka sama gua. Keberadaan gua cuman karna gua kasihan sama lo. Ngga ada celah buat lo bisa ada di hati gua. Buka hati lo buat Fina dan persahabatan gua akan baik baik lagi setelah ini"


Menjadi kesalahan akan keputusan yang kemaren Aera pertaruhan dengan mengorbankan persahabatan nya.


"Apa gua terlihat segitu menyedihkan nya? Dan apa segitu ngga pantes nya gua buat suka sama lo?"


Dunia kembali menyakiti nya, setelah dibuat sepi dalam diamnya, kehilangan kasih sayang orang tuanya di tuntut akan banyak hal untuk hidupnya dan sekarang menjadi sangat menyedihkan akan perasaan sukanya terhadap seseorang, bumi kembali menjadi tempat yang menyiksa nya.


"Titann! Cukup"


Tegas Aera dengan nada suara nya yang keras.


Kesalahan nya kali ini adalah harapan yang ada di paparkan dengan jelas meski dengan alasan dan tujuan yang baik. Brtekad dengan alasan yang dibuat tetapi tidak akan di mengerti oleh nya yang hanya sekedar menyaksikan, merasakan dan menikmati nya. Seperti itu lah harapan sesuatu yang diberikan tidak pada tempatnya hanya akan banyak melukai.


"Aera"


Titan yang meraih tangan Aera untuk berada di genggam nya.


"Ini perasaan gua Ra, gua suka sama lo"


Aera menarik paksa tangan nya untuk terlepas dari Titan.


"Lo akan terluka sama perasaan lo sendiri"


Aera yang berbalik bergegas meninggalkan Titan begitu saja.


Meninggalkan keramaian, menyusuri jalanan yang sepi dengan handset yang kembali terpasang menenangkan hati, pikiran dan perasaan dengan nada nada yang kembali didengarkan nya.


Disadari untuk beberapa orang dengan tidak sengaja memang harus melukai orang lain untuk dirinya sendiri atau untuk kebaikan orang yang disakiti.


Mungkin apa yang dilakukan mama terjadi begitu saja bukan berniat untuk menyakiti Aera. Sama seperti dengan dirinya saat ini, terjadi begitu saja.


Aera memperhatikan bungkusan yang berisikan buku diary dan sebuah bolpoin yang sudah terbungkus rapih untuk Azka.


Perasaan nya berada dengan seseorang yang nantinya akan menerima bungkusan yang dibawanya.

__ADS_1


Setiap orang berhak akan perasaan nya sendiri dengan siapa akan diberikan untuk hak nya. Jika memang Titan benar menyukai nya itu memang haknya, Aera sudah menjelaskan jika nantinya Titan terluka bukan lagi karna Aera.


__ADS_2