Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
40


__ADS_3

Menjadi bahagia dengan perasaan unik yang dimiliki, cinta.


Setelah hampir satu tahun terdiam dalam perasaan yang terus saja menjadi lebih dalam dari waktu ke waktu. Sekedar menatap nya dari jauh, menyaksikan tatapan dingin, senyum yang terurai sesekali di wajah tampannya, dan memberikan sesuatu diam diam sudah sangat membuat nya berdebar.


Setelah mempertimbangkan dengan panjang akhirnya Fina memberanikan diri untuk menyatakan perasaannya.


Tapi jawaban yang menjadi harapan nya hanya sekedar harap yang sirna dengan kenyataan, hilang dan lenyap begitu saja, patah dan sangat terluka.


Fina berada di basecamp tempat nya sesekali berada sekedar singgah dengan perasaan kacaunya.


Basecamp yang berada di gudang kosong di huni di jadikan tongkrongan dan markas pertemuan. Fina menjadi bagian dari basecamp itu sudah cukup lama jauh sebelum Fina mengenal kedua sahabatnya. 


Tengah bersandar dengan sebatang rokok menyala yang tengah di hisapnya.


Mengingat kembali dengan kejadian yang telah mematahkan nya


throw back.


(Alur mundur)


Fina dengan sengaja berangkat sekolah lebih awal dengan sebuah kotak berisikan jam tangan yang sudah dari beberapa hari yang lalu di persiapkan nya. 


"Titan"


Fina dengan menghampiri Titan yang akan masuk kedalam kelas.


Titan menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah suara yang telah memanggilnya.


Menatap Fina yang tengah menghampiri.


"Gua mau ngomong sebentar"


Fina yang sudah berada di hadapan Titan.


Titan diam memperhatikan Fina dengan tatapan nya yang begitu dingin, menunggu dengan apa yang akan Fina katakan.


"Mungkin ini bukan waktu dan tempat yang tepat buat gua ngomongin hal ginian, tapi gua perlu ngomong sekarang"


Fina dengan begitu tenang nya, menatap Titan dengan penuh arti.


"Langsung aja"


Tegas Titan dengan Fina yang dirasa terlalu bertele-tele.


"Gua suka sama lo"


Fina dengan menyodorkan kotak yang dibawanya.


Titan menatap dengan apa yang disodorkan kepada nya, sebelum kembali menatap Fina.


"Gua bukan kaya fans atau orang yang sekedar mengidolakan lo, tapi gua bener bener suka sama lo. Hampir setahun gua selalu ngasih sesuatu yang ngga pernah ada nama pengirimnya, gua melakukan banyak hal buat perasaan gua"


Fina tetap begitu tenang mengutarakan perasaan nya, masih dengan tatapan yang tampak berarti.


"Gua ngga ada perasaan apa apa sama lo"


Jelas Titan, tegas dengan perasaan nya.


Fina terkekeh dengan rasa sakit di hatinya, apa yang baru saja Titan katakan benar benar melukai nya.


"Kenapa?"


Fina dengan menahan dirinya, emosi juga kekesalan nya.


"Kehadiran lo terlalu asing, dengan apa gua harus suka sama lo?"


Balas Titan, seperti setiap kata yang Titan katakan adalah tusukan tajam yang selalu dapat menembus dinding hatinya yang tebal.


"Hhhh"


Fina menghelai nafas dengan tawa yang mengikuti. Rasa nya begitu sesak dengan apa yang sudah di perjuangan malah menjadi jalan yang membuat nya patah.


Terkesan lucu dengan hal konyol yang saat ini dilakukannya seperti benar benar bukan Fina.

__ADS_1


"Aera? Lo suka?"


Lanjut Fina.


"Mmm gua suka"


Titan mengangguki pelan mengiyakan.


"Hhhh.. hhhhh.."


Dengan tawa yang benar benar terlihat jelas di wajah Fina, dengan hati yang bukan lagi patah tapi sudah hancur menjadi kepingin rasa kecewa.


"Kenapa harus Aera? Kenapa bukan gua? Atau setidaknya orang lain, jangan sahabat gua. Harus gimana gua dengan perasaan gua"


"Itu urusan lo"


Titan yang akan berbalik pergi tetapi panggilan Aera menghentikan langkahnya.


Dalam sandaran dan dengan hembusan asap yang keluar dari mulutnya Fina menenangkan dirinya.


"Kenapa harus Aera?"


Gumam Fina sebelum menundukan kepala di antara kedua lutut dan lengan yang menyangganya.


Ada yang dipahami nya dalam kekacauan yang tengah mengacak nya.


Mencintai seseorang dalam diam itu hanya untuk diri sendiri, salah jika mengharapkan adanya sebuah hubungan.


Bagimana adanya hubungan jika keberadaan nya saja seperti tidak ada.


Semengenal apapun dan semencintai apapun tidak akan merubah pandangan nya, hanya sekedar orang asing dalam tatapannya.


"Fin"?


Panggil seseorang yang juga bagian dari basecamp.


Fina mengangkat kepalanya dari tundukan dengan seseorang yang memanggil nya.


Fina menarik nafas dan menghembuskan nya.


"Aera"


Sebut Fina dalam dengan apa yang baru saja di pikirkannya.


Fina menghampiri Aera yang tengah berdiri menunggu nya di depan pintu.


"Kenapa Ra?"


Dengan Fina yang sudah berada di hadapan Area.


"Gua mau balikin kotak lo, Sia nemuin di toilet"


Aera dengan menyodorkan kotak milik Fina.


"Emang sengaja gua buang ko"


Aera melebarkan tatapan nya, memperhatikan Fina, tampak begitu lesu dan kacau.


"Kenapa dibuang, Sia bilang ini buat kado"


"Udah ngga perlu, seseorang yang seharusnya nerima itu ngga mau dia bilang gua cuman orang asing"


Fina dengan senyum sinis nya.


"Mending sekarang lo pergi, mood gua lagi ngga bagus. Gua harap lo ngerti ya"


Lanjut Fina kembali masuk meninggalkan Aera begitu saja.


Aera terdiam dengan perlakuan Fina yang tidak menyenangkan kepadanya.


Meletakkan kotak nya di pojokan dan berbalik pergi.


Aera melangkahkan kakinya dengan langkah langkah yang berat di ikuti dengan banyak hal yang menerobos masuk di kepalanya.

__ADS_1


"Aera"


Teriak Fina berlari menghampiri Aera.


Sudah cukup jauh dari basecamp langkah Aera terhenti dengan suara Fina yang memanggil nya.


"Fina"


Menoleh dilihat nya Fina yang tengah berlari menghampiri nya.


"Sorry udah ngusir lo gitu aja"


Fina sudah berada di hadapan Aera dengan nafas yang belum stabil.


"Ngga papa Fin"


Aera tersenyum.


"Satu hal lagi, boleh gua minta sesuatu"


Fina dengan tatapan serius nya.


"Apa?"


Aera dengan penasaran nya.


"Jauhin Titan"


Tegas Fina dengan permintaan nya.


"Hah?"


Aera yang tidak memahami dengan kata kata singkat yang Fina katakan.


"Gua suka sama Titan, dan Titan suka sama lo"


Jelas Fina dengan tatapan yang kurang menyenangkan di tatap Aera.


Aera melebarkan tatapan nya dengan penjelasan yang begitu mengejutkan.


"Tapi gua ngga ada hubungan apa apa Fin"


Jelas Aera.


"Apapun itu mau lo ada hubungan atau ngga, gua mau perjuangin Titan tapi dengan kedekatan lo sama dia akan jadi penghalang buat gua, jadi gua harap lo ngejauh dan pergi dari dia, ngga usah lagi deket, berduan atau apapun itu"


Fina dengan penegasan atas permintaan nya, di ucapkan dengan begitu tenang nya.


"Dek.."


Perasaan Aera menjadi sesak dengan kata pergi yang Fina katakan.


Aera tersenyum tipis mengangguki mengiyakan, mengikuti apa yang menjadi keinginan Fina, sudah tidak ingin mengatakan apa apalagi.


"Mmm, kalo itu kemauan lo"


"Makasih ya Ra"


Fina ikut tersenyum tipis membalas Aera.


"Kalo gitu gua cabut ya"


Aera berbalik meninggalkan Fina.


Tertera sudah begitu jelas semuanya, kejelasan yang meminta Aera untuk pergi.


"Kenapa semua orang minta gua buat pergi"


Gumam Aera meratapi dengan keadaan yang terus saja meminta nya untuk pergi.


Tidak ada alasan untuk keberatan menjauhi Titan hanya rasanya tersinggung dengan Fina yang tidak memikirkan perasaannya.


Seperti ini Fina, dia mengesampingkan banyak hal yang berharga sekalipun untuk sesuatu yang ingin didapatkannya.

__ADS_1


__ADS_2