Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
84


__ADS_3

Sekali, dua kali untuk diam tidak dimengerti maka memang seseorang perlu berbicara, meski itu melukai nya.


Bukan semata mata benar untuk melukai tapi untuk menegur dan mengajari, dengan apa yang salah dan dengan seperti apa yang benar.


Jika memang terlalu sulit untuk mengerti sekitar, cobalah untuk mengerti diri sendiri, setidaknya jangan sampai terluka dan dianggap sebagai luka untuk orang lain.


Berada sendiri dirasa sepi yang melelahkan adalah hal yang sangat tidak menyenangkan, begitu menyedihkan.


Aera kembali kedalam kamar yang terkunci, dengan lampu yang dimatikan sekedar lampu tumblr yang menyala dengan berkedip kedip.


Ditempat dimana segala rasa, luka kembali terkuak ramai, membuat lelah dengan menyiksa nya.


Dalam bayang nya Aera berandai andai.


Seandainya hidupnya, takdirnya adalah sesuatu yang dapat disusun dan diatur sesuka keinginan nya, mungkin luka luka seperti ini berada tidak lama dirasakannya.


"Tok..tok.."


Pelan suara pintu kamar Aera yang diketuk.


"Sebentar mba"


Seru Aera sebelum bangun membukakan pintu, sekedar mengembalikan dirinya untuk terlihat baik baik saja.


"Mama"


Seru Aera dengan keberadaan mama yang baru saja mengetuk kamar nya.


"Aera!"


Seru mama dengan ekspresi yang tiba tiba menjadi berbeda setelah sempat memperhatikan wajah Aera.


"Kenapa ma?"


Tanya Aera menjadi khawatir dengan mama yang terlihat menjadi berbeda.


"Ini kenapa?"


Tanya Mama menyentuh pipi Aera yang terlihat lebam dan terluka.


"Ah ini, ini ngga papa ko ma"


Aera tersenyum menepis pelan tangan mama untuk Aera dapat menutupi luka dipipi nya.


"Aera? Itu kenapa? Kenapa bisa luka lebam kaya gitu, hah?"


Mama yang menjadi khawatir dengan kondisi Aera dan dengan Aera yang hanya diam.


Aera terus tersenyum memperlihatkan dirinya yang baik baik saja.


"Beneran ngga papa ko ma, ngga perlu khawatir, ini cuman karna jatoh di toilet"


Jelas Aera kembali berbohong.


"Mama mau masuk?"

__ADS_1


Tawar Aera, mempersilahkan mama untuk masuk kedalam kamar nya.


Mama menggelengkan kepala dengan tersenyum tipis, menepis sesaat khawatir juga prasangka nya.


"Ngga usah Ra, mama cuman mau kasih ini aja"


Dengan Mama yang menyodorkan kantong kecil yang dibawanya.


"Apa ini ma"


Aera dengan membuka, dan melihat sebuah kotak kecil didalam nya.


"Bukan apa apa, cuman mama mau kasih kamu sesuatu aja, semoga kamu suka ya"


"Makasih ya ma, Aera akan menyukai dengan apapun yang mama kasih"


Aera dengan tersenyum manis, menatap mama dengan penuh cinta didalam nya.


Ada yang menjadi haru di antara keduanya. Sekedar apa yang belum pernah dilakukan mama, menjadi hal yang berarti untuk keduanya.


"Maafin mama karna terlambat untuk banyak hal"


Tersenyum tipis dengan mata yang berkaca kaca lengkap dengan tangan nya yang mengelus rambut Aera.


Aera tersenyum, merasakan kehangatan yang saat ini berada di rasakan.


"Ini udah jauh lebih dari cukup, ngga perlu ada lagi yang disesalin. Aera ngga suka liat mama terus merasa bersalah, udah ya"


Mama melebarkan senyuman nya sembari mengangguki mengiyakan dengan apa yang Aera katakan.


Dengan Mama yang membawa Aera untuk berada dalam pelukan nya.


Aera ikut mendekap mama dengan erat nya. Menumpahkan segala rasa rindu, segala rasa cinta dan semua luka yang berada tertumpuk menjadi beban untuk nya. Berada hangat dalam pelukan mama membuat Aera merasakan keringanan untuk banyak hal nya. Jika terus seperti ini Aera akan tetap baik baik saja, akan dengan kuat menjalani dan menghadapi hari hari berikutnya dengan luka luka yang mungkin akan ikut didalam nya.


"Kamu Istirahat ya, jangan lupa di obatin lukanya"


Sudah dengan pelukan yang dilepaskan.


Aera tersenyum mengangguki nya.


"Mama juga ya istirahat"


"Ana?"


Panggil mama saat ingin masuk kedalam kamar, dengan keberadaan mba Ana yang baru selesai menata baju di lemari majikan nya.


"Iya Bu"


Saut mba Ana dengan ranjang kosong yang dibawanya.


"Saya mau bicara sebentar"


Dengan Mama yang menghampiri untuk berada lebih dekat dengan mba Ana.


"Ada apa Bu?"

__ADS_1


Tanya Mba Ana memastikan dengan keberadaan majikan nya yang sudah berada tepat di hadapan nya.


"Aera kenapa ya? Muka nya memar dan luka"


Pikir mama, mba Ana akan tau kenapa kondisi Aera sampai seperti sekarang ini.


"Tadi Aera cuman cerita kalo pipinya terluka karna jatoh dan kepentok di kamar mandi sekolah Bu"


"Tapi lukanya seperti bukan luka orang yang baru aja jatoh"


Jelas Mama dengan pendapat dan pikir nya.


"Saya juga berfikir seperti itu Bu, tapi mungkin Aera punya alasan kenapa tidak mengatakan yang sebenarnya"


Jelas mba Ana yang sudah tau Aera telah membohongi nya, tetapi tetap diam dengan pilihan dan alasan dibalik nya.


Mama terdiam menebak nebak kenapa Aera bisa luka dan memar seperti seseorang yang baru saja tertinju.


"Tidak perlu khawatir Bu, Aera sudah besar dan saya percaya Aera perempuan yang kuat dan hebat, dia sudah berada sampai sejauh ini dengan baik baik saja, jadi ibu juga harus mempercayai nya"


Tergerak untuk memberi sedikit kekuatan untuk majikan nya.


"Terimakasih ya Ana, sudah menggantikan posisi saya untuk melengkapi Aera"


Dirasa menjadi bersyukur akan keberadaan mba Ana. Seseorang yang memberikan sesuatu kepada Aera dengan apa yang belum pernah diberikan nya. Jika bukan karna keberadaan mba Ana, Aera mungkin tidak akan menjadi kuat seperti sekarang ini, mungkin juga tidak akan menerima keberadaan nya sekarang ini.


"Seharusnya saya yang berterimakasih Bu, saat saya berada sendiri ibu membawa saya berada di sini dan bertemu dengan Aera"


Begitu pun untuk Mba Ana yang menjadi sangat bersyukur dengan apa yang terjadi dengan nya, dan semua berubah menjadi baik dengan kebaikan majikan nya.


"Mmm sama sama"


"Kalo gitu saya pamit kebelakang ya Bu"


Mama tersenyum mengangguki nya.


Aera duduk di depan cermin dengan bungkusan yang berada dibawanya untuk dibuka.


Kotak kecil berwarna hitam, Aera membuka nya tampak sesuatu yang berkilau dan sangat cantik.


Sebuah kalung liontin necklace putih dengan bandul hati kecil.


Aera melebarkan tatapannya tersenyum, terkagum dengan cantiknya kalung yang berada dalam kotak.


Di pakaikan nya dan benar benar membuat nya tampak sempurna.


Aera tersenyum memperhatikan nya dari gambaran cermin dengan jari tangan nya yang mengelus bandul kalung yang melingkar di lehernya.


"Cantik"


Seru Aera tersenyum menyukai nya.


Selangkah demi selangkah, setahap demi setahap keadaan dan hubungan nya dengan mama mulai membaik dan dirasa menjadi hangat.


Tapi dibalik itu semua persahabatan nya mulai tidak baik baik saja, sampai Aera harus kehilangan salah satunya, Fina. Seperti silih berganti, semula persahabatan nya yang baik baik saja dan hubungan nya dengan mama yang tidak baik baik saja, hari ini semua menjadi terbalik bertukar keadaan.

__ADS_1


__ADS_2