Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
85


__ADS_3

Aera sudah dengan piyama, akan turun pergi kedapur untuk mengambil es batu dan kain untuk mengompres kembali wajah nya agar cepat membaik.


Aera menghentikan langkahnya sekedar untuk melihat jam dinding di ruang makan, pukul 22:15.


Kembali melangkahkan kakinya namun kembali terhenti dengan detak jantung yang tiba tiba dirasakan ikut berhenti berdetak. Dilihat Aera mba Ana yang tergeletak tidak sadarkan diri di dapur.


Terpaku kaku, diam dengan gemetar nya sebelum beranjak menghampiri mba Ana.


"Mba? Mba Ana? Bangun mba?"


Setelah menghampiri Aera berjongkok sekedar untuk menggerak gerakan lengan Mba Ana. Aera masih berfikir positif dengan mba Ana yang mungkin saja sedang bercanda untuk membuat Aera panik dan ketakutan.


"Mba Ana ini ngga lucu"


Gretu Aera mulai kesal.


"Mba Ana, mba Ana bangun jangan bercanda kaya gini, Aera marah ya"


Sudah dengan sesak dan rasa khawatir yang benar-benar dirasakan jelas oleh Aera.


Aera terdiam sejenak tanpa pergerakan ataupun suara, sebelum akhirnya posisi jongkok nya terjatuh mengelemprakan dirinya.


"Mba Ana"


Seru Aera pelan menepuk pipi mba Ana yang disadari tampak begitu pucat.


Tubuh Aera menjadi gemetar, sesak tidak terkendali.


"Mba Ana.. mba Ana! Bangun mba! Ini ngga lucu jangan bercanda kaya gini, mba Ana BANGUN!"


Aera dengan menggoyang goyangan badan mba Ana dengan nafas yang benar benar sesak, suara menjadi serakĀ  dengan tangisan yang mulai mengikuti nya.


Aera bergegas bangun berlari menuju kamar mama.


"TOK..TOK..TOK.. MAMA.. MAMA BANGUN MA..TOK.. TOK"


Gedor Aera kencang dengan tangisan ketakutan nya.


"Aera? Kenapa?"


Setelah mama membukakan pintu, terlihat Aera yang tampak kacau dengan pipi yang dipenuhi air matanya.


"Mba Ana pingsan ma, anterin Aera buat bawa mba Ana kerumah sakit sekarang"


Minta Aera masih dengan tangisan nya.


"Mba Ana pingsan?"


Tanya Mama memastikan.


Aera mengangguki dengan tangisan nya.


"Mama ambil kunci mobil sebentar"


Mama keluar dengan kunci mobil yang sudah berada di bawanya, berlari mengikuti Aera.


Menyangga mba Ana untuk berada di rangkul Aera dan Mama, terseret seret kaki mba Ana dilantai, di bawa untuk masuk kedalam mobil. Didalam mobil mba Ana duduk tidak sadarkan diri dengan Aera yang duduk di samping sekedar untuk menyangga mba Ana. Tangisan nya terus saja menderas, dengan khawatir yang meretakan hatinya.


"Mama buruan ma.."


Minta Aera pelan.


"Iya sayang ini mama udah ngebut ko"


Setelah melaju kencang mobil mama sampai terparkir di depan rumah sakit. Mama turun dan segera memanggil suster dan petugas untuk membawakan ranjang.


Aera ikut mendorong mba Ana yang sudah berbaring pucat di atas ranjang yang akan dibawa keruang UGD.


"Mba Ana bangun mba"


Dengan begitu menyedihkan Aera terus menggerutu pelan dalam derasnya tangisan.


Langkah Aera terhenti di depan pintu ruang UGD, suster membatasi tidak memperbolehkan siapa pun selain tim medis untuk masuk.


Aera memperhatikan mba Ana dari kaca yang sedikit memperlihatkan mba Ana yang sedang di periksa dokter.


"Duduk Ra, dokter udah nanganin mba Ana ko, Aera ngga usah khawatir mba Ana ngga akan kenapa napa"


Mama merangkul Aera membawanya untuk duduk menenangkannya.


"Tapi ma..."


Gretu Aera masih dengan rasa khawatir yang seolah mencabik-cabik hati nya.


"Aera"


Seru mama menatap Aera untuk meyakinkan semua akan baik-baik saja.

__ADS_1


Aera menghelai nafas mencoba mengendalikan dirinya, dan mengangguk mengiyakan apa yang dikatakan mama.


Hari ini untuk pertama kalinya Aera merasakan deru tangis dan sesak akan takut sebuah kehilangan. Meski sudah banyak yang hilang dari apa yang seharusnya menjadi miliknya, Aera tidak pernah merasakan langsung dengan jelas bagaimana rasanya kehilangan, melepaskan apa yang tersayang dalam genggaman.


Kali ini dengan jelas Aera merasakan nya, seperti banyak benda tajam yang menusuki hatinya dengan bersamaan.


Terluka, teriris, patah dan berantakan.


Ketakutan, prasangka dan hal hal gila yang tidak terduga seolah memenuhi dan mengendalikan Aera. Sampai semua menjadi kacau dan berantakan.


Dalam diam dengan tundukan dan kedua tangan yang saling menggenggam erat, Aera berharap.


"Jangan biarkan saya kehilangan lagi apa yang saya miliki, tidak perlu dikembalikan apa yang sudah hilang setidaknya jangan sampai apa yang sudah berada di genggam dipaksa untuk dilepasnya dan di hembusan untuk berada hilang. Tuhan... tolong Aera biarkan mba Ana berada untuk waktu yang lama disini, bersama Aera, setidaknya biarkan Aera untuk membalas lebih dulu semua kebaikan nya"


Tangis nya kembali tertumpahkan, Aera menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangannya.


Mama menghampiri mendekap Aera untuk berada menangis dalam pelukan nya.


"Ngga akan terjadi apa apa"


Tegas mama meyakinkan Aera dengan menepuk-nepuk pelan punggung Aera.


"Aera takut ma"


Jelas Aera dengan suara serak karna deru tangisan nya.


"Mmm.. mama ngerti ko"


Setelah cukup lama dokter dengan dikawal beberapa suster keluar menghampiri Aera dan Mama.


"Bisa bicara diruangan saya?"


Ajak dokter kepada kedua perempuan di hadapan nya, Aera dan Mama.


"Iya dok"


Mama mengangguki mengikuti dokter dengan Aera yang ikut mengikuti nya.


Ketiganya sudah duduk berhadapan dengan Aera yang duduk bersebelahan dengan mama.


"Gimana keadaan mba Ana dok? Dia baik baik aja kan"


Srodot Aera tidak sabar, penasaran, dan khawatir.


"Kondisi Ana sangat tidak baik, terjadi kerusakan pada hati nya. Untuk mengetahui lebih lanjut apakah ini benar kanker hati saya sudah melakukan beberapa tes dan pemeriksaan lebih lanjut"


Tertusuk tajam hati Aera dengan penjelasan dokter yang memberi pertanyaan yang sangat tidak di harapkan Aera.


"Gimana bisa dok? Mba Ana selama ini baik baik aja? Ngga sakit, ngga apapun itu, dok..."


Gretu Aera tidak terima, kesedihan nya tertumpah tanpa ada yang menahan bendungan air mata dan rasa sakit dida nya.


"Saya belum dapat menjelaskan lebih banyak tanpa hasil tes dari pemeriksaan"


"Tapi bisa disembuhkan kan dok?"


Lanjut Aera sudah sangat berantakan.


"Kita tunggu hasilnya ya"


"Kapan hasilnya akan keluar dok"


Tanya Mama memastikan.


"Sedang kami proses dan tidak lanjuti, akan segera keluar"


"Kalo begitu segera hubungi kami jika sudah ada hasilnya"


Lanjut mama ikut pasrah dengan rasa terpukul yang ikut dirasakan nya.


"Baik"


Mama merangkul membantu Aera untuk bangun dan keluar dari ruangan dokter.


Dalam sekejap dengan begitu tiba tiba apa yang semula tampak nyata dan jelas berubah menjadi kabur, redup dan mulai tidak terlihat, semua menjadi tampak begitu gelap.


Dan...geep..


Aera terjatuh pingsan hilang kesadaran nya.


"Aera!"


Seru Mama dibuat terkejud dengan Aera yang terlepas dalam rangkulan nya.


"Aera, Aera.. Aera..."


Berdengung terpantul pantul suara mama yang didengar Aera dalam pejaman mata yang masih menyisakan sedikit kesadaran sebelum akhirnya benar-benar pingsan.

__ADS_1


"Aera"


Seru seseorang memanggil namanya.


Dek...


Aera membuka pejaman matanya.


Berada di hamparan rerumputan yang dikelilingi banyak ilalang dengan senja yang memaparkan jingga pada semesta.


Aera berbalik, menoleh siapa yang sudah memanggil nya.


"Mba Ana"


Seru Aera akan keberadaan mba Ana yang tampak begitu cantik dengan pakaian putih polos yang dikenakan nya, ikut di bawa mba Ana ranjang kecil berisikan bunga bunga yang tertata tertumpuk menjadi satu didalamnya.


Tampak begitu cantik dengan senyum yang terlihat begitu indah dan tulus.


Memperlihatkan mba Ana layaknya perempuan dewasa seperti pada umumnya.


Aera tersenyum menghampiri nya.


"Mba Ana kita dimana? Tempat apa ini?"


Tanya Aera sudah berada di hadapan mba Ana, memperlihatkan tempat saat ini keduanya berada.


"Indah bukan?"


Tanya Mba Ana tampak begitu anggun.


Aera tersenyum mengangguki nya.


Mba Ana tersenyum memperhatikan Aera. Mba Ana mengeluarkan bunga bunga putih dari dalam ranjang yang dibawanya.


"Kamu tau apa ini?"


Tanya mba Ana memperlihatkan bunga yang sudah berada di pegang nya.


Aera hanya menggelengkan kepalanya, yang jelas yang saat ini diperlihatkan mba Ana kepadanya hanyalah kumpulan bunga.


"Bunga Dandelion, bunga yang mba suka sejak mba masih kecil. Dan pada akhirnya kamu sama seperti bunga ini"


Aera melebarkan tatapannya mendengarkan Mbah Ana yang menjadi serius dengan cerita yang dibawakan nya.


Mba Ana menjatuhkan ranjang yang semula dibawa nya agar kedua tangannya hanya sibuk dengan kumpulan bunga yang saat ini berada dipegang nya.


Mba Ana memisahkan satu bunga dari kumpulan yang lainnya. Dan ditiup bunga itu oleh mba Ana dan semua menjadi berhamburan berterbangan dengan angin yang membawa nya.


"Saat ini kamu hanya gadis remaja yang masih terlalu kecil dan rapuh"


Jelas mba Ana dengan memberikan satu bunga yang sama kepada Aera.


Aera terpaku mendengarkan dan memperhatikan mba Ana.


"Jika pada akhirnya kamu sendiri, maka biarkan dan relakan dengan apapun yang meninggikan mu"


"Lantas... Dengan apa dan dengan alasan apa Aera berada mba?"


Tanya Aera yang tenggelam dalam suasana dan kata kata yang mba Ana katakan.


"Seperti Dandelion, dia berhamburan terpisah satu dengan yang lain nya menjadi sendiri, setelahnya dia mengikuti angin yang membawanya dan menjadi tumbuh ditempatnya terjatuh"


"Tapi berbeda untuk Aera mba, semua ada ngga mudah"


"Kamu bisa Ra, jika sudah benar-benar menyakitkan maka lepaskan"


Melepaskan artinya membiarkan apa yang ada atau apa yang dimiliki untuk beranjak pergi atau untuk benar-benar hilang.


"Mmmm Aera akan mencoba dengan apa yang mba Ana katakan"


Aera tersenyum tipis mengangguki mengiyakan nya.


"Kalo gitu mba bisa pergi dengan tenang"


"Mba mau pergi kemana?"


"Ketempat dimana setelah mba melepaskan semuanya dan mengembalikan apa yang sempat mba pinjam"


"Aera boleh ikut?"


Mba Ana tersenyum menggelengkan kepalanya.


"Kenapa mba?"


"Karna kamu belum melepaskan apapun, bahkan sayap mu belum terkepak dan belum ada satu hal pun yang kamu pinjam"


Dengan tiba tiba cahaya terang datang dan mengalahkan senja membuat Aera harus memejamkan mata untuk menutupi dari terang nya cahaya putih.

__ADS_1


Saat sudah meredup dan kembali seperti semula mba Ana sudah tidak berada di hadapannya hanya ada serpihan bunga Dandelion yang berhamburan.


__ADS_2