Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
120


__ADS_3

Siang nya Mama di perbolehkan untuk pulang. Dengan di antar Titan dan Sia, Aera membawa mama pulang.


Sesampai nya dirumah Aera mengantarkan mama untuk beristirahat di kamar nya.


"Makasih ya Tan, Sia"


Seru Aera setelah kembali menghampiri Titan dan Sia yang tengah duduk di ruang tamu.


Kedua nya tersenyum mengangguki.


"Sebentar gua buatin minum ya"


Lanjut Aera, sekedar minuman perlu di buatkan untuk kedua orang yang sudah mau direpotkan dirinya.


"Gua bantuin ya Aera"


Seru Sia yang bangun dari duduknya.


Aera menatap Sia dengan datar nya, yang kemudian tersenyum begitu lebar.


"Ayok"


Di dapur kedua nya sibuk membuat minuman.


"Rasanya kaya udah lama ya Aera kita ngga berdua nglakuin hal kaya gini"


Seru Sia dengan gumam nya, berada sibuk menuangkan air panas pada tiga cangkir di hadapan nya.


Aera berada diam dan memperhatikan Sia mendengarkan gumam nya kali ini.


"Sorry Aera"


Sia yang menjadi canggung dan merasa tidak enak setelah dengan Aera yang hanya diam dan memperhatikan nya dengan tatapan tajam.


"Makin kesini lo keseringan bilang sorry, maaf. Rasanya kaya bukan Sia"


Tersenyum Aera yang kemudian berada di samping Sia untuk mengaduk tiga cangkir kopi.


"Itu karna ada rasa bersalah yang masih gua rasain, Aera"


Sia yang menjadi berbeda dengan ekspresi dan tatapan nya.


"Udah lah lupain aja, kata lo kita harus mulai lagi semua nya dari awal"


Tersenyum Aera dengan tatapan hangat nya.


Sia memeluk Aera. Terlalu banyak orang yang memeluk nya menjadikan Aera merasa lebih baik saat ini. Terlebih setelah dengan keterbukaan atas apa yang dirasakan nya. Perlahan seolah pasti kepingan yang pecah dan hancur berantakan dapat kembali tumbuh dan di tata nya dengan baik.


Aera dan Sia keluar bersamaan dengan satu nampan yang di bawa Aera berisikan 3 cangkir kopi, dan satu nampan lagi di bawakan Sia, berisikan satu piring bakpao yang sempat dibeli saat perjalanan pulang dari rumah sakit.


Langkah kedua nya terhenti saat di dapati keberadaan seseorang yang saat ini tengah berada saling mempertemukan tatapannya dengan Titan.


"Aera"


Seru seseorang itu setelah di dapati keberadaan Aera. Seseorang yang bukan lain adalah Azka.


Aera menoleh menatap Sia yang tengah menatap tajam keberadaan Azka. Apa yang menjadi di rasakan Sia dan di pikirkan nya setelah dengan Azka yang datang untuk menemui Aera. Bukan kah pasti nya dengan perasaan yang tidak menyenangkan, bahkan menjadi sakit seperti dengan ada nya luka.


"Aeraa.."


Seru Azka sekali lagi dengan menghampiri Aera. Tapi langkah nya terhenti dengan Titan yang menarik tangan nya keluar dan mendorong nya dengan sangat kasar.

__ADS_1


"Apa apaan sih lo Tan, minggir gua mau temuin Aera gua mau ngomong sama dia"


Perjelas Azka kepada Titan, untuk memberikan nya jalan dan tidak menghalanginya untuk masuk.


Titan diam menatap tajam Azka.


Seseorang yang dirindukan juga dibenci nya. Saat keduanya belum berada dengan perseteruan yang ada, hanya terdapat hubungan yang baik dengan dipenuhi keakraban, candaan dan gurau tawa. Begitu hangat rasa dan kenangan itu sebelum semuanya berubah menjadi kemarahan dan bahkan kebencian. Semua berubah dalam sekejap mata setelah Azka bersikeras dengan keinginannya nya sampai menentang orang tua nya, mengabaikan Titan dan menjadikan Titan menanggung tanggung jawab yang terlalu banyak. Tanggung jawab yang seharusnya Azka emban malah dilimpahkan kepada Titan yang belum tau banyak hal. Menjadikan Titan dituntut ini dan itu, sampai akhirnya tertekan dan merasa sangat lelah. Semua yang terjadi kepadanya karna Azka.


Titan membenci Azka dengan pilihan nya, bersikeras nya dan dengan Azka yang mengabaikan. Membuat Titan melalui banyak hal tanpa pernah menanyai kabar nya apa lagi memberikan semangat dan dukungan. Titan dibuat benar-benar sendiri didalam kesulitan dan rasa lelah.


"Titan lo apa apaan sih!"


Seru Azka setelah akan kembali masuk namun Titan kembali menghadang nya.


Aera meletakan nampan di atas meja dan bergegas keluar membiarkan Sia yang tengah berada diam dengan rasa canggung yang dirasakan nya. Tidak tau harus bersikap seperti apa dengan ini semua.


"Jauhin Aera!"


Seru Titan dengan tatapan tajam nya.


"Apa maksud lo? Emang nya lo siapa?"


"Titan pacar gua Za"


Perjelas Aera dengan spontan, saat berada keluar dan mendengar dengan pertanyaan yang Titan tanyakan.


"Jadi lo bener ninggalin gua cuman buat Titan"


Tanya Azka untuk kembali memastikan. Masih tidak dapat mempercayai dengan apa yang Aera lakukan kepadanya.


Aera mengangguki, dan menghampiri Azka berdiri tepat di hadapan nya.


"Iya, gua ninggalin lo karna Titan. Maafin gua Za tapi ada seseorang yang lebih pantas dan lebih layak buat berada di samping lo, dan orang itu jelas bukan gua. Lo pasti tau siapa orang nya"


Lirih Azka dengan apa yang Aera katakan. Menjadikan nya benar-benar terluka. Sejenak dalam diam dalam tatapan yang berada menatap Aera menjadikan nya berfikir. Apa mungkin rasa sakit yang Sia rasakan karna dirinya sama menyakitkan seperti yang saat ini tengah di rasakan nya.


Azka mengangguk angguk atas dirinya yang menjadi mengerti dan paham dengan ini semua. Tersadar dengan apa yang pada akhirnya tidak dapat di miliki nya. Sekedar untuk rasa pun pada akhirnya terlewatkan dan hilang.


Ada rasa bersalah dengan ini setelah melihat Azka yang menjadi sangat berbeda. Tampak keputus asaan dengan sangat jelas. Kali pertama melihat Azka seperti sekarang ini. Azka yang dikenal dan di ketahui nya adalah pribadi yang ceria dan di penuhi senyuman di wajah nya.


"Pada akhirnya lo bisa milikin semua nya Tan, selamat ya"


Seru Azka kepada Titan.


Titan tidak memahami dengan apa yang Azka katakan kepada nya.


"Apa yang gua milikin? Satu satu yang pernah gua milikin itu lo! Tapi lo malah pergi dan memenjarakan gua dengan ini semua"


Tertegun dengan yang Titan katakan. Dirinya adalah hal yang pernah dimiliki nya. Apa segitu berharga dirinya untuk Titan. Lantas apa yang selama ini telah membuat nya membenci Titan hanya karna perasaan cemburu dan iri.


"Lo memenjarakan gua dengan ini semua. Hal hal rumit dan sulit yang seharusnya lo tanggung malah lo limpahkan semua nya ke gua, gua yang belum tau apa apa lo buat melalui ini semua. Dan sekarang lo bisa bilang kalo gua udah memiliki semua nya"


Ketus Titan dengan emosi yang mulai mengendalikan dirinya.


"Gua bukan melimpahkan nya, tapi gua mengembalikan apa yang bukan milik gua Tan. Papa sama Mama mereka sekedar memperalat gua dengan semua pekerjaan dan tanggung jawab. Padahal sebenarnya gua cuman anak pungut. Gua pergi karna gua ngrasa tempat itu bukan tempat gua, dan semua itu bukan tanggung jawab gua"


Ini adalah kali pertama Azka dapat menjelaskan dengan sebenarnya. Dengan alasan nya pergi dari rumah dan menjadikan Titan merasa tersiksa. Mengutarakan ini menjadikan kedua matanya memerah dan berkaca.


Titan melebarkan tatapan dan menjadi terkejud dengan apa yang Azka katakan. Dengan semua yang dijelaskan nya adalah hal yang belum di ketahui sama sekali. Kebenaran apa ini, terfikirkan sama sekali akan ini semua saja tidak apa lagi menjadikan ini benar adanya. Harus seperti apa Titan menanggapi ini semua.


"Jangan kira hanya lo aja yang tersiksa, gua juga merasakan hal yang sama"

__ADS_1


Lanjut Azka.


"Tapi kenapa lo ngga pernah cerita ini semua? Kenapa baru bilang sekarang?"


"Karna gua takut dengan kejujuran ini malah menjadikan lo semakin terbebani"


Bagaimana pun untuk Azka Titan tetap adik nya, sampai kapan pun itu meski keduanya tidak terikat dengan hubungan darah.


"Hhhhh...."


Helai Titan dengan dada nya yang menjadi sangat sesak.


Terpaku diam dengan menundukan tatapan nya.


Azka menghampiri Titan dan memeluk nya.


"Maafin gua, karna baru bilang sekarang. Maafin gua karna udah buat lo menderita dan berprasangka banyak hal. Maafin gua karna udah ngebuat lo jadi pribadi tertutup dan pendiam. Maafin gua atas semua nya, Titan"


Titan ikut memeluk Azka dengan sangat erat. Kebencian nya saat ini berubah menjadi sesal dan rasa bersalah.


"Maafin gua ka"


Seru Titan kembali memanggil Azka dengan seruan seperti semula, Kaka.


Azka melepaskan pelukannya dari Titan, tersenyum dan mengangguki nya.


"Gua ngalah dan gua mau melepas Aera karna Aera berada di lo. Karna gua percaya Aera akan baik baik aja sama lo. Dan gua akan menghampiri seseorang yang udah tulus sayang sama gua dan berada di jelas di depan mata gua"


Azka yang kemudian menghampiri seseorang yang sudah berada berdiri dan memperhatikan nya sedari tadi di dekat pintu.


Sia menatap bingung dengan keberadaan Azka yang sudah berada di hadapannya.


"Maafin gua ya Sia udah ngebuat lo nunggu setelah ngebuat hati lo jatuh di gua, gua malah ngga memperdulikan keberadaan dan perasaan lo. Kalo lo mau dan kalo lo bersedia gua mau menata hati gua dan memberikan nya buat lo"


"Azka?"


Seru Sia tidak percaya dengan apa yang tengah Azka katakan kepadanya. Sekali pun mempercayai nya Sia ragu dengan Azaka yang benar benar tulus.


Pikir Sia Azka seperti sekarang dan mengatakan semua nya karna menjadikan dirinya sebagai pelarian dari perasaan nya kepada Aera.


Hanya diam dan menatap Azka, tidak tau dengan apa yang harus di jawab atau sekedar di katakan nya.


"Jangan beranggapan kalo lo gua manfaatin lo sebagai pelarian. Gua emang sayang sama lo, meskipun gua belom suka tapi gua mau belajar buat suka sama lo Sia. Gua ngga mau ngebiarin lo merasakan di abaikan atas perasaan lo. Dan gua ga mau seseorang yang sayang dan tulus sama gua harus pergi. Karna hari ini gua dibuat merasakan sendiri seperti apa rasanya di abaikan. Dan gua mau mencoba nya sama lo, itu pun kalo mau dan bersedia menerima gua"


Mengutarakan dengan ungkapan sejujurnya, dengan begitu tidak akan ada lagi kesalahan pahaman di masa mendatang.


Sia tersenyum menjatuhkan air mata atas perasaan haru nya.


Kejujuran nya tidak sepenuhnya hal yang sempurna. Tapi tau dengan Azka yang sayang dan ingin belajar menyukai dirinya menjadikan Sia merasa senang dan bahagia.


Sia mengangguki dengan senyum yang berada di tahan nya.


Azka tersenyum lebar memeluk Sia.


Aera dan Titan yang menyaksikan nya pun ikut tersenyum, bahagia menyaksikan keduanya.


"Makasih banyak Sia, maafin gua atas semua nya"


Ucap Azka dalam pelukan nya.


Sia tersenyum mengangguki.

__ADS_1


Ada yang hilang dan ada yang kembali atau ada yang datang dengan hal yang baru dan lebih indah, sempurna.


Bukan kah Tuhan punya banyak rencana atas semuanya. Sebagai mahluk dan hamba, mengeluh lelah dan pasrah itu hal yang wajar dan manusiawi. Karna sekuat apapun dan semampu apapun untuk berlari pada akhirnya dia juga akan lelah dan butuh beristirahat.


__ADS_2