Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
17


__ADS_3

Setelah mengganti seragam olahraga Aera mengambil tas nya yang berada di loker. Menyusuri lorong-lorong kelas yang sudah begitu sepi, sudah satu setengah jam dari bel pulang sekolah berbunyi.


Sudah gerimis dengan langit yang sudah menjadi mendung sedari tadi. Aera mengeluarkan handphone dari dalam tasnya berniat akan memesan taksi online tetapi handphone nya mati. Aera memutuskan untuk kembali ke kelas sekedar mengisi daya handphone nya setidak nya agar Aera bisa memesan taksi online.


Saat akan kembali ke kelas Aera berpapasan dengan Titan.


"Ngga balik?"


Tanya Titan menghentikan langkahnya.


"Handphone gua mati, mau ke kelas mau gua charger bentar buat pesen taksi online"


Jelas Aera dengan menunjukkan handphone nya.


"Mau bareng?"


Pertanyaan yang dengan spontan keluar tanpa lebih dulu terfikir kan oleh Titan.


Aera sedikit dibuat tercengang dengan Titan yang mengajak nya untuk pulang bareng dengan nya.


"Mmm ngga usah, lo duluan aja"


Titan kembali mengajak Aera dengan arahan kepala nya.


"Mm yaudah deh"


Setelah Aera mempertimbangkan, akan menakutkan menunggu untuk mencharger handphone dan menunggu taksi datang di sekolah yang sudah begitu sepi.


Titan yang kemudian berbalik di ikuti dengan Aera, memasuki mobil putih yang tampak mewah dengan dua pintu.


Kali pertama Aera merasa begitu dekat dengan seseorang yang masing begitu asing untuk nya, benar-benar tidak nyaman. Sepanjang jalan Titan hanya diam fokus menyetir mobil, Aera pun diam sampai jenuh rasanya. Setelah kurang lebih 20 menit akhirnya Aera sampai di depan rumah.


"Makasih ya Tan, sorry hari ini gua banyak ngerepotin"


Pamit Aera sebelum turun dari mobil.


Titan hanya mengangguki dengan ekspresi dingin di wajah tampan nya.


Mobil nya yang kemudian melaju kencang, Aera memperhatikan sampai bayangan mobil Titan hilang dari tatapan nya.


"Siapa itu Ra?"


Tanya mba Ana setelah membukakan pintu untuk Aera.


"Temen sekelas Aera mba"


"Temen apa temen"


Senyum mba Ana dengan kembali menutup pintu.


Aera diam menatap mba Ana dengan merengut.


"Iya deh iya temen"


Mba Ana tersenyum dengan memperlihatkan deretan giginya.

__ADS_1


"Udah makan?"


Aera tersenyum menggelengkan kepala.


"Laper"


"Yaudah bersih bersih dulu gih, mba siapin makanan nya"


"Makasih ya mba"


Jam 19:00 Aera pergi keluar dengan sweater Hoodie warna hitam dan celana pendek dengan menggerai rambutnya.


Menyusuri jalanan dengan berjalan kaki dengan kedua tangan yang di simpan dalam saku sweater. Menikmati angin malam yang begitu sejuk setelah diguyur hujan sore tadi.


Jalanan pun masih sedikit becek menyisakan genangan air hujan di antara jalanan yang berlobang.


Lagu yang didengarkan melalui handset menemani Aera, tidak terlalu hening, menyenangkan.


Aera menaiki tangga JPO (jembatan penyeberangan orang).


Setelah berada di tengah tengah jembatan, seseorang dari arah belakang memanggil nya.


"Aera"


Dengan berlari menghampiri Aera.


Aera berpaling memastikan. Azka yang memanggil nya dan saat ini datang menghampiri Aera. Tersenyum dengan sweater hitam hampir sama dengan yang dikenakan Aera.


Azka berlari menghampiri Aera dengan hembusan angin yang tiba-tiba melewati Aera begitu saja.


Semua dimulai dan semua berlalu, sejenak dalam pikiran Aera.


Jangan seperti kebanyakan dari mereka, bermula dari orang asing yang singgah atau bahkan tinggal dan malah melukai.


Sudah dekat jarak keduanya, Aera baru tersenyum.


"Azka"


"Dari depan minimarket gua liat lo, Jadi gua ikutin deh, sorry ya"


Jelas Azka.


"Sedikit kaget sih pas tau ternyata lo yang manggil"


Aera tersenyum memperhatikan deretan giginya.


Begitu pun dengan Azka.


"Lo mau kemana?"


"Jalan jalan aja sih?"


"Boleh gua temenin?"


"Mmm,boleh"

__ADS_1


Dengan mengangguk pelan, Aera mengiyakan.


Kedua nya berjalan berdampingan, dengan saling menatap beberapa kali tersenyum bahkan tertawa.


"Makasih ya Azka, dua kali udah nolongin gua"


"Sama sama"


"Gua tlaktir,gimana?"


"Boleh tuh"


Keduanya Aera dan Azka mampir di sebuah kedai kopi, dan memasan dua cangkir kopi susu dan dua roti bakar.


"Ko bisa sih waktu itu handphone lo sampe ada di bawah, untung ngga ke injek loh"


Aera tertawa mengingat kejadian waktu itu.


"Jadi gua tuh lagi buka chat masuk, dan dari belakang ngga sengaja ibu ibu bawa anaknya ngedorong gitu, jadi kelepas jatoh dan keseret gitu handphone nya, dan ternyata lo yang nemuin dan berbaik hati buat balikin, makasih ya, tapi ko lo tau itu handphone gua?"


Azka pun ikut merekah tawa mendengar cerita Aera.


"Gua sempet bangun pas tau ada handphone sampe di kaki gua, dan gua liat lo lagi kebingungan cari cari sesuatu, dan dari obrolan lo sama ibuĀ  yang ngedorong lo gua tau kalo itu handphone lo"


"Mm sekali lagi makasih ya, bukan apa apa cuman banyak data dan privasi takut disalah digunain sama orang"


"Terkesan modus ngga kalo gua minta nomor lo"


To the poin Azka tanpa ragu.


Aera tersenyum dengan melebarkan tatapan nya.


"Mmm sedikit sih,tapi karna lo udah balikin handphone gua, jadi gua kasih, mana handphone lo"


Dengan mengulur kan tangan nya, meminta handphone Azka.


Azka memberikan nya dengan merekah tawa.


Kedua nya melanjutkan dengan banyak obrolan sembari menghabisi pesanan.


Pribadi keduanya yang sama sama ceria membuat keduanya mudah untuk saling menyesuaikan dan menjadikan keduanya begitu akrab seperti dua orang yang sudah lama saling mengenal.


Karna sudah cukup larut, Azka mengantarkan Aera pulang, hanya dibutuhkan sekitar 12 menitan untuk mengantar Aera dengan berjalan kaki, karna memang masih berada dekat dengan perumahan Aera.


"Makasih udah di anterin pulang"


Aera setelah sampai di depan rumah.


"Makasih juga tlatkiran nya"


Kedua nya saling tersenyum memperhatikan deretan giginya.


"Gua cabut ya, nanti gua chat ya"


"Mmm ditunggu, hati hati ya"

__ADS_1


"Dah"


Azka dengan melambaikan tangannya.


__ADS_2