
Hari ini jam 09:00 setelah jam pertama berakhir akan dimulai rapat atau pertemuan orang tua dengan wali kelas.
Setelah jam pertama berakhir Aera mengirim pesan untuk mamanya, sekedar mengingatkan jika rapat pertemuan berlangsung hari ini. Aera sudah memberi tahukan langsung kepada mama, tapi sekedar mengingatkan kembali tidak ada salahnya bukan.
"Ma, jangan lupa ya rapat nya hari ini jam 9"
Setelah mengirim pesan, Aera pergi kekantin menemui kedua sahabatnya.
Menghampiri Sia dan Fina yang tengah sibuk menikmati makanan nya.
"Istirahat aja beloman lo udah pada makan aja"
Aera menghampiri.
"Makan apaan tuh?"
Aera yang sudah duduk di samping Sia.
"Lo liat nya apa Aera"
Jawab Fina.
"Bakso"
Singkat Aera dengan polos nya.
"Bukan! Ini bubur ayam"
Sia dengan mengunyah bakso yang menggelembungkan pipi sebelah kanannya.
"Apaan sih "
Sinis Aera.
"Lagi kaya orang **** deh, udah tau nanya"
Jelas Sia.
"Bude mau bakso nya juga ya satu, campurin mie kuning nya aja"
Pesan Aera, memperhatikan kedua sahabatnya yang begitu menikmati bakso nya.
"Bacot deh"
Balas Aera kepada Sia
"Kelas lo hari ini ada rapat orang tua ya"
Tanya Fina setelah meminum es teh nya.
"Mmmm"
Singkat Aera tidak bersemangat.
"Ma lo dateng"
Tanya Sia memastikan.
"Ghhhh"
Aera menghelai nafas.
__ADS_1
"Kayanya, tapi ngga mau terlalu berharap juga, tau sendiri gimana sibuknya dia"
"Lagi kenapa ngga suruh mba Ana"
Sia yang menjeda makan nya sebentar untuk mendengarkan Aera.
"Walikelas tau kalo mba Ana itu pengasuh gua. Yang dia mau temuin itu orang tua gua, Siaaa"
"Lagi bener bener deh kelasan lo kelewat rajin nya"
Fina yang ikut menjeda sekedar mengeluarkan ocehan nya.
"Mmmm, suka cape kadang kadang"
"Nikmatin tuh kelas kebanggaan lo"
Fina dengan menertawai Aera.
"Ah rese lo"
Aera kembali ke kelas setelah memakan habis pesanan nya. Sudah pukul 08:55 seharusnya mama sudah datang, Aera bergegas memastikan.
Aera memastikan dari jendela kursi yang berada di ruang pertemuan hampir penuh di duduki para orang tua dengan di dampingi anak anak nya, tepi dilihat Aera mama nya belum juga datang.
"Mungkin bentar lagi kali ya"
Ujar Aera positif.
Setelah hampir 15 menit memperhatikan gerbang sekolah, mama belom juga datang. Ekspresi di wajah Aera sudah berbeda, cemberut kesal. Dalam dada amarah nya sedang menggebu gebu, begitu menyesakan.
Bukan nya dari awal tidak terlalu berharap, tidak heran jika mama tidak juga datang, mengabaikan seperti yang sudah sudah. Sudah sering kali terabaikan masih saja merasa perih.
Mama yang terus saja menciptakan prasangka, memenuhi ruang kepala.
Setidaknya angin yang berhembus dengan hangat nya sinar matahari dan lagu yang didengarkan nya sedikit membuat nya lega, sesak dan perih nya berangsur membaik. Tapi tetap saja masih sangat tidak menyenangkan. Tetap terabaikan meski untuk urusan sekolah, apa kata sibuk masih dapat membenarkan ini semua.
Setelah hampir 1 jam Aera sibuk termenung dengan segala prasangka yang dipikirkan, Aera turun untuk kembali ke kantin kurang dari 15 menit bel istirahat akan berbunyi. Aera tidak ingin kedua sahabatnya melihat nya dengan ekspresi marah dan kecewa.
Saat di dekat toilet di lantai 2 tempat kelas nya berada Aera menyaksikan pertikaian terjadi antara Titan dengan seorang pria yang Aera tau itu adalah Papa nya Titan, seorang pemilikĀ perusahaan ternama.
"Kamu pikir papa mau buang buang waktu buat dateng di pertemuan ini cuman buat dengerin prestasi kamu yang menurun"
Tegas papa nya Titan dengan marahnya.
Titan hanya diam mendengarkan, tanpa menatap Papanya.
"Tidak ada niat untuk minta maaf? Sudah merasa hebat"
Papa nya Titan yang semakin dibuat emosi dengan Titan yang mengabaikan nya.
"Maaf itu kalo Titan buat salah Pa"
Tegas Titan, membalas menatap tajam Papa nya.
"Terus kamu pikir ini bukan kesalahan?"
"Titan hanya mengalah sebentar, Titan juga butuh menikmati hidup, bukan terus melakukan sesuatu yang Papa tuntut"
Tegas Titan dengan emosi yang tidak lagi dapat di kendalikan nya.
"Kamu sadar siapa kamu, dan apa yang harus dilakukan untuk menyesuaikan keberadaan kamu"
__ADS_1
Papa Titan dengan mendorong Titan dengan jari telunjuk yang dorongkan di dada Titan.
"Tau semenyiksa ini menjadi anak seorang direktur, Titan ngga akan pernah mau buat jadi anak Papa"
"Prak..."
Tamparan keras melayang hebat di pipi Titan.
Aera terkejud juga tercengang dengan apa yang dilakukan Papa nya Titan kepada anaknya sendiri.
"Sadar kamu bilang apa barusan? Dasar anak tidak tau diri"
Ucap Papa Titan sebelum pergi mengabaikan Titan yang sedikit tertunduk kesakitan.
Aera ingin sekali menghampiri Titan sekedar memastikan keadaan nya. Tetapi akan sangat membuat Titan malu jika memperjelas bahwa Aera menyaksikan semuanya.
Titan pergi, Aera segera membuntuti nya, rasanya ikut terluka melihat ada orang lain yang tertampar dengan sebuah tangan milik seseorang yang seharusnya menjaga dan menyayangi.
Bukan fisik nya saja yang kesakitan, batin nya pun ikut terluka.
Aneh nya orang terdekat lah yang sering kali melukai.
Titan berhenti di lapangan basket di lantai 4, lapangan yang memang sepi karna jauh dari kelas kelas, dan hanya digunakan jika ada pertandingan atau alasan lain nya.
Titan yang dengan kencang menendang bola basket yang berada di dekatnya.
"Huhh.."
Helai nafas Titan meluapkan amarah dan kekecewaan nya.
Sejenak Titan terdiam, terpaku dengan tatapan sendu dalam tundukan kepalanya.
Titan menoleh menyadari keberadaan Aera saat ini dilihat nya tengah berdiri di pintu masuk.
Aera yang melemas tidak tega melihat Titan yang di kenal nya sebagai pria yang tenang menjadi begitu arogan dan berantakan saat ini.
"Mmm, a.. tadi gua kesini mau latihan, ngga tau kalo lo disini juga"
Titan yang menenangkan diri dengan menarik nafas panjang dan menghembuskan nya.
Menghampiri Aera, untuk meninggalkan Aera.
Aera meraih tangan Titan untuk menghentikan Titan pergi, dan melepaskan kembali saat Titan menatap Aera.
"Mm sorry, lo tetep disini biar gua aja yang pergi, gua bisa nanti nanti ko latihan nya, kan lo juga yang dateng duluan"
Titan tidak meladeninya, dan kembali melangkah pergi.
"Gua liat lo...."
Ucap Aera menghentikan Titan.
"Ditampar"
Singkat Aera pelan, membuat keduanya sama sama lemas, terutama Titan yang menjadi berkaca-kaca.
"Kalo lo butuh temen buat cerita, gua siap buat dengerin. Mungkin gua sama lo ngga cukup deket buat bisa berbagi cerita.Gua ngga akan diem dengan apa yang baru aja gua liat. Mungkin emang bukan urusan gua dan gua ngga berhak buat ikut campur. Tapi gua akan sangat bersalah kalo gua ngebirin lo buat nutupin semua nya sendiri. Karna gua tau gimana sakitnya saat dimana lo cuman diem dengan rasa sakit lo, sedang kan mereka cuman tau lo baik baik aja"
Aera mengutarakan semua nya, dengan Titan yang membelakangi Aera hanya diam mendengarkan.
Tidak menjawab atau merespon apapun Titan pergi begitu saja meninggalkan dan mengabaikan Aera.
__ADS_1