Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
71


__ADS_3

Azka meninggalkan kafe setelah selesai melayani banyak pelanggan. Beberapa kali memeriksa handphone nya tetapi Aera belum juga membalas atau pun menelfon nya. Azka memutuskan untuk pergi kerumah Aera dengan jam pulang sekolah jam dimana biasanya Aera sudah berada dirumah.


Titan dibuat khawatir dengan Aera yang tidak masuk sekolah, mengingat dengan apa yang terjadi tadi malam. Setelah beberapa kali menghubungi Aera tidak juga ada jawaban begitu pun untuk pesan yang dikirimnya tidak juga ada balasan. Tidak ingin merasakan rasa khawatir yang berkelanjutan Titan memutuskan untuk datang kerumah Aera.


Pertemuan adalah dua keberadaan atau lebih yang dipertemukan disatu tempat atau di titik yang sama dengan alasan ataupun tanpa alasan. Sesekali atau beberapa kali dalam hidup sering saja terjadi. Pertemuan yang didambakan tidak pernah datang sedangkan pertemuan yang tidak pernah sekalipun diharapkan malah terjadi begitu saja. Yang tidak menyenangkan adalah dua manusia dengan benci dan dendam nya berada di pertemukan di tempat dan di waktu yang salah. Tempat dimana pertemuan itu malah akan semakin merusak banyak hal dan keadaan. Entahlah.. Tuhan selalu punya rencana dengan caranya yang tak terduga.


Seperti dengan beberapa saat berikutnya.


Azka dan Titan dua manusia yang seharusnya tidak lagi bertemu harus kembali di pertemukan di rumah Aera di tempat yang salah untuk keduanya berada.


Dari Arah yang berlawanan keduanya sudah saling mempertemukan tatapan, saling mengenali satu sama lain. Langkah keduanya di perlambat dengan beberapa hal dan rasa yang kembali terkuak.


Dalam beberapa saat keduanya sudah saling berhadapan dengan jarak yang cukup dekat tepat di jalanan depan rumah Aera.


Keduanya saling menatap tajam dengan ekspresi dingin yang terlihat.


Sampai akhirnya Azka menghelai tawa mencairkan suasana untuk dirinya sendiri.


"Titan?"


Sapa Azka dengan tersenyum menatap Titan.


"Gua kira setelah beberapa saat yang lalu gua ngga akan lagi ketemu sama lo"


Titan yang selalu dengan ekspresi yang sama di wajahnya, dingin dan datar.


"Mungkin karna takdir, sampai kita harus kembali dipertemukan. Cobalah buat belajar bersyukur akan setiap hal yang terjadi"


Jawab Azka selalu dalam senyum dan tawanya.


"Dengan itu gua membenci lo, takdir. Bersyukur akan setiap hal yang terjadi? Itu memang hal yang mudah buat lo tapi ngga buat gua! Lo tau semua yang terjadi karna siapa"


Titan yang kali ini tersenyum sinis dengan tatapan tidak suka penuh kebencian dalam menatap Azka yang berada di hadapannya. Sedang menahan diri dengan emosi yang mulai memuncak dirasakan nya.


Azka terdiam dalam tawa nya setelah mendengar ucapan Titan.


"Kita udahain sama dengan pertemuan sebelumnya, karna percuma ini semua ngga akan berakhir hanya sekedar pertemuan yang sebentar"


Jelas Azka setelah beberapa saat.


Titan mengikuti dengan apa yang Azka katakan, menyudahi. Titan meninggalkan Azka dengan lebih dulu masuk kedalam halaman rumah Aera.


Azka melebarkan tatapan nya dengan Titan yang berada untuk datang kerumah Aera. Tidak ingin ambil pusing dengan banyak bertanya dalam pikirnya, Azka mengikuti membuntuti Titan untuk kerumah Aera.


Sudah sampai tepat di depan rumah Aera dengan Titan yang mengetuk pintu.


"Tok..tok.. tok.."


Titan menoleh dengan Azka yang berada di sampingnya dan ikut mengetuk pintu.


"Tok.. tok.. tok.."

__ADS_1


"Mau apa lo kesini?"


Tanya Titan memperhatikan Azka.


"Cari seseorang"


Azka tersenyum dengan sesuatu yang disadari nya.


"Eh Azka, Titan ya?


Setelah Mba Ana membukakan pintu menatap satu persatu dengan tatapan dan jari telunjuknya terhenti pada Titan.


"Iya mba"


Azka tersenyum dengan ramah nya"


"Aera ada?"


"Aera ada?"


Pertanyaan yang Azka dan Titan tanyakan dengan bersamaan.


Mba Ana melebarkan tatapannya dengan mengehelai tawa mendengar dan menyaksikan nya.


"Aera nya ngga ada? Dia lagi dirumah sakit"


"Aera sakit?"


"Aera sakit?"


Kali ini mba Ana benar benar tertawa dibuatnya.


Sedangkan Azka dan Titan hanya saling menoleh dengan tatapan bingung dan dangan Titan yang selalu dengan tatapan tidak sukanya menatap Azka.


"Ngga bukan Aera yang sakit, temen nya"


Jelas Mba Ana dengan tawa yang sudah mereda.


"Mau masuk dulu?"


Mba Ana menawari.


Titan menoleh kepada Azka untuk tidak lagi menjawab dengan ucapan yang sama juga dengan bebarengan.


"Ah ngga usah Mba Azka mau langsung pergi aja, nanti salamin aja kalo Aera pulang"


Azka yang menyerobot lebih dulu untuk menjawab mba Ana, dengan Titan yang saat ini tengah memperhatikan nya.


"Iya nanti mba salamin"


"Kalo gitu Azka duluan ya mba"

__ADS_1


Pamit Azka sebelum berbalik pergi. Menyempatkan sekedar menoleh tersenyum menatap Titan.


"Saya juga Pamit, mba"


Lanjut Titan.


"Mmm silahkan, hati hati ya"


Titan mengangguki dengan tersenyum tipis kepada Mba Ana sebelum berbalik pergi.


Titan mengejar Azka dengan langkah nya yang cepat. Menarik pundak Azka dengan kencangnya sekedar untuk membuat Azka berbalik kepadanya.


"Ada hubungan apa lo sama Aera"


"Bukan urusan lo jadi gua rasa gua ngga perlu buat menjawab nya"


Jawab Azka dengan tersenyum.


"Udah cukup lo mempersulit semuanya"


Tegas Titan dalam kesal yang sedang ditahan nya.


"Gua ngga pernah mempersulit apapun apalagi sampai mempersulit hidup lo, ngga pernah"


Jelas Azka yang seketika menjadi serius dengan apa yang dikatakan nya.


"Semua hancur karna lo, lo yang udah ngancurin semuanya. Gua suka sama Aera dan gua harap lo ngga akan ngancurin apa apa lagi setelah ini"


Jelas Titan dengan nada suara nya yang kencang di pertegas dengan rasa kesal yang tidak lagi tertahan.


"Yah Aera sukanya sama gua, gimana dong? Semua terjadi gitu aja, bahkan gua lupa kalo Aera satu sekolah sama lo"


Kembali dengan ekspresi yang dipenuhi senyum di wajahnya.


"Hhhh..."


Titan melemas dengan apa yang Azka katakan, tertusuk lebih dalam di titik luka yang sama.


"Kalo gitu kita sama sama perjuangin dia"


Azka yang menepuk lengan Titan sebelum berbalik pergi.


Ada yang diketahui setelah dengan Titan yang mendahului untuk menemui Aera, keduanya Aera dan Titan bersekolah disekolah yang sama. Tetapi menjadi sangat terkejud saat tau Titan juga menyukai Aera.


Titan menjadi lemas dan pucat mengetahui dengan siapa Aera mencintai. Batin nya menggerutu ramai, "Kenapa harus Azka? Tidak harus dirinya tapi juga bukan dengan Azka"


Kenapa harus dengan pisau yang sama yang menusuk nya. Luka yang kemarin pun belum juga terobati tetapi harus kembali tertusuk lagi. Harus sehancur apa untuk berada jauh dari luka. Untuk dapat bertahan sampai detik ini pun tidak mudah, kenapa semua tampak sulit dan sangat tidak adil untuk nya. Semua terkuak ramai dalam diam nya saat ini.


Dalam langkah nya Azka berlalu ada beberapa hal yang mengikuti nya saat ini.


Rasa bersalah, ketidak sengajaan dirinya yang harus kembali melukai seseorang yang sama yang pernah terluka karna nya.

__ADS_1


Pikiran yang sempat lupa dan batin yang mulai terobati menjadi kembali seperti sediakala.


__ADS_2