Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh

Seperti Rapuh Yang Mencoba Tetap Utuh
13


__ADS_3

Mengurung diri di kamar dengan renungan yang membuat nya terlap tidur.


Saat terbangun semua kembali seperti semula, lega dan lupa soal perkara yang sempat meluap.


  Akan ada saat saat dimana seseorang akan hilang kendali dengan perasaan nya. Terlebih untuk seseorang yang sering kali diam dalam luka nya, mengabaikan perasaan nya.


Untuk Aera ini bukan satu hal yang mudah di jelaskan, perkara rasa dan keadaan yang ada sering kali melumpuhkan kendali, lelah alasan nya.


Tidak ada tempat yang dapat di tumpahi kesedihan nya dengan leluasa selain mba Ana, pelukan, genggaman dan nasihat nya.


Mengingat ada janji dengan Sia, Aera bergegas mandi dan bersiap.


Kali ini Aera tampil sederhana dengan tetap cantik dengan celana pendek dan switer panjang berwarna putih dengan mencepol rambutnya. Aera memang lebih suka mengenakan celana pendek atau rok pendek di banding kan dengan jeans jeans panjang. Tampilan yang sederhana menjadi sangat memukau jika Aera yang mengenakan nya. Tampilan yang menarik menjadi penting untuk Aera, tetapi bukan berarti Aera tidak menyukai yang dirasa nyaman untuk nya. Makeup dan pewarna bibir yang selalu menjadi prioritas untuk tampilan nya.


Senyum manis terurai dalam pandangan nya dari cermin yang menggambarkan begitu nyata sosok nya. Perasaan kalut terabaikan, memang harus seperti itu karna yang di hadapi bukan hanya hari ini tapi untuk waktu yang panjang.


Satu sisinya bersyukur perasaan patah yang tidak menyenangkan tidak berlarut, sisi lain nya harus membiarkan perasaan luka nya terkubur, bertemu dengan luka luka lain nya, bersiap jika sewaktu-waktu dapat meluap.


Perasaan itu seperti wadah yang menampung bukan hanya satu rasa, bukan hanya satu luka, semua terbendung di satu tempat yang sama.


Bahkan untuk kenangan dan harapan.


Tidak heran jika lelah nya tidak dapat di jelaskan. Akan sangat melegakan jika ada yang dapat memahami dan mengerti.


Disaat banyak orang menikmati hidup nya beberapa malam meratapi, mempertanyakan apa yang salah, dan dimana kesalahan nya berada. Semoga tidak akan ada yang menyadari betapa menyedihkan hidup yang Aera jalani.


Suara motor berhenti di halaman rumah,


Suara motor yang Aera begitu kenali, motor Sia. Aera segera mengambil handphone yang tergeletak di atas meja.


Terdapat beberapa pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Sia.


Sia mengetuk pintu, dengan mba Ana yang membukakan dan mempersilakan nya masuk.


"Mba Panggilin Aera nya dulu ya, ngga tau tidur atau udah rapih, soal nya belum keluar kamar dari sore"


Jelas mba Ana setelah mempersilahkan Sia duduk.


Sia hanya tersenyum mengangguki, terlihat begitu ramah. Padahal dalam hatinya sudah menggerutu kesal jika benar Aera masih tertidur.


Baru akan menaiki tangga, Aera sudah lebih turun.


Mempertemukan tatapan nya tersenyum kepada mba Ana.


"Maafin Aera soal yang tadi ya mba"


Aera yang sudah berada di hadapan mba Ana


Mba Ana mengangguk tersenyum.


"Udah gih jalan, udah di tungguin Sia tuh"

__ADS_1


"Sia sama Aera keluar dulu ya mba"


Pamit Sia, masih dengan begitu ramah.


"Hati hati ya"


Baru keluar dari pintu Sia sudah mengeluarkan gretuan nya.


"Nih tadi kalo lo beneran masih tidur mah parah banget, nyebut gua"


"Kan ini nyatanya ngga"


"Iya lagi ngga, coba biasanya"


"Lo lagi udah di kasih tau jangan pake bawahan pendek, kebiasaan, biar apa kali"


Lanjut Sia semakin kesal setelah sadar dengan celana pendek yang di kenakan Aera.


"Kan lo tau sendiri gua ngga bisa pake jeans panjang, ngga nyaman, gatel juga rasanya"


"Alasan aja, kalo di kasih tau nya yang bener"


"Iya Sia iya"


Aera yang tersenyum memperlihatkan deretan giginya.


"Lo kalo di kasih tau jangan  iya iya aja"


Aera yang sudah habis kesabaran dengan ocehan Sia yang menjengkelkan.


"Di kasih tau nya yang bener"


Sia yang baru selesai dengan mengenakan helem nya, dan menyodorkan satu helem lagi kepada Aera.


"Udah lah gua masuk, maen aja lu sono berdua sama Fina"


Aera yang kemudian berbalik, mengabaikan helem yang disodorkan kepada nya.


"Dih dih, becanda Ra becanda"


Sia dengan tersenyum manis, menahan tangan Aera.


Aera melepaskan tangan Sia dan merebut helem dan mengenakan nya.


"Jangan kebiasaan apa, orang kalo udah marah baru bilang becanda"


Sia yang tertawa seperti tidak merasa bersalah.


"Yaudah sih jangan ambek yang di gedein"


Pertikaian keduanya di perhatikan mba Ana dari jendela, Aera dan Sia menyadarinya sebelum melaju, kedua nya tersenyum malu memperlihatkan deretan giginya.

__ADS_1


Di malam yang dingin di atas sepeda motor berboncengan membelah jalanan yang masih rami,rasanya menyenangkan dengan obrolan, candaan bahkan terkadang cacian karna kesal sering kali terlontarkan.


Aera dan Sia sampai di warung mba Wati dengan Fina yang tengah duduk sendiri.


Aera dan Sia menghampiri dan duduk di hadapan Fina.


"Baru keliatan lagi nih"


Sapa mba Wati pemilik warung.


Sebuah warung di pinggir jalan, warung kopi dan jajanan jajanan. Tempat yang sering kali ketiga nya jadikan tempat berkumpul dengan menikmati gorengan nya yang gurih.


"Iya nih mba lagi pada ngga sibuk"


Jawab Sia cepat.


"Dih emang biasanya pada sibuk?"


Sela Fina dengan jawaban Sia.


"Kadang"


Singkat Sia.


"Yeh jelas dasar"


"Mau teh tarik ya mba"


Aera yang langsung memesan minuman kesukaannya.


"Es teh satu mba, lu mau apaan Fin"


Lanjut Sia.


"Mau es jeruk yang manis ya mba"


Saut Fina.


"Mau manis mah liat gua Fin"


Gurau Aera, seolah mengabaikan atau memang lupa dengan kejadian di sekolah.


"Yah bukan manis malah hambar liat lo mah"


Jawab Fina judes, dengan tawa di akhir pengucapan nya. Seolah ikut mengabaikan pertikaian nya di sekolah.


Bagus lah keadaan membaik seperti seharusnya dan seperti biasanya. Keduanya tidak perlu lagi merasa canggung atau tidak enak hati hanya dengan prasangka dan pertikaian yang sempat terjadi.


Waktu menjadi tidak bersahabat dengan hal hal manis dan menyenangkan yang terjadi di tengah manusia yang sedang sibuk dengan candaan dan tawa yang begitu pecah. Karna waktu terus bergulir menjadi lebih cepat di saat dilupakan nya. Menjengkelkan, tidak dirasa waktu sudah menunjukkan pukul 00:10.


Waktu bergulir dengan cepat, yang artinya akan ada waktu waktu berikutnya, dan yang ini akan di simpan dalam memori kenangan. Tidak akan di biarkan lupa untuk setiap hal yang menyenangkan, akan dibiarkan tetap tinggal meski tertumpuk dengan waktu lain nya.

__ADS_1


__ADS_2