
Aera tiba di sekolah lebih awal dari pada biasanya, setelah menyetorkan tugas kekantor.
Aera pergi untuk kelantai paling atas di atap sekolah. Sekedar untuk mendengarkan lagu dan menikmati suasana pagi.
Sesampainya di atap dilihat Aera seseorang yang tengah berdiri di sisi gedung. Aera menghampiri agar dapat memastikan siapa orang itu.
"Karin"
Seru Aera saat seseorang itu menoleh berpaling menghadap Aera.
"Aera"
Seru Fina tersenyum melebarkan tatapannya, menghampiri Aera.
"Sia baik baik aja? Gua denger dia masuk rumah sakit"
Fina yang sudah berada dekat di hadapan Aera.
"Mmm.. dia baik baik aja"
Jelas Aera tanpa ekspresi.
"Bagus deh kalo gitu"
Aera berbalik akan meninggalkan Fina, tetapi langkah nya terhenti.
"Berada di posisi lo bener bener sempurna ya"
Aera kembali menoleh, berbalik dengan kembali berhadapan dengan Fina setelah didengar kata kata yang Fina katakan.
"Lo ngga ada cape nya ya, ngga ada pernah bisa berubah, karakter lo yang menjengkelkan itu"
Ucap Aera dengan tersenyum sinis kepada Fina. Beberapa orang tidak akan bertahan lama untuk tetap diam jika terus diberikan sesuatu yang tidak menyenangkan, seperti setiap kata yang Fina lontaran.
"Waw.."
Fina lebih melebarkan tatapannya kepada Aera, seperti menunjukkan rasa terkejud nya.
"Kemaren lo masih diem sekarang mulut lo udah bisa buat ngomong kaya gitu sama gua"
Fina masih dengan senyuman dan tatapan tajam nya.
Aera tersenyum memperlihatkan deretan giginya, sesaat membuang tatapan nya dari Fina sebelum kembali dengan kata kata yang diucapkan nya.
"Kemaren gua masih diem karna gua pikir lo masih bagian dari diri gua dan gua sadar lo udah jauh dari keberadaan gua sekarang, tapi gua masih diem, kenapa? Karna gua masih ngehargain Sia. Sia mungkin lebih berpihak ke gua tetapi walaupun kaya gitu tidak menutup perasaan persahabatan yang masih dirasakan sama lo, tapi sayang lo nya BUTA!"
"Hhhhh.."
Fina menghelai tawa terkekeh dengan apa yang Aera katakan.
"Lo mau dihargain sama orang lain? Udah coba buat ngehargain orang disekitar lo?"
Lanjut Aera kali ini dengan serius nya.
"Gua ngga mau ngehargain dan ngga butuh di hargain, lo semua juga ngga guna gua bisa sendiri gua ngga perlu lo semua"
"Terkesan mudah kata kata kasar yang selalu lo bilang, tapi setelah ini? Lo menangis dalam diri lo bahkan dalam kesepian, kesulitan semua rasa sakit yang sengaja lo ciptain sendiri, lo yang bodoh Fina"
Sekata demi sekata sengaja dan tidak sengaja semua tertata dan di katakan dalam batin nya yang ikut terluka. Sekedar melampiaskan rasa sakitnya, dan memberi tahu apa yang seharusnya Fina pahami.
Fina terdiam tanpa ekspresi dan kata kata yang di ucapkan nya.
Melangkah pelan untuk jauh lebih dekat posisinya dengan posisi Aera.
"Prakk..."
__ADS_1
Tamparan kencang melayang mendarat sangat mengejutkan dan begitu sakit di pipi Aera.
"a..."
Aera tertunduk memegangi pipinya dengan rasa sakit.
Seseorang datang dan mendorong Fina dengan kencang nya.
"Lo ini apa perempuan? Ko bisa bisanya main tangan sampe nampar orang kaya gini, lo ngga punya perasaan"
Crocos panjang seseorang yang tiba tiba berada di tengah keributan yang sedang terjadi.
Aera menoleh dengan suara yang dikenalinya.
"Caca"
Seru Aera dengan keberadaan Caca yang baru saja menampar nya.
"Hehhhh... pasti sakit banget ya dirampas kaya gitu"
Menoleh memperhatikan Aera yang masih memegangi pipinya.
"Kelaukan lo bener bener ngga pantes lo lakuin di sekolah lo tau itu bukan? Sayang yah duit lo mahal mahal buat bayar sekolah tapi lo malah kaya gini, huh minus banget deh"
Kembali tertuju kepada Fina yang tengah menahan asing kepadanya.
"Lo siapa? Ikut campur urusan gua. Mending lo cabut deh sekarang"
Ketus Fina dengan judesnya.
"Gua, lo ngga kenal? Gua siswa baru yang lagi rame di kalangan mulut anak Akuntansi, secara lo liat gua cantik anggun ngga kaya lo, bruntual hhehe.."
Tegas Caca dengan tawa di akhir kata yang di ucapkan nya, sembari menggeleng gelengkan kepalanya.
Fina menatap tajam dengan tersenyum sinis akan kata kata yang didengarkan nya sangat menjengkelkan.
Singkat Fina memastikan akan sebuah kata yang Caca katakan.
"Mmm Bruntal kata yang sangat cocok menggambarkan kepribadian lo. Tau definisi nya? Kalo ngga tau gua punya banyak waktu buat ngejelasin"
Lanjut Caca terus dengan senyum dibibir merah nya.
"Hhhhh..."
Fina menghelai nafas dengan senyum sinis yang terlepas dari wajahnya tersisa tatapan tajam dan kemarahan yang sudah memuncak.
"Bughh.. "
Bukan lagi tamparan tapi kali ini kepalan tangan yang meninju dengan kencangnya.
"Brukkkkk"
Aera yang mendorong Caca dan akhirnya malah bekas tamparan nya yang kembali terkena tinjuan Fina.
"Aera"
Seru Caca yang sudah tergeletak di bawah dengan Aera yang terjatuh kesakitan akan tamparan dan tinjuan di pipi yang sama.
Caca bangun dari gabrukan nya dan...
"Duggg.."
Caca menendang kencang perut Fina sampai Fina terjatuh meringkuk kesakitan.
"Ini belom seberapa, akan jauh lebih sakit dari ini kalo lo berani cari masalah lagi sama gua ataupun Aera"
__ADS_1
Tegas Caca dengan tajam nya, dengan emosi dan kemarahan yang sudah berada di puncak nya namun masih berada di tahan nya.
"Lo ngga papa? Sakit banget? Kita ke UKS sekarang ya"
Caca berjongkok memperhatikan Aera dengan lebih dekat dan merangkul Aera untuk dibantu Caca bangun dan menuju UKS.
"Heh.. lo liat apa yang akan gua lakuin setelah ini"
Guman Fina kesakitan, memperhatikan Aera dan Caca yang pergi turun dengan saling merangkul.
Sudah berada di lorong lorong kelas hampir sampai diruang UKS, bel masuk berbunyi.
"Lo masuk kelas aja, gua bisa ke UKS sendiri"
Aera mengembangkan tangan nya untuk melepaskan nya dari pundak Caca.
Tetapi di tarik kembali oleh Caca untuk Aera tidak melepaskan tangan dari pundaknya.
"Udah gua anter lo ke UKS dulu"
Kembali melangkah dengan Aera yang memperhatikan Caca. Sekedar orang asing yang semula tidak disukainya malah menjadi seseorang yang saat ini berada dekat dengan nya.
Titan menghampiri Aera dan Caca yang berada saling merangkul. melangkah tanpa suara berdiri dan memperhatikan Aera sudah tepat berada di samping Aera.
"Ra"
Seru Titan.
Aera dan Caca menoleh bebarengan.
Aera terdiam dengan kondisi nya saat ini yang tidak seharusnya diperlihatkan kepada Titan.
"Muka lo kenapa Ra"
Memegangi wajah Aera dengan sangat hati hati, begitu terkejud nya dengan wajah Aera yang babak belur.
"Ngga ngga papa Tan"
Aera melepaskan tangan Titan dari wajahnya.
"Ini kenapa?"
Titan menatap Caca, berharap Caca akan memberikan penjelasan untuk nya.
"Di tampar sama perempuan aneh"
Jelas Caca begitu polosnya.
Aera menatap tajam Caca dengan apa yang di katakan nya.
"Apa yang salah? Dia nanya ya gua jawab"
Jelas Caca akan tatapan Aera kepada nya.
"Fina maksud nya"
Perjelas Titan memastikan?
"Mmmm entah lah"
Jelas Caca mengangkat kedua pundaknya.
"Udah ya Aera harus di obatin kalo ngga nanti makin parah"
Caca yang kembali menyeret Aera untuk melanjutkan langkahnya menuju UKS.
__ADS_1
"Udah ngga papa ko"
Jelas Aera kepada Titan sebelum meninggalkan nya.