
Setelah sebelumnya Aera tidak menjenguk Sia dan saat kemarin pun saat Sia diperbolehkan untuk pulang Aera tidak juga datang untuk menjenguk nya.
Setelah cukup banyak mencoba untuk menghubungi dan mengirim Aera pesan Sia belum juga mendapatkan balasan.
Sampai hari ini Sia mulai masuk ke sekolah, Aera belum juga dilihat nya.
Saat jam istirahat berbunyi Sia yang masih sedikit lemas memaksakan diri untuk pergi ke kelas Aera.
"Chiko Aera mana? Bisa tolong panggilin ngga?"
Sia mengehentikan Chiko yang baru saja keluar dari kelas.
"Aera udah dua hari ngga masuk sekolah Sia"
Jelas Chiko.
"Kenapa?"
Tanya Sia sudah dengan ekspresi yang berbeda.
"Kurang tau Sia gua kenapa kenapa nya, soal nya Titan juga ngga masuk"
Fina yang sudah berada di belakang Sia menjadikan ekspresinya berbeda setelah di dengar Titan juga tidak masuk sekolah sama seperti Aera. Ada prasangka jika keduanya tengah pergi bersama.
"Salah Sia kalo lo nanya sama dia"
Seru Fina menyelak obrolan Sia dengan Chiko.
Chiko menatap keberadaan Fina yang kemudian pergi begitu saja meninggalkan dua perempuan yang saat ini tengah saling berhadapan.
"Maksud lo apa"
Cetus Sia menatap tajam Fina.
"Kalo lo mau tau soal Aera, kenapa ngga tanya sama dia aja"
Tunjuk Fina kedalam kelas akan Caca yang tengah sibuk membereskan bukunya untuk dimasukan kedalam tas.
Sia menatap dimana jari telunjuk Fina di arahkan. Sosok perempuan cantik yang imut tengah sibuk di tempat duduknya.
Menatap asing tidak kenal akan sosok yang saat ini tengah di tatap nya.
"Fina lo apaan sih, dateng dateng ngga jelas"
Kesal Sia dengan Fina yang dirasa tengah mempermainkan nya.
Fina tersenyum sinis menatap Sia.
"Lo ngga tau dia siapa? Dia Caca temen baru nya Aera. Setau gua di berdua kemana mana itu sekarang berdua, mau disekolah ataupun diluar sekolah"
"Lo kira lo bisa bikin gua percaya sama ocehan ngga jelas lo"
"Gua ada bukti nya Sia"
Fina tersenyum dengan menyodorkan foto kebersamaan Aera yang tengah bersama Caca.
Sia terpaku melihat nya, ada rasa tidak senang yang tiba-tiba dirasakan nya.
"Mungkin aja emang kedua nya deket, lagi pula Aera berhak kan buat deket dan berteman sama siapa pun juga"
"Kalo sampai pada akhirnya keberadaan dia menggantikan posisi lo gimana?"
__ADS_1
Fina dengan wajah yang terus di penuhi senyuman nya.
"Bahkan sekarang pun dia terlalu sibuk sekedar buat kasih kabar lo, bahkan dia juga ngga dateng jenguk dan jemput lo pas lo di rumah sakit kan? Ngga usah beranggapan kalo gua lagi nyuci otak lo, gimana pun juga pada dasarnya kita masih baik baik aja, jadi ngga salah kan kalo gua masih peduli sama lo"
Jelas Fina memaparkan ekspresi yang seketika berubah menjadi serius.
Tidak ada yang salah dengan apa yang dikatakan Fina, aneh saja jika benar Aera sampai mengabaikan dirinya hanya karna keberadaan orang asing yang baru saja di kenal nya.
"Aera aja bisa mengabaikan gua demi Titan seseorang yang belum lama deket sama dia, jadi ngga menutup kemungkinan kalo saat ini Aera kembali keliru dengan adanya Caca"
Lanjut Fina, terus bergumam.
Seolah Fina membaca pikiran Sia, kembali di jelaskan sesuai dengan apa yang tengah memenuhi isi kepala Sia saat ini.
Sia diam terpaku kaku, tidak tau dengan seperti apa harus membalas perkataan Fina jika semua yang dikatakan seolah menjadi benar adanya.
Caca keluar dari kelas dengan Sia yang tiba tiba berada menghalangi untuk menghentikan Caca.
"Aera mana"
Tanya Sia to the poin.
"Gua ngga tau, udah dua hari dia ngga masuk dan ngga ada kabar. Nanti balik sekolah gua baru mau cek kerumah. Lo siapa, ada perlu apa sama Aera? "
Jelas Caca dengan detail nya, akan keberadaan seseorang yang masih asing untuk nya.
Sia menjadi tersenyum, dirasa menjadi tersinggung dengan detailnya Caca menjelaskan sampai menanyai dirinya.
"Gua Sia"
"Oh jadi lo yang namanya Sia, gua Caca, Aera udah cerita banyak soal lo"
Lanjut Caca dengan ceria nya, tersenyum ramah mengulur kan tangan nya.
Caca kembali menarik tangan nya setelah sadar keberadaan Sia kurang menyukai nya.
"Cerita apa aja?"
Lanjut Sia memastikan dengan cerita cerita seperti apa, sampai dirinya di jadikan bahan pembicaraan diantara keduanya.
"Mmm cerita kalo dia punya sahabat namanya Sia, dan banyak hal soal lo dan lain sebagainya, kayanya ngga akan selesai kalo harus gua jelasin semua"
Jawab Caca terus dengan tersenyum ramah kepada Sia.
Sia menjadi kesal dengan apa yang dikatakan Fina dengan ditambahi semua yang dikatakan Caca, menjadikan prasangka dan perasaan tidak menyenangkan dirasakan Sia.
Sia berbalik pergi begitu saja meninggalkan Caca, dengan di ikuti oleh Fina.
Sia dan Fina duduk berhadapan di kantin dengan dua botol minuman yang sudah berada di hadapan nya masing masing.
"Gua masih ngga percaya Aera bener kaya gitu"
Seolah bersahabat dengan Aera selama 3 tahun ini menjadi asing saat ini, dengan begitu saja.
"Hari itu gua juga ngga sangka bisa berakhir dengan Aera karna perkara rasa diantara gua sama dia yang sama sama bersikeras dengan pilihan nya masing-masing. Tapi apa dari situ lo ngga belajar buat lebih mengenl Aera"
Dengan tatapan yang berbeda, dengan pikiran yang terus saja memikirkan Aera.
Apa yang saat ini baru menjadi ujuran apa memang benar adanya.
Dirasa Aera yang dikenalinya tidak seperti itu.
__ADS_1
"Aera punya alasan kenapa saat itu dia bersikeras dengan pilihan nya, dan gua pun memahami nya. Jadi mungkin saat ini pun dia punya alasan sendiri"
Ada yang menjadi sesak dengan Sia seseorang yang sampai saat ini masih berada di anggap Fina menjadi sahabat nya tetap bersikeras mempercayai Aera.
Menjadi geram dan tidak tahan dengan Sia yang terus saja mengutamakan Aera tanpa tau dengan seperti apa perasaan nya, rasanya terabaikan, dan rasanya di nomor duakan.
"Siapa cwo yang sering sama lo Sia?"
Tanya Fina.
"Siapa"
"Gua beberapa kali liat lo sama cwo, temen lo, pacar atau apa"
Sia melebarkan tatapannya dengan apa yang di pertanyakan Fina.
"Azka maksud lo"
"Hahh Azka namanya"
Fina tersenyum dengan lebarnya menatap Sia.
"Lo inget gua pernah bilang sama lo, kalo lo dan Sia akan merasakan apa yang sebelumnya gua rasakan. Lo tau apa artinya?"
Sia semakin dibuat tidak mengerti dengan apa yang saat ini Fina katakan.
"Apa?"
Tanya Sia dengan singkat nya.
"Gua tau lo suka sama cwo yang namanya Azka dan asal lo tau Aera juga suka dengan Azka"
"Maksud lo?"
Sia yang belum memahami dengan baik apa yang di katakan Fina.
"Lo sama Aera menyukai satu cwo yang sama"
Perjelas Fina dengan kata kata yang dibuat lebih sederhana.
Tiba tiba kenyataan asing yang baru dapat dipahami nya menjadikan sesuatu dirasa tidak baik dalam dadanya.
" Lo ngomong apa sih Fin"
Dengan Sia yang masih tidak dapat mempercayai dengan apa yang baru saja Fina katakan.
"Itu kenyataan nya Sia, semula gua ngga mau kasih tau lo biar lo tau dengan sendirinya. Tapi gua ngga bisa tinggal diem aja setelah dengan lo yang selalu menjadikan Aera prioritas buat lo. Dia ngga sebaik yang lo kira Sia, buka mata lo"
Pertegas Fina dengan sudut sudut matanya yang menjadi berkaca.
"Hhhhhh..."
Sia menghelai nafas sesak dengan apa yang saat ini dirasakan nya.
Bangun begitu saja dari duduknya meninggalkan Fina.
"Coba buat lebih berpihak ke gua Sia, apa gua ngga jauh lebih baik dari pada Aera sampe lo bisa sekecewa ini"
Gumam Fina memperhatikan Sia yang pergi meninggalkan nya.
Sia berada di toilet menatap dirinya dari cermin. Apa yang sebenarnya saat ini berada membuat nya begitu kecewa.
__ADS_1
Aera yang menjadi berbeda atau karna dengan mencintai laki laki yang sama.
Sia memejamkan matanya menjatuhkan air mata dengan sesak yang dirasakan nya.