
Ting
Pintu Lift berbunyi dan terbuka, namun Jessly masih enggan untuk keluar, ia masih terlihat melamun.
"Kau memang bodoh Jessly, Andai kau tidak datang kesana , kau tidak akan merasakan sakit hati seperti ini.
"dia memang menyebalkan , hatiku sakit sekali karena kata -katanya , sekarang aku tidak peduli lagi dia Leo atau bukan." Ucap Jessly dalam hati sambil mengepalkan salah satu tangannya.
"Hey , Nona.apakah kau akan tetap terus berada didalam sana?." Ujar seseorang yang menyadarkan lamunan Jessly.
ternyata sudah banyak orang yang menunggunya untuk keluar dari dalam lift.mereka semua tampak kesal.
"Melamun didalam lift ." ujar yang lainnya sambil memperhatikan penampilan Jessly.karyawan wanita menatapnya dengan sinis.
"Maaf." Jessly menundukkan sedikit kepalanya, lalu keluar dari dalam lift.
Sampai diluar Jessly berbalik kebelakangnya, menatap Gedung Breslin Group.
"Ishh." desis Jessly sambil menggertakkan giginya .sungguh hari ini begitu sial baginya.
"Aku tidak akan datang lagi keperusahaan ini." Guman Jessly dengan perasaan kesalnya, lalu ia keluar dari area gedung.
Langit Sudah berubah berwarna Jingga, artinya siang telah berganti menjadi petang.
"Aduh, Non, Nona Jessly dimana? kenapa Nona Jessly belum juga kembali." Mbak Ruki harap harap Cemas menunggu kedatangan Jessly dikamarnya.
"sebentar lagi Tuan Jimi pasti kembali dari kantornya, jika dia bertanya tentang Nona Jessly, saya harus jawab apa lagi." Mbak Ruki terus menghubungi Nomor ponsel Jessly.
"Tolong diangkat telepon saya , Nona." guman Mbak Ruki.
"Ah, Tidak diangkat." mbak Ruki semakin cemas.
tit..tit..tit...terdengar suara mobil memasuki perkarangan rumah.
"Suara mobil, itu pasti Tuan Jimi, saya harus bagaimana?." mbak Ruki tampak panik.
Buru buru Mbak Ruki membuka jendela kamar Jessly.
"semoga Nona Jessly cepat pulang,kalau tidak , saya pasti akan terkena masalh dengan Tuan Jimi." harap Mbak Ruki, lalu ia segera berlalu keluar dari kamar itu.
Mbak Ruki menutup pintu kamar Jessly rapat -rapat.
"mbak Ruki, , Tuan Jimi memanggil mbak." salah satu pelayan menghampirinya, membuat mbak Ruki terkejut.
Ia kemudian mengangguk , lalu pergi menghampiri Jimi yang sudah berada diruang tamu.
"Maaf Tuan, Anda memanggil saya?" Tanya Mbak Ruki.
"Iya.." Jimi melonggarkan dasinya sambil duduk disofanya.
"Jessly ada kamarnya?Tanya Jimi
Mbak Ruki tampak takut -takut , lalu ia mengangguk.
" Iya, Nona ada dikamarnya , Tuan."bohong Mbak Ruki.
"Bagus, Mbak terus awasi Jessly, jangan biarkan dia keluar rumah dan mengecoh Mbak lagi.
" Baik , Tuan." Jawab Mbak Ruki sopan.
"Saat ini dia pasti masih belum mau memaafkan saya, tetapi itu tidak apa-apa , asalkan Jessly tidak keluar dari rumah ." Ucap Jimi sambil menyesap kopi yang baru saja diantarkan oleh pelayan lain.
Mbak Ruki hanya mendengarkan ucapan Jimi tampa menjawabnya. yang ditakutkan saat ini, bagaimana kalau Jimi mengecek Jessly kekamarnya, sementara Jessly masih berada diluar.
"Nona, Semoga anda sudah kembali kekamar anda ?." batin Mbak Ruki.
"Apa yang dilakukannya saat ini Mbak?tanya Jimi lagi.
" Nona, sedang melakukan Hobynya , Tuan.Nona berpesan kepada saya dia sedang tidak ingin diganggu oleh siapapun saat ini" Ucap Mbak Ruki lagi.
"Tidak ingin diganggu?
Mbak Ruki mengangguk
" Kemaren Nona Jessly sangat terganggu oleh teriakan suara Tuan yang cempreng itu."Ucap Mbak Ruki asal.
"katanya, suara Tuan bunyi kaleng pecah, Berisik." jelas Mbak Ruki
"APA..? Jimi melotokan matanya, lalu berdiri dari tempat.
" Jessly menghina suara saya yang merdu ini?
Mbak Ruki mengangguk, dalam Hatinya, Tuannya itu kepedean sekali.
" Nona Jessly memang bilang begitu , Tuan."
" Jessly bilang suara saya cempreng dan mengganggunya?" marah Jimi tidak terima suara dibilang cempreng.
"I-iya , tuan." Mbak Ruki tersenyum kaku sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.emang seperti itulah yang dikatakan oleh Jessly.
__ADS_1
"Dasar adik Durhaka, , apa sih Hobynya, palingan hobynya nonton Drakor sama nonton Drachin, berani- beraninya menghina suara kakaknya ini, lihat saja aku akan menyita Laptop dan Pc yang ada dikamarnya sekarang juga. supaya dia tidak bisa menonton Drama lagi." Ujar Jimi sambil berkacak pinggang.
Jimi berlenggang menaiki anak tangga.
"Tuan , anda mau kemana?" cegah Mbak Ruki menghalangi jalan Jimi.
"saya mau kekamar Jessly mbak, minggirlah." sahut Jimi.
"Tapi, Tuan.Saya sudah bilang , Nona Jessly sedang tidak ingin diganggu, saat ini." Ujar Mbak Ruki yang mulai bingung.
"Biarkan saja, saya akan tetap mengganggunya." Ujar Jimi lalu terus menaiki anak tangga.
"aduh, bagaimana ini." mbak Ruki tidak berhasil menghalangi Jimi.
ia mengikuti Jimi dari belakang.
"Alamat dipecat kalau begini." guman Mbak Ruki.
"Nona Jessly." Mbak Ruki memejamkan matanya berharap Jessly sudah berada didalam kamar nya.
Tangan Jimi hendak menekan Knop Pintu kamar Jessly.namun terdengar suara kegaduhan dari luar.
"Suara Apa itu?" Jimi mengurungkan Niatnya, mengfokuskan telinganya, Mbak Ruki kembali membuka matanya ketika juga mendengar suara keributan.
"sepertinya ada tamu , Tuan." ucap Mbak Ruki.
"Tamu? Tamu mana yang membuat keributan dirumah orang." Jimi mengurungkan niatnya kekamar Jessly, lalu kembali menuruni anak tangga.
Mbak Ruki menghela nafasnya lega.
Sementara diluar
minggir , saya ingin bertemu dengan Jimi dan Jessly,kau jangan menghalangi ku."ucap Chantika yang sedang dihalangi oleh penjaga keamanan mansion tersebut.
"Maaf Nyonya , anda tidak diperbolehkan untuk masuk kesini." tolak penjaga itu.
"Biarkan aku masuk, aku ingin bertemu dengan anak -anak ku.Chantika berusaha menerobos.
sementara anak buah Jimi tengah menghalau anak Buah Chantika, mereka tengah berkelahi.
"Tidak bisa, ini perintah langsung dari Tuan Jimi, anda tidak diperbolehkan bertemu dengan Tuan Jimi Maupun Nona Jessly " Security itu merentangkan tangannya.
"Jimi." Geram Chantika
Saat Satpam itu lengah Chantika menginjak kaki satpam tersebut dengan sepatunya, membuatnya mengaduh kesakitan, dan dia langsung berlari masuk kedalam mansion.
"Jimi ...Jessly ." Teriak Chantika, melirik keseluruh sudut ruangan.
"ada apa ini?." Jimi berdiri di dekat anak tangga.ia melototkan matanya kala melihat ibunya ada didepannya.
"Mama." guman Jimi.
"sial...mama menemukan kami."
Chantika memlirik kearah Jimi, ia tersenyum lalu menghampiri Jimi
"akhirnya Mama menemukan kalian, dimana Jessly, , Mama sangat merindukannya kalian" ujar Chantika.
"Untuk apa mama repot - repot mencari kami , bukankah mama tidak peduli lagi dengan kami, Urus saja selingkuhan mama itu." ujar Jimi dengan aura kebenciannya.
"Jimi..Mama peduli dengan kalian.Kenapa kamu bilang mama..
" ah, sudahlah , ma. jangan berpura - pura dihadapanku"
"Jim..." Chantika menatap mata Jimi, Jimi membalas dengan tatapan tajam.mata Chantika tampak berkaca-kaca.
Jimi memutus pandangannya dan berjalan kebelakang ibunya itu, sebegitu bencinya Jimi kepada Chantika.
"sebaiknya mama pergi dari sini, urus saja pekerjaan mama , selingkuhan mama, jangan cari kami lagi." Tekan Jimi lagi
"Jimi, Kau boleh membenci mama, kau boleh juga tidak mau mendengarkan penjelasan mama , Nak. tapi, izinkan mama untuk bertemu dengan Jessly." Chantika menghampiri Jimi sambil memohon dengan airmatanya yang sudah keluar.
"Jessly juga tidak akan mau bertemu dengan mama." Ucap Jimi .Chantika menggeleng.
"Mama yakin Jessly pasti mau bertemu dengan mama, mama mau bertemu dengan Jessly, jangan kau halangi mama, Jessly." teriak Chantika.
"Ma, hentikan." Ucap Jimi sambil menahan tangan Chantika.
"lepas.."
"penjaga." teriak Jimi
"iya Tuan." penjaga pun datang
" bawa nyonya ini dari sini." perintah Jimi.
"Jimi, , kau keterlaluan sama mama."
Jimi hanya diam, melepaskan lengan ibunya itu, lalu mengalihkan pandangannya.
__ADS_1
"Jessly, , mama datang sayang." teriak Chantika sambil melirik kelantai atas.penjaga hendak menyeret Chantika keluar
"Mama.." teriak Jessly sambil berlari menuruni anak tangga.
"Jessly ." Jimi dan Chantika sama -sama menoleh kearah Jessly.
"Mama..." Jessly berlari hendak memeluk Chantika, namun dihalangi oleh Jimi.
"Kak Jimi lepaskan , Kak." Ucap Jessly memberontak.
"Jessly , kenapa kau keluar dari kamar."
"Aku mau bertemu mama, Mama." ucap Jessly
"Jessly." Chantika menangis
"Lepaskan tangan ku" bentak Chantika pada penjaga, lalu menyentakkan tangannya, penjaga tersebut melepaskan tangan Chantika.Chantika sudah tidak tahan dengan sikap Jimi.
"Jimi , lepaskan adikmu." Ucap Chantika yang sudah geram kepada Jimi.
"Tidak akan, Aku tidak akan membiarkan Jessly mendekati mama."kekeh Jimi.
" Kak." Kesal Jessly dengan mata yang berkaca -kaca, ia sudah sangat merindukan ibunya.namun tak membuat Jimi Iba, rasa sakit yang dirasakan oleh Jimi terlalu mendalam.
" Kau lupa, apa yang sudah dia dilakukan kepada kita, kepada papa?
Jessly menggeleng
"saat papa meninggal, mama bahkan tidak menghadiri pemakaman papa, dia tidak pulang dari luar negeri, dan disaat -saat aku, papa, dan kau tengah membutuhkannya, dia lebih memilih pergi bersama dengan selingkuhannya." Jelas Jimi pada Jessly.
Jessly menangis dengan ucapan Jimi.
"Tidak, semua itu bohong, Jimi.Kau jangan percaya." tegas Chantika menolak.
"Apa yang bohong, , jelas Jelas aku melihat sendiri, mama pergi dengan lak-laki itu saat papa sedang mengalami kritis.
" Keenan adalah sahabat Papamu, dia bukan selingkuhan mama, papamu sendiri yang menyuruh mama untuk pergi dengan paman Keenan, untuk suatu urusan yang diperintah oleh papamu.
"Dan pada saat papa meninggal, mama sudah berusaha untuk pulang dari luar negeri." Jelas Chantika.
"bohong, mama jangan berbohong padaku lagi, aku tahu semuanya." Ucap Jimi geram.
"Cukup Jimi.." tiba -tiba datang seseorang dari luar.
membuat perhatian Jimi dan Jessly teralihkan kepada seseorang yang mendekat kearah mereka.
Jimi tersenyum sinis kearah laki -laki yang bersetelan rapi itu.
"bahkan dia membawa selingkuhannya datang kemari" ujar Jimi sambil tertawa.
"Kau sudah salah paham kepada kami rupanya." ucap keenan dengan tenang, ya laki-laki itu Keenan, teman Aiden.
"apanya yang salah paham."
Jimi menatap tajam kearah Keenan.
Keenan membuka hpnya dan menunjukkan sesuatu yang ada didalam ponselnya kepada Jimi.
"coba Kau lihat ini terlebih dahulu, setelah itu kau boleh marah kepadaku dan mamamu." Ucap Keenan sambil memberikan ponselnya.
Jimi menatap Keenan, lalu mengambil ponsel Keenan.
10 menit kemudian
Jimi mengerutkan keningnya kala mendengarkan dan melihat sendiri isi dari video yang diputar Keenan,entah video apa itu.perlahan cengkaraman tanganya Jimi pada lengan Jessly terlepas.
Jessly juga tidak percaya dengan apa yang dia lihat.
Jimi melirik kearah Chantika dengan tatapan tidak bisa diartikan, cukup lama dia memandangi Ibunya itu.
"Mama.." Lirih Jessly , lalu berhambur memeluk Chantika sambil menangis.
Jimi hanya diam saja, dia tidak tahu harus bagaimana.
"Maafkan Jessly, Mama."
"Tidak apa-apa sayang, Kau dan kakakmu tidak bersalah."Chantika mengusap -usap kepala anak gadisnya yang sudah lama tidak ia temui.
Jessly menangis cengukan.
" Mama.." panggil Jimi mendekat kearah Chantika, ia merasa bersalah sudah menuduh Chantika berselingkuh, dan tidak pernah memberinya ibunya itu kesempatan untuk menjelaskan apa yang sudah terjadi.
"Maafkan Jimi ma, Jimi sudah menjauhkan mama dari Jessly." Ucap Jimi tulus.
"Chantika tersenyum sambil mengusap pipi Jimi, lalu mengangguk.
" Iya sayang, ?mama memaafkanmu.." Jimi pun memeluk Chantika.mereka bertiga saling berpelukan,Keenan tersenyum melihat keluarga sahabatnya itu akhirnya bersatu kembali.
jangan lupa like ,commen dan vote yah
__ADS_1