
Jimi kembali membuka matanya.
"Kenapa tiba tiba aku selalu kepikiran helena, apa wanita itu benar-benar Dia?
dia tampak lebih berbeda sekarang dan kira kira siapa laki -laki yang bersama dia waktu itu ."
beberapa hari yang lalu disebuah restaurant Jimi melihat Helena tengah makan siang bersama seorang pria.
"come on Jimi , kau harus tetap fokus."
Jimi hendak memejamkan matanya kembali,namun ia menangkap seseorang yang ia kenal tengah memasuki pesawat.
‘’Terima kasih..’’ Ucap Helena kepada pramugari.
‘’sama –sama nona,tuan, .’’Pramugari itu tersenyum sembari menundukkan sedikit kepalanya.
"Silahkan.."
"oh iya.."
‘’Ayo yah..’’ ucap Helena sembari menuntun ayahnya berjalan kekursi mereka.
‘’Dia., , apa aku sudah gila selalu melihat Helena"Jimi mengucek -ngucek matanya untu memastikan itu adalah Helena.
‘’syukurlah,Lena sangat senang,setelah berobat disini kondisi ayah semakin membaik,dan kita bisa kembali ke Irlandia secepat ini'’Ucap Helena pada ayahnya.
‘’Iya sayang,,ayah juga senang,sekarang badan ayah terasa jauh lebih sehat.’’ Ujar endruf.
"Oh my god, ternyata itu benar-benar Helena, , dia ada disini.."
Helena tersenyum kepada ayahnya.namun senyumannya surut kala ia melihat sosok laki laki yang pernah ia cinta dahulu,namun sekarang menjadi sosok yang sangat ia benci.
‘’Jimi..’’ pandangan mereka saling bertemu.
Helena lebih dahulu memutus pendangan mereka.
Jimi berdiri dari kursinya untuk menyapa paman edruf dan Helena yang mendekat kearahnya.
‘’Jimi..’’ ucap Endruf ketika sadar ada Jimi disana.
‘’ kau nak Jimi bukan?..’’tebak Endruf sambil mengamati wajah Jimi.
‘’Paman Endruf..iya paman ini Jimi,,wah tidak menyangka saya bertemu paman disini.’’ Jimi tersenyum kepada Endruf.
‘’iya,paman juga tidak menyangka kita bisa bertemu disini,..’’ ucap Endruf lalu melirik kearah Helena.
‘’Oh ya,bagaimana kabar nak Jimi sekeluarga?.
‘’Baik paman,aku dan keluarga kabarnya baik-baik saja"jawab Jimi , paman bagaimana kabarnya.’’ tanya Jimi.
‘’syukurlah.paman juga baik.
"Oh ya , Paman mohon maaf belum bisa berkunjung kerumah baru kalian.’’
‘’tidak apa –apa paman, aku dengar paman sedang sakit, maaf saya belum bisa menjenguk paman, dan sekarang kita malah bertemu disini.’’
"tidak apa- apa nak Jimi, paman tau Nak Jimi pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya."
Jimi hanya tersenyum.
"maafkan Jimi paman.." katanya kemudian.
"hah sudahlah tidak apa-apa.."
‘’paman Juga sudah sempat dijenguk oleh Jessly dirumah sakit, itu sudah cukup bagi paman.’’
Jimi lagi- lagi hanya tersenyum.
‘’Sayang,kenapa kau tidak menyapa nak Jimi?kebetulan kita bertemu disini bukan.’’
__ADS_1
‘’Hah...’’
‘’Disapa dong nak Jiminya..’’ ujar Endruf.
‘’kenapa aku harus menyapa dirinya.’’ Batin Helena’’
Helena yang sekarang bukan lagi helena yang dulu yang suka mengejar ngejar ngejar Jimi.
‘’Helena..’’panggil Endruf
‘’Eh ,iya yah..’’
‘’Kenapa malah melamun?
‘’Tidak kok yah..’’
‘’oh iya,sebaiknya ayah duduk dulu saja,ingatkan apa yang dikatakan oleh dokter walaupun keadaan ayah sudah lebih baik,ayah belum boleh berdiri terlalu lama.’’ Dalih Helena.
Jimi hanya menatap Helena tampa tahu pikirannya.
Helena menuntun ayahnya untuk duduk.
tidak disangka ternyata kursi helena dan ayahnya berada tepat disamping tempat duduk Jimi.
Helena duduk disamping ayahnya sambil menghela napasnya.
‘’kenapa aku harus bertemu pria itu lagi.’’
"tuhan, apa dunia sesempit ini?"
‘’Lena..’’
‘’Hemm iya,ayah.’’
‘’Ayah lihat kau begitu dingin kepada Nak Jimi,apa kalian sedang bertengkar,biasanya kau paling semangat ketika bertemu nak Jimi.’’
Helena sedikit melebarkan matanya ,ternyata ayahnya begitu peka.
‘’Lalu kau kenapa?
Helena bingung mau menjawab apa.
Namun tiba –tiba ponsel Helena berbunyi
‘’Tunggu sebentar yah,ada telepon..’’
"Hemm, angkat lah terlebih dahulu.."
Helena selamat dari pertanyaan ayahnya.
Helena mengangkat telepon tersebut.sementara pandangan Jimi sejak tadi tidak teralihkan dari Helena.
‘’ternyata Helena benar- benar melakukan apa yang aku minta waktu itu,tapi kenapa sekarang ini terasa aneh bagiku,apa aku..
Dengan masih Menelepon Helena Reflek menoleh kearah Jimi yang membuat pandangan mereka kembali bertemu.
‘’ Sekarang dia terlihat lebih dewasa,apa orang bisa berubah secepat itu,dalam waktu dua bulan Helena tampak berubah,tuhan,ada apa denganku,kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku darinya.’’
‘’ya ampun kenapa Dia selalu melihat kemari.’’
‘’baiklah ,masalah kontes fashion show aku yang akan menjadi model untuk rancanganku sendiri,aku tutup dulu ya.’’ Helena segera mematikan ponselnya,lalu segera mengalihkan perhatiannya kepada sang ayah.
‘’kenapa hatiku begitu sakit saat Helena mengabaikanku,sebenarnya apa yang terjadi denganku.’’
"Helena , ingat tujuan mu saat ini, jangan lagi pikirkan laki-laki tidak berperasaan itu."
Bandara Dublin
‘’Nak Jimi...’’ ucap Endruf saat Jimi menghampiri dirinya dan Helena.
__ADS_1
‘’Mau apa lagi Laki Laki ini..’’ batin Helena.memandang kearah jimi dengan tidak suka.
Jimi langsung membuka kaca mata hitamnya.
‘’Paman belum pulang?.’’ Tanya Jimi.
‘’kebetulan belum nak Jimi,ini kami sedang menunggu jemputan.’’ Ucap Endruf.
‘’kenapa Enmy lama sekali.’’ Batin Helena sembari menghubungi telepon supirnya itu.
Jimi melirik sebentar kearah helena,Lalu
‘’Paman,kebetulan mobil saya terparkir dibandara, saya tidak akan keberatan mengantar paman dan Helena .’’ ujar Jimi.
‘’Tidak perlu,terima kasih,aku dan ayah tidak perlu tumpanganmu,sebentar lagi supir kami akan datang menjemput.’’ ucap Helena sedikit ketus
‘’Helena...kenapa kasar sekali nada bicaramu kepada nak Jimi?
‘’Loh yah, Helena tidak kasar kok.’’
‘’Melihat dari tingkah mereka berdua yang tidak saling tegur seperti biasanya,bisa aku tebak,sepertinya mereka berdua ada masalah?.’’ Batin Endruf.
Tidak lama kemudian supir yang menjemput Helena dan ayahnya pun tiba.
‘’tolong masukkan semua koper ayah.’’
‘’Baik Nona.’’
Helena menaikkan kopernya sendiri.
sementara Endruf dan Jimi berbincang sebentar.
‘’Nak Jimi,lain kali berkunjung lah ketempat paman,jangan lupa ajak juga adikmu Jessly dan mami mu.’’ Ujar Endruf lagi.
‘’Baik paman,lain kali saya pasti akan datang berkunjung kerumah paman,sudah lama juga saya tidak pernah kesana.’’ Jawab Jimi sembari tersenyum.
Dan mendapat anggukan dari Endruf.
‘’oh ya,dan juga maafkan atas sikap Helena yang tadi ya, paman juga tidak tahu kenapa dia tiba –tiba seperti itu kepada nak Jimi.’’
"Paman juga tidak tahu kenapa dia tiba-tiba bersikap seperti itu kepada nak Jimi, tapi ngomong-ngomong apa kalian ada masalah?
‘’Saya sendiri yang membuat Helena seperti itu paman,dan itu membuatku menyesal.’’
Jimi menggeleng
‘’Tidak ada kok paman, paman tenang saja, kami tidak ada masalah apa -apa kok, mungkin Helena tengah banyak pikiran kerena pekerjaannya.
‘’Kau benar juga nak jimi, akhir akhir ini Helena memang sibuk di boutique nya, belum dia juga mengurus paman.’’ Endruf mengangguk.
Jimi hanya tersenyum tipis.
Helena kembali dari mobil.
‘’Ayo yah,ayah harus segera istirahat..’’
Endruf mengangguk ,lalu berjalan perlahan dengan tongkatnya setelah pamit dengan Jimi.
Jimi hendak bicara dengan Helena saat mata mereka bertemu pandang, namun lidahnya terasa kelu saat melihat Expresi Helena yang tampak membenci dirinya.
" Michelle , pokoknya ayah tidak mau tau,segera urus masalah ini sebelum semua media tahu."ucap George sambil melempar sebuah berkas ke meja kerja Michelle.
"iya yah, , ayah tenang saja, aku akan menyelesai semua masalah ini dengan cepat.
" bagus, kau memang bisa diandalkan.." george menyerigai dengan tipis sembari menepuk-nepuk bahu michelle, lalu ia keluar dari ruangan Anaknya itu
Setelah kepergian ayahnya Michelle mengepalkan tangannya, sedari tadi ia berusaha menahan emosinya.
"Kenapa harus aku yang selalu menanggung semua masalah ayah." ucap Michelle dengan bibir yang bergetar.
__ADS_1
"Sungguh aku sudah bosan dengan semua ini." Michelle menepuk meja untuk menyalurkan emosinya.
namun kemudian hatinya kembali tenang kala mengingat wajah Jessly, ia mendudukkan tubuhnya untuk menenangkan pikirannya.