
Selesai mendapat tandatangan dari Leo , Emina segera membawa asisten Client mereka itu keluar dari ruangan Leo.
leo tampak tersenyum sendiri atas apa yang dilakukan tadi kepada Jessly.
Sementara Jessly ia masih sibuk memegangi bibirnya yang telah dicium oleh Leo
"Jessly ayo keluarlah, mereka sudah pergi." Ucap Leo sedikit memiringkan tubuhnya.
Jessly keluar dari bawah meja dengan perasaan campur aduk, suasana tiba -tiba menjadi canggung bagi Jessly sendiri, sementara Leo tampak biasa saja.
"Uhg, , syukurlah mereka sudah pergi, untung mereka tidak melihatku disini." Ujar Jessly dengan Lega.
"Sebegitunya Jessly tidak mau orang tau tentang hubungan kami." Batin Leo.
Namun seketika senyuman tipis diwajah Leo timbul kala melihat kotak makan yang diletakkan diatas meja sofa.
Jessly menatap Leo yang tampak baik-baik saja.
"Kenapa melihatku seperti itu?." Tanya Leo.
"Hah, , Jessly mengerjap-ngerjapkan matanya, Lalu menggaruk-garukkan pipinya.
" tumben datang kesini, ada apa?." Tanya Leo lagi, ia sibuk memeriksa berkas yang ada diatas meja.
Jessly tampak berpikir
"A-aku kesini, hemmm, , apa kau tidak apa-apa?." Tanya Jessly balik, Seketika Leo menghentikan aktivitasnya , lalu melirik kearah Jessly.
"Kenapa tidak bilang , kalau sarapan yang aku buat tidak enak, kau malah mengabiskannya." Jessly mengembungkan pipinya.
Leo sedikit tersenyum.
"Enak kok, , kata siapa tidak enak, ,lagi pula aku tidak akan menyia -menyiakan kesempatanku untuk mencicipi masakan istriku, kau sudah bersusah payah membuatkannya untukku bukan." Ucap Leo sambil berdiri dari kursinya.
Jessly merasa terenyah karena Leo menghargai masakan buatannya.
"Ta-tapi makanan itu tidak layak untuk dimakan, kau saja bisa sakit perut karenanya."
"Lihat aku tidak kenapa-napa ." ucap Leo.
Jessly merasa gugup karena Leo sudah berdiri didepannya dengan tatapan yang sulit diartikan, Leo mendekatkan wajahnya ke wajah Jessly, takut Leo menciumnya lagi, Jessly mengalihkan perhatian Leo.
"Aku sudah membuat makan siang untukmu." Sambil tertawa kaku , buru-buru Jessly menghampiri kotak makanan yang ada meja sofa.
Leo tersenyum melihat tingkah Jessly.
Leo menghampiri Jessly yang sedang membuka bekal sambil membawa beberapa berkasnya yang harus ia tanda tangani.
Jessly memperhatikan Leo yang tengah duduk disampingnya.
Leo ingin menyentuh rambut Jessly tapi Jessly menghidarinya.
"Kau mau apa Le?.." Tanya Jessly.
Leo tersenyum tipis.
"Kenapa, apa aku tidak boleh menyentuh istriku?." Tanya Leo balik.
Jessly mengerutkan keningnya.
"Apa kau tidak membaca isi kontrak dariku?." Ucap Jessly.
__ADS_1
Sedari tadi Jantungnya sudah dibuat berdebar -debar oleh Leo, makanya Jessly bertanya seperti itu.
Leo menggeleng
"Belum, , aku belum membacanya, dan tidak ingin membacanya.." Bohong Leo yang sebenarnya sudah membaca isi kontrak pernikahan itu.
"Kenapa kau tidak membacanya, berati kau belum menandatanganinya?."ujar jessly lagi.
Leo menggeleng santai
Jessly mengehela nafasnya.
Leo kembali menyentuh kepala Jessly
" Ada sedikit serpihan kayu yang menempel di rambutmu." Ucap Leo sambil memperlihatkannya kepada Jessly.
"Oh, maaf.."pelan Jessly
Jessly sangat malu, dia sudah menyangka Leo akan melakukan hal yang tidak-tidak kepadanya.
Kemudian Leo sibuk membaca berkasnya.
"Apa makan siangku, akan terus dianggurin seperti itu?." Tanya Leo tampa melirik kearah Jessly yang tampak sedang melamun.
"Oh iya.." Jessly kembali membuka bekal makanan itu.
"Suapi aku.." Ucap Leo masih tidak melihat kepada Jessly.
" kau bisa makan sendiri bukan, aku akan pulang." Tolak Jessly dengan nada ketus.
Leo menoleh kearah Jessly.
Jessly menghela nafasnya kembali dengan kasar
"Suapi aku ." ucap Leo lagi
"Apa aku harus menyuapimu, kau kan punya tangan sendiri bukan." Tolak Jessly lagi.
Leo menatap diam Jessly.
"Apa kau tidak ingin mematuhi Suamimu?kau tau bukan konsekuensinya?.
"Ck..Iyaiya, aku akan melakukannya." Ucap Jessly sambil mengangkat kotak makanannya.
Jessly tau kalau Leo sudah menatapnya seperti itu, ia tahu apa yang akan dilakukan oleh seorang Leo, dia pasti akan mengancam mengadukan perlakuan Jessly yang tidak mau menurut kepada Chantika.
"Salah aku datang kesini, mana ciuman pertamaku sudah diambil oleh Leo." Batin Jessly.
Perlahan Jessly menyuapi Leo secara perlahan.
"Lagi pula kenapa aku mau saja mematuhi perintah Leo." Batinnya lagi sambil menggembungkan pipinya.
"Aku akan pulang." Selesai merapikan kembali kotak makannya Jessly menghampiri Leo yang sudah duduk Dimeja Kerjanya.ia masih kesal dengan Leo yang sudah mengambil ciuman pertamanya.dan lebih membuat Jessly kesal lagi Leo tidak membaca isi kontrak nikah yang sudah ia buat.
"Jess, tunggu.." Leo menahan Jessly ketika hendak keluar dari ruangannya.
"Ada apa lagi.." Jessly berbalik
Leo langsung saja memeluk Jessly dan menyandarkan kepala Jessly didada bidanganya.
Deg...lagi lagi jantung Jessly berdebar, pipinya juga terasa panas.Leo memejamkan matanya.
__ADS_1
"Leo, a-apa yang kau lakukan?."
"Biarkan seperti ini sebentar.."
Jessly tidak mampu bicara lagi.
Beberapa saat kemudian.
"Sudah.." Leo tersenyum sambil melepaskan pelukannya.
"kenapa kau cepat sekali ingin pulang, bisakah kau menemaniku bekerja?
Jessly menatap Leo dengan tatapan yang tidak bisa diartikan.
" ck, , seperti anak kecil saja."
"hemmmss.."
cup..cup..cup
"hey, , kau..
Leo mencium bibir Jessly tiga kali.
"tadi kau sudah mengambil ciuman pertamaku, sekarang berani-beraninya kau menciumku lagi.." kesal Jessly
" ternyata bibir istriku sangat manis.."puji Leo yang Jessly semakin kesal.
"boleh aku cium lagi sayang?
" kau , , ckk.." jessly begitu kesal, ia tidak tahu harus bicara apa lagi.
"jangan marah-marah terus, , nanti cantiknya hilang lo." Ucap Leo sambil mencium pipi Jessly.
"Leo...""
"Iya kenapa sayang?." ucap Leo dengan nada tidak bersalah.
"Pokoknya segera tanda tangani kontrak itu, aku tidak mau tahu." ujar Jessly sembari menatap Leo dengan tajam
"Iyaiya , memang apa sih isi kontrak itu?
" Baca saja sendiri.." kesal Jessly.
"Baiklah, , Aku akan memanggil Rio untuk mengantarmu pulang." Ucap Leo hendak menghubungi Rio.
"Tidak perlu, ada supir yang mengantarku, aku pulang." Tolak Jessly masih dengan Ekpresi kesalnya.
Jessly pun keluar dari ruangan Leo, Leo hanya menatap punggung Jessly dengan senyuman tipisnya.
"Aku tidak akan pernah menuruti isi kontrak itu, bagiku ,kau adalah istriku, pernikahan ini tidak akan pernah berakhir , Jess." Batin Leo.
Didalam mobil
"Ah, sial, sial, sial.." Jessly mengacak-acak rambutnya sendiri.
"Apa yang harus aku lakukan ." batin Jessly, ia berusaha menahan sesak didadanya.
"Seharusnya aku tidak menerima perjodohan ini, karena hanya akan membuat aku sakit hati nantinya." Batin Jessly lagi.matanya mulai berkaca-kaca.
"Kenapa dia seperti memberi harapan kepadaku."
__ADS_1