
Flashback
didalam mobil yang sama, yang mereka lakukan hanyalah diam, sesekali Leo melirik kearah Jessly yang sedari tadi tidak mengubah posisinya melihat kearah kaca jendela mobil.
"apa lehermu tidak pegal menengok kesana terus?." tanya Leo.
"tidak." Jawab Jessly singkat.
"apakah kau masih marah kepadaku, baiklah aku minta maaf kepadamu." ujar Leo lagi.
"hemmms." hanya itu jawab Jessly.
Jessly melirik kearah Jessly sambil tersenyum.
entah kenapa walaupun dengan posisi seperti itu , Leo sudah sangat senang bisa memandang Jessly selama ini.
Setelah beberapa menit menempuh perjalanan , Mereka sampai dikekediaman Keluarga Breslin.
Mobil mewah yang ditumpangi oleh Leo dan Jessly masuk kedalam perkarangan rumah bak istana setelah satpam penjaga membuka gerbang.
Tampaklah rumah super mewah berdisain eropa dengan pilar-pilar yang tinggi dengan halaman yang dikelilingi bunga-bunga langka dan mahal.ditengah -tengah halaman terlihat air mancur yang memuncratkan airnya.
"I-ini rumah paman Breslin?Rumah keluarga Leo " pikir Jessly , ia tercengang.
Tuan Breslin dan Lainnya terlihat sedang menunggu Leo dan Jessly didepan pintu utama.
Mereka sudah turun dari dalam mobil.
"Leo, bawa Jessly masuk ya." Ujar Diana pada Leo.Mereka pun masuk kedalam mansion.
"Iya ma." Ujar Leo, Jessly masih sibuk melirik kearah
"Aku tidak menyangka ternyata Leo anak sultan." pikir Jessly lagi.
"apa kau akan tetap disini?" tanya Leo yang berada dibelakang Jessly.
Jessly menoleh, lalu melenggang masuk kedalam tampa mempedulikan Leo.
"Tuan, , sepertinya Nona memang benar -benar marah kepada anda." ucap Rio.
"hemmmms, begitulah Jessly."
Leo menyunggingkan senyumannya, lalu mengikuti Jessly dari belakang.
didalam ruangan tamu yang tidak kalah mewah mereka berkumpul, Jessly juga terperangah melihat isi ruangan tamu.keluarganya juga memang kaya tapi tidak sekaya keluarga Leo.
Tuan Breslin keluar dari Ruangan Kerjanya dan membawa sebuah berkas.
"berkas apa itu, pa?" tanya Diana ketika Tuan Breslin duduk disampingnya.
Tuan Breslin menyerahkan berkas itu kepada Chantika.
__ADS_1
"Berkas apa ini Tuan Breslin?." tanya Chantika.
sembari mengambil berkas tersebut.
"Itu adalah berkas perjanjian dan sertifikat sebuah hotel yang kami bangun dengan Aiden beberapa tahun lalu." Jelas Tuan Breslin , membuat semua orang mengerutkan kening termasuk Diana.
"Pa, kenapa mama tidak mengetahui hal ini?tanya Diana.
Tuan Breslin tersenyum kepada Diana.
" itu karena hanya papa dan Aiden yang mengetahuinya.
"Iya Dii, aku juga tidak mengetahui tentang hotel ini." ucap Chantika.
"Sertifikat LEJEMI Hotel?." tanya Jessly.
"iya , LEJEMI Hotel, , hotel itu kami beri nama berdasarkan awalan nama kalian bertiga."
"Bertiga?." Kini Leo yang bertanya.
"hmmmss, , Leo, Jessly dan Juga Jimi Anak pertama dari Aiden."
Jessly melototkan matanya terkejut.
"dan sekarang sudah saatnya kalian Tahu tentang Hotel ini."
"Hotel ini berada dikota Cork, dan sekarang hotel ini lumayan sangat terkenal." Ujar Tuan Breslin lagi.
"kami membangun Hotel ini dengan susah payah dengan Aiden sehingga berkembang dengan pesat Sekarang.
" aku tidak menduga, ternyata papa juga meninggalkan propeti Hotel untukku dan kak Jimi." batin Jessly senang.
" Hotel itu sekarang akan papa bagikan, karena Leo dan Jessly sudah berusia lebih dari 20 tahun." ucap Breslin yang diangguki oleh Diana dan Chantika.
Jessly tampak senang dalam hatinya, sementara Leo hanya menunjukkan Ekpresi biasa.
"tapi kami punya syarat perjanjian, untuk membagi hotel tersebut." Tuan Breslin menatap semuanya secara bergantian.
Jessly mengerutkan keningnya.
"syarat perjanjian apa lagi?."batin Jessly tadinya dia sudah sangat senang.
" Jika Leo dan Jessly mau kami Jodohkan , maka mereka akan mendapat bagian, tapi kalau tidak, maka Jimi lah yang akan mendapatkan Hotel itu." mendengar Penuturan itu membuat Diana dan Chantika terkejut, tak terkecuali Leo dan Jessly.
"A-apa?...
"kenapa syaratnya seperti itu?."Ceplos Jessly tampa sadar, membuat semua orang menoleh kearahnya.
Jessly mengerjap-ngerjapkan matanya, sementara Leo ia tersenyum samar manatap kearah Jessly.
"tadinya aku memang tidak tertarik dengan pembagian hotel itu, tapi sekarang..."
__ADS_1
"Dulu sebelum Leo lahir, Aku dan Aiden pernah Berjanji , jika anakku lahir perempuan, maka kelak mereka akan kami jodohkan untuk mempererat tali persahabatan kami.tapi sayangnya Leo terlahir sebagai anak laki-laki, perjanjian pun batal.
mereka semua serius mendengarkannya.
"Namun tidak berapa lama, bu Chantika hamil anak kedua, kami kembali membuat perjanjian , Jika anak kedua Aiden terlahir sebagai anak perempuan , maka ia akan dijodohkan dengan Leo.
" Setelah Jessly lahir, kami sangat senang , karena yang lahir adalah anak perempuan, maka dari itu kami memutuskan untuk membangun sebuah hotel untuk kalian bertiga, tapi Aiden sendiri yang membuat perjanjian, Jika anak perempuannya menolak perjodohan ini kelak, maka ia sendiri yang tidak akan mendapatkan bagian dari hotel itu, bagian Hotel untuknya akan diberikan kepada Jimi."
"Papa sendiri yang membuat isi perjanjian seperti itu?." ucap Jessly
"iya, dan Paman Juga membuat perjanjian, Jika Leo menolak perjodohan ini, maka ia juga tidak akan mendapatkan apa-apa dari hotel tersebut." ujar Breslin menengok kearah Leo.
"Jadi kalau kami menolak, maka Hotel itu akan dimiliki oleh kak Jimi sendiri , paman."
Breslin mengangguk.
Diana dan Chantika saling pandang sambil tersenyum senang.
"Ehemm, , aku yakin hotel itu sudah susah payah papa kembangkan, aku tidak akan menyia-nyiakan jerih payah papa, aku bersedia menerima perjodohan yang telah papa sepakati dengan paman Aiden." ujar Leo yang membuat semua orang terkejut sekaligus senang .
Jessly menyipitkan matanya kearah Leo.
dia berpikir kenapa Leo bisa menerimanya dengan mudah.
"Jadi bagaimana dengan Jessly?." tanya Tuan Breslin.
Jessly diam sesaat
"Mam.." Jessly menatap kearah Chantika.
"Itu terserah kamu, sayang." Chantika menaikkan kedua bahunya.
Jessly menatap semua orang termasuk Leo yang tampak santai.
"Jadi bagaimana, sayang? ." Tanya Diana yang sudah tidak sabar mendengar keputusan dari Jessly.
"Hemmmss, untuk semuanya tolong beri Jessly waktu memikirkannya terlebih dahulu." Ucap Jessly, ia belum bisa memutuskan hal yang berat baginya itu.
Leo menghela nafasnya, dalam hatinya ia tidak sabar mendengar jawaban Jessly.
"Baiklah, dengan sabar kami akan menunggu keputusan dari Jessly." Ucap Tuan Breslin.
Jessly sedikit tersenyum tipis.
"Kenapa aku selalu terjebak dengannya." batin Jessly melirik kearah Leo, yang pura-pura menoleh kearah lain.
"setelah ini, paman akan membawa kalian dan Jimi untuk melihat-lihat hotel itu." ucap Tuan Breslin.
"Maaf tuan, Nyonya.makanannya telah siap terhidangkan." Ucap pelayan yang tiba-tiba datang.
"mumpung makanannya telah terhidang, Jessly , Chantika, mari kita makan siang terlebih dahulu." ujar Diana.
__ADS_1
mereka semua pun beranjak kemeja makan.