
Fox dengan cepat merogoh ponselnya pada saku depan jasnya. Menempelkan benda itu lebih dekat ke telinganya untuk menanti jawaban dari seberang sana.
The number you are calling is not active.
Begitulah jawaban dari nomor ponsel Jelly saat Fox menghubunginya. " Nomor Jelly sepertinya ganti? Apa dia tidak memberi tahu mu dia dimana?"
Iya menggeleng.
" Lalu kemana dia?" Raut wajah Fox yang berubah resah saat ponsel Jelly sepertinya berganti nomor.
Iya pun kembali menggeleng. " Dia hanya titipkan ini," seraya memberikan kunci mobil mewah kepada Fox.
" Astaga Jelly." Fox pun semakin dibuat frustasi. Mengacak kasar rambutnya. Dan akhirnya berlari kembali ke area parkiran. Segera melajukan mobilnya melesat menuju apartemen miliknya dimana Jelly sebelumnya tinggal.
Di dalam mobil pun Fox dibuat cemas karena ulah Jelly. Sekaligus dia menyalahkan dirinya sendiri atas sikapnya waktu itu. Tapi tidak menyangka, jika akhirnya Jelly harus resign dari kantornya. " Dimana kamu Jelly?" lirihnya seraya tidak berhenti memfokuskan pandangannya lurus ke depan.
Sampai dimana mobilnya telah sampai di apartemen miliknya. Dia yang tengah berlari tergesa menuju lift namun lagi-lagi langkahnya harus terhenti karena seorang resepsionis memanggilnya.
" Nona Jelly berpesan untuk menyerahkan kunci apartemen ini ke anda."
Fox pun membuang nafasnya kasar. Menerima kunci apartemen dari seorang resepsionis. " Terimakasih." Namun dia tetap melanjutkan langkahnya untuk menuju lift dan naik ke lantai puncak.
Setelah sampai lantai puncak dan membuka pintu apartemennya. Fox pun masuk dengan perasaan bercampur aduk. Terlebih saat tahu jika sepertinya Tamarin mengkhianatinya. Rasanya dia membutuhkan Jelly untuk sekedar teman cerita. Namun mengapa? Mengapa disaat dia membutuhkan Jelly untuk mendengarkan semua ceritanya? Jelly malah pergi meninggalkan nya.
" Argh." Fox yang frustasi memukulkan kepalan dari genggamannya pada sebuah dinding. Kedua telapak tangannya mengacak kasar rambut kepalanya hingga menarik dasi pada kerah lehernya hingga terlihat berantakan penampilannya.
Dia lantas mengambrukkan tubuhnya di atas long sofa pada ruang tengah. Fox semakin dibuat frustasi setelah tahu jika ternyata Jelly sudah pergi juga meninggalkan apartemennya.
.
.
Sementara Jelly. Jelly yang sudah selesai rambutnya diluruskan dan tengah memandangi wajah barunya di cermin salon.
Dengan sentuhan lipstik warna bibir dark coklat membuat penampilannya memang sedikit berubah dari yang sebelumnya.
Jelly masih tidak terima, jika rambut curly yang menghiasi kepalanya selama ini harus berubah demi pria dingin dan arogan itu. Dia terus menyentuhkan sepuluh jemarinya membelai beberapa bagian rambutnya tanpa henti sembari memutar-mutar tubuhnya.
Masih tidak percaya dengan penampilannya. Dia bahkan cenderung kurang suka dengan hasilnya. Jelly pun gelisah antara harus merubah gaya rambutnya lagi, atau membiarkan bos besarnya itu melihat hasil dari nyalonnya hari ini.
Dert
Dert
Tidak berselang lama, ponselnya pun bergetar dan benar saja jika atasannya itu sudah berusaha menghubunginya.
Jelly pun mengangkat dan di suruh nya dia untuk menjemput pimpinannya itu.
Ditutupnya benda yang dia gunakan untuk menerima sambungan telepon dari pimpinannya. Dengan cepat pula Jelly keluar tanpa peduli lagi dengan gaya rambutnya yang jujur sejak tadi mengusiknya dan mengurangi kepercayaan dirinya.
__ADS_1
.
.
Tiga puluh menit Jelly dalam perjalanan dan akhirnya sampai pada sebuah rumah mengalahkan istana kepresidenan itu. Dia lantas menghubungi bosnya dan memilih menunggu di luar pagar yang mengungkung rumah mengalahkan istana kepresidenan itu.
Jelly pun terkejut, jika ternyata Davos menyuruh nya untuk memasukkan mobilnya setelah dia menghubungi security rumahnya.
Davos ternyata sudah menunggunya tepat di depan pintu utama setelah mobil Jelly berhenti di pelataran yang tidak jauh dari dimana Davos berdiri.
Jelly pun membuka pintu kaca mobilnya dan malah mengundang gelitik tawa dari Davos.
Davos malah geli melihat Jelly rambutnya diluruskan. Meskipun untuk kali ini kemeja yang dikenakan Jelly sesuai yang dia inginkan alias tidak panjang dan Davos sangat menyukainya.
Namun tidak pada gaya rambut Jelly yang terlihat biasa saja. Tidak ada sentuhan yang menarik untuk membuat rambut sekretarisnya itu tampak jauh lebih modis dari yang kemarin. Terlebih jika Jelly tetap mempertahankan gaya rambutnya yang dulu. Entah mengapa? Davos melihatnya lebih tua dan kurang segar.
Tapi lucu juga jika gaya rambutnya begini. gumam Davos dalam hati.
Pasti dia menertawai gaya rambut ku.
Jelly yang jujur tidak percaya diri karena rambutnya. Semenjak rambutnya di luruskan, dia malah terlihat aneh. " Apa bapak akan terus tertawa?"
" Okay, okay Jelly. Sekarang kita berangkat."
" Oh ya pak? Bagaimana? Apa bapak suka gaya rambut dan penampilan saya?" Jelly yang ragu-ragu mengatakannya. Dia jujur takut jika bosnya itu tidak menyukainya. Trus memecat nya.
" Lumayan, ketimbang rambut kamu yang dulu. Oh ya, ini tagihan awal untuk kerusakan pada mobil saya." Davos memberi Jelly rincian dari tagihan awal kerusakan pada mobilnya.
Glek
Baru tagihan awal saja hampir mencapai seratus juta.
Astaga.
Jelly yang terus menyalahkan dirinya sendiri dan menyematkan kata ceroboh pada tindakannya.
Sementara Davos tampak tersenyum dalam hati karena bisa melihat wajah Jelly langsung berubah pucat setelah melihat tagihan itu.
" Ada apa?"
" Oh, nggak apa-apa." Jelly berusaha menutupi kecemasannya. Takut kalau biaya kerusakan pada mobil mewah milik Davos memakan semua uang dalam rekeningnya di dalam tabungan.
Padahal Davos hanya berpura-pura saja meminta uang kepada Jelly. Dia hanya ingin tahu seberapa tanggung jawab Jelly dalam hal ini. Jelas Davos tidak akan tega jika dia benar-benar harus meminta uang ganti rugi kepada wanita ini. " Kamu tidak perlu membayarnya sekarang. Kamu bisa cicil bahkan."
" Oh ya pak." Jelly tampak sumringah.
" Iya."
Keduanya pun lantas naik mobil milik Jelly dan menembus padatnya jalanan kota Jakarta hingga akhirnya pun tiba di kantor.
__ADS_1
.
.
Di kota Bandung.
Seorang wanita yang usianya sekitar empat puluh tahunan lebih. Tengah membawa masuk pria yang kurang lebih sama usianya ke dalam rumah mewahnya.
Keduanya bahkan tidak sungkan lagi saling bermesraan seolah tanpa dosa di depan suaminya. Ayah Jelly. Yang terbilang usianya lima belas tahun lebih tua dari wanita itu.
Ya, wanita itu adalah wanita yang dinikahi oleh ayah Jelly setelah melihat istrinya yakni ibunya Jelly sakit-sakitan. Ayah Jelly kepincut dengan pesona wanita itu sampai-sampai meninggalkan ibunya Jelly yang tengah sakit-sakitan. Keduanya bahkan terusir dari rumah mewahnya dan keduanya harus bertahan hidup di rumah peninggalan milik orang tua ibunya Jelly.
Sampai dimana ibunya Jelly meninggal saja, ayahnya Jelly bahkan tidak mengetahui dan mendengar kabarnya.
" Ini ... bawa barang-barang kamu!" Wanita yang bahkan masih berstatus seorang istri dari ayah Jelly itu tengah melempar tas-tas berisi pakaian dari ayahnya Jelly. " Sekarang kamu boleh angkat kaki mas, dari rumah ini!" Kasarnya ucapannya wanita itu terhadap ayah Jelly.
Dulu saja ayah Jelly begitu di sanjungnya. Namun sekarang, istri mudanya bahkan membuangnya dan mengusirnya tanpa ampun karena semua surat rumah berikut salah satu Hotel di Bandung telah berbalik nama atas dirinya.
" Akan aku urus perceraian kita," ujar wanita itu dengan sinis dan kasarnya.
Ayah Jelly hanya menitikkan air mata. Merasa menyesal karena telah menikahi wanita yang salah. Wanita yang ternyata hanya mengincar hartanya. Dia bahkan sampai rela meninggalkan anak dan istrinya kala itu. Dan sekarang, wanita itu malah merebut semua hartanya dan mengalihkan semua aset atas miliknya.
Dia sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Dia lantas mengambil tas yang berisi pakaian dan melangkah pergi.
Bug.
Satu tas lagi yang di lempar hingga mengenai punggung lelaki tua itu hingga tubuhnya tersungkur.
Ayah Jelly memang pantas mendapatkannya. Sampai-sampai dia bingung akan pergi kemana. Karena rumah dan Hotel adalah aset berharga yang dia punya.
Uang yang tinggal beberapa itu dia pergunakan untuk naik bus ke Jakarta. Hingga setelah sampai di Jakarta, dia hanya bisa berjalan tanpa arah dan tujuan.
Sampai-sampai dia tidak menengok kanan kiri saat menyebrang.
Ciit.
Suara mobil yang ditumpangi oleh Jelly dan juga Davos yang hendak pulang dari kantor itu pun berdecit karena ban yang menggesek aspal.
" Kamu gila Jelly!" Murka dari Davos yang sudah tidak bisa dia tahan lagi. Sekretarisnya kali ini benar-benar akan menabrak seseorang.
Jelly tidak menggubris bosnya yang tengah mengomel. Namun dia langsung bergegas keluar dan melihat pria yang sedang menyebrang jalan itu. Apakah dia terluka atau baik-baik saja.
" Pak ... bapak tidak apa-apa?" Jelly pun bertanya pada lelaki yang umurnya sudah tua itu.
Saat lelaki tua itu menatap Jelly. Alangkah terkejutnya kedua orang tersebut.
" Jelly anak ku?" lirih ayah Jelly.
" Ayah." lirih Jelly.
__ADS_1
BERSAMBUNG