Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Fox Ke Sekolah Candy


__ADS_3

" Tidak Tuan. Bukankah nona Tamarin selalu bersama Candy? Mengantarnya sekolah dan kemudian pulang ke rumah." jawab dari sang supir.


Fox kemudian mendengus.


Oh my God


Apa yang aku lakukan?


Fox yang kemudian mengusap dahinya. Merasa bersalah kepada Tamarin hingga harus bertanya demikian kepada supirnya. " Kita balik saja ya, kita langsung ke sekolah Candy."


" Ta-tapi pak ... " Supir yang merasa heran, padahal mobil baru saja akan masuk halaman parkiran kantor. Dan sang supir yakin jika Tuannya mengetahui itu. Namun tiba-tiba saja harus kembali berputar dengan arah jalan pulang dan ke sekolah Candy.


" Sudah jalan saja!" Fox yang merasa bersalah dengan setitik kecurigaannya. Membuat ingin menebusnya untuk sekedar ingin berjumpa dan ngobrol sebentar dengan Tamarin saat dia sedang menunggu Candy di sekolah.


.


.


" Biar aku antar saja!" Tuan Kino yang berlari menghampiri Candy dan Tamarin yang hendak naik ke dalam mobil pribadinya.


" Tidak usah." tolak Tamarin.


" Come on Baby." lirihnya dan dapat dipastikan jika Candy tidak mendengarnya. " Candy sayang, nanti kita jalan-jalan lagi sama opa. Kita makan es krim lagi. Okay."


" Asyik." Girangnya dengan mengangkat kedua tangan nya ke udara.


Lirikan Tuan Kino kepada Tamarin untuk menyerah saja dan menuruti apa maunya. Candy dan Tamarin pun akhirnya naik ke mobil Tuan Kino lalu di antarnya Candy ke sekolah.


Tidak berselang lama mobil Mercedes-Benz limited edition itu sampai di halaman sekolah Candy.


Sedang lima menit kemudian mobil yang ditumpangi oleh Fox dan supir pribadinya juga telah sampai namun masih di seberang jalan. " Ayah?" lirihnya heran mengapa ayahnya mengantar Candy dan Tamarin? Bukankah Tamarin biasanya naik mobil sendiri?" Fox yang melihat mereka dari kaca jendela mobil yang sengaja dia buka.


" Dada opa ... Dada mama." Candy yang lari menuju kelasnya.


Namun Tuan Kino serasa tidak puas jika hanya lambaian tangan Candy. Dia kemudian jongkok supaya tingginya sejajar dengan Candy. Mengecupnya berulang-ulang di kedua pipi dan juga dahi hingga terbilang berlebihan kasih sayangnya.


Dan itu semua dilihat oleh Fox yang sudah turun dari mobil.


" Papa." teriak Candy saat tahu papanya datang. Candy pun berlari menghampiri.


Sementara Tamarin dan Tuan Kino jelas sangat terkejut dengan kedatangan Fox. Namun Tuan Kino terlihat santai dan tidak gugup. Berbeda dengan Tamarin yang tampak terlihat gelisah.


" Hai sayang, sekarang Candy masuk ya! Itu teman-temannya sudah masuk semua." Fox dan Candy yang melihat ke arah depan kelas yang dimana semua teman-teman Candy sudah masuk.


" Okay papa." Dengan senyum yang tak pernah pudar dari bibir bocah manis itu.


" Tos dulu dong."


PLOK


Keduanya pun tos dan Candy pun lari menuju kelasnya.


" Ayah." sapa Fox yang jalannya seperti anak selesai sunat. " Bukankah kamu biasanya naik mobil sendiri sayang?" tanya Fox kepada Tamarin yang berdiri tidak jauh di depannya.


" Em ... " Tamarin yang bingung mau menjawab apa.


" Ayah yang sengaja memaksa, jadi kamu jangan salahkan Tamarin. Itu karena ayah, ingin mengajak Candy jalan-jalan nanti setelah pulang sekolah." sahut Tuan Kino.


Apa tidak bisa menunggu Candy sampai pulang ke rumah?


Ah, Fox ... sudahlah.

__ADS_1


Jangan diperpanjang.


" Kamu sendiri? bukannya harusnya kamu ke kantor?"


" Iya yah, aku hanya ingin menemui Tamarin."


" Silahkan." Tuan Kino yang kemudian menyingkir dari pasangan suami istri tersebut.


Fox yang berjalan ke sebuah taman dengan Tamarin. Keduanya duduk di sana.


" Ada apa sayang? tumben sekali kamu ke sekolah Candy?" tanya Tamarin dengan menghadap ke suaminya.


Fox kemudian meraih kelima jemari kanan Tamarin. " Tidak sayang, tidak apa-apa. Bukankah aku lupa mengecup kamu tadi pagi?" Fox yang kemudian mengecup kening Tamarin.


Membuat bertanya-tanya pada batin Tamarin.


Ada apa dengan Fox?


Aneh sekali, padahal pagi tadi juga mengecup ku dan Candy berikut dengan ibu mertua.


Apa dia lupa?


Tidak mungkin!


Kenapa dia?


Saat Fox mengecup Tamarin itu pun tidak luput dari teropong kedua mata Tuan Kino yang sedang memantau mereka dari dalam mobil.


" Kamu aneh sekali?" tanya Tamarin.


" Apa? Aneh?" Fox yang menyadari memang dirinya aneh. Dia memang sedang merasa bersalah kepada istrinya karena ada setitik ketidak percayaan yang terlintas dan sangat menggangu pikirannya. Dan itu semua karena Dokter gila itu.


Coba saja jika dia tidak memberi tahunya masalah tes kesuburan dan menyatakan jika dirinya sulit memiliki momongan. Mungkin juga saat ini, pikirannya baik-baik saja tanpa memandang curiga kepada istrinya. " Apa kamu masih mencintaiku?" pertanyaan yang membuat Tamarin malah tertawa lirih. " Kenapa tertawa?"


Fox menerbitkan senyum dan hanya geleng-geleng kepala dengan pertanyaan dari istrinya. Meraih kepala Tamarin dan menyandarkan pada bahunya karena mereka duduk di kursi panjang bersebelahan saling berhadapan. " Inilah yang membuatku selalu merindukan mu setiap waktu. Dan tidak pernah ada alasan aku untuk bisa marah sekecil apapun terhadapmu."


Tuan Kino yang berada di dalam mobil dibuat frustasi melihat keromantisan mereka berdua.


Tumben sekali Fox ke sekolah Candy.


Terlebih tadi, dia sudah berangkat ke kantor.


Apa iya hanya sekedar ingin ngobrol dengan Tamarin?


Apa ada tujuan lain?


Untung saja, saya dan Tamarin tadi bersikap biasa saja.


Mungkin jika bertambah menit, sudah beda lagi urusannya.


gumam Tuan Kino dalam hati.


" Apa kamu tidak jadi pergi ke kantor?" Tamarin yang menyudahi keanehan Fox pagi ini.


" Okay, kalau begitu aku pergi ke kantor dulu ya. By the way ... aku senang, hubungan kamu dengan ayahku sepertinya membaik dan itu berkat Candy."


Tamarin berusaha tenang di depan Fox, dia juga berusaha tidak gugup kala Fox berkata demikian. " Nanti keburu siang ke kantornya."


Cup


Fox pun mendaratkan kecupan bibir kepada Tamarin.

__ADS_1


Fox dan Tamarin menghampiri ayahnya yang pura-pura sibuk mengangkat ponsel padahal tidak ada yang menghubunginya.


Namun setelah Fox menunggunya untuk sekitar lima menit. Barulah Tuan Kino menyudahi kepura-puraan nya yang sok sibuk melakukan percakapan lewat ponsel.


Fox kemudian pamit kepada Tuan Kino. Namun perjalanannya ke kantor juga masih saja tidak tenang. " Gara-gara ulah Dokter itu. Apa iya? Aku sebenarnya sulit memiliki keturunan. Huft ... " lirihnya yang masih resah dan belum juga tenang.


30 menit menit berlalu dan akhirnya sampai di kantor. Jangan ditanya bagaimana reaksi semua karyawannya? sudah tentu Fox menjadi pusat perhatian karena jalannya yang masih pelan dan belum normal seperti biasa.


Namun semua karyawan sudah banyak yang tahu jika bos besarnya itu mengalami kecelakaan. Justru mereka sangat baik dan menawarkan bantuan terlebih tidak lupa mengucapkan selamat atas kesembuhan.


Fox kemudian masuk lift dan naik ke lantai sepuluh dimana ruang kerjanya berada.


Namun baru saja lift terbuka.


Kejutan


Riuh suara tepuk tangan dari beberapa karyawan yang berada di lantai 10 tengah diajak Jelly bekerja sama untuk menyambut kedatangan bos besarnya yang sudah absen selama satu Minggu.


Fox tersenyum lebar meskipun jantungnya sempat dibuat kaget karena letusan balon yang tiba-tiba saja di dengar bersamaan dengan pintu lift yang terbuka.


Banyak dari mereka mengucapkan selamat atas kesembuhan dan kedatangan kembali di kantor. Karena dari mereka merindukan bos besar nya itu.


" Kita senang Fox, kalau kamu sudah sehat dan kembali bekerja." ucap Ita yang menyerahkan bunga dari florist. Begitu juga dengan Milk mengatakan hal yang sama kepada Fox.


Sementara yang lain bubar jalan dan kembali ke ruang kerja masing-masing.


" Terima kasih Ita, Milk. Dimana Jelly? aku tidak melihatnya?" Bola mata Fox yang beredar namun tidak menemukan sosok kembaran Priyanka Chopra itu.


Milk dan Ita pun tersenyum. " Kamu masuk saja ke ruang kerja kamu."


Fox pun melangkah pelan dan hanya bisa geleng-geleng kepala. Kejutan apa lagi yang akan diberikan oleh Jelly?


Ceklek


Kedua bola mata Fox kembali lagi di buat takjub dengan banyak nya bunga segar dari florist yang hampir memenuhi ruangannya.


" Astaga Jelly." Fox yang masih tidak percaya dan lagi-lagi tersenyum karena dia yakin jika semuanya adalah ide dari Jelly.


" Hai ... " Jelly yang berjalan mendekat ingin memeluk Fox sebagai bentuk senang dan bersyukurnya jika lelaki yang kini berdiri di depannya ternyata cukup kuat dan tangguh hingga dia selamat dari kecelakaan itu.


Namun baru saja mendapat dua langkah maju. Hells nya harus berhenti.


" Eits. Stop!" Fox yang memberi ancang-ancang kepada Jelly supaya tidak kebablasan memeluknya. Apa kabarnya nanti alat perangnya yang masih terbungkus perban? bisa-bisa lumpuh total dan malah tidak bisa berdiri.


" Kenapa?"


Fox pun memperagakan dia berjalan tanpa banyak kata. Supaya Jelly mengerti keadaannya.


" Hahaha." Jelly tertawa terbahak-bahak sampai sakit perut karena melihat bos besarnya berjalan demikian.


" Puas kamu sudah mentertawakan bos mu?"


Jelly masih menyisakan tawa yang coba dia tahan.


Fox pun kemudian duduk di meja kerjanya.


Sementara Jelly membantu meletakkan bunga yang diberikan Milk dan Ita. Namun entah mengapa? dia melihat jika Fox seperti memikirkan sesuatu. Karena tidak biasanya dia terdiam seperti sedang melamun.


" Apa kamu ada masalah?"


Fox pun mendengus.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2