
Perjalanan sekitar tiga puluh menit itu berlalu.
" Kita sudah sampai Nyonya." sang supir yang membangunkan Nyonya Mint dari pejaman matanya.
" Oh, maaf, aku ketiduran. Terimakasih." jawab Nyonya Mint yang kemudian membuka pintu mobil dan keluar menuju loby kantor miliknya yang tidak lepas dari penglihatan supir pribadinya.
Sementara Tamarin yang sibuk mencari ponselnya di dalam kamar tapi tidak kunjung ketemu jua. " Dimana ponselku?" tanyanya lirih sembari kepalanya memutar peristiwa. Namun ingatannya memang sedikit amnesia untuk beberapa peristiwa yang sudah berlangsung.
Tubuhnya masih mematung di sisi ranjang yang terobrak-abrik tidak karuan karena mencari sebuah ponsel.
Tamarin kemudian mendengus kasar sedikit putus asa karena ponsel pintarnya tidak kunjung ketemu.
Berjalan mondar-mandir bukan tanpa alasan melainkan seluruh jari-jarinya dia pergunakan mengobrak-abrik isi dalam nakas maupun di bawah ranjang pun dia telusuri. Mana tahu terselempit dibawah selimut tebal miliknya.
Kembaran Brad Pitt yang berdiri di ambang pintu yang terbuka lebar, tepatnya di kamar milik Tamarin.
Melihat Tamarin resah gedubyakan tidak karuan terlihat jelas oleh Tuan Kino. Apalagi kamar yang sungguh berantakan membuatnya geleng-geleng kepala. Coba dia bukan wanita kesayangan, mungkin sudah dia panggang hidup-hidup itu orang. " Kamu sedang cari apa?" tanya Tuan Kino datar.
Mendengar suara itu, Tamarin langsung berhenti dari aktivitasnya yang kedingselan mencari ponselnya mana tahu jatuh di bawah sofa.
" Ponselku tidak ada." Tamarin yang masih menumpu tubuh atasnya dengan kedua lututnya.
" Kok bisa?" tanya Tuan Kino sembari melangkahkan kaki masuk untuk beberapa langkah kemudian berhenti. " Kamu taruh dimana memangnya?"
" Aku juga lupa." jawab Tamarin sedikit sebal karena hampir satu jaman mencari ponsel tapi tidak ketemu juga.
" Coba kamu ingat-ingat dimana! Aku akan coba hubungi pakai ponselku." Tuan Kino yang mengeluarkan ponselnya dari saku celana pendek selutut berwarna cokelat muda.
Tut ... Tut ... Tut ...
" Coba kamu cari! ponselnya masih aktif." Tuan Kino yang memutar langkahnya pada tempat yang sama. Hanya memutar tubuhnya ke kanan dan kembali ke kiri lagi mana tahu ponselnya di tangan orang lain dan mana tahu ada jawaban dari balik sambungan teleponnya.
__ADS_1
Dert
Dert
Suara ponsel pemilik tas hitam tak bertuan akhirnya bergetar. Sang supir yang sudah melaju sampai halaman rumah dengan cepat memasuk kan mobil menuju garasi.
Menoleh ke arah ponsel yang berada di atas jok dan terlihat jelas jika yang sedang memanggil adalah Ayah Mertua. Berarti sudah dapat dipastikan jika tas hitam tak bertuan ini sekarang sudah jelas pemiliknya. Yakni nona Tamarin.
Sang supir kemudian bergegas meraih tas hitam di jok sampingnya dan membawa tas milik nona Tamarin itu menuju ke Tuan besar sekaligus mengembalikan kunci mobil pribadinya.
Sementara kembaran Brad Pitt yang mulai sedikit kesal karena ponsel tidak ada yang mengangkat dan tidak tahu keberadaannya. " Kenapa kamu mendadak pikun sih Tamarin? kamu kan masih muda." omelnya yang sudah tidak bisa dia tahan. Memandang Tamarin yang masih bertumpu pada kedua lututnya.
Sedangkan salah seorang supir pribadinya bergegas masuk ke dalam rumah dan samar-samar mendengar percakapan dari kamar nona Tamarin, yang ternyata setelah sang supir melangkah lebih mendekat, ternyata benar jika ada suara Tuan Besar.
" Maaf Tuan, saya mau mengembalikan kunci mobil." sang supir yang hanya berbicara di ambang pintu kamar milik Tamarin. Sedikit terkejut karena melihat kamar bagai kapal pecah morat-marit tidak karuan milik nona Tamarin.
Tuan Kino yang melangkah kan kaki menuju supir pribadinya. Dan mengulurkan telapak tangannya, menerima kunci mobil yang diserahkan oleh supir pribadinya.
Membuat jantungnya mandek sesaat. Mencoba terlihat semuanya masih dibatas wajar karena hanya sebuah tas yang tertinggal di sebuah mobil karena Tamarin menumpang di mobilnya.
" Terimakasih." Tuan Kino yang kemudian mengambil Tas dari supir pribadinya itu.
" Kalau begitu saya permisi Tuan."
" Iya."
Tamarin yang tahu, jika itu adalah tas miliknya, dia langsung bangkit dari lantai dan menghampiri Tuan Kino. " Tas ku, dimana dia menemukannya?" lirih Tamarin bertanya.
Untuk sesaat Tuan Kino terdiam. " Di mobil ku."
Untuk sesaat sepasang mata Tamarin mengerjap. " Kenapa dia yang menemukannya?" desak Tamarin yang sedikit penasaran.
__ADS_1
" Mobil yang biasanya untuk antar kamu sedang di servis, kebetulan juga ban belakang mobil Mint bocor. Lalu Mint berinisiatif meminjam mobilku untuk mengantarnya ke kantor."
Tamarin yang terkejut bukan main. Untuk beberapa detik nafasnya mulai terasa berat. " Apa?" Tamarin mencoba menerjemahkan semuanya. Dia masih tidak percaya jika Nyonya Mint akan mengetahui asmara terlarang ini secepatnya. Tamarin mulai panik. " Apa kamu bilang? Terus bagaimana? Bagaimana ini?" ******* nafas Tamarin yang mulai tidak jelas dan sangat cemas.
" Kamu tenang Tamarin!" Tuan Kino yang mencoba menyentuhkan sepuluh jemarinya pada kedua bahu bercahaya milik Tamarin.
" Tenang! tenang! tenang kamu bilang!" Kepanikan Tamarin yang sudah menjalar hingga dia tidak tahu harus berbuat apa. Menepis sepuluh jemari kekar dari kedua bahunya. Berjalan mondar-mandir tidak jelas tak tentu arah di depan kekasih gelapnya.
Tuan Kino yang menghempas tangan kanannya ke udara. Melangkahkan kaki keluar dari kamar berantakan dan menuruni anak tangga dengan sangat tergopoh untuk mencari supir pribadinya.
Setelahnya sampai di dekat pos security dimana supirnya sedang duduk berbincang di sana.
" Sini kamu!" panggilnya dengan melambaikan tangan ke udara.
Sang supir lantas bergegas berlari kecil menuju Tuan Besar yang sedang berdiri gagah dan bersedekap.
" Ada apa Tuan?" tanya supir pribadinya.
" Apa Nyonya tahu tas hitam yang kamu bawa masuk ke dalam tadi?"
Sudah ku duga, Tuan pasti menanyakannya. gumam pria yang usianya sekitar empat puluh lima tahun itu.
" Kenapa diam?" sorot mata tajam Tuan Kino yang semakin mendekat ke arah wajah sang supir.
" Tidak Tuan, Nyonya Mint duduk di jok mobil bagian tengah. Sementara tas hitam tadi, berada di jok mobil bagian depan di samping kursi kemudi. Dan Nyonya duduk persis dibelakangnya. Nyonya juga tidak enak badan, jadi dia hanya bersandar dan malah ketiduran di mobil. Jadi saya pastikan jika Nyonya Mint tidak mengetahuinya." jawab jelas singkat padat dari supir pribadinya.
" Oke, bagus." Tuan Kino yang mengangguk-anggukan kepalanya berulang. " Akan saya transfer ke rekening mu sejumlah uang. Sebagai uang tutup mulut. Kamu paham bukan?" Kedua sorot mata tajam Tuan Kino pun mengulang hal yang sama. Yakni menekankan kepada supir pribadinya untuk tidak sembarang bicara masalah ini kepada siapapun.
Sang supir yang melongo. Tidak menyangka jika hal sepele seperti ini membuatnya ketiban durian runtuh. Yakni rejeki besar dari Tuan Besar. " Baik Tuan." jawabnya cepat dengan hati girang berlompat, bersorak, bernyanyi riang gembira. Dia yakin kalau uang yang masuk ke rekening pasti berjumlah besar karena dari Tuan Besar.
BERSAMBUNG
__ADS_1