
Fox yang berjalan menuju lift dengan sesekali menoleh ke belakang dimana Jelly masih berdiri di pinggir pintu memandangnya menjauh perlahan.
.
.
Sementara Tamarin dan Tuan Kino yang salah ambil jalur. Seharusnya mereka mengecek aplikasi waze, supaya tahu ruas jalan mana saja yang saat ini terjebak macet. Harusnya memutar arah jalan lebih jauh sedikit namun cepat sampai tujuan dan aman sampai rumah karena mungkin tidak keduluan oleh Fox.
" Bagaimana ini? hampir satu jam kita terjebak macet disini. Bagaimana kalau Fox sudah sampai di rumah?" Tamarin yang panik dengan memegang kedua pelipisnya, menyibak rambut semi kecoklatan miliknya ke belakang dengan perasaan was-was yang tak kunjung reda.
" Kamu tenang baby." Kelima jemari kiri Tuan Kino yang membelai lembut rambut cokelat terang di sampingnya.
Tamarin hanya bisa menoleh ke wajah Kembaran Brad Pitt dengan nafas kasar yang berhamburan.
Sepuluh menit, dua puluh menit berlalu. Entah bagaimana bisa? Sebuah kecelakaan terjadi di depan sana membuat ruas jalan seolah tertutup total dan seakan tidak ada celah untuk mobil bisa melintas menerobos kemacetan.
Di depan mobil Tuan Kino terdapat puluhan mobil yang berjajar pula yang berusaha perlahan berjalan menembus kemacetan yang ada.
Dan dibelakang mobil Tuan Kino, juga terdapat puluhan bahkan ratusan mobil yang berharap melintas sempurna tanpa kemacetan parah yang ada di depannya.
Kemacetan di sebabkan oleh Truk tangki bermuatan bahan bakar dan oleng karena menabrak sebuah mini bus dan pastinya membutuhkan waktu lama untuk proses pemindahan truk dari posisinya yang menghadang melintang di jalanan.
Itulah mengapa? kemacetan mengular luar biasa. Namun tidak di sangka. Kemacetan ini seolah ingin membuka tabir rahasia asmara terlarang mereka yang kini sedang berada di sebuah mobil bersama. Tamarin dan Tuan Kino.
__ADS_1
" Fox." lirih Tamarin yang bibirnya terasa kelu. Jantungnya berdetak cepat, menggelengkan kepala berulang menepis jika apa yang dilihat di samping dengan jeda satu mobil adalah suaminya, Fox.
Mobil di sampingnya persis itu, posisinya tidak sejajar dengan mobil yang ditumpanginya dengan Tuan Kino. Sehingga bisa membuat suaminya Fox terlihat karena pintu jendela mobil Fox juga dibuka lebar seratus persen.
" Kamu kenapa?" tanya Tuan Kino yang melihat Tamarin gelisah tidak tenang dengan duduknya.
" Itu Fox!" tunjuk nya menggunakan jari telunjuk miliknya.
Sepasang mata Tuan Kino membulat sempurna. Melotot terkejut bukan main dengan rasa tidak percaya. " Fox." lirih ucapan yang keluar dari mulutnya.
" Bagaimana ini?" Tamarin yang paniknya sudah di ubun-ubun. Cahaya malam dari lampu yang berpendar itu cukup terang melihat jelas wajah Fox suaminya yang sedang memakai kemeja biru muda.
Tamarin berusaha menyembunyikan tubuhnya dengan meringkuk menutupi wajahnya, meskipun kaca jendela mobil Tuan Kino tidak terlihat dari luar, namun tetap saja kepanikannya membuat akal sehatnya tidak berpikir jernih saat malam itu.
Namun tidak di sangka juga, ditengah kepanikan hebat yang melanda keduanya, Tuan Kino yang kebingungan dengan menoleh ke kanan dan ke kiri itu, merasa pusing sendiri hingga kepalanya berhenti dan terpaku pada satu mobil yang sama tidak jauhnya dari sebelah kanan. " Mint." ucapnya dengan mata keliyengan berharap ini bukan sebuah kenyataan dan hanya mimpi mengapa bisa bertemu dengan anak dan juga istrinya dalam waktu bersamaan di tengah kemacetan.
Nyonya Mint yang pulang dari kantor, juga terjebak macet di ruas jalan yang sama dengan Tamarin, Tuan Kino dan juga Fox.
Fox dan juga Nyonya Mint tidak mengetahui jika orang yang dipanggil ayah oleh Fox dan suami oleh nyonya Mint, ternyata sedang satu mobil bersama istri dari Fox dan menantu dari Nyonya Mint.
Hanya Tamarin dan Tuan Kino yang mengetahui jika mereka berempat terjebak pada situasi yang sama.
" Kenapa? tolong jangan diam saja! kita harus pikirkan cara bagaimana keluar dari kemacetan ini." tanya Tamarin diikuti desakan kuat supaya mereka aman dari jangkauan penglihatan suami yang dicintainya itu.
__ADS_1
" Mint, itu Mint." Tuan Kino yang memperlihatkan kepada Tamarin dimana posisi mobil Nyonya Mint ibu mertuanya itu.
" Apa? Nyonya Mint juga tidak jauh posisinya dari kita." Tamarin yang tambah shock dan bisa-bisa mati berdiri jika mereka tahu jika keduanya ada dalam satu mobil. Jika mereka tahu, pastilah mereka akan memberondong habis pertanyaan dari A sampai Z dan Tamarin tidak mau itu. " Ini masalah besar, kita bisa mati, kita bisa mati, jika ketahuan oleh keduanya. Bagaimana ini?" Tamarin yang gupuh tidak karuan dan bingung setengah mati dengan wajah panik dan memegangi kepala seperti orang stres akibat gila dengan situasi ini.
" Kamu tenang Tamarin! kamu tenang!" Tuan Kino yang sekali lagi berusaha menenangkan kekasih gelapnya itu.
" Ini bukan seperti kejadian kemarin, saat Nyonya Mint akan memasuki pagar rumah besar. Tapi ini lebih dahsyat dari letusan gunung berapi jika mereka mengetahui jika kita malam ini berada dalam satu mobil di sini." sentak Tamarin berusaha kepada Tuan Kino untuk memikirkan cara bagaimana keluar dari situasi darurat ini.
" Tidak ada cara lain Tamarin, selain kamu pergi keluar dari mobil ini. Berjalan puluhan kilo meter yang nanti kamu bisa pesan taksi online dan sampai di rumah duluan. Kemacetan ini parah dan membutuhkan waktu yang tidak sebentar." ucap Tuan Kino dengan wajah serius kepada Tamarin.
" Apa?" lirihnya kaget tidak percaya terhadap apa yang baru saja dikatakan kembaran Brad Pitt itu.
"Go!" Tuan Kino memberi anggukan kode kepada Tamarin untuk pergi segera meninggalkan kemacetan ini, sebelum mobilnya benar-benar ditengarai oleh anak dan istrinya. Karena jelas sekali terlihat jika mobilnya adalah mobil limited edition dan sangat jelas pula jika mobilnya dengan sangat mudah di tengarai oleh Fox dan juga Mint.
Dengan waktu yang sangat lama karena menunggu macet, tidak mungkin jika penglihatan mereka hanya fokus pada jalanan di depan. Baik Fox anaknya dan Mint istrinya pasti akan meluaskan jangkauan penglihatan mereka. Dan lama kelamaan, mereka akan mengetahui jika dirinya juga terjebak macet dan pada posisi yang sama tidak jauh dari mereka.
Di situasi genting seperti itu, masih saja kembaran Brad Pitt tidak mau rugi dengan melewatkan memberikan ciuman bibir penenang buat kekasih gelapnya yang sedang panik di hadapannya.
Keduanya berciuman bibir dan menyentuhkan tubuh mereka satu sama lain. Kembaran Brad Pitt memeluk tubuh Tamarin dan mengusap lengan bercahayanya berulang seolah menjadi pahlawan menenangkan.
Malam ini benar-benar gila, Tamarin tidak menyangka jika pada akhir malamnya dia harus berjalan kaki puluhan kilometer untuk membelah, menyusuri jalan trotoar yang belum pernah dia lakukan sebelumnya. Membayangkan nya saja tidak pernah. Asmara terlarang yang pada ujung malam ini benar-benar menyengsarakan.
BERSAMBUNG
__ADS_1