
" Coba kamu jawab! apa yang akan kamu lakukan selanjutnya? jika kamu jadi aku." tanya Jelly yang memutar tubuhnya menatap pria yang berdiri dengan jarak dua meter darinya.
Fox yang terkejut. Sedikit gelagapan, karena tidak percaya jika Jelly mempertanyakan itu kepadanya. " A- aku ... aku akan melanjutkan hidupku. Akan membahagiakan diriku walau aku sudah tidak memiliki siapa-siapa lagi. Menikah mungkin? mencoba move on dari pengkhianatan mantan kekasih dan sahabat mu. Kenapa kamu harus terpuruk? kamu juga berhak bahagia bukan? semua orang memiliki ujiannya masing-masing. Jadi, buat aku. Kamu berhak membahagiakan diri kamu sendiri." Fox yang menaruh seluruh jari-jari miliknya di atas bahu Jelly. Menatap wajah yang biasanya bagaikan Priyanka Chopra. Entah mengapa? kali ini Fox melihatnya berbeda karena wajah yang ada di depan nya begitu pucat tanpa polesan bedak dan lipstik yang menghiasi wajah teman lamanya itu.
Tatapan Jelly yang sedikit berubah setelah Fox memberinya motivasi. Sedikit berpikir apa yang dikatakan Fox ada benarnya. Mengapa dia begitu sulit menerima kenyataan pahit hidupnya? itu dikarenakan dia memang sulit untuk memafkan mantan kekasih dan sahabatnya.
Terlebih dengan perjalanan yang tidak sebentar mereka menjalin sebuah hubungan dan berakhir dengan ketidak adilan. Membuatnya frustasi ditambah dengan berbagai macam terpaan masalah kesehatan ibunya dan juga tindakan ayahnya.
" Lalu aku harus bagaimana?" tanya lirih Jelly pasrah dengan hidupnya.
" Kamu bisa ambil tawaranku. Memulai hidup baru. Memiliki penghasilan tinggi di Jakarta. Toh juga ibu mu sudah pergi. Sekuat apapun kamu menangis, dia juga tidak akan kembali. Kecuali mantan kekasihmu. Dia mungkin bisa kembali pada mu, jika dia bercerai dengan istrinya atau sahabatmu itu tiada. Mungkin dia akan mencari mu." Dengan wajah serius Fox mengatakan hal itu untuk meyakinkan Jelly bahwa dia akan memiliki masa depan cerah di Jakarta.
" Heh." Kedua mata sembab Jelly membulat terkejut karena ucapan terakhir Fox yang menyebut masalah mantan kekasihnya.
" Kenapa?" tanya bodoh Fox.
" Kamu pikir aku apa? aku juga tidak mau, jika mantan kekasih ku kembali lagi, apalagi sampai ... amit-amit ... " Jelly yang mengetuk dinding berulang dengan sikut jari-jari kanannya. " Sampai sahabat ku meninggal. Aku tidak akan mau kembali sama dia." berang Jelly dengan gemas yang membuat Fox menahan tawa pingkal di dalam perut.
.
.
Sementara Tamarin dan Tuan Kino yang tengah asyik bercumbu di sebuah apartemen eksklusif milik Tuan Kino. Setelah kesembuhan Nyonya Mint dan keberangkatannya ke kantor. Tamarin dan Tuan Fox berangkat terpisah. Tuan Kino yang berangkat menggunakan mobil pribadi miliknya, diikuti Tamarin yang berangkat diantar oleh supir pribadinya. Keduanya seperti yang Tamarin katakan, mengagendakan jadwal rutin bercinta dan meluapkan hasrat asmara terlarang mereka di luar dari rumah besar.
Permainan gila keduanya seolah tidak ada kata habisnya. Keduanya banyak memiliki celah waktu untuk bertemu dan menghabiskan waktu bersama.
Seperti biasa, permainan ranjang dari halus sampai kasar yang mereka mainkan membuat keduanya bagai terbang melayang di atas awan.
Seolah lupa jika keduanya sama-sama sudah memiliki pasangan dan sedang melakukan sebuah pengkhianatan dalam yang akan memporak-porandakan rumah tangga mereka masing-masing.
Baik Tamarin dan Tuan Kino sebenarnya melakukan hubungan terlarang ini dengan sangat sadar. Sadar jika apa yang mereka lakukan sudah pasti melanggar norma dan lebih kejamnya lagi, sama-sama menyakiti pasangan masing-masing.
" Sebentar lagi Fox akan pulang, aku tidak menginginkan jika kamu terbang ke Swiss bersamanya. Aku tidak rela." Kembaran Brad Pitt yang sepertinya mulai posesif. Dengan tanpa berhenti dagunya mengendus lembut wajah bercahaya Tamarin yang tidak berjarak dengan wajahnya.
Berada dalam dekapan hangat di balik selimut tebal berwarna putih, yang sudah tentu keduanya tanpa sehelai benang pun dengan tubuh tanpa berjarak.
Tamarin yang tidak membalas satu patah kata pun. Hanya gerakan bahasa tubuh mereka yang saling menjelaskan jika mereka sudah saling posesif satu sama lain.
__ADS_1
.
.
Keesokan harinya. Jelly yang mendengarkan apa kata Fox kemarin, membuatnya semangat hidup dan kembali bekerja. Kesedihan dalam dirinya sedikit demi sedikit mulai terkikis.
Dan itu tanpa terkecuali karena Fox lah yang tidak berhenti menyemangati hidupnya. Kedatangannya bagai obat sekaligus penyembuh meskipun hanya sekedar teman.
Namun sosok dan kepribadian Fox benar-benar memulihkan keperihannya atas hidup yang dia jalani saat ini.
Menatap dirinya sendiri di depan cermin dengan semangat kembali bekerja dan mencoba tegar seperti apa yang dikatakan oleh Fox membuat hatinya sedikit tenang dan lega.
Air matanya juga tidak berderai seperti kemarin yang menangis hebat karena memang benar kata Fox bahwa hidup harus berjalan.
.
.
Kota Bandung yang di guyur hujan sedari pagi membuat jadwal yang diagendakan Fox dan juga Jelly untuk mengunjungi proyek pembangunan apartemen yang sedang berjalan sedikit tertunda.
Setelah beberapa jam menunggu untuk hujan cepat reda. Akhirnya tiba juga. Kecemasan Fox perlahan menghilang dan enyah begitu saja.
" Kita berangkat!" Fox yang melihat jam mewah di pergelangan tangan kirinya. Jadwal agendanya molor hingga delapan jam lamanya dan bahkan ini sudah sore karena waktu menunjukkan pukul tiga sore.
Jelly matanya seketika mengerjap. Apa tidak salah? apa memang dia tidak tahu tempatnya? gumamnya dalam hati yang bertanya sendiri.
Bagaimana bisa sudah jam tiga sore mengunjungi tempat proyek pembangunan apartemen yang sedang berjalan? Perjalanan nya saja hampir satu jam, dimana semua pekerja proyek juga sudah berhenti dari aktivitas pengerjaannya. Lalu untuk apa dia kesana? bukankah percuma? dan lebih besok saja. Lagi-lagi Jelly yang bingung dengan bos besar nya itu.
" Maaf pak, saya sebaiknya menggunakan mobil saya sendiri dan tidak bergabung dengan anda." kata Kepala bagian cabang.
" Silahkan." Fox yang berjalan beriringan dengan Kepala bagian cabang dan Jelly yang berada di belakang mengikuti langkah kedua bos nya.
Namun sesampainya di area parkiran mobil. Tiba-tiba ponsel dari kepala bagian cabang berbunyi dan ternyata istrinya memberi tahu jika anaknya dibawa ke rumah sakit.
Alhasil, kepala bagian cabang meminta izin untuk tidak ikut pergi ke daerah Lembang dan menyuruh Jelly menunjukkan proyek apartemen yang sedang berjalan.
" Ya sudah, kalau begitu biar saya sama Jelly saja. Bapak sebaiknya menyusul ke rumah sakit." ujar Fox kepada Kepala bagian cabang.
__ADS_1
" Kalau begitu saya permisi pak. Terimakasih atas izin yang diberikan." Kepala bagian cabang yang kemudian bergegas berlari menuju bagian kemudi mobil miliknya. Melajukan mobil nya keluar dari area parkiran kantor dan menuju jalan raya.
Sementara Jelly dan Fox yang sudah berada di dalam mobil. Sesuai arahan petunjuk jalan dari sang master jalan kota Bandung yakni Jelly, membuat Fox bertanya terus dalam hatinya, kapan sampai tujuannya? Ditambah dengan tol yang macet parah apalagi pas jam pulang kerja kantor, membuat perjalanan terasa lama.
" Apa masih jauh?" Fox yang akhirnya memberanikan bertanya kepada Jelly, karena hampir tiga jam mereka berada di dalam mobil.
" Apa kamu tidak tahu tempatnya?"
Fox geleng-geleng kepala dengan mimik wajah bodoh.
" Tempatnya di Lembang. Dan ini sudah sampai. Seharusnya hanya lima puluh lima menit dari Bandung kota. Karena kita terjebak macet di beberapa ruas jalan Tol. Perjalanan menjadi tiga jam. Sebentar lagi kita akan sampai." Jelly yang melihat jam pada layar pojok ponselnya.
" Oh, gitu." Fox yang hanya bisa menganggukkan kepalanya berulang. Lalu fokus pada jalanan di depannya.
" Kita belok kiri dan kurangi kecepatan. Kamu akan lihat gedung tinggi di sebelah kiri jalan. Itu tempatnya." Jelly yang memberi instruksi kepada Fox.
" Okay." Fox yang membelokkan ban mobilnya dan memelankan laju kendaraannya.
Mobil yang dikendarainya masuk ke dalam area proyek yang masih bisa dikatakan lima puluh persen berjalan.
Meskipun hari sudah gelap. Lampu pada kedua mobilnya cukup menggambarkan sekilas keadaan bangunan apartemen yang sedang kantornya kerjakan.
Keduanya keluar dari mobil. Fox menghampiri Jelly yang akan menjadi petunjuk jalannya.
Ketika keduanya sedang memandang bangunan tinggi itu. Jelly kemudian melangkahkan kakinya.
" Ah." Jelly yang hampir terpeleset karena jalanan yang licin akibat di guyur hujan.
Namun dengan cepat Fox menangkap punggung Jelly hingga membuat tatapan sepasang mata mereka yang terkejut campur deg-degan menyatu tidak karuan.
Cahaya lampu yang berpendar, membuat kedua wajah itu serasa silau dan seketika tatapan mata dalam campur deg-degan itu buyar.
" Kamu tidak papa." tanya Fox yang masih khawatir dengan Jelly.
" E-enggak." jawab malu bercampur dada bergetar dari Jelly yang masih tidak bisa melupakan iris mata milik bos besarnya yang baru saja menatapnya lumayan lama.
BERSAMBUNG
__ADS_1