Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Davos Mengerjai Jelly


__ADS_3

" Sekali lagi saya mohon maaf pak." Jelly dibuat mati kutu oleh atasannya.


Davos pun berlalu begitu saja.


Hingga dimana pagi, siang dan hari mulai sore. Davos pun kembali ke ruang kerja Jelly dan memberinya setumpuk pekerjaan yang harus dia selesaikan.


" Ini kerjakan!" Davos bahkan mengantarnya sendiri. Meletakkan semua tumpukan map untuk diperiksa oleh Jelly.


Jelly yang awalnya menatap pada layar desktopnya. Menoleh kepada atasannya. " Ini semua pak?"


" Iya, kenapa? Kamu keberatan?"


" Oh, tidak-tidak pak. Akan saya kerjakan." Tanpa banyak ba bi bu lagi Jelly langsung memeriksa semuanya.


Sementara Davos batinnya bahagia karena telah mempunyai mainan baru. Boneka hidup yang akan menerima keisengan nya semau yang dia suka.


Memangnya enak. Mengerjakan itu semua.


batinnya berbicara seraya tertawa bahagia.


Davos memang terkenal pria iseng sejak dulu. Banyak dari sekretaris cantiknya tidak ada yang betah tatkala menghadapi amukan dan kejahilannya selama bekerja. Dia memang sengaja mengerjai mereka untuk mengetes seberapa kuat mental sekretarisnya.


Dengan begitu, dia bisa tahu Jelly itu akan seberapa tahan banting nya dalam menghadapi kejahilannya.


Satu jam, dua jam bahkan sampai lima jam Jelly belum selesai mengerjakan tugas yang diberikan kepadanya. Jelly bahkan cukup lelah hingga dia beberapa kali menyandarkan punggung pada kursinya.


Menggeliatkan tubuh bagian atasnya supaya rasa pegal dan pada bagian punggung tidak terlalu kelelahan.


Sementara Davos yang mengumpat kesal pada dirinya sendiri saat sudah sampai di area parkiran. Dia lupa kalau mobil mewahnya tengah di perbaiki di bengkel akibat ulah sekretaris barunya.


Tadi siang dia menyuruh orang kantor untuk membawa mobil mewahnya itu ke sebuah bengkel resmi mobilnya. Alhasil dia tidak mendapati mobilnya. Dan perjanjian dimana Jelly harus antar jemput dia untuk pulang pergi kantor.


Davos berjalan dengan langkah besar, sedikit memendam amarah karena harus kembali lagi ke ruang kerja sekretarisnya. Padahal dia sudah memberinya pekerjaan setumpuk sampai selesai. Dan berniat mengerjainya agar dia pulang malam. Malah gagal karena mau tidak mau Jelly harus mengantarnya pulang.


Jelly yang tahu kehadiran atasannya. " Ada apa ya pak?"


" Antar saya pulang! Apa kamu lupa perjanjian nya?" Perintah Davos dengan sikap dinginnya.


" Tapi pekerjaan saya belum selesai pak," jawab Jelly sedikit takut.


" Sekarang juga antar saya pulang!" ulangnya dengan perintah yang tidak dapat ditawar.

__ADS_1


" Baik pak."


Astaga.


Mimpi apa aku bisa bertemu dengan pria seperti ini?


Jauh sekali dengan Fox. Bagai langit dan bumi.


Jelly yang sesekali melirik pria yang satu lift dengan nya.


" Ada apa?" tanya Davos yang jujur itu membuat Jelly resah.


Untungnya pintu lift segera terbuka. Jadi Jelly tidak perlu menjawab apa yang sedang ditanyakan Davos.


Keduanya pun berjalan menuju parkiran. Jelly bahkan layaknya seorang ajudan yang membukakan pintu mobilnya guna Davos masuk ke dalam mobilnya.


Meskipun setelah menutup pintu mobil untuk Davos. Jelly menghembuskan nafasnya panjang. Enam tahun selama bekerja dengan Fox. Dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Mungkin terlebih memang Fox dan dia saling mengenal apalagi pernah tersemat cinta tidak kesampaian sejak SMP.


" Hey, apa kamu akan mematung seperti itu terus?" Davos yang membuka kaca jendela mobil yang lagi-lagi menegur Jelly untuk berhenti melamun.


Jelly pun sontak berlari kecil menuju kursi kemudi mobilnya. Dia menyalakan mobil dan melajukan nya dengan kecepatan sedang.


Mobil Jelly menerobos gelapnya malam jalan tol kota Jakarta. Terasa sekali perutnya lapar dan ingin memakan sesuatu. Namun apa daya? Sepertinya tidak akan mungkin untuk sejenak berhenti di depan pom bensin yang banyak pula restoran cepat saji di ujung sana.


" Hati-hati! Jangan melamun!" celetuk Davos pada Jelly, karena Davos tahu jika Jelly sering melamun tidak jelas. Dalam sehari ini saja, Davos memergoki entah berapa kali Jelly melamun dan tidak konsentrasi.


" Hehehe iya pak."


Tidak lama terdengar perut Jelly keroncongan.


Kruk ... Kruk ... Kruk.


Davos pun mendengar namun malah membuatnya geli. " Apa itu suara perut kamu?"


Jelly yang malu karena Davos akhirnya mendengar jika dia lapar.


" Aku tidak mau tahu, antarkan saya pulang dulu! Setelah itu jika kau makan, makanlah sendiri. Karena aku ingin segera sampai rumah dan istirahat," ujarnya tidak berperasaan.


Jelly yang mengingat semua kebaikan bos besarnya dulu. Jika Fox yang mendengarnya, mungkin dia sudah tidak tega dan menyuruhnya berhenti mencari makan. Namun kali ini, bos besarnya malah tidak berperasaan.


" Eh, Jelly ... Jelly ... Jelly." Paniknya Davos saat mobil yang dilajukan oleh Jelly bergerak keluar jalur hingga seperti orang tidak tahu aturan nyetir.

__ADS_1


" Eh, sorry ... sorry pak." Jelly yang tersadar untuk satu detik dua detik dia tengah melamun. Untung saja jalan tol cukup lengang di atas jam 9 malam.


" Berhenti! Berhenti! Aku bilang berhenti Jelly!" teriak Davos yang semakin terlihat murka dan cukup takut jika Jelly terus menyetir.


Jelly pun bertambah deg-degan mendengar murka bos barunya ini. Dia dengan cepat ambil ambil lajur kiri dan meminggirkan mobik lalu berhenti.


" Apa kamu mau mencelakai saya Jelly?"


" Maaf pak. Apa kalau bapak celaka, saya tidak celaka? Apa iya saya mau mencelakai diri saya sendiri pak?"


" Lalu apa yang kamu lakukan barusan? Kamu nyetir sambil melamun, sudah-sudah biar saya yang nyetir!" Davos begitu cepat marahnya bak tanpa ampun.


Jelly pun hanya menunduk. " Maaf pak," ulangnya dengan kata yang sama.


Sampai dimana akhirnya Davos mengambil alih mengemudikan mobil Jelly hingga sampai ke rumahnya.


Jangan ditanya saat mobil Jelly berhenti di depan rumah Davos. Meskipun malam hari, terlihat sekali jika rumah Davos sangatlah megah bak istana. Pagar tinggi yang menjulang mengungkung rumah besar mengalahkan istana kepresidenan.


" Jangan lupa besok pagi jemput aku!" perintah Davos kepada Jelly.


" Iya pak." padahal jelas sekali terlihat dari kejauhan, jika banyak mobil berjajar yang pasti bisa di bawa ke kantor. Dan Jelly yakin itu mobil bukan pajangan. " Oh ya pak, sepertinya lusa ya pak, saya ganti model rambut dan pakaiannya?" Jelly yang mengingatkan atasannya itu.


Davos yang mendengar pun dengan cepat menoleh dan menghadap ke Jelly. " Sebaiknya kamu perbaiki dulu rambut dan penampilan kamu, baru kamu jemput aku dan kita pergi ke kantor."


" Apa tidak kesiangan pak?"


" Jangan membantah Jelly!"


Jelly pun tersenyum seraya mengangguk.


.


.


Disebuah rumah sakit.


" Mau kemana?" Tamarin yang meraih jemari Fox yang bangkit dari long sofa yang didudukinya.


" Aku mau menghirup udara malam. Aku mau keluar sebentar."


" Apa kamu masih marah?" Tamarin yang tidak ingin bertengkar lagi dengan Fox. Baru sekali saja keduanya bertengkar hebat, Candy yang menjadi korbannya. Jadi dia tidak menginginkan adanya pertengkaran lagi dengan Fox.

__ADS_1


Namun berbeda dengan Fox. Dia yang justru melihat Tamarin menyembunyikan banyak hal darinya.


BERSAMBUNG


__ADS_2