Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Milk Berusaha Memperbaiki Hubungan nya Dengan Jelly


__ADS_3

Di lain tempat. Tuan Kino sedang sibuk menyuapi salad buah kepada Tamarin di kamarnya.


" Sudah, aku sudah kenyang." kata Tamarin menghentikan suapan dari pria yang duduk di sebelahnya.


" Kamu harus habiskan Baby. Demi anak kita." balas Tuan Kino yang menatap lekat wanita pujaannya.


Begitu juga dengan Tamarin, yang entah mengapa? ketika kembaran Brad Pitt, mengatakan demi anak kita, seolah tidak terima. Dia hanya bisa diam dan menatap dengan tatapan belua tanpa suara.


Sementara jari Tuan Kino, yang sedari tadi mengelus lembut rambut cokelat terang wanita disampingnya. " Aku rindu, aku rindu dengan kebersamaan kita seperti ini." goda Tuan Kino yang sudah jelas ingin mencium bibir Tamarin yang berada kurang lebih sepuluh senti dari bibirnya.


Tidak butuh waktu lama, bibir keduanya pun menyatu. Hasrat ingin bercinta bersama wanita pujaannya pun sedikit terobati. Meskipun jujur akibat kehamilan Tamarin keduanya bahkan tidak pernah bergumul lagi di ranjang.


Tamarin berusaha melepaskan ciuman mematikan dari kekasih gelapnya. Dia tahu jika pria di depannya akan sangat gila jika dia terus meladeninya. Terlebih hari sudah senja, kemungkinan Nyonya Mint atau Fox pulang sangatlah bisa. Dan akan menjadi sebuah bencana, jika suami atau Ibu mertuanya melihat kemesraan mereka.


Tin ... Tin ...


Suara klakson mobil yang menggema sampai telinga keduanya.


" Itu pasti Fox atau Nyonya Mint." paniki Tamarin.


" Okay, aku keluar." bisiknya di telinga wanita pujaannya.


" Oh ya, anda jangan terlalu keras sama Fox." ujar Tamarin mengingatkan kekasih gelapnya untuk tidak memarahi Fox terus jika dia membawakan makanan kesukaan nya.


Membuat Tuan Kino ingin membela diri. Namun Tamarin menyeret lengan kekarnya untuk segera pergi dari kamarnya.


.


.

__ADS_1


Sementara Jelly yang berujung diantar oleh Fox untuk pulang ke apartemen. Fox sedikit memaksa yang membuat Jelly tidak bisa menolaknya. Kekhawatiran Fox kepada Jelly membuatnya tidak tega dan takut jika Jelly kenapa-napa. Sedangkan mobil Jelly, dibawa oleh supir kantor yang dia suruh untuk mengantar langsung ke apartemen dimana Jelly tinggal.


" Pelan-pelan." lirih Fox dengan memandu Jelly untuk duduk di sofa ruang tamu apartemen nya.


Fox sebenarnya tidak tega meninggalkan Jelly. Tapi setidaknya, dia aman. Tidak berkendara dalam keadaan yang mengkhawatirkan. Terlebih Fox juga sudah membelikannya makan malam untuk Jelly makan di apartemen. " Aku pulang dulu ya." pamit Fox kepada Jelly yang sebenarnya tidak ingin dia katakan.


" Terimakasih ya." ucap Jelly yang bersyukur sekali jika Fox tadi datang tepat waktu. Coba saja bos besarnya itu tadi tidak datang. Mungkin Milk malah yang akan mengantarnya pulang. Dan itu sungguh yang tidak dia inginkan.


.


.


" Hallo Honey." jawab Milk yang sedang mengeringkan rambutnya yang basah karena Habis keramas.


" Kamu kok lama sekali sih Honey angkat telepon nya?" reaksi kesal Ita yang terdengar hingga telinga Milk suaminya.


" Iya kan tadi aku masih kerja Honey." kilah Milk kepada Ita istrinya, padahal tadi saat Ita menghubunginya, dia malah sibuk mengejar Jelly dan ingin mendapat jawaban atas permintaan maafnya.


" Iya aku minta maaf Honey. Aku janji, besok kalau kamu telepon akan cepat aku angkat. Oh, ya ... sudah dulu ya, aku mau pergi cari makan." ujar Milk kepada istrinya Ita.


" Janji lho Honey, besok-besok kalau aku telepon segera angkat." Manja istri yang tengah mengandung anak Milk itu.


" Iya, aku janji." balas Milk untuk menenangkan istrinya. Sepertinya aku memang tidak usah cerita kepada Ita, jika Jelly bekerja di Jakarta. Terlebih aku sudah dua kali bertemu dengannya. Ita bisa-bisa berpikir macam-macam jika aku bertemu dengan Jelly. Ngambeknya bisa tidak ketulungan nanti. gumamnya dalam hati sambil menggaruk rambut Kepala yang tidak gatal. " Kalau begitu sudah dulu ya Honey." tutup Milk mengakhiri percakapan sambungan telepon dari istrinya.


" Hati-hati ya Honey." manja Ita dengan nada bicaranya.


Setelahnya percakapan mereka berakhir. Milk kemudian pergi untuk mencari makan malam. Dia mencari makan malam di sebuah restoran Mall yang berada tidak jauh dari apartemennya. Namun begitu dia tetap mengendarai mobil untuk mencari makan malam supaya lebih cepat.


Namun ketika dia baru memarkir mobilnya. Tidak disangka, dia bertemu dengan Jelly yang sedang berdiri di depan seorang pria. Dan sepertinya, pria itu adalah pria yang disuruh membawa mobil Jelly. Karena pria itu memberikan kunci mobil kepada Jelly dan tadi memang Jelly satu mobil dengan pria yang menyusulnya.

__ADS_1


Tanpa keluar dari mobil, Milk terus memantau dua orang yang sedang berdiri tidak jauh dari mobilnya. Hingga pria itu pergi dan Jelly naik ke dalam mobilnya. Milk bahkan memiliki inisiatif untuk mengikutinya. Hingga mobil Jelly berhenti di area parkiran sebuah apartemen mewah yang tidak jauh dari Mall.


" Jelly tinggal di sini?" lirih Milk penuh tanya. Dia kemudian bergegas dan keluar dari mobil untuk menghampiri Jelly. " Jelly." panggilnya.


Jelly yang ingat betul jika suara yang di dengarnya adalah suara pria yang pernah menyakiti hatinya. Namun untuk meyakinkan nya, dia menoleh dan benar saja. Sosok Milk berdiri tidak jauh di belakangnya.


Kenapa dia ada di sini? gumamnya dalam hati.


" Jelly, kamu tinggal di sini?" tanya pria yang posisi berdiri nya lebih dekat dengan nya.


" Itu bukan urusan kamu." ketus Jelly yang memalingkan wajah dari pria yang berdiri di depannya.


Milk yang terdiam sejenak. Sadar jika Jelly akan sulit memaafkan nya dan Ita. " Apa kita akan terus marahan seperti ini? Apa kamu akan selamanya membenci aku dan Ita? Apa hubungan kita bertiga tidak akan pernah baik kembali?" tanya Milk menggebu berusaha memohon ampun kepada Jelly jika memang keputusan nya menyakiti hatinya.


" Menurut kamu?" Jelly yang tidak bisa menahan matanya untuk berkaca-kaca.


" Aku dan Ita minta maaf Jelly."


" Hehm." sudut bibir Jelly menyungging. " Tidak ada gunanya lagi kita membahas masa lalu. Toh Ita juga sudah mengandung anak kamu kan?" perasaan berkecamuk dalam dada Jelly yang tidak bisa dia pungkiri bahwa dia masih sakit hati.


" Tapi kita kan bisa berteman?" pinta Milk kepada Jelly.


Membuat dahi Jelly sedikit berkerut. Mengapa dengan mudahnya pria yang kini dihadapannya seolah bertingkah menyakiti hati sejenak jidatnya. Sudah meremuk dan meluluh lantahkan hatinya hingga hancur berkeping-keping hingga tak berbentuk. Sekarang ada di depannya dan begitu sangat mudah meminta maaf seolah tidak perduli dengan perasaannya.


Bahkan sampai sekarang, rasanya dia ingin berteriak tidak rela jika pria di depannya menikah dengan Ita sahabatnya. Tapi apa daya. Jika memang takdir meminta nya begini dan tidak bersatu dengan pria pujaannya. " Tolong pergi dari sini! dan jangan pernah muncul lagi di hadapan ku!" ucap Jelly dengan wajah tidak suka.


" Bagaimana bisa? itu tidak mungkin. Perusahaan dimana kamu bekerja itu bekerja sama dengan Perusahaan dimana aku bekerja." tandas Milk.


Membuat wajah Jelly menatap Milk tidak percaya. " Apa?" lirihnya. Jelly sangat terkejut atas apa yang baru saja Milk katakan. Dia berusaha menelan ludahnya Walau sangat sulit. Jelly tidak pikir panjang dan malah pergi begitu saja meninggalkan pria yang masih berdiri di hadapan nya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


__ADS_2