
" Apa?" Wajah Tuan Kino terlihat serius saat sedang menerima panggilan dari telepon selulernya.
Nafas nya tiba-tiba tercekik saat mendengar jika Fox membawa kabur mobil orang suruhannya yang sedang bermasalah di bagian remnya.
Ya, mobil itu memang harusnya masuk ke bengkel. Dan baru hari ini, harusnya Tuan Kino sudah menyuruh orang bengkel untuk mengambil mobil tersebut. Namun ternyata langkahnya kalah cepat, sebelum orang dari bengkel resmi membawa mobil tersebut. Fox sudah membawanya karena dia berusaha melarikan diri.
" Ada apa?" Tamarin yang tak kalah seriusnya, wajahnya menegang karena mendengar jika kekasih gelapnya tengah mendapat kabar yang cukup serius.
" Aku akan pergi dulu." Tuan Kino dengan langkah besar dan sedikit berlari menuju dimana mobil limited edition miliknya itu terparkir.
Dia melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Tidak tanggung-tanggung kecepatan penuh pun dia tebas guna cepat sampainya ke tempat tujuan dimana Fox tengah dia sandera.
Wajah Tuan Kino juga tak kalah cemas, mengingat Fox adalah putra satu-satunya dan dia adalah pemegang seluruh aset perusahaan raksasanya.
Jika terjadi sesuatu hal buruk kepada Fox, pastilah sedikit banyak merugikannya. " Aku harap kamu selamat Fox." Harapan Tuan Kino yang tidak menginginkan hal buruk terjadi dengan putranya. Wajah serius itu benar-benar cukup mengkhawatirkan putranya, meskipun keadaan akhir-akhir ini membuat keduanya perang dingin satu sama lain. Tapi tetap, Tuan Kino tidak menginginkan Fox kenapa-napa.
Ngiik
Perjalanan yang harusnya ditempuh satu jam, namun hanya tiga puluh menit Tuan Kino menembus jalanan kota Jakarta hingga sampai dimana dia menyandera putranya sendiri.
" Bagaimana bisa dia lepas? Bagaimana?" teriak Tuan Kino memaki kedua orang suruhannya dengan kedua tangan malangkerik.
kedua orang suruhannya hanya tertunduk dan membisu.
" Masuk!" Tuan Kino kemudian menyuruh dua orang suruhannya untuk masuk ke mobilnya dan bersama-sama mencari putranya.
Satu jam, dua jam, tiga jam bahkan hari mulai gelap. Mereka bertiga tidak menemukan Fox.
Tuan Kino yang sudah putus asa akhirnya memutuskan untuk pulang. Dia akan melanjutkan pencarian esok hari dan akan melapor kepada polisi, jika putranya hilang.
.
.
Mobil Tuan Kino diikuti dengan jarak yang tidak terlalu jauh oleh mobil Nyonya Mint memasuki garasi rumahnya.
__ADS_1
Suara pintu mobil yang bersahutan setelah Tuan Kino keluar dan Nyonya Mint pun tak lama keluar dari mobil mereka masing-masing.
" Ayah," sapa Nyonya Mint kepada suaminya dan menggeser naik turun kedua bola matanya.
Tuan Kino tampak murung, perasaan nya campur aduk. Dia berpikir jika Fox pasti tidak akan selamat, karena dari berbagai kejadian kecelakaan yang diakibatkan oleh rem yang tidak berfungsi pasti mengakibatkan fatal besar atau bisa dikatakan hilangnya nyawa.
" Ada apa ayah? Kenapa pakaian mu kotor semua?" Nyonya Mint yang berusaha bertanya kembali meskipun wajah suaminya terlihat lelah dan lesu.
Tuan Kino hanya melirik ke wajah istrinya tanpa berkata. Lalu dengan langkah gontai nya dia masuk ke dalam rumah.
Sampai di dalam pun, Candy dan Tamarin yang sedang bercanda di ruang keluarga berusaha memanggil Opanya. " Opa." teriak Candy namun baru kali ini Tuan Kino mengabaikannya.
Dia langsung saja enyah dan menaiki anak tangga menuju kamar nya di lantai dua.
" Kenapa Opa, mama?" Candy yang sedikit bersedih.
" Mungkin opa lagi ada masalah sayang, jadi Candy jangan sedih ya. Besok kita hibur opa ya," ucap Tamarin yang berusaha menguncir rambut putrinya yang halus selembut sutra.
" Baik mama," balasan cukup gemas seolah tidak ada beban dari Candy.
Benar kata Candy, dia juga merasakan kalau Tuan Kino tidak seperti biasanya.
Biasanya wajahnya ceria jika disapa putri nya.
Kenapa dia?
Tamarin juga tak kalah bertanya pada batinnya.
Sementara Nyonya Mint berusaha keras menghubungi ponsel Fox namun lagi-lagi tidak ada jawaban. Nyonya Mint juga tak kalah resah nya, karena tidak biasanya Fox tiba-tiba menghilang tanpa kabar seperti ini.
Jika dijumlahkan saja, panggilan telepon dari nya bisa ratusan kali dalam seharian ini. Dan Fox sama sekali tidak ada satu pun dari panggilannya atau pesan yang dikirimnya ada yang dibalas olehnya.
Nyonya Mint berjalan mondar-mandir mendekap kedua lengannya sendiri. Menikmati angin dari atas balkon kamarnya, memantau Fox mana tahu pulang malam ini.
Tuan Kino yang sedari tadi mengurung diri di kamar mandi. Memang dia belum dapat memastikan jika Fox jatuh ke jurang bawah yang dialiri sungai deras. Tapi kepalanya selalu memikirkan hal buruk itu yang sepertinya di alami oleh putranya.
__ADS_1
" Apakah kamu masih selamat Fox?" tanya lirih yang keluar dari mulutnya seraya merutuki tindakan nya yang tidak sangka akan membawa pada kejadian hari ini.
Tuan Kino tidak tenang, jika kabar tentang putranya tidak segera dia dapatkan. Dia lantas menghubungi salah satu teman di kepolisian, supaya seluruh pasukan nya besok menyisir ke daerah yang Tuan Kino sudah sampaikan.
Untuk setelahnya, Tuan Kino sedikit tenang. Paling tidak, kabar tentang Fox segera dia dapatkan. Terlebih sampai dini hari, dia juga menghubungi resepsionis di apartemen Fox, dan ternyata benar jika Fox belum ada tanda-tanda pulang.
Setelah gelisah cukup panjang, hanya beberapa jam berikutnya pagi sudah menjelang. Nyonya Mint yang masih tertidur di ranjangnya tidak mengetahui kepergian Tuan Kino di pagi buta.
Tamarin yang memergoki Tuan Kino tampak gelisah tengah tergesa menuruni anak tangga dengan memakai jaket tebal berwarna hitamnya.
" Mau kemana Tuan Kino?" tanya lirih Tamarin yang sebenarnya ingin memanggil namun dia urungkan karena ada Nyonya Mint, meskipun dia tengah tertidur.
Dengan cepat Tuan Kino janjian dengan rekan polisinya untuk menyisir tempat dimana Fox kemungkinan dinyatakan hilang.
.
.
" Bagaimana bisa putra mu ada ditempat ini?" Salah satu petinggi polisi yang menjadi rekan dari Tuan Kino pun bertanya.
Keduanya tengah berdiri di mana tempat itu di kelilingi oleh hutan dan jurang berikut di bawah sana ada sungai deras dan dapat dipastikan ada beberapa binatang buas dan juga buaya yang bisa saja Fox dimakan oleh mereka.
" Aku hanya ingin putra ku di temukan. Dalam keadaan apa pun." Tanpa banyak bicara, perintah Tuan Kino dengan cepat di laksanakan oleh pasukan polisi yang berusaha menyisir tempat kejadian.
Tuan Kino juga tidak kuat menahan sedihnya, jika benar hal buruk telah terjadi kepada Fox putranya. Dia tidak bermaksud sedikit pun melukai atau bahkan membuat anaknya tewas.
Dia hanya menginginkan Fox untuk tinggal di gedung liar di tengah hutan itu untuk sementara, sampai Fox mau diajak bekerja sama untuk tidak mengatakan skandal cinta terlarang nya dengan Tamarin. Hanya itu, hanya itu yang dia inginkan.
Waktu berjalan sangat cepat, bahkan Tamarin yang berusaha menghubungi kekasih gelapnya itu tak kunjung diangkat oleh Tuan Kino. Dan Tuan Kino sengaja mengabaikannya. Isi kepalanya di penuhi pikiran buruk yang sudah di depan mata. Fox, kemungkinan tewas dan tidak selamat dalam kecelakaan kemarin. Mungkin saja mobilnya terjun ke dasar jurang yang dibawahnya sungai dengan aliran cukup deras dan bahkan dimakan binantang buas.
" Komandan! Lapor!" Salah seorang pasukan polisi menemukan titik dimana Fox berada.
Setelah menyampaikan apa yang dilihatnya. Seorang komandan polisi itu menyuruh semua pasukan cepat untuk menuju ke titik, dimana Fox kemungkinan berada.
" Apa Fox sudah ketemu?" tanya Tuan Kino terlihat bertambah frustasi.
__ADS_1
BERSAMBUNG