
" Candy sayang, sebaiknya Candy pulang ke rumah dan beristirahat ya," ujar Fox seraya membelai lembut poni Candy yang tengah menaruh kepala pada ketiaknya.
" Iya sayang, sebaiknya Candy pulang dan istirahat di rumah." Tuan Kino menambahkan.
" Tapi papa janji ya ... kalau papa sudah sembuh, papa akan pulang." Candy tampaknya dapat merasakan, jika mama dan papanya sedang tidak baik-baik saja.
Akhir-akhir ini, kabut tebal beserta awan hitam tengah menyelimuti rumah besar. Tuan Kino dan Tamarin mengibarkan bendera perang bersikeras menyembunyikan skandal cinta terlarang mereka.
Jelas, jika Fox tidak terima. Fox bahkan sudah tidak sudi untuk pulang ke rumah dan memilih tinggal di apartemen. Dia tidak menjawab harapan Candy supaya pulang kembali ke rumah dan bersikap seolah tidak ada apa-apa, padahal jelas perang dunia ketiga telah digaungkan keduanya.
Tuan Kino yang dapat mengerti, jika putra nya pasti enggan pulang ke rumah. Maka dari itu, dia dengan cepat berinisiatif untuk segera mengakhiri pertemuan Candy dan putranya.
" Candy, kita pulang ya," Tuan Kino meraih tubuh Candy dan menggendongnya di depan.
" Iya opa," jawab putri kecilnya yang belum tahu jika sebenarnya dia adalah papanya. " Papa, mama ... Candy pulang dulu ya." seraya menggeser bola mata amber ke arah Tamarin yang tengah terduduk di kursi roda berikut Fox yang tengah bersandar di tempat tidur pasien.
" Iya sayang," jawab keduanya yang bersamaan padahal Fox dan Tamarin tidak janjian dan saling bertukar pandang kikuk setelahnya.
" Kita pulang Mint!" seru Tuan Kino kepada istrinya, Nyonya Mint.
" Ibu pulang dulu ya sayang. Nanti kita berkabar lewat ponsel." Nyonya Mint yang kemudian keluar meskipun banyak pertanyaan yang ingin dia sampaikan kepada putranya terkait pernikahannya dengan Tamarin.
Fox menyesalkan, mengapa ibunya tidak peka sama sekali oleh keadaan. Berharap Tamarin yang meninggalkan ruangan dan tersisa ibunya beserta dirinya. Namun malah tidak demikian dan yang terjadi malah sebaliknya. Tamarin yang masih tinggal satu ruangan dengan nya.
__ADS_1
Kebisuan terjadi saat Candy, Nyonya Mint berikut Tuan Kino yang sudah pergi lebih dulu berpamitan untuk pulang.
Satu menit berlalu, dua menit, tiga menit bahkan hingga sepuluh menit usai, keduanya tidak sama sekali memecahkan keheningan ruangan akibat sunyi nya malam.
" Sayang," sapa Tamarin penuh kasih sayang namun berbalas bentakan pelan.
" Jangan kamu panggil nama itu lagi kepada ku!" Ultimatum Fox yang jelas meruntuhkan harapan Tamarin.
Seketika kepalanya tertunduk lesu. Namun tidak upayanya untuk menjelaskan semuanya. " Aku bisa jelaskan," Tamarin masih saja mengelaknya.
Fox yang bahkan jijik dengan istrinya yang sangat murahan. Memalingkan wajahnya seraya menyunggingkan senyum sinis. " Hehm, apa yang akan kamu jelaskan? Semuanya sudah jelas Tamarin." Kedua mata mereka bahkan tersirat peperangan.
" Percayalah! Percayalah sayang, aku tidak pernah berusaha ingin mengkhianati mu," terang Tamarin yang memajukan punggungnya guna menekankan apa yang dikatakannya supaya Fox memaafkannya.
Tamarin yang sempat tertunduk, kembali berani menatap pria yang masih sangat dia cintai nya. " Semua berawal dari ketidak sengajaan, saat itu ... " Tamarin mengingat semua kejadian per kejadian, tidak ada satupun yang dia coba tutupi lagi dari Fox yang masih berstatus suaminya. Banyak hal pula yang Tamarin coba jelaskan. Namun tidak pada Fox. Yang masih terluka sangat dalam untuk mempercayai semuanya.
" Hehm, kamu kira aku akan percaya begitu saja?" Fox yang sudah mendengarkan penjelasan istrinya sangat sulit mempercayai semuanya. " Lalu kenapa kalian melanjutkannya? Kenapa?" Kalimat tanya terakhir yang lebih keras intonasinya berikut tatapan nanar dari seorang Fox kepada istrinya.
Tamarin kembali tertunduk. Tidak dapat dipungkiri, jika seperempat bagian hatinya memang terisi nama Tuan Kino. Dia bahkan tidak mampu menjelaskan isi hatinya, perasaan nya, dan seluruh kasih sayang pria yang dia panggil ayah mertua.
" Hehm, kamu tidak bisa menjawabnya Tamarin?" suara bisik namun terdengar jelas saat keheningan malam begitu menyiksa batin mereka. " Kamu mencintai ayah ku juga?" Fox yang bersedih sekaligus tertawa dengan apa yang menimpa rumah tangganya.
Sementara Tamarin, dia tetap membisu tanpa kata. Bersikukuh mengupayakan agar Fox dapat memaafkannya.
__ADS_1
" Enam tahun kalian menyembunyikannya, kenapa kalian setega itu kepada kita? Kepada aku dan ibu ku? Salah apa dia Tamarin?" Kepala Fox yang terbayang wajah ibunya membuat dia menitikkan air mata.
Begitu juga dengan Tamarin, tak kuasa menahan isak tangisnya. Penyesalannya begitu luar biasa. Tangisnya tersedu-sedu dan baru disadarinya. Kembali menguatkan dada, menatap suaminya lalu berkata. " Kamu bahkan tidak pernah tergantikan, sayang." Tamarin memelas mengharap maaf yang akan terus dia perjuangkan.
" Hentikan omong kosong kamu Tamarin! Jangan harap kalian akan saya maafkan! Satu lagi, proses perceraian yang sudah diurus oleh pengacara saya." seraya memaling wajahnya karena muak dan bahkan terlihat jijik memandang Tamarin yang masih berstatus istri sahnya.
Tidak ada yang bisa Tamarin lakukan. Lalu dia teringat satu hal yang belum dia ungkapkan. " Aku juga tidak pernah tahu, jika Candy bukan lah putri mu. Tadinya, aku pikir Candy juga putri mu. Dan aku tidak pernah membohongi itu." Tatapan Tamarin yang tampak putus asa. Kehancuran rumah tangganya sudah di depan mata, mengingat Fox sudah mengurus surat perceraian mereka.
" Ya, mungkin karena kamu takut menerima kenyataan yang ternyata Candy bukan lah putriku. Sementara kamu, kamu akan melenggang melanjutkan skandal cinta terlarang mu bersama ayahku. Begitu bukan? Begitu bukan? Jika semua ini tidak pernah terungkap? Baik ibu atau pun aku, sama sekali tidak akan pernah tahu selamanya." Fox terasa getir kala mengucapkannya, bibir bawahnya hingga bergetar karena saking terguncang dengan skandal cinta terlarang keduanya. Dia bahkan harus berucap syukur, sekalipun itu memporak-porandakan hatinya yang bertambah hancur lebur.
Tamarin semakin tersiksa dengan kata perkata, kalimat per kalimat yang Fox coba lantangkan untuk nya. Selaput telinganya bahkan tak sanggup lagi untuk mendengarnya.
Tangisnya bertambah tersedu-sedu. Andai dapat dia mengulangnya, dia enggan melakukannya. Tapi bagaimana? Sekarang sudah ada Candy. Candy.
" Hanya satu orang yang belum tahu ... yaitu ibu. Apa kamu tahu apa reaksinya Tamarin? Apa kamu tahu?" Fox yang bahkan menggunung, memuncak setinggi-tingginya amarah yang dia ledakkan tatkala mengatakan kata ibu.
Semakin membuat Tamarin nestapa dan bertambah pilu akan kesedihannya. Skandal cinta terlarang dengan ayah mertuanya, membuat banyak luka pada orang-orang terkasih nya.
" Kamu tahu apa reaksinya? Kata tidak sangka Tamarin. Kata tidak sangka Tamarin." Empat kata Fox yang terakhir diucapkannya dengan teriakan maksimal hingga membuat Tamarin menangis semakin dalam dan penuh penyesalan.
Ya, dua kata. Tidak sangka. Tidak sangka jika keduanya memiliki hubungan terlarang. Membangun cinta terlarang mereka dengan sangat apik dan penuh dengan intrik.
Dan Nyonya Mint pasti juga tidak akan sangka, jika menantunya, terlibat skandal cinta terlarang dengan menantunya sendiri. Wanita yang dicintai putra kesayangannya. Tamarin.
__ADS_1