Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Aku Tidak Sudi Meminta Maaf Padanya


__ADS_3

Sangat serius sekali, Dokter di dalam ruang operasi berjuang untuk mengeluarkan peluru yang hampir memecahkan bagian jantung Tuan Kino.


Satu jam, dua jam berlalu. Namun Dokter tidak kunjung keluar dan operasi belum juga selesai. Mereka masih berusaha menyelamatkan nyawa Tuan Kino.


" Mama," panggil Candy yang berteriak memanggil mamanya yang sedang menunggu di depan ruang operasi.


Ya, Candy tiba-tiba menangis dan ingin bertemu mamanya. Mungkin memang firasat Candy jika mamanya hampir saja terkena peluru yang ditembakkan oleh Nyonya Mint. Jadi tiba-tiba saja hari itu dia menangis terus memanggil-manggil nama mamanya.


Alhasil, bibi berusaha menghubungi nona Tamarin dan menyuruhnya membawa Candy ke rumah sakit.


" Sayang." Tamarin yang memeluk erat Candy.


" Mama," peluk Candy erat juga seolah putri Tamarin memiliki firasat jika mamanya akan celaka.


Setelah keduanya cukup lama saling memeluk. Candy pun memulai pertanyaannya.


" Mama kenapa di sini?" Pertanyaan dari Candy yang bersamaan dengan keluarnya sang Dokter dari ruang operasi.


" Bagaimana Dok?" tanya Tamarin yang kini sedang berdiri di hadapan seorang dokter yang sedang menangani operasi Tuan Kino.


" Syukurlah, pasien berhasil melewati masa kritis. Peluru yang bersarang hampir mengenai tepat pada jantungnya, sudah berhasil pula kaki ambil," kata seorang Dokter.


Mendengar apa yang di sampaikan oleh Dokter. Tamarin langsung lega dan mengajak Candy melihat opa nya dari kejauhan.


" Opa kenapa mama?" Pertanyaan yang seketika keluar dari mulut mungil bocah manis itu.


Tamarin tidak cepat menjawab dan langsung meraih rambut kepala putrinya untuk kemudian dia belai. Menatap iba pada putri manisnya jika tahu bahwa pria yang tengah berbaring di atas tempat tidur pasien adalah papa kandungnya.


Mungkin Candy akan menangis hebat. Merasa dicurangi kenapa dia membohongi dirinya. Maka dari itu, dia berjanji akan menutup rapat jika Tuan Kino adalah papa kandungnya Candy.


Lagi pula Fox sudah tiada. Jadi tidak perlu menjelaskan ke Candy siapa Tuan Kino sebenarnya. Karena lagi-lagi Tamarin takut akan kenyataan. Putri kecilnya ini akan sangat kecewa karena telah dia bohongi.


.


.


Sedang di tempat berbeda.


Si pasangan yang bahkan hitungan bulan baru menjalin kasih itu tengah berbahagia. Bagiamana tidak? Mama dan Papa Davos yang berada di luar negeri menyetujui pertunangan yang akan di adakan oleh putranya.


Namun keduanya tidak bisa hadir, karena papa Davos yang sakit keras dan sudah lama menjalani pengobatan di luar negeri tidak bisa sembarangan atau asal pulang ke Indonesia.

__ADS_1


Namun foto-foto Jelly sudah dapat dipastikan membuat keduanya jatuh hati terlebih dengan pujian-pujian setinggi langit yang terus di suarakan oleh Davos ke kedua orang tuanya tentang Jelly.


Membuat keduanya menyerahkan segala keputusan kepada putra nya yaitu Davos.


" Bagaimana?" Jelly yang bertanya setelah keluar dari ruang ganti untuk belasan kali karena kekasihnya itu entah punya alergi mata atau bagaimana?


Bayangkan saja! Sekelas butik ternama di kota Jakarta. Belasan kali dia di suruh mengganti pakaian yang dicobanya. Padahal semua sangat bagus-bagus dan sangat cocok dia kenakan. Namun entah apa yang mendasari darling dari Jelly itu menganggapnya tidak pas jika dilihat olehnya.


" Kali ini O.K." Davos yang terpana melihat Jelly sangat cocok menggunakan gaun berwarna soft ini, ketimbang gaun yang sudah-sudah belasan kali di cobanya.


Davos pun mendekat dimana posisi darling nya itu berdiri, hingga wajah keduanya pun tidak berjarak. " Kenapa kita tidak langsung menikah saja?" bisiknya seraya meraih kelima jemari Jelly dan mengecupnya.


Cup


Cukup lama kecupan bibir pada jemari Jelly belum dia lepaskan, namun lirikan kedua mata Davos yang menatap wanitanya seperti


tengah diguncang rasa deg-degan.


Jelly pun menjadi canggung dan berusaha memalingkan wajah. Dia bahkan melupakan pertanyaan Davos, karena jujur hanya pertunangan ini saja yang bisa dia lakukan.


Dia masih belum siap menikah. Berkomitmen dengan pria yang meskipun dia tahu jika Davos salah satu pria baik yang dikenalnya sejauh ini.


Jelly pun terlihat gelapan. Karena entah mengapa? Dirinya belum yakin seratus persen terhadap Davos. Satu pria baik yang tidak berubah dalam hatinya adalah Fox. Dan tidak semudah itu, dia melupakan pahlawannya begitu saja. Menggantikan nama Fox menjadi Davos dalam hitungan hari, Minggu bahkan bulan. Rasanya mustahil.


" Bukankah itu kesepakatan kita dari awal? Satu tahun atau dua tahun setelah pertunangan ini, baru kita akan menikah," kata perkata Jelly yang coba dia tekankan kepada Davos supaya tidak berulang kali dia mempertanyakan hal yang sama. Lagi pula, Davos pun menyetujui nya sejak awal.


Jelly yang kemudian berganti pakaiannya kembali. Dia dengan cepat masuk ke ruang ganti guna tidak bertambah panjangnya Davos meminta dia menuruti apa maunya.


Davos pun hanya mengeluarkan nafas kasar. Mengingat baru kali ini ada wanita yang susah dia takluk kan. Padahal di luar sana, jika dia mau. Dia bisa dengan cepat menikahi wanita mana pun dan bisa dikatakan lebih dari Jelly.


Namun entah mengapa? Hatinya tersangkut di satu wanita yang bernama Jelly. Sedikit menyebalkan buatnya. Tapi apa daya. Dia tidak mungkin akan melepaskan Jelly begitu saja. Dia akan berjuang, supaya Jelly takluk dan dengan segera dia nikahi tanpa menunggu hitungan tahun.


.


.


Di kantor polisi.


Nyonya Mint berteriak histeris menginginkan dirinya di lepaskan.


" Lepaskan aku! Lepaskan!" teriaknya berulang sembari mengguncang jeruji besi hitam yang mengurungnya.

__ADS_1


Dia bahkan menendang jeruji besi itu karena sangat depresi. Sebentar- sebentar dia berteriak, sebentar-sebentar dia menangis histeris hingga membuat teman satu selnya merasa terganggu namun untungnya mereka tidak ada yang jahat atau bahkan berani memarahi Mint.


Karena salah satu dari mereka ada yang mengenali jika Nyonya Mint adalah istri dari seorang konglomerat di Jakarta. Pengusaha kelas kakap di bidang properti yakni Tuan Kino yang cukup populer menghiasi media massa.


Tidak lama, Nyonya Mint akhirnya di jenguk oleh orang kepercayaannya di kantor.


" Nyonya Mint, ikut saya!" seru polisi yang memanggil Nyonya Mint dan mengeluarkan Nyonya Mint yang tengah duduk di dalam jeruji besi dan begitu terlihat sangat depresi.


Nyonya Mint mendongak kepada salah satu petugas polisi. " Saya?" tanya nya heran siapa yang mengunjunginya.


Petugas polisi pun membawa Nyonya Mint menuju ruang besuk.


" Kamu?" Nyonya Mint yang merasa bersyukur karena asisten kepercayaannya di kantor begitu tahu akan nasib yang tengah dihadapinya.


Melihat bos wanitanya itu terlihat kacau balau, sang asisten itu begitu sangat iba terhadap Nyonya Mint. Penampilannya yang sudah berantakan dan tidak karuan lagi. Membuat kedua bola mata sang asisten berkaca-kaca, ikut merasakan kesedihan yang dialami oleh Nyonya Mint.


" Nyonya, Kenapa anda lakukan itu?" Kalimat tanya pertama yang keluar dari orang kepercayaan Nyonya Mint membuat dua kelopak mata Mint melebar seketika.


" Apa yang kamu katakan?" sentak nya seraya bangkit berdiri dengan penuh kekesalan.


" Tenang Nyonya! Duduklah!" titah sang asisten yang menyuruh Nyonya Mint duduk kembali.


Nyonya Mint pun kembali terisak, air matanya lagi-lagi menetes tanpa dia berusaha mengusapnya.


" Posisi anda sulit nyonya. Suami anda tengah terbaring di ruang operasi. Saya belum tahu keadaan dia selanjutnya. Jika dia selamat, mohonlah ampun padanya dan berharap kebebasan anda!" Nasehat sang asisten yang malah membuat Nyonya Mint sesenggukan dengan tangisnya. Menundukkan kepala dengan sangat tidak terima mengapa dia yang disakiti namun dia yang harus berada di balik jeruji besi.


Bahkan Kino telah membuat putranya sendiri kecelakaan dan masuk ke dalam jurang.


" Aku tidak sudi meminta maaf padanya. Dan ingat pesanku! Skandal cinta terlarang mereka harus kamu blow up ke seluruh media massa. Aku sudah tidak peduli dengan reputasi." Kata perkata dari Nyonya Mint begitu penuh dendam dan kebencian.


" Tapi Nyonya ... "


" Apa? Kamu takut? Suami ku sendiri yang membuat putra ku mati. Dan apa kamu bilang? Kamu menyuruhku aku meminta maaf padanya? Jangan harap aku meminta maaf pada Kino andai dia selamat. Jalankan saja perintah ku!" Nada pelan namun tegas dan lagi-lagi penuh penekanan apa-apa yang dikeluarkan Mint dari mulutnya. Dia bisa dikatakan sudah tidak berperasaan lagi karena sangat kecewa terhadap apa yang sudah mereka lakukan padanya.


Mint bangkit berdiri dan dibawa kembali masuk ke sel jeruji besi. Dia enggan menerima saran dari sang asisten, bahkan dia sangat siap. Jika harus berperang melawan kedua pengkhianat yang sudah membuat putranya sendiri tewas.


Dendam Mint begitu membara. Sepuluh jemarinya meremas kuat dua besi yang kini tengah mengurungnya. Kedua matanya sangat berapi-api penuh dengan kebencian terhadap Kino dan Tamarin.


" Aaa ... Aaa ... Aaa." teriak Nyonya Mint yang tiba-tiba berlagak seperti orang gila.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2