
Fox berusaha mengejar Jelly yang berlari kecil dengan heelsnya.
Hingga teraih lah pergelangan tangan Jelly yang menghempaskan genggaman Fox.
" Kamu resign? Kamu menghilang begitu saja Jelly?" Mendadak Fox mengeras suaranya.
" Bukankah itu permintaan mu?" Jelly yang langsung mendaratkan pantatnya pada jok kemudi mobil dan menutup pintu mobilnya.
Jebret
Membuat Fox masih tidak menyerah mengetuk-ngetuk kaca jendela mobil Jelly.
" Jelly buka Jelly! Jelly!" teriaknya berulang hingga body mobil Jelly berjalan pelan dan Fox masih berusaha mengejarnya hingga tidak bisa lagi dia menyentuh body mobil tersebut. Fox masih tidak bergeming dari tempatnya berdiri. Memandang dari kejauhan semampu dia bisa hingga mobil Jelly lenyap dari pandangannya.
" Wanita itu?" lirih Tamarin yang terlihat resah dan sedikit terbakar api cemburu akibat melihat suaminya mengejar wanita lain. " Tapi mengapa perempuan itu pergi dan menatap benci pada Fox?" tanya Tamarin dalam benaknya. " Apa Fox menyuruhnya pergi lalu sekarang menyesal?" imbuhnya bertanya menelisik ke dalam hatinya.
Tidak lama, Fox pun masuk kembali ke dalam mobil. Melanjutkan perjalananya menuju rumah besar.
" Wanita itu? Bukan kah itu wanita yang tinggal di apartemen mu?" Tamarin tanpa sadar menyulut emosi Fox.
" Wanita itu punya nama Tamarin!" ucap bernada keras Fox yang jujur membuat hati Tamarin hancur.
" Sayang,"
" Jangan panggil dengan sebutan itu lagi Tamarin!" Emosi Fox semakin tak terkendali.
Membuat Tamarin tidak berhenti bertanya, sebesar itukah kesalahannya. Hingga membuat Fox benar-benar membencinya. " Ada apa ini? Kenapa kamu begitu?" seraya menitikkan air mata dari pelupuk matanya.
Fox menyeringai. " Kamu pikir baik-baik saja apa kesalahan kamu! Kamu juga tidak pantas memanggil ku dengan sebutan itu lagi!" tambah Fox terlihat benar jika dia sedang menaruh benci.
" Apa gara-gara wanita itu kamu seperti ini?" Tamarin yang berimbang nada bicaranya dengan Fox.
" Wanita itu punya nama Tamarin?" teriaknya lagi.
Membuat isak tangis Tamarin semakin keras menyuara.
" Lagi pula pertanyakan baik-baik ke dalam diri kamu? Apakah kamu benar-benar masih sayang dengan aku?"
" Apa maksud kamu?" Murka Tamarin yang tidak mau kalah dengan suaminya.
Fox juga tak kalah kecewanya hingga air matanya mengambang. Namun sebisa mungkin dia tahan, untuk tidak melepaskan kata yang akan membuat rencananya buyar.
Memberhentikan mobilnya kembali. Menarik dan mengeluarkan nafasnya dengan panjang. Barulah dia mengatur ritme bicaranya. " Maafkan aku." Fox yang tidak mau mendahului fakta yang sesungguhnya meskipun keyakinannya tentang Candy yang bukan putri kandungnya benar adanya nanti.
Hanya menunggu waktu, biar semua data itu yang menjelaskan nantinya. Hasil pemeriksaan tes DNA Candy dan dirinya yang akan dia jadikan senjata untuk Tamarin bungkam seribu bahasa. Belum lagi tentang hasil pemeriksaan kesehatan masalah kesuburannya yang ternyata memiliki masalah sejak lama.
__ADS_1
Lagi pula, dia perlu mengumpulkan bukti lebih banyak lagi tentang hubungan terlarang keduanya. Dan memikirkan cara supaya ibunya tahu dengan sendirinya tanpa dia memberi tahu.
Setelah kata maaf tersampaikan keluar dari mulut Fox. Tidak lantas itu mengubah sikapnya kepada Tamarin. Kebisuan tetap terjaga hingga keduanya sampai pada rumah besar.
.
.
Sementara di dalam mobil Jelly.
" Siapa dia?" Davos menelisik karena ternyata yang mengejar Jelly tadi pria tampan dan tidak asing baginya. " Aku seperti mengenalnya."
" Fox," jawab Jelly singkat.
Membuat ingatan pria dingin itu menyeruak dan mengingat jika ternyata pria yang mengejar Jelly tadi adalah saingan bisnisnya. " Fox, pemilik Fontera Fox?"
Jelly mengangguk dengan sepuluh jemari yang tidak lepas dari mencengkeram badan setirnya.
Membuat Davos ketar-ketir tidak tenang, jika Fox berusaha merebut sekretarisnya kembali dan menyuruhnya bekerja kembali di perusahaan Fox. Membuat Davos harus berpikir ulang untuk menjahili Jelly dan malah akan berbalik bersikap manis kepada Jelly supaya Jelly betah bekerja dengan nya.
Salah satunya jalan adalah ... Menjadikan Jelly kekasih.
Iya, aku harus menjadikan Jelly sebagai kekasih ku.
Lagi pula, Jelly adalah wanita cukup menarik dan sedikit banyak membuatku tertawa.
gumam Davos pada dirinya sendiri.
.
.
Di rumah besar.
" Papa," teriak Candy yang tahu jika papanya tengah tergesa menuruni anak tangga dan akan berangkat bekerja setelah mengantarnya pulang dari rumah sakit.
Lagi-lagi Fox yang bingung bagaimana bersikap kepada Candy. Jika dia berusaha jaga jarak padanya, pasti kasihan Candy dan begitu juga dia belum siap untuk itu semua. Bocah mungil itu tidak berdosa atas kebenciannya pada Tamarin. " Hai sayang. Lanjutkan main sama mama ya! Papa berangkat kerja dulu."
" Siap papa, papa hati-hati ya!" ujar Candy pada papanya.
Fox pun mencium Candy lalu memutar langkah untuk pergi.
" Papa kok gak cium mama. Papa masih marah ya sama mama," tanya Candy.
Fox pun melepas nafasnya dengan pelan namun panjang, seolah hanya dia yang hanya bisa mendengarkan. " Sayang, papa ada meeting, papa harus buru-buru. Da." seraya melihat arloji yang melingkar di pergelangan tangannya. Fox dengan cepat berlari menuju pintu utama meninggalkan keduanya. Setelahnya sampai dan menaiki mobilnya. Entah sampai kapan dia bisa bertahan dalam kepura-puraan ini?
__ADS_1
.
.
Di kantor Fox.
" Apa? Jelly masih ada di Jakarta?" Ita yang terkejut mendengar penjelasan Fox.
" Iya, aku bahkan tadi pagi nyaris bertabrakan mobil dengannya."
Ita membuang nafasnya. Tidak habis pikir dengan tindakan Jelly yang resign mendadak saat itu. Meninggalkan semua fasilitas yang diberikan Fox kepadanya.
Fox berjalan mondar-mandir di depan Ita. Membuat Ita bertambah pusing melihat Fox seperti itu.
" Apa kamu tidak bisa Ita? mencari Jelly dimana?" Fox yang tidak berhenti gelisah seraya mengusap tulang rahangnya berulang sebanyak yang dia inginkan.
Ita berdecak. " Dia bahkan tidak memberi tahu ku nomor ponselnya. Dari mana aku bisa mencari tahu dia?"
Fox yang mengingat kejadian tadi pagi saat mobilnya hampir bertabrakan dengan mobil Jelly. Satu persatu coba dia ingat dengan teliti. Hingga dia merasa ada yang aneh dengan penampilan Jelly. " Coba kamu tanyakan ke semua perusahaan yang berbasis dalam bidang yang sama dengan perusahaan kita! Siapa tahu Jelly bekerja di salah satu perusahaan mereka?" perintah Fox kepada Ita.
Tok ... Tok
Suara ketukan pintu dari Milk yang membuyarkan percakapan penting keduanya.
" Ada apa Milk?"
" Aku sudah mengetahui Jelly bekerja dimana?" ucapan Milk bak angin segar yang di nanti-nanti oleh Fox.
Begitu juga dengan Ita, Ita bahkan tidak menyangka jika suaminya getol dibelakangnya mencari keberadaan Jelly.
" Terimakasih Milk," seraya menepuk bahu MIlk dan Fox berlari keluar dari ruang kerjanya dan akan menemui Jelly.
Sementara keributan kecil terjadi dengan pasangan suami istri yang masih tersisa di ruangan Fox.
" Aku pikir kamu tidak peduli dengan Jelly, kamu bahkan lebih tahu keberadaannya dimana?" Jelas sekali jika terdapat setitik kecemburuan dari Ita yang tersirat dari kata-katanya.
" Apa an sih Honey? Fox yang menyuruh ku," sanggah Milk.
" Siapa pun yang menyuruh mu? Aku rasa kamu juga peduli seperti Fox peduli terhadap Jelly." Ita yang kemudian beranjak pergi dari ruangan Fox. Namun baru mendapat dua langkah. Heelsnya mengajaknya untuk berhenti kembali. " Aku harap kamu tidak berlebihan seperti Fox ... ya, mengingat Jelly belum punya kekasih. Jujur itu membuat ku masih tidak percaya seratus persen dengan kamu Honey." Ita melanjutkan langkahnya.
Membuat Milk hanya bisa melepas nafas panjang ditambah geleng-geleng kepala melihat kecemburuan istrinya.
.
.
__ADS_1
" Jelly!" panggil Fox yang sudah berada di kantor milik Davos.
BERSAMBUNG