Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua

Skandal Cinta Terlarang Menantu & Mertua
Kebangkrutan Perlahan


__ADS_3

Milk segera kembali ke rumah sakit setelah menyudahi nostalgianya. Membayar secangkir kopi yang dia pesan dan terus memandangi rumah Jelly yang berada di pinggir jalan hingga lenyap dari pandangan spion mobilnya.


" Milk." panggil kakak perempuan Happy yang berdiri dari kursi tunggu. " Kamu sudah pulang Milk."


Aku tidak mungkin, cerita kepada kak Happy, ibu, ayah dan Mas Dent. Pasti mereka akan shock jika aku mengatakan kalau aku dipecat dari kantor.


Ibu Milk kemudian meraih anaknya dan mengusap keringat di dahi putranya. Menuntunnya untuk duduk di kursi tunggu dan menanyai Milk apakah sudah makan apa belum.


.


.


Satu Minggu kemudian.


Kondisi Ita yang jauh lebih baik dan dia sudah bisa bersandar di tempat tidur pasien.


Ita yang hanya bisa diam dan terus menjatuhkan air mata bening hingga tidak sadar jika Milk sudah duduk di sisi tempat tidur pasien.


" Honey." Milk meraih tangan Ita yang lukanya sudah mulai mengering. Mengecupnya memberi semangat pada Ita untuk tidak terus menangisi takdir yang sudah terjadi. " Sudah ya Honey!" Milk membelai berulang rambut lurus hitam berkilau milik Ita.


Namun bukannya malah Ita berhenti menangis. Tangis nya semakin menjadi ketika mengingat kecelakaan yang merenggut ayah, ibu dan bayi yang akan lahir sekaligus.


" Ibu, ayah dan anak kita sayang ... hihihi ... " tangis Ita pecah dalam rangkulan suaminya. Air matanya sampai membasahi kemeja bagian dada yang dikenakan oleh Milk.


Hingga Dokter datang dan mengecek kondisi Ita sebelum Ita diperbolehkan pulang. Namun Dokter menyarankan jika pasien tidak boleh stres dan memikirkan hal berat mengingat pasien masih trauma apalagi ini kecelakaan yang terbilang berat bagi pasien.


" Kamu disini dulu ya sayang. Aku mau ke bagian kasir untuk menyelesaikan seluruh pembayaran rumah sakit."


Ita mengangguk lemah tanpa menengok ke arah suaminya.


Milk berjalan ke luar ruang rawat meninggalkan Ita dan menuju ke bagian kasir. Alangkah terkejutnya Milk, melihat nilai pembayaran yang fantastis seharga rumah yang dia tempati dengan Ita. Satu bulan perawatan dan rangkaian operasi yang dilakukan oleh Ita ternyata menghabiskan dana yang luar biasa. Untungnya dia sudah berjaga untuk menjual aset yakni rumah satu-satunya yang dia tempati dengan Ita dan untuk sementara dia dan Ita akan ikut tinggal bersama kedua orang tua mereka.


" Ini mbak." kartu hitam yang sebentar lagi isinya habis tak bersisa. Milk menyerahkan kartu hitam kepada petugas kasir untuk melunasi semua pembayaran rumah sakit. Saat itu pula dia berpikir keras bagaimana kehidupan nya dengan Ita istrinya selanjutnya.


Uang dalam tabungan tidak bersisa sedikit pun. Uang pesangon dari kantor yang dia pikir akan bisa untuk menyambung hidup, malah katut juga untuk membayar seluruh biaya rumah sakit.

__ADS_1


Karena nilainya yang tidak sedikit jadi membutuhkan waktu yang agak lama. Setelah nya itu selesai, tulang-tulang kaki rasanya lemas tidak berdaya. Bingung bagaimana menjelaskan kepada Ita.


Milk berjalan dengan mengacak kasar rambut kepalanya. Seakan pusing tujuh keliling dengan kehidupan nya selanjutnya.


Setelah langkahnya agak dekat dengan ruangan Ita. Dia berusaha menutupi apa yang sebenarnya terjadi.


" Honey, kita siap-siap pulang ya." Milk dengan lembut menggendong Ita dan mendudukkannya di atas kursi roda. Untuk sementara Ita belum bisa jalan dan masih harus terus melakukan perawatan pada kakinya. Sudah dapat dipastikan jika biaya perawatan sudah pasti akan menelan biaya besar lagi.


Milk hanya menyisakan mobil sedan yang saat ini dia kendarai untuk pulang ke rumah kedua orang tuanya.


Kedua orang tua Milk pun setuju jika Milk dan Ita untuk sementara satu atap dengan mereka. Terlebih juga ada kak Happy dan iparnya Dent supaya bisa membantu Ita dalam masa penyembuhan kakinya selama dia mencari pekerjaan baru.


Mobil sedan putih itu masuk ke sebuah halaman rumah dengan dikelilingi pohon-pohon rindang. Halaman yang tampak luas membuat rumah keluarga besar Milk tampak teduh dan bahkan nyaris tak tersentuh sinar matahari.


" Honey, Kenapa kita pulang kesini?" Ita yang sedari tadi melamun, termenung selama di mobil akhirnya bertanya juga.


Rumah kita sudah dijual untuk pengobatan rumah sakit kamu Honey.


" Honey, kamu kan lagi sakit. Sedangkan aku harus bekerja. Maka dari itu, untuk sementara kita akan tinggal di sini. Supaya kak Happy dan ibu bisa membantu kamu saat kamu butuh bantuan. Kamu kan belum bisa jalan." ujar Milk yang menutupi semua dari Ita, itu sengaja dia lakukan supaya Ita tidak stres dan malah akan lama masa penyembuhannya.


" Kalian sudah datang. Bagaimana Ita keadaan kamu?" tanya ibu mertua Ita yang memakai gamis hitam bermotif manik-manik keemasan.


" Sudah lebih baik Bu." jawab Ita dengan mendongak melihat wajah ibu mertua yang melihat wajahnya pula.


" Kamu yang sabar ya, anggap saja kami keluarga mu. Pengganti ayah dan ibu mu yang sudah tiada." Dengan lembut wanita paruh baya itu mengatakan hal demikian. Berusaha menutupi kesedihan dengan menutup mulutnya dengan ujung kain kerudung yang menutupi rambut penuh ubannya.


Ita tak kuasa menahan air mata yang mengambang. Satu tetes air mata bening jatuh di pipi kanan diikuti tetesan kedua di pipi kiri Ita. Bibirnya kelu tidak bisa berkata-kata tatkala kepalanya terlintas peristiwa nahas satu bulan yang lalu.


" Dan untuk masalah anak, setelah kamu sembuh. Kamu bisa merencanakannya lagi dengan Milk." imbuh ibu mertua Ita.


Belum sampai lima belas menit, Ita masuk rumah ibu mertuanya.


Ketukan ganas dan kasar dari sebuah pintu utama pun terdengar. Membuat seisi rumah terutama penghuni inti keluar dari kamar terutama kak Happy dan suaminya, Dent.


Dent, suami kak Happy yang sepertinya sudah menduga jika yang datang adalah orang-orang dari sebuah Bank dimana akan menyegel rumah mertua yang kini ditempati.

__ADS_1


Kedua matanya membulat. Nafasnya terancam berhenti saat itu juga. Terlebih membayangkan raut wajah Happy istrinya yang akan mengamuk bagai singa.


Mengetahui jika dia menggadaikan sertifikat rumah dan hari ini adalah hari penyegelan karena dia tidak bisa membayar jatuh tempo nya.


Belum berhenti disitu saja. Membayangkan jika kedua mertuanya tahu, takut jika mereka akan terkena serangan jantung secara tiba-tiba. " Bagaimana ini?" cemas nya dengan mengeratkan seluruh gigi dalam mulutnya.


Sementara Milk tidak jadi masuk kamarnya yang dulu dan memilih menemani ibunya berikut Ita dalam dorongan suaminya.


Sementara Happy baru saja melangkah untuk menuju pintu utama namun mengambil ikat rambutnya yang tertinggal di atas bantal.


Setelah mengikat rambutnya, dia berjalan menyusul Ibu dan Milk beserta istrinya.


Sementara Dent yang resah dan berjalan mondar-mandir mengelilingi kamarnya. Memikirkan cara, bagaimana terlepas dari amukan semua penghuni rumah inti.


" Ada apa ini Bu?" lirih Milk bertanya kepada ibunya. Beberapa orang memakai kemeja biru muda berikut dasi biru tua dan celana melipis mereka.


Ibu Milk kemudian bertanya kepada mereka dan apa tujuan mereka mendatangi rumahnya.


Salah seorang kemudian memberikannya surat segel rumah dan menyuruh seluruh penghuni dalam 1x24 jam harus mengosongkan rumah.


" Apa?" wanita paruh baya dengan kaca mata plus melingkar itu terkejut bukan main. Jantungnya terasa sakit dan nyeri namun masih dia kuat kan. Wanita bergamis hitam keemasan itu menyilangkan satu lengan kanan yang dia sentuhkan untuk menahan nyeri pada jantungnya. Hingga kedua kakinya tiba-tiba lemah dan hampir saja dia terjatuh namun segera Milk menangkapnya.


" Ibu." Teriak Milk yang menangkap cepat tubuh ibunya. " Ini ada apa? tolong jelaskan!" nada keras dari Milk diikuti rasa penasaran yang luar biasa.


" Hari ini, rumah ini disita oleh Bank. Atas nama Dent yang menggadaikan rumah ini kepada pihak Bank. Bahkan pihak Bank sudah memberi tahu sebelum jatuh tempo, namun sepertinya klien kami menghindar dan tidak bisa diajak bekerja sama. Jadi ini adalah keputusan final pihak Bank untuk menyita rumah ini. Dan dalam 1x24 jam, diharapkan untuk meninggalkan rumah ini." jelas satu pria yang berkemeja biru muda lengkap dengan dasi biru tua yang melingkar pada bagian kerahnya.


" Tidak! tidak mungkin pak!" teriak kak happy yang sudah berada tidak jauh di belakang ibunya. " Tidak mungkin suami saya melakukan itu!" perasaan campur aduk berkecamuk pada diri kak Happy. Merasa tidak percaya jika suaminya berani melakukan hal itu. " Mana buktinya!" bentakan sekaligus air mata yang tanpa sadar keluar itu pun Happy kemudian mengambil kertas yang berisi surat perintah untuk menyita rumah kedua orang tuanya. Alangkah sepasang bola mata itu terkejut buka main. Dan hal ini memang sepertinya bukan main-main. Happy mengeratkan seluruh gigi dalam mulut.


Sementara ibunya yang duduk di kursi teras dekat pot besar sedang mengatur nafasnya yang sesak akibat ulah menantu pria nya.


Begitu juga dengan Milk yang bertambah bingung mengapa bisa begini?


" Mas Dent." Teriakan keras bagaikan singa itu membuat Dent suami Happy terperanjat menyembulkan kedua bahu yang terbungkus kaos warna abu-abu.


BERSAMBUNG

__ADS_1


__ADS_2