
Bruak
Tempat pel itu sengaja ditendang oleh Kepala Cleaning servis. Hingga air yang ada didalamnya pun ikut tumpah bersamaan dengan tempat yang sudah tidak tegak bahkan sudah tertidur menghalangi jalan utama untuk masuk ke loby.
Ya, Milk diberi pelajaran kembali oleh Fox. Hanya Milk yang disuruh berangkat pukul 06.00 pagi setelah kemarin hari pertama dia kerja pulang hampir jam 12 malam setelah menyelesaikan semua lantai untuk dia bersihkan.
" Apa kamu tidak bisa kerja?" wajah serius dengan nada tinggi itu cukup membakar telinga.
Sial.
Baru jadi kepala cleaning servis saja, gayanya sudah setinggi langit.
" Maaf pak, salah saya apa ya pak?" Milk yang memasang wajah bodoh.
" Jangan meletakkan ember pel ini di tengah jalan! Dan cepat lakukan tugasmu sebelum atasan datang!" murka dari Kepala cleaning servis yang terpaksa melakukan hal demikian. Padahal dia tidak pernah membentak bawahannya. Namun gara-gara bos besar yang menyuruhnya, apa daya? selain nurut perintah atasan.
" Baik pak." Milk dengan cepat membereskan semua kekacauan yang terjadi. Dia kemudian kembali melanjutkan pekerjaannya, hingga tepat pukul tujuh pagi Jelly datang.
Sadar jika wanita yang pernah mengisi hatinya itu akan naik ke lantai sepuluh. Dia dengan cepat juga melangkah membawa perlengkapan pel nya menuju lift yang akan di naiki oleh Jelly.
Keduanya berpapasan di lift.
" Hai." sapa Milk kepada Jelly.
" Hai." balas sapa dari Jelly yang kemudian naik ke dalam lift yang diikuti oleh Milk yang kemudian naik juga.
Tidak sengaja kelima jemari mereka saling bertumpuk untuk memencet pada tombol dimana lift akan membawa mereka naik.
" Eh, sorry." gegas Milk yang kemudian menarik kelima jemarinya. Dan semua itu tidak lepas dari tatapan keduanya.
Jelly tidak menyangka jika dia akan satu lift bersama pria yang pernah dia sebut mantan kekasih. Dia merasa canggung ketika berdiri hanya berjarak satu langkah dan kini berdampingan menghadap pintu lift yang tak kunjung terbuka.
" Kamu rajin sekali." basa-basi Milk untuk mencairkan keheningan yang terjadi.
Jelly tersenyum. " Aku sudah biasa berangkat jam segini."
" Oh." jawaban Milk. " Aku duluan ya." Milk yang kemudian melangkah keluar lift saat pintu sudah terbuka.
.
.
Saat selama di kantor, Fox merasa Jelly berubah. Jelly lebih banyak diam dan terlihat sedikit menghindarinya.
" Kamu kenapa?" Tangan Fox yang mencoba menghalangi pintu mobil Jelly. Supaya Jelly tidak segera masuk ke dalam mobilnya.
" Aku mau pulang. Singkirkan tangan mu!" Jelly yang masih tidak menoleh ke arah Fox.
__ADS_1
Sementara Fox bingung mengapa Jelly berubah dingin kepadanya. " Apa aku punya salah?" Fox yang tidak berhenti untuk membuat suasana hati Jelly seperti sedia kala.
" Tidak, aku hanya kurang enak badan. Aku ingin segera pulang." Jelly yang masih tidak menatap Fox, sedikit kasar menarik pintu mobilnya supaya tangan Fox tersingkir dari pintu mobilnya.
Fox hanya bisa diam melihat tingkah aneh Jelly hari ini. Dia hanya mengusap beberapa kali tulang rahangnya sembari berpikir ada apa dengan Jelly?
Percakapan singkat mereka tidak luput dari teropong Milk yang sedang mengintai kedekatan mereka. Milk hanya ingin memastikan jika Jelly tidak jatuh cinta kepada pria yang beristri meskipun itu bos besarnya dan bisa memberikan segalanya. Dia hanya ingin memperbaiki hubungan nya dengan sedikit banyak menjaga Jelly untuk menebus rasa berdosa dia selama ini dan berterimakasih kepada Jelly karena uluran tangannya yang sudah menolong keluarganya di saat kondisi terpuruk.
Maaf ya Jell, aku hanya tidak ingin kamu bermasalah dengan si istri dari bos besar.
Andai dia tahu apa yang suaminya lakukan kepada kamu itu terbilang berlebihan, aku yakin kamu akan bermasalah Jell.
Memang harusnya kalian berjarak. Harusnya kalian hanya sekedar atasan dan bawahan saja. Semoga kedepannya tidak lebih dari itu. gumam Milk dalam hati.
" Sedang apa kamu di sini?" bentak kepala cleaning servis kepada Milk.
Seketika kedua bahu Milk menyembul. " Ma-maaf pak." Milk tertunduk karena tidak mau mencari ribut apalagi membela diri. Percuma karena si kepala cleaning servis ini tetap saja atasannya.
" Cepat kembali kerja!" perintahnya dengan wajah yang tidak suka.
" Baik pak." jawab Milk.
.
.
" Sudahlah Honey, ini baru awal kok. Mungkin kepala cleaning servis itu sedang menguji kemampuan aku sama mas Dent." ujar
Milk dari baking sambungan ponselnya.
" Tapi tidak begitu juga kan?" Ita yang tak tega dengan Milk yang terlihat dari suaranya kelelahan.
" Oya Honey, bagaimana uang perawatan untuk kaki ku? Karena besok adalah hari kontrol aku ke rumah sakit." Ita yang ragu apakah suaminya ada uang atau tidak.
" Apa harus besok Honey?" tanya Milk yang pusing karena dia belum gajian. " Bagaimana kalau kontrol nya menunggu aku gajian saja?" tawar Milk karena memang dia sedang tidak memegang uang banyak selain untuk makan sehari-hari.
" Iya udah. Nggak apa-apa. aku tunggu pas gajian aja kontrol kaki ku." Ita yang sedih sekali, dia bahkan tidak mempunyai uang sepeser pun. Kecelakaan yang terjadi padanya memang membuat kejatuhan ekonomi keluarganya. " Iya udah kamu istirahat ya."
" Iya Honey." Milk yang kemudian menutup ponselnya.
.
.
Di kota Bandung.
" Pakai uang kakak dulu Ita." sahut kak Happy yang mendengarkan Ita berbincang dengan Milk lewat sambungan telepon.
__ADS_1
Ita yang kaget, tidak tahu jika kak Happy ternyata mendengar percakapannya dengan Milk.
" Kamu bisa pakai uang kak Happy dulu." kak Happy yang duduk di tepi ranjang kamar Ita.
" Tapi kak, apa tidak merepotkan kakak." Ita yang tak enak hati menerima bantuan dari kak Happy.
" Sama sekali tidak, besok sekalian kakak antar ke rumah sakit untuk kontrol ya." ujar kak Happy.
Ita yang sumringah, karena dengan tepat waktu dia kontrol. Dia yakin kondisi kakinya akan segera pulih lebih cepat. " Terimakasih ya kak."
" Iya sama-sama Ita." kak Happy yang kemudian keluar dari kamar Ita.
.
.
Di tempat lain, tepatnya di kamar Tamarin dan Fox.
" Kamu kenapa sayang?" Tamarin yang melihat Fox seperti gelisah.
" E-enggak apa-apa sayang." kelima jemari kekar itu mengelus rambut Tamarin dan menatap istrinya dengan senyum yang dia lepaskan.
Keduanya sedang berada di atas ranjang di balik selimut putih tebal. Namun Tamarin melihat jika suaminya sejak pulang dari kantor tampak tidak bersemangat bahkan seperti gelisah dan belum tidur. Padahal sudah larut malam dan jam dinding menunjukkan pukul 12 malam. Namun Fox masih membawa laptop kerjanya di atas pangkuannya.
" Sayang, aku lapar." rengek Tamarin yang melancarkan gaya bicara manja kepada suaminya. Sengaja dia mencari perhatian suaminya supaya Fox melupakan apa yang dipikirkan sekarang.
" Kamu lapar?" terdengar aneh, jika Tamarin yang biasanya ogah-ogahan makan tiba-tiba di larut malam minta makan.
" He em." angguk nya dengan wajah manja yang kemudian malu-malu memeluk suaminya.
" Kalau begitu kita ke dapur." ajak Fox kepada istrinya.
Dengan senang hati Tamarin seperti anak kecil girang buka main ternyata suaminya sigap bahkan dengan cepat tanpa pikir panjang mengajaknya ke dapur. Tamarin yang bergelayut merangkul suaminya sambil cengengesan karena akhirnya sukses membuyarkan apa yang menjadi beban pikiran Fox.
Keduanya sibuk di dapur. Tampaknya Fox membuatkan spaghetti karena itu adalah makanan terpraktis sekaligus bergizi. Ditambah lagi satu gelas susu ibu hamil yang sudah Fox buatkan untuk Tamarin.
Disela-sela kehebohan mereka memasak di dapur tengah malam.
" Rasanya aku sudah tidak sabar menunggu anak kita lahir sayang." Fox yang berjongkok supaya tingginya sejajar dengan perut Tamarin dan mengelus perut Tamarin yang terbungkus piyama sutra. Dia kemudian menyentuhkan telinganya pada perut Tamarin.
Membuat hati Tamarin berdesir mendengar dan melihat sendiri reaksi Fox suaminya.
Kamu harus yakin kalau ini anak Fox Tamarin!
Tamarin yang hanya melepas senyum kepada pria yang dia panggil suami.
BERSAMBUNG
__ADS_1